
Rasa syukur tak henti-hentinya mengalir pada lisanku. Allah telah menentukan jalan-Nya padaku. Semoga Aku bisa menjadi mualaf yang istiqomah di jalan-Nya.
Setelah menikah, suami memboyongku untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Aku sama sekali tak berkeberatan karena aku bisa ikut berbakti kepada mereka. Aku ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang selama ini tak pernah aku dapatkan.
Aku pamit pada bibiku. Kakak-kakakku pun masih tinggal beberapa hari di rumah bibi. Mereka sangat mendukung pilihanku saat ini.
"Asal kamu bahagia, Dek. Kami selalu mendukung apapun keputusanmu. Semoga kamu selalu rukun bersama suamimu," pesan kakakku.
Kakak keduaku telah menikah dan memiliki satu orang putri. Semoga segera Allah titipkan juga di rahimku.
Di sini, aku membantu ibu mertuaku di kebun karet, kadang juga tidak. Ibu tak mau aku terlalu lelah karena masih ada suami dan rumah tangga yang harus kuurus. Saat tiba musim durian, aku akan ikut menunggui kebun mereka. Menunggu satu persatu buah-buah itu gugur dari pohonnya. Suamiku hanya bekerja sebagai petani karet seperti rata-rata orang di sini.
__ADS_1
Satu tahun pernikahan, akhirnya aku hamil anak pertama kami. Sungguh anugerah yang tak terkira, ada nyawa yang hidup di rahimku. Suamiku sangat bahagia tak terkecuali bapak dan ibu mertuaku. Semenjak aku hamil, suami dan mertuaku sangat memanjakanku. Aku tak boleh ikut mereka lagi ke kebun dan tak boleh bekerja yang berat menurut mereka, hanya boleh memasak saja.
Ibu mertua sangat menginginkan cucu laki-laki. Ia sangat berharap kelak akan berguna dan rajin seperti suamiku. Lain halnya dengan suami dan bapak mertua, mereka menerima apa saja jenis kelamin anakku, yang penting sehat.
"Ibu berharap, cucu pertama ibu nanti laki-laki agar bisa membimbing adik-adiknya kelak," tutur ibu sore itu.
"Iya Bu, benar kata bapak, yang penting sehat ibu dan anaknya saat proses melahirkan," sambung suamiku.
"Iya, Ibu tau. Ibu kan hanya bercita-cita begitu, gak salah kan?" rungut ibu.
__ADS_1
"Ya, semoga saja ya bu? Tapi, apapun kelak calon bayiku, aku harap kita semua menyayanginya," ucapku menanggapi keinginan mertua.
Tanpa terasa, 9 bulan telah terlewati, tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Segala sesuatunya telah kami siapkan, hanya tinggal nama saja yang belum, karena belum tau apakah anakku laki-laki atau perempuan.
Subuh itu seperti biasa aku bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal suami dan mertua. Entah mengapa perutku serasa mulas, saat kubawa ke toilet tak jua ingin hilang rasa mulas itu. Setiap menit mulasnya akan bertambah saja. Karena tak tahan, aku bangunkan suami, ia terlihat bingung. Ibu pun datang memeriksaku apakah sudah waktunya aku melahirkan.
Tanda lahir sudah keluar. Aku benar-benar tak tahan dengan rasa sakit yang mendera, seperti 20 tulang-tulangku akan patah. Rasa sakitnya berulang, namun belum juga akan lahir. Hingga akan menjelang maghrib barulah suara tangis itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Sungguh aku bahagia memandangi wajah tak berdosa itu. Aku dan suami menangis menyaksikan bukti kekuasaan Allah.
"Anakmu perempuan, Na. Sehat dan berat badannya pas," jelas ibu, karena memang ibu yang membantu proses melahirkanku. Ibu awalnya terlihat sedikit kecewa. Namun sesaat kemudian ia tertawa saat ia membersihkan anakku. Lalu menyerahkannya pada suami untuk di adzankan. Sungguh perasaanku sayu ketika mendengar suara adzan dari suamiku untuk anak kami. Semoga kelak akan menjadi anak sholeha dan berguna bagi siapapun.
Bayi kecilku kami beri nama Ita, yang artinya, Jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna. Berharap Ita akan tumbuh menjadi anak yang kuat menghadapi apapun. Aamiin.
__ADS_1