
Waktu berlalu begitu cepat
Lelah menghitung setiap detiknya
Ada kala dihiasi suka bertabur tawa
Ada kalanya tergores luka diiringi air mata Waktu terus berjalan tanpa henti menemani setiap langkahku
Tanpa tahu ke mana langkah itu akan berujung
***
Sekolah sudah memasuki semester kedua. Sudah hampir setahun aku di sini menjalani aktivitas sebagai pelajar. Sudah 3 bulan aku tidak pulang ke kampung. Bukan tak mau, tetapi belum ada waktu karena banyak tugas baik di sekolah dan di rumah.
Minggu sore, ketika aku sedang menikmati rujak mangga bersama Lia. Handponeku berbunyi, ternyata Fitri yang meneleponku.
"Halo, Assalamualaikum Kak," suaranya dari seberang sana.
"Waalaikumsalam. Ya Fit, ada apa?" tanyaku
"Rabu besok, pulang yuk?"
"Maksud Kamu, pulang ke kampung?"
"Ya iya lah Kak. Emang mau mudik kemana lu? Punya kampung selain kampung kita??" tanyanya sambil tertawa lepas.
Aku dan Lia pun ikut tertawa mendengar guyonan Fitri. "Ya kali ngajak mudik ke kampung calon mertua," candaku.
"Ah Kamu Kak. Kamu aja masih sekolah, masak iya aku mau duluan? Masih bau kencur nih," rungutnya.
"Iya, iya. Emang ada apa ngajakin pulang? Kangen?"
"Iya kangen, kan udah lama kamu gak pulang Kak. Rabu besok ada acara di kampung kita," tutur Fitri.
"Oh ... Iya, aku hampir lupa. Di sini juga udah rame kok yang buka lapak di pasar kuala."
"Iya, aku tahu. Jadi, mau pulang gak?" tanyanya lagi.
"Aku gak libur sekolah loh, Fit?"
"Bolos saja Kak. Sehari doang kok Kak??" pujuknya.
"Ya kali sampe bolos Fit?"
"Ya gak apa-apa sekali-sekali. Pak Raden jangan di kasih tahu, nanti kumisnya tambah panjang," canda Fitri.
"Ada-ada saja kamu Fit, Tok Bah dengar baru tahu rasa," jawabku tertawa.
__ADS_1
"Jadi pulang tidak Kak? Lama banget jawabnya? Ngambek ni aku??" rajuk Fitri.
"Iya, iya. Aku usahain, tapi gak bisa janji."
"Oke. Aku tunggu loh ya? Siapa tahu ini terakhir kalinya kita ketemu kan?" jawab Fitri tertawa.
"Ngomong sembarangan Kamu, Fit. Ucapan itu doa, jadi ucapkan yang baik-baik saja," rungutku kesal.
"Iya, Bu Ustadzah. Di ceramahin deh saya. Aku pulang hari Selasa, jadi aku nginap di rumah dulu satu malam, Kak."
"Bukan nyeramahin Fit, tapi mengingatkan. Iya deh, gimana kamu aja. Kamu enak deket, lah aku? 2 jam naik angkutan umum."
"Ya sudah, aku tunggu hari Rabu. Gak ada alasan loh ya buat gak datang. Ajak tuh sekalian Lia biar tahu kampung kita."
"Iya, InsyaAllah. Kalau Lia mau, nanti aku ajak sekalian," jawabku.
"Iya. Assalamualaikum, Kak,"
"Waalaikumsalam,"
Fitri menutup sambungan teleponnya. Ada-ada saja anak itu. Jujur, aku tak terlalu suka keramaian. Apa lagi pasar rakyat seperti itu, yang pastinya berjubel manusia akan ada di sana.
"Kamu ikut gak Lia?" tanyaku pada Lia.
"Lihat nanti deh, Ta. Gak janji," jawab Lia.
"Banyak daun-daun muda loh di sana. Kamu kan suka tuh," candaku.
"Emangnya aku kambing suka daun??" rajuk Lia cemberut.
"Kamu nih, kayak mangga ya Ta?"
"Kenapa? Ranum-ranum manis ya?" tanyaku.
"Beh ... Asem!!!" jawab Lia sambil berlari menjauh dan tertawa terbahak-bahak.
***
Hari Rabu pun tiba. Aku terpaksa berbohong pada Tok Bah dan Nek Neng untuk bisa pulang menemui Fitri. Ya pamitnya ke sekolah yang kebetulan tidak libur, tapi terpaksa bolos.
Sepeda aku titipkan di perpustakaan daerah di dekat terminal. Kebetulan aku kenal penjaganya hari itu, jadi aman lah. Aku naik kendaraan umum menggunakan seragam sekolah, karena akan lebih murah hanya dua ribu rupiahbuntuk pelajar. Lumayan menghemat isi kantong yang pas-pasan kayak muka empunya, eh??
2 jam lebih perjalanan tanpa terasa. Pukul 08.00 pagi aku udah sampai ke rumah. Ternyata Fitri dan Nur sudah menunggu ke datanganku dengan senyum sumringah khas miliknya. Kami ngobrol dan bercanda sepuasnya. Entah perasaanku saja, aku merasa Fitri lebih terlihat cantik dan manja di mataku.
Selesai makan siang, Fitri mengajakku untuk ke pasar rakyat sebentar, karena pukul 3 sore aku harus sudah sampai ke rumah Tok Bah. Telat sedikit tak masalah. Aku pamitan pada ayah, ibu dan nenek. Tak lupa memberinya sedikit uang tabunganku.
"Gak nginap saja kamu, Kak?" tanya Fitri.
"Gak deh, Fit. Lain kali saja. Aku kan gak izin sama Tok Bah. Nanti dia marah tiba-tiba aku sudah di sini," jelasku.
"Iya deh. Kita jalan-jalan dulu ke pasar. Setelahnya kita cari ojek buat nganterin kamu ke depan," jawab Fitri sedikit murung.
__ADS_1
Kami pun berjalan-jalan melihat apa saja yang di jual para pedagang di pasar. Kebanyakan menjual pakaian baru maupun pakaian bekas, peralatan dapur dan segala Accessories khas anak muda. Tak ada yang menarik perhatianku, kami hanya membeli beberapa jajanan untuk menemani langkap kami. Lelah menyusuri jalan pasar yang itu-itu saja, aku memutuskan untuk segera pulang. Fitri menemaniku mencari ojek, karena untuk menemukan kendaraan umum aku harus keluar jalan desa sejauh 5 km. Fitri memaksa ikut mengantarkanku menggunakan ojek, sekalian jalan-jalan katanya. Aku hanya bisa menuruti kemauan adik manjaku ini.
Sepanjang perjalanan, Fitri terus mengoceh menceritakan keadaan tempat kerjanya dan tingkah ayah serta nenek. Ya, mereka masih saja seperti itu. Uang dan uang. 15 menit aku sampai di simpang desa untuk menunggu kendaraan umum. Lagi-lagi Fitri tidak mau pulang terlebih dahulu. Dia memaksa untuk menungguku hingga ada kendaraan umum yang sampai, ia akan pulang. Fitri tetap bercerita apapun, meluahkan isi hatinya sambil menggenggam tanganku. Heran, hanya itu yang ada di pikiranku.
Kendaraan umum terlihat dari jauh. Sebelum aku menaiki bus tersebut, Fitri memelukku sangat erat. Seperti tak ingin berpisah.
"Kamu kenapa sih, Fit? Kita kan masih bisa ketemu," tanyaku heran.
"Gak kenapa-kenapa Kak. Gak boleh ya, aku meluk kakakku sendiri?" rajuk Fitri.
"Ya boleh kok, Fit. Ya udah, aku jalan dulu ya? Kamu hati-hati naik ojeknya. Assalamualaikum," pamitku melambai ke arah Fitri.
"Iya, kamu juga Kak. Waalaikumsalam," jawab Fitri menghapus sudut matanya lalu melambai ke arahku.
Ada apa dengan anak itu pikirku. Ada perasaan aneh saat melihat sikapnya hari ini, tak seperti biasanya. Semoga hanya perasaanku saja. Tak lama, masuk sebuah pesan di Handponeku.
"Kak, maafin aku ya? Jika selama ini aku banyak salah sama kakak. Belum bisa jadi adik yang baik," tutur Fitri.
"Kamu apaan sih Fit? Kamu adik terbaik yang kakak punya. Udah jangan bicara yang aneh-aneh. Pulang sana, hati-hati," balasku.
"Iya Kak. Kamu juga hati-hati. Aku juga mau langsung pulang ke rumah majikanku habis ini. Di rumah gak seru, gak ada kamu," balas Fitri lagi.
Aku tak membalas pesannya lagi, karena posisiku dalam keadaan berdiri. Penumpang bus lumayan rame, apalagi pak supirnya lumayan ngebut nyupirnya. Aku harus berpegangan dengan erat.
2 jam perjalanan, aku sampai ke terminal, dan segera mengambil sepedaku menuju arah pulang. Bisa berabe kalau telat, bisa-bisa pak Reden ngedumel.
Aku sampai ke rumah Tok Bah dengan mode ngebut, sudah mirip pembalap. Hehe.
Aku segera masuk dan mengucapkan salam. Berganti pakaian lalu membantu nenek memasak makanan untuk makan malam.
Setelah makan malam, aku mengerjakan beberapa PR hari ini yang ku minta dari Indah lewat pesan singkat. Aku pun mengirim sms ke Fitri. Menanyakan apakah dia sudah pulang atau belum.
"Assalamualaikum. Sudah sampe rumah majikan kamu, Fit?" tanyaku. Tak lama pesanku dibalas Fitri.
"Waalaikumsalam. Sudah Kak. Sudah dari sore kok sampainya. Ini aku siap-siap mau tidur. Capek seharian jalan-jalan," balas Fitri.
"Syukurlah. Ya sudah, Kamu istirahat saja. Sudah malam juga. Aku juga mau istirahat, besok sekolah. Assalamualaikum."
Malam itu, dalam tidurku. Aku bermimpi tentang Fitri.
__ADS_1