Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Salah Sasaran Ibu Pov 11


__ADS_3

Suamiku terus memintakaku untuk mengembalikan racun itu kepengirimnya. Aku bergeming. mungkinkah rasa kemanusiaanku harus kubuang jauh-jauh? Apakah dengan membalas mereka bisa menyembuhkanku? Tidak, Allah lah yang Maha Mengetahui segala-galanya rahasia dibalik cobaan ini. Aku pasrah atas Kehendak-Nya.


"Bang, dengerin adek ya? Kematian itu pasti, tapi kita tidak tau kapan, bagaimana dan di mana. Kita semua pasti merasakannya bang, cepat atau lambat. Yang harus kita lakukan hanya berserah, ikhtiar dan bertaubat Bang. Apa abang tidak mau membimbing adek meraih jannah-Nya?" tanyaku lirih.


"Abang hanya ingin kau sembuh. Dek. Abang hanya ingin bersamamu sampai tua, jadi tolong bertahan untuk abang dan anak-anak," tangis pilu suamiku.


"Adek janji, akan menemani abang hingga akhir hayat bang. Namun, jika janji adek pada Allah sudah Ia tagih, Abang harus ikhlas ya?" tangisku tergugu.


Bang Sifa dan keluarga lainnya menangis menyaksikan adegan itu. Mereka tidak bisa memaksaku lagi


"Kalau pak Tuha boleh bicara, racun yang kau minum itu, salah sasaran nak,"


"Maksud pak Tuha? Sebenarnya racun itu bukan untuk istri saya?" tanya suamiku penasaran.


"Ya, tapi untuk ibumu," pak Tuha menatap dalam pada suamiku.


"Tidak mungkin Pak, mengapa mereka ingin meracuni ibu saya? Sedangkan mereka berteman dekat?" suamiku tak percaya.


"Rambut bisa sama hitam, tapi hati siapa yang tau? Mereka menyimpan dendam terhadap ibumu,"


"Tapi, mengapa istri saya yang bisa meminum racun itu pak Tuha?"


"Karena istrimu hidup tanpa prasangka, Adi. Ibumu pernah berkata kasar atau menyinggung orang yang memberikan racun ini. Dendam itu telah lama terpatri, tapi baru sekarang mereka bisa melaksanakannya. Namun, sayangnya istrimu yang menjadi korban keegoisan mereka " jelas pak Tuha.


"Lisan itu seperti dua mata pisau. Bisa membawa kita ke arah kebaikan dan berpahala, tapi jika tidak kita jaga lisan itu bisa membuat kita binasa. Mulutmu harimaumu yang siap menerkam lawan atau berbalik arah melawanmu," tegas pak Tuha.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan pak Tuha? Apa bisa racun itu di tawar atau diobati?"


"Sulit, karena telah merusak organ dalam istrimu. Kita hanya bisa mencegah penyebarannya untuk saat ini. Racun ini begitu kuat, Bersyukur istrimu masih bertahan hingga saat ini," jelasnya.

__ADS_1


"Pak Tuha akan memberikan penawar, tapi ini tidak bisa mengobati luka yang ada, Namun hanya sebagai penawar bisa racun itu,"


Pak Tuha pun meracik berbagai jenis tanaman obat yang dipercaya bisa menjadi penawar racun yang bersarang di tubuhku. Tatapan iba kurasakan di semua mata sanak saudaraku. Aku tersenyum, mengatakan aku baik-baik saja. Walaupun ada rasa khawatir di sana, mampukah aku bertahan?


Semua proses sudah kami lalui, aku semakin telaten meminun semua obat yang suamiku siapkan demi kesembuhanku. Batuk semakin sering mendera siang dan malam. Kadang perasaan malu dan risih dipandang sebagai penyakitan. Tubuhku semakin kurus, telah banyak bobot yang hilang karena terkadang aku tak bisa tidur semalaman dan nafsu makan berkurang.


Nur telah kuhentikan untuk memberinya Asi, tak baik untuk kesehatannya jika masih menyusu dengan keadaanku seperti ini.


Sejak suamiku tau aku sakit akibat racun dari orang yang dikenalnya, ia menjadi tempramental, sering keluyuran dan bermain judi. Ia sering membentak anak-anak bahkan sering tubuh-tubuh kecil itu menjadi sasaran kemarahannya yang tak kutahu untuk siapa?


Ia tetap bekerja seperti biasanya. Namun, jika sedang tak bekerja ia jarang di rumah. lebih sering menghabiskan waktunya di luar.


Aku tau ia sedih dan kecewa terhadap keputusanku yang memilih abai untuk tidak membalas. pernah suamiku berkata pada ibunya. "Ini semua salah ibu. Jika saja ibu tidak menyakiti hati mereka, istriku tidak akan menjadi korban," Ibu hanya terdiam, entah ia merasa itu benar atau sebaliknya.


.


.


.


Pagi itu, aku merasa tidak enak badan, Mual dan pusing mendera. Pengobatan 6 bulanku telah selesai, tapi batuk tak jua berhenti. Aku mencoba mengingat apa yang salah padaku pagi ini. Ternyata..


Seharian aku merasakan mual dan pusing, tak terhitung berapa kali aku muntah. Teh manis dan minyak kayu putih telah kuminum dan dibalurkan oleh Ita. Wajahnya begitu khawatir melihat keadaanku.


"Ibu, jangan sakit lagi ya? Ayo minum teh nya. Sini Ita kasih minyak kayu putih punya dek Nur," tatapan sayu sambil mengusap-ngusap punggungku.


"Ibu gak apa-apa sayang, cuma masuk angin aja, nanti temani ibu ke bidan yah?"


"Iya Bu, ini makan dulu buburnya," anak sekecil ini sudah sangat telaten menjaga dan mengurusku.

__ADS_1


"Bu, Anna titip Fitri dan Nur ya? Anna mau ke bidan Neneng dulu, gak tau kenapa badan serasa gak enak dari pagi," pamitku pada ibu.


"Iya, Na. Pergilah, biar ibu yang jagain, hati-hati di jalan ya?" pesan mertuaku.


Aku menggandeng tangan kecil Ita menyusuri jalan. Banyak hal yang ia ceritakan sepanjang jalan, tentang sekolah dan cita-citanya.


"Bu, Ita jika sudah besar pengen jadi polisi bu," tuturnya.


"Kenapa mau jadi polisi? Jika polisinya wanita itu bukan polisi sayang, tapi polwan," jawabku tertawa.


"Iya Bu, polwan. Biar Ita bisa jaga ibu dari orang jahat kayak kakek dulu jahatin ibu, dan kalau orang main judi mau Ita tangkep juga," jelasnya.


Seketika hatiku perih mengingat kejadian lalu yang dilakukan bapak mertuaku, ternyata bukan hanya aku yang trauma akan hal itu, tapi juga anak-anakku. Mengapa selama ini tak kusadari bisa berdampak sejauh ini?


"Ita, masih ingat kejadian malam itu Nak?" tanyaku hati-hati.


"Masih dong bu, Ita gak akan lupa. Ita takut Bu kalau lihat kakek," jawabnya polos.


"Sayang, dengerin ibu. Semua manusia itu kadang berbuat salah karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Namun, kita sebagai sesama manusia harus bisa saling memaafkan dan melupakan kesalahan itu agar hidup kita tenang dan damai," jelasku.


"Mengapa harus dimaafkan bu? Kan kakek jahat loh sama kita? Sampe buat ibu nangis," tanyanya polos.


"Allah saja Maha Pengampun, jadi kita sebagai manusia harus saling memaafkan, ya sayang?" terangku.


Ita mengangguk tanda mengerti, semoga saja ia bisa melupakan kejadian itu.


20 menit berjalan kaki, kami tiba di klinik bidan Neneng yang merupakan langgananku selama tinggal di sini.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2