Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Meja Judi Ibu Pov 13


__ADS_3

๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Dengan uang seratus ribu, kubelanjakan 2kg beras, setengah liter minyak, ikan asin dan sayur. Semoga cukup untuk kami beberapa hari ini. Aku harus menyelesaikan masalah ini, tidak bisa didiamkan lama-lama tanpa kutahu apa masalahnya.


Setelah memasak, kupanggil Ita agar menjaga Adik-adiknya.


"Ita, jaga adik-adikmu sebentar ya? Ibu mau ke pasar,"


"Iya Bu, mau ngapain bu?" tanya ita dengan mata bulatnya.


"Mau cari ayahmu. Tutup pintunya sayang, jangan dibuka jika ibu belum kembali," pesanku dan Ita mengangguk mengiyakan. Kubawa serta sebuah kampak berukuran kecil "Jika perkiraanku benar awas aja," rungutku.


"Mau ke mana kamu, Na? Kok bawa-bawa kampak?" tanya ibu.


"Mau ke pasar Bu, najemin kampak," kilahku tersenyum. Ibu hanya mangut-mangut mendengar alasanku.


Kususuri jalanan pasar dan beberapa buah warung kopi, tak terlihat suamiku di sana. Hingga aku bertemu salah satu temannya.


"Bang Amat, maaf. Lihat suami saya?" tanyaku.


Ia terlihat salah tingkah. "Tadi ada tapi sekarang gak tau ke mana," jawabnya gugup.


"Bang Amat jujur aja, saya gak akan bilang ke suami saya kalau abang yang ngasih tau," bujukku.


"Embhhhh.. tapi janji ya gak akan bilang Adi aku yang ngasi tahu dia di mana? pintanya ragu. Aku mengangguk setuju.


"Kamu menyebrang jembatan ini, lurus lalu belok kiri. Kamu masuk pintu kelima dari situ dan jika ada yang nanyai kamu mau apa? jawab aja nyari suamimu. Paham?" tuturnya.

__ADS_1


"Oke Bang, terima kasih infonya, ntar aku undang makan di rumah," senyumku.


Bang Amat pun bergegas pergi meninggalkanku. Aku mengikuti arah yang diberikan bang Amat. Semakin dekat dengan letak tempat itu, semakin terdengar suara riuh rendah tertawa senang khas bapak-bapak. "Apa yang mereka lakukan di sini? Apakah ini tempat?" gumamku.


"Ibu mau ngapain ke sini?" yang kuterka adalah penjaga keamanan di situ.


"Mau cari siapa Bu? Biar saya panggilkan," jawabnya gugup.


"Nih ambil buat beli rokok dan minggir sekarang!" sergahku sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan.


Aku masuk lebih dalam lagi. Ternyata lokasinya lumayan luas dan memanjang. Terdapat beberapa kamar tertutup di sana. Aku menangkap suara yang tidak asing sedang tertawa.


Kuperhatikan dari jauh, beberapa orang laki-laki membentuk lingkaran menghadap sebuah permainan dan dipandu oleh seseorang yang memegang sesuatu berbentuk bulat lalu digoyang-goyang memggunakan dua tangan di udara. Setelah itu melemparkan isinya yang berupa dua buah dadu. Suamiku ikut memasang pada permainan itu dan dia kalah. Hatiku mendidih seketika.


"Abang!? Oh.. ini yang abang lakukan jika keluar rumah hah?" teriakku kesal.


Teman-temannya ada yang tertawa melihat tingkah suamiku. "Dasar Adi takut istri," ucap mereka. Aku menoleh pada mereka. "istri-istri kalian juga akan sampai ke mari sebentar lagi bahkan polisi," ancamku yang langsung menghentikan tawa mereka.


Tak kuperdulikan lagi apa yang terjadi di sana, aku harus cepat pulang menyusul suamiku yang entah ke mana. Kupercepat langkahku walau matahari telah meninggi memancarkan sinarnya hingga terasa menusuk kulit.


Sesampainya di rumah, kulihat pintu telah terbuka dan suamiku duduk mengipasi tubuhnya dengan selembar kertas. Aku masuk dan mengucapkan salam.


"Kau ini apa-apaan sih Dek? Pake nyusul ke sana dan bawa-bawa kampak kayak gitu? Emangnya aku ini pencuri?" sungutnya tidak senang sambil mendelik ke arahku.


Kuacuhkan kata-katanya, berlalu masuk dan meneguk air putih. Kuambil piring lalu makan dengan lahap tanpa menawarinya makan. Anak-anakku telah kuberi makan sebelum aku pergi tadi dan mereka bermain di kamar. Melihatku tak memperdulikan kata-katanya, ia masuk dan duduk di sampingku.


"Dek, kalau orang ngomong itu didengerin dihargai, ini malah asik makan. Gak nawarin suami lagi kan aku juga lapar," tuturnya lagi.

__ADS_1


Aku menoleh dan menatapnya. Tak kulanjutkan makan dan meletakkan piring di atas lantai. "Bisa juga kamu lapar Bang? Aku kira kamu kenyang menghadap meja judi itu! Dan kamu bicara soal mendengarkan, menghargai? Apa kamu mendengarkan dan menghargaiku sebagai istrimu? Kau tidak jujur bang, Kau dzolim terhadap hakku dan anak-anakmu," ucapku menatap matanya dalam.


Ia terdiam dan menunduk dalam. "Kau tau Bang, judi itu haram? Apalagi hasilnya kau berikan kepadaku dan anak-anakmu untuk makan," isakku.


"Dek, Abang minta maaf. Abang menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"tuturnya menyesal.


"Jika abang masih ingin bersamaku, tolong jangan lakukan itu lagi,bang. Aku rela makan nasi dan garam asal itu uang halal. Jika abang ulangi lagi, akan kubawa serta anak-anak meninggalkanmu,"


Setelah kejadian itu, Bang Adi sudah tidak pernah lagi mengulangi perbuatannya. Hanya saja ia sering uring-uringan dan sering melampiaskannya pada anaknya Ita.


Pernah suatu hari, kami sedang bergotong royong membantu paman Rahmat dan bi Ria untuk mencongkel isi kelapa yang telah tua dari tempurungnya untuk di produksi menjadi minyak kelapa. Aku, bang Adi, dan mertua membantu mereka. Lumayan perkilonya dihargai lima ratus rupiah. Cuaca hari itu sedang mendung, sangat mendukung aktivitas kami yang sedang bekerja di luar rumah.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Ita dan adiknya Fitri. Aku dan suami bergegas menuju asal suara mereka. Ternyata Fitri terperosok di dalam lumpur, yang merupakan parit kecil yang sedang kering airnya disaat kemarau.


"Aaakkkkkhhhh.. Ibu.. ibu..," teriak Fitri menangis.


"Bu, ibu.. Fitri jatuh bu!" Ita pun berteriak memanggilku.


Ayah mereka lebih dulu sampai di tempat Fitri jatuh, turun ke lumpur dan menggendong Fitri keluar dari sana. Dengan nafas yang terengah-engah dan mata yang melotot, bang Adi menanyai Ita dengan keras. "Kamu apakan adikmu, Ta? Kenapa bisa jatuh di situ? Apa tidak ada tempat lain untuk bermain? Jika ada kayu di situ gimana? Paaacckkkk," suara makian dan tamparan terdengar. Ita tersungkur dengan darah di sudut bibirnya.


Aku mematung menyaksikan kejadian itu. Tak menyangka jika imam yang selama ini kubanggakan bisa berlaku kasar pada darah dagingnya sendiri.


"Abang!" teriakku. Ia tergamam, mungkin baru menyadari perbuatannya. Kutatap matanya, mencari jawaban atas apa yang ia lakukan. Ia menunduk dan pergi. Aku memeluk Ita yang gemetar ketakutan.


๐Ÿ‚Bersambung๐Ÿ‚


Terimakasih telah mengikuti kisah ini. Jangan lupa follow, vote, rate, like dan jadikan cerita favorit kamu agar mendapatkan notifikasi untuk bab selanjutnyanya. Author feedback

__ADS_1


I Love U readers.


__ADS_2