
Waktu satu minggu yang diberikan Bibi pada Adi untuk melamarku tinggal 2 hari lagi. Aku tak tahu, apakah ia akan menepati janjinya atau tidak. Aku tak tahu apa pekerjaannya, di mana tempat tinggalnya, bahkan seperti apa karakternya pun aku tak tahu. Jika ia jodohku, ia akan datang, jika tidak maka aku ikhlas.
Hari yang kunantikan telah tiba. Pagi ini aku membersihkan rumah dan halaman. Aku tinggal bersama bibi dan dua sepupuku. Bibi adalah kakak dari mendiang Ibu. Sejak aku kecil, orang tuaku telah tiada. Aku memiliki dua kakak laki-laki. Kami tinggal terpisah, agar bisa bertahan hidup. Kami tinggal dengan siapa saja yang mau menampung kami. Kami akan mengerjakan apa saja untuk bisa makan. Aku tak begitu mengerti penyebab ayah dan ibuku meninggal karena saat itu, aku masih sangat kecil. Aku diover ke sana kemari oleh keluarga ayah dan ibuku.
Aku paham, mungkin mereka berkeberatan mengasuhku.
Umurku 5 tahun waktu itu, aku tinggal dengan paman dari sebelah ibu. Aku menangis ingin makan karena matahari telah meninggi pertanda hari telah siang. Aku terus merengek ingin segera makan. Bibiku baru saja menanak nasi di tungku. Karena risih mendengarkanku terus menangis, paman mengambil nasi yang masih panas itu dan meletakkannya di atas kepalaku.
"Mau makan? Ini silahkan makan ! tahunya kamu merengek saja minta makan!" bentak paman. Aku hanya bisa menangis kencang merasakan panas nasi di kepalaku. Tak ada yang membelaku, termasuk anak-anak paman dan bibi. Mungkin mereka takut dan mungkin tak perduli.
Kebiasaan orang-orang di sini, akan makan dua kali sehari saja karena pada saat matahari belum bersinar di ufuk timur, mereka telah turun ke kebun untuk menoreh karet. Besar, kecil, tua ataupun muda, mereka telah di kebun pukul 04.00 subuh jika ingin hasil hari itu baik. Istilahnya ngobor. Anak-anak dibawa, agar bisa mencari sisa-sisa hasil ngobor kemarin yang menetes di tanah hingga mengasilkan suatu gumpalan putih yang kami sebut jinton. Harga jinton lebih murah daripada hasil karet. Jika tugas mencari jinton telah selesai, kami akan mencari sayur yang tumbuh subur di hutan. Kami sangat jarang makan menggunakan lauk seperti ikan atau telur, hanya sayur dan sambal terasi. Akan terasa mewah jika ada yang mengadakan pesta, kami bisa makan daging.
Paman dan bibiku akan bangun lebih awal, tak terkecuali denganku beserta anak-anak mereka. Di sini, masih sangat jarang sekali yang bersekolah. Aktivitas kami hanya membantu orang tua dan bermain. Aku tinggal bersama mereka hingga usiaku menginjak 7 tahun. Setelah itu, aku ikut bibiku saat ini.
Itupun bukan tanpa sebab? Aku hampir saja menjadi mangsa pelecehan oleh pamanku sendiri. Bersyukur aku masih bisa lari dengan pakaian yang telah robek di sana sini. Mereka yang melihat keadaanku, segera membantuku. Tak ada hukum penjara di sana, paman hanya dikenai hukum norma dan adat.
Aku sangat trauma akan kejadian itu. Aku akan sangat ketakutan, jika melihat seseorang seusia paman berada di dekatku. Dengan berjalannya waktu, aku bisa memaafkankannya.
Aku bersekolah setelah tinggal dengan bibi bersama dua sepupuku. Suaminya telah tiada, maka kami bergotong royong untuk bisa makan dan bersekolah. Masa kecil yang penuh perjuangan hingga aku berhenti sekolah di saat duduk di kelas empat SD dan ikut merantau ke kota. Akhirnya aku kembali lagi ke sini.
__ADS_1

Pangeran yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Tidak menggunakan kuda besi apalagi kuda putih. Namun, kedatangannya yang kuharapkan bisa merubah hidupku menjadi lebih indah.
Dia datang bersama ibu dan ayahnya beserta keluarganya yang lain. Ibunya masih muda begitu juga ayahnya yang belakangan kutahu adalah ayah tirinya dan orang pintar, sedangkan ibunya seorang dukun beranak. Mereka adalah pendatang dari kabupaten yang berbeda. Di sini, mereka tinggal di desa sebelah bersama adik dan ipar ibunya.
"Selamat malam, kedatangan kami kemari untuk melamar keponakan bibi untuk anak kami," ujar pamannya.
"Iya, kami sudah dengar dari Anna dan Adi beberapa hari yang lalu, semua keputusan ada di tangan mereka karena mereka yang menjalaninya. Bagaimana Anna? Apa kamu bersedia menerima lamaran Adi?" tanya bibi lagi.
Dengan tersipu malu memainkan ujung bajuku aku menjawab, "Iya Bi, aku bersedia,"
"Apakah Anna bersedia menjadi mualaf? Mengikuti Adi, calon suamimu?" tanya pamannya lagi.
"Iya, Paman. Aku bersedia mengikuti agama yang Adi anut," jawabku mantap.
Bibiku nampak berpikir. "Begini, Pak. Anna ini masih punya dua orang kakak laki-laki, hanya saja mereka tidak tinggal bersama kami. Saya juga tidak tahu tepatnya mereka tinggal di mana, apakah kita perlu menunggu dan meminta persetujuan mereka?" tanya bibi ragu.
"Bagaimana kalau besok, Adi mengantarkan bibi ke tempat yang mungkin saja mereka tinggali untuk meminta restu? Walau bagaimanapun mereka berhak tahu," usul paman.
"Ya, saya setuju kalau begitu. Untuk malam ini mungkin tidak mengapa Adi dan Anna saling tukar cincin dulu," jawab bibi.
Kami semua setuju dengan usul Paman Adi dan bibiku. Ibu Adi memasangkan cincin emas di jariku, dengan terus menunduk aku mengulurkan tanganku.
Setelah acara kami semua makan bersama dengan menu yang sangat sederhana. Mereka sangat maklum dengan keadaan kami dan bibi yang janda. Mereka pun berpamitan untuk pulang, dan akan datang kembali setelah Bibi dan Adi bertemu dengan dua kakakku.
__ADS_1
Ibu Adi sangat ramah dan terkesan ceriwis, begitupun ayah sambung Adi. Mereka sangat fasih menggunakan bahasa kampungku karena sudah lumayan lama tinggal di sini.
Semoga ini menjadi awal yang baik untukku dan Adi. Aku yakin akan ada hikmah dari cerita hidupku selama ini.
***
Keesokan harinya, Adi datang menjemput Bibi. Mereka akan berangkat menggunakan oplet, kendaraan kecil yang muat beberapa orang penumpang.
"Doakan aku bisa bertemu dengan kakakmu dan meminta restu," pamit Adi.
"Iya, tentu saja. Hati-hati di jalan," pesanku.
Bibi berpamitan, ia membawa adik sepupuku yang kecil. Aku berharap semua berjalan sesuai dengan keinginan kami semua.
Aku menatap takjub pada lingkaran emas di jariku. Aku tak menyangka bisa menggunakannya. Bahagia yang aku rasakan saat ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sejak kecil hanya air mata dan perjuangan yang aku dapati. Andai orang tuaku masih ada, mungkin perjuanganku tak seberat ini. Bahkan, aku tak lagi bisa mengingat bagaimana wajah orang tuaku. Aku berharap Ibu mertuaku kelak bisa menjadi ibuku sendiri. Aku berjanji akan bersikap baik pada orang tua suamiku kelak.
Saat sore menjelang, Bibi dan Adi tiba di rumah. Wajah mereka nampak letih, mungkin perjalanan mereka jauh sehingga memakan waktu seharian penuh. Kusuguhkan minuman pelepas dahaga untuk mereka. Bibi bercerita bahwa telah bertemu saudara kandungku, dan mereka memberikan kami restu serta berjanji akan hadir di acara kami nanti. Aku sangat senang mendengarnya, Akhirnya doaku dikabulkan oleh sang pencipta.
Bibi meminta Adi untuk menginap di rumah kami karena telah larut. Namun Adi ingin tetap pulang karena besok harus bekerja. Ia tak ingin ada gosip yang tidak-tidak karena kami belum sah di mata agama dan masyarakat. Aku semakin kagum padanya. Adi berjanji akan datang 2-3 hari lagi bersama orang tuanya untuk menentukan tanggal pernikahan kami.
💜💜💜

__ADS_1