Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Paru-paruku Ibu Pov 14


__ADS_3

Aku tersadar. Suami dan anak-anakku telah berada di dekatku. Mereka terlihat habis menangis dengan mata sembab.


"Alhamdulillah, Dek. Kamu sudah sadar," lirih suamiku.


"Adek kenapa, Bang?" tanyaku heran. Serasa lemah seluruh tubuh seperti habis terjatuh dari tempat yang tinggi.


"Kamu pingsan dari kemarin, Dek. Ayo abang suapi kamu makan dulu, setelah itu kita ke puskesmas memeriksakanmu karena kemarin adek muntah darah," usul suamiku.


Aku hanya mengangguk lemah. Kulihat Nur tertidur dipangkuanku ibu. Kasihan Ibu terlihat sangat lelah mengurusi anak-anakku.


Setelah makan, kami pergi ke puskesmas menggunakan sampan, hanya aku dan suamiku. Untuk berjalan ke sana aku tak sanggup, tubuhku masih sangat lemah. Anak-anak kami titipkan pada ibu dan bibi. Sesampainya di sana aku di periksa seorang mantri. Dokter di desa kami masih belum ada.


Kesimpulan yang kami terima, aku harus di ronsen di kota. Untuk ke sana membutuhkan waktu dua jam perjalanan menggunakan bus antarkota.


Sepulang dari puskesmas, suami, mertua dan paman beserta bibi berembuk mencari jalan keluarnya. Keputusan mereka aku harus di bawa untuk segera melakukan ronsen pada organ dalamku

__ADS_1


agar tau mengapa aku bisa muntah darah? Aku tak pernah mengalami riwayat penyakit akut sedari kecil, lalu dari mana darah itu?


Keesokan harinya, aku dan suami berangkat tanpa membawa serta anak-anak. Akan sangat melelahkan jika mereka ikut serta. Perjalanan kurasakan sangat lama, bimbang dan khawatir menggelayuti hati. Bimbang akan anak-anak dan khawatir tentang penyakitku.


Tiga jam kemudian, kami sampai di rumah sakit negeri milik pemerintah. Suamiku mendaftarkan untuk melakukan ronsen. Cukup lama kami menunggu antrean, sejam kemudian barulah namaku dipanggil untuk masuk ke dalam. mengikuti segala prosedur pengecekan paru-paru dan penyakit dalam seperti tes darah dan dahak. Kebetulan aku tidak sedang batuk jadi tidak bisa melakukan pengecekan dahak.


Cukup lama kami menunggu hasil lab keluar hingga lewat setengah hari. "Ibu Anna?" panggil salah satu petugas lab. "Silahkan ke ruang dokter untuk membacakan hasil," arahnya.


Kami segera menuju ruangan yang dimaksud. Suamiku mengetuk pintu dengan perlahan. Terdengar jawaban dari dalam mempersilahkan kami masuk. "Mari Ibu dan bapak silahkan duduk. Boleh saya lihat hasil ronsen dan labnya?" pinta sang dokter. Suamiku menyerahkan hasilnya. Dokter meneliti dengan saksama berkas yang ada di depannya. "Paru-paru ibu ini luka ya? Itu penyebab utama mengapa ibu bisa memuntahkan darah segar, seperti telah lama mengalami tuberkulosis atau TBC," jelas sang dokter.


"Apa Ibu sudah lama batuknya?" tanyanya lagi. Aku menggeleng. "Tidak dokter, saya tidak pernah batuk akut. Batuk biasa seperti radang tenggorokan dan influenza itu sering dok," jelasku.


"Lalu, bagaimana jalan keluarnya dokter?" tanya suamiku khawatir.


"Ibu harus menggunakan obat paru-paru selama 6 bulan tanpa boleh terlewat seharipun. Jika terlewat, Ibu harus mengulang dari awal lagi karena bisa menyebabkan bakteriologinya menjadi kebal akan obat yang ibu konsumsi," jelasnya.

__ADS_1


"Di mana kami bisa mendapatkan obat tersebut dokter? Jika harus bolak balik ke mari, jarak kami terlalu jauh,"


"Ibu dan bapak bisa kembali kemari bulan depan, akan saya resepkan untuk satu bulan konsumsi. Jadi setiap bulannya Ibu bisa konsultasi ke saya untuk melihat perkembangannya paru-paru ibu,"


"Baiklah dokter kalau begitu, kami ikuti saja mana yang terbaik menurut dokter untuk kesembuhan istri saya," lirih suamiku.


"Baiklah, ini resepnya bisa Bapak tebus di apotik depan, dan hasil ronsen dan lab ini bawa kembali ketika akan berkonsultasi bulan depan," jelas sang dokter.


Aku seakan kehilangan kekuatan walaupun hanya mengucapkan terima kasih. Ya Allah, cobaan apa lagi ini? "Sabar ya Dek? Abang yakin adek akan sembuh, demi anak-anak kita," hibur suamiku memberi kekuatan.


Setelah menebus obat, kami bergegas makan siang terlebih dahulu di kantin rumah sakit. Perut yang keroncongan memaksa kami untuk melahap santapan sederhana itu walau seakan sulit untuk kutelan memikirkan sakitku yang misterius ini.


TBC. Terima kasih telah mengikuti kisah ini.


Jangan lupa follow, vote, rate, like & jadikan favorit kamu.

__ADS_1


Author feedback.


I Love U readers.


__ADS_2