
Aku adalah seorang ibu dengan satu anak yang telah menikah. Anakku menikah dengan seorang mualaf bernama Ana.
Mereka mempunyai tiga orang anak, dan semua cucuku itu perempuan. Ah, aku sangat kesal. Mengapa harus perempuan semua? Aku ingin cucu laki-laki seperti anakku agar ada yang meneruskan keturunan kami. Aku tak juga serta-merta tidak menyukai cucu-cucuku, contohnya pada cucu keduaku Fitri. Aku sangat menyayangi. Fitri cantik, putih dan bermata sipit. Ita dan Nur tak kalah lucu dan menggemaskan, tapi aku kurang suka pada mereka.
Aku terus mendesak agar menantuku hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki. Walaupun aku tahu menantuku ini sedang sakit. Namun, itu tak menyurutkan keinginanku. Aku terus memanas-manasi anakku, Adi agar istrinya bisa hamil lagi. Jika tak mau, toh bisa menikah lagi. Suamiku pun mendukung hal itu.
Suamiku, ayah tiri dari anakku bernama Herman. Aku tak suka tatapannya pada menantuku, itu yang membuatku benci pada Ana. Walaupun ia tergolong menantu yang baik, berbakti, dan penurut. Seorang mualaf yatim piatu, tanpa ayah dan ibu sedari kecil. Aku bersyukur saat menikahkan anakku dengannya, tak perlu keluar uang mahar terlalu banyak, cukup menikah pada penghulu dan sah.
***
Sore itu, aku sedang bersantai di teras rumah anak mantuku. Aku bertiup agak kencang sore itu, mungkin akan hujan sebentar lagi. Tiba-tiba aku merasakan ada yang memegang kepalaku dan menarik rambutku. Aku reflek menarik dan memelintir tangan itu. Ternyata Ita yang memungut sampah dari kepalaku yang terbawa angin. Sejujurnya aku tak sengaja, hanya saja karena memang aku tak begitu menyukai Ita, ya sudahlah. Ibunya datang menghampiri mendengar Ita menangis akibat ulahku. Ah, biar saja aku tak terlalu perduli. Menantuku pergi tanpa sepatah katapun masuk ke dalam kamar membawa Ita yang masih menangis. Bagiku, itu sangat tidak sopan. Aku tahu dia marah atas sikapku selama ini padanya dan anak-anaknya. Apa perduliku? Aku yang terlanjur emosi dengan sikap menantuku dengan cepat aku pulang ke rumah mengambil kampak. Tak berniat melukai siapapun, hanya ingin menakut-nakutinya saja.
"Kamu bukan anak menantuku. Hingga kiamatpun kalian bukan anak cucukun ...!" teriakku penuh emosi.
Kulihat Ana hanya diam dan menangis, tanpa menjawab apapun ucapanku. Ia menatapku sendu. Kuhentikan tindakanku sore itu, karena sudah banyak tetangga yang menjadi penonton gratis. Walaupun aku terkenal galak dan tak takut menyerang siapapun yang kuanggap musuh, tetapi aku disegani di lingkunganku. Aku mempunyai keahlian menjadi dukun beranak, pijat patah tulang dan jadi tukang masak dadakan. Lumayan jika tak lagi sibuk mengurus sawah.
Akhirnya, Ana hamil lagi untuk yang keempat kalinya. Kini telah sembilan bulan kehamilan menantuku. Aku bisa tahu kalau cucuku kali ini adalah laki-laki. Aku sangat senang dan sedikit memberi perhatian pada Ana. Tak mengapa untuk kali ini saja pikirku.
__ADS_1
Tibalah waktunya menantuku melahirkan. Segala sesuatunya telah disiapkan anakku dan aku akan bertindak sebagai dukun beranaknya. Proses kelahiran kali ini agak memakan waktu, kulihat menantuku seperti sudah tak bertenaga. Terpaksa aku meminta anakku memanggil teman sejawatku yakni mbok Minah. Ia lebih ahli karena jam terbangnya lebih tinggi dengan banyak pasien yang mbok Minah tangani. Setibanya Mbo Minah ke rumah, Ia segera membantu persalinan menantuku. Dengan cekatan menangani proses tersebut. Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar.
Aku pun buru-buru masuk untuk melihat apakah bayi laki-laki atau perempuan lagi. Alhamdulillah, ternyata laki-kaki. Aku sangat terharu dan bahagia, tanpa sadar aku mencium kening menantuku yang selama ini tak pernah kulakukan sama sekali selama pernikahannya bersama anakku. Anggap saja, rasa terima kasihku padanya atas perjuangannya untuk cucu laki-kaki yang selama ini aku nantikan.

Syukuran atas kelahiran cucu laki-lakiku, kupersiapkan dengan mewah. Memasak 100kg ayam, ikan dan sayur-mayurnya lengkap dengan sambal. Semua kumasak sendiri dengan penuh kasih sayang. Walaupun menantuku bilang ini sangat berlebihan, aku tak peduli. Suami dan anakku setuju saja dengan apa yang kulakukan, siapa yang berani menetangku?

Setelah acara selesai, kuperhatikan menantuku semakin tidak sehat. Ia sering batuk dan demam tinggi hingga mengigil. Sudah beberapa mantri yang dipanggil Adi untuk mengobati istrinya. Namun, hasilnya tetap nihil. Semakin hari semakin parah, bahkan sudah tak bisa lagi untuk bangun seorang diri. Sementara anakku tak bisa menunggui istrinya yang sakit beserta anaknya yang masih bayi.

Setelah 4 bulan Ana terlantar sakit keras, akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saat kejadian itu, Adi sedang tidak ada di rumah. Ia bekerja di pedalaman desa kami.

Sore harinya, barulah ia tiba. Ia mengahambur memeluk jasad tak bernyawa istri tercintanya. Menangis pilu seakan tak ingin melepaskan pelukannya. Aku dan para tetangga berusaha memenangkannya dan memintanya untuk ikhlas dan bersabar. Kasihan anakku, semuda ini telah menjadi duda dengan empat anak.
Pengebumian pun berjalan dengan lancar pagi itu. Ita menangis histeris melihat jasad ibunya di makamkan. Wajar saja, selama ini Ita yang paling dekat dengan Almarhumah ibunya.
__ADS_1
Kepergian menantuku ini, menorehkan luka yang dalam pada hati anak-anaknya. Apalagi Ita dan Fitri yang sudah mengerti apa arti kehilangan. Sedangkan Nur dan Aji saat itu masih sangat kecil.
Ita dan Fitri akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah, karena harus membantuku mengurus adik-adiknya. Aku pun tak punya biaya untuk menyekolahkan mereka. Sementara Aji masih butuh susu formula. Kuminta Ita untuk bekerja mengasuh cucu Pak kades di desaku. Lumayan untuk tambah-tambah uang belanja pikirku dengan nilai dua ratus ribu perbulan.
Aku heran, mengapa rasa tak sukaku pada Ita dan Nur tak juga hilang. Malah semakin menjadi. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, tak segan-segan hukuman tanpa makan akan kuberikan agar mereka jera dan hatiku puas.
🍒🍒🍒
Setahun meninggalnya menantuku, Adi berniat menikah lagi dengan seorang gadis yang telah berumur. Dua tahun lebih tua dari anakku. Tak mengapa, aku berharap ia bisa menyayangi cucu-cucuku nantinya dan membantuku mengurus mereka. Namun, harapan hanyalah harapan belaka. Menantu baru yang kuharapkan bisa mengurus cucu-cucuku, dengan tega dan tanpa rasa bersalah memukul cucu kesanyangku. Aku sangat marah. Namun, bukan permintaan maaf yang kuterima, tetapi hinaan dan cacian yang kudapatkan. Inikah balasan untukku karena dulu aku dzolim pada almarhumah menantuku? Aku menyesal telah menikahkan Tina dengan Adi. Penyesalan di akhir memang tiada gunanya. Lihat saja, akan kuadukan pada anakku, biar ia menceraikan si Tina.
.
.
.
Pagi Minggu, kami sedang bersantai karena libur bekerja. Seseorang mengucapkan salam dan ternyata itu keponakanku Utin dari kota. Selain bersilahturahim, Utin datang ingin mengasuh salah satu cucuku untuk menemani anaknya di rumah dan menyekolahkan mereka. Tentu saja aku tidak ingin Fitri pergi jauh dariku, aku sangat menyayanginya. Biarlah Ita saja yang ikut mereka, toh dari mereka aku akan tetap mendapatkan uang bulanan, tidak akan rugi-rugi amat.
Ita berangkat setelah mengurus kepindahan dari sekolah yang lama ke sekolah barunya. Utin memberiku uang sebesar dua ratus ribu, lumayanlah. Ternyata ada gunanya juga cucuku satu ini. Baru pergi saja sudah dapat segini, apalagi bertahun-bertahun?
Setahun kemudian, Fitri berniat ingin bekerja di Kota untuk mengasuh seorang anak yang masih batita. Aku sudah melarangnya untuk bekerja, cukuplah uang kiriman dari ayahnya serta kakaknya. Namun, Fitri tetap bersikeras untuk bekerja. Dengan berat hati aku mengizinkannya.

__ADS_1