Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Hijrah


__ADS_3


Sesampainya di kabupaten tempat tinggal Tok Bah, panggilan akrabku padanya. Aku segera menghubunginya untuk menjemputkan di terminal, karena jarak dari terminal ke rumahnya lumayan jauh. Tak lama Tok Bah telah sampai menjemputkku.


Melihat Tok Bah, membuatku teringat akan tokoh di Indonesia, yaitu pak Raden. Kumis tebal, serta perutnya yang buncit sama persis. Terlihat galak, tapi aslinya sangat lucu dan humoris.


Sudah lama tok Bah memintaku untuk tinggal dan bersekolah di kabupaten. Tok Bah tidak memiliki anak, yang ada hanya anak tiri yang keduanya perempuan, tetapi tidak tinggal bersama Tok Bah beserta istrinya Nek Neng.


Semoga di sini, aku bisa memulai segalanya dengan lebih baik.


.


.


.


Pov Fitri


Aku Fitri. Anak kedua dari empat bersaudara.


Hidup kami tidak seberuntung anak-anak lain seusia kami, bahkan dalam hal kasih sayang. Semenjak Ibu meninggal, kami harus berjuang dan dewasa sebelum waktunya. Bahkan meninggalkan bangku sekolah demi meringankan beban ayah dan nenek. Kami tak ingin beban mereka semakin berat karena kami masih punya dua adik kecil.


Kami tak pernah memilih-memilih makanan yang disediakan. Kami sudah terbiasa makan dengan menu sederhana ketika ibu masih ada, bahkan hanya dengan mentega dan nasi hangat sudah sangat nikmat.


Kakakku Ita, punya cita-cita sedari kecil. Aku tau dia punya kemauan keras dan pantang menyerah di banding aku dan adik-adikku. Setidaknya, ada salah satu dari kami jadi orang dan lebih baik.


Ayah menikah lagi setahun setelah ibu meninggal. Tak mengapa bagiku, semoga ibu tiriku bisa menyayangi kami. Aku bahagia jika ayah bahagia. Ayah tak lagi harus merantau mencari rezeki ke luar kota. Ayah menetap di rumah ibu yang berbeda desa, bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan kami.


Kakakku Ita juga tidak berpangku tangan, ia membantu mengasuh cucu kepala desa di desaku dengan upah dua ratus ribu perbulan.


Aku tak mengerti, mengapa nenek terlihat tidak menyukai kakakku dan adikku Nur. Padahal kami sama saja cucu-cucu nenek dan anak ayah satu ibu. Terkadang aku kasihan melihat kakakku diperlakukan seperti itu. Dia kakakku satu-satunya dan kami sangat menyayanginya.


Suatu hari, nenek mengajak kami ke desa ibu tiriku, untuk ikut panen padi di tetangga ibu tiriku. Aku senang ke sana, karena akan bertemu ayah setiap hari dan adik kecilku dari pernikahan ayah dan ibu.


Pagi itu, nenek dan kakakku ikut memanen hasil padi tetangga. akqu dan kedua adikku tinggal di rumah. Sebisanya aku membantu pekerjaan ibu. Tak mungkin ia bisa mengerjakan semuanya karena ada adik kecil kami yang harus ia jaga. Aku mencuci piring, menyapu, mengepel dan memandikan adik-adikku.


Ibu sedang memasak nasi, ketika adik kecilku menangis. Ibu memintaku untuk mengaduk nasi di dandang yang ada di atas tungku. Aku bingung, tungku untuk memasak itu agak tinggi. Di tambah lagi dandang nasi yang besar. Aku kepayahan untuk menjangkaunya. Dengan agak takut, kudekati ibu yang sedang menyusui adik kecilku.


"Ibu, aku tidak bisa mengaduk nasinya, tungkunya tinggi. Aku takut dandangnya jatuh."


Kulihat ibu memandangiku dengan tatapan tajam dan menghembuskan nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Kamu ini, aku hanya memintamu mengaduk nasi saja kamu tidak bisa?Lalu, apa yang kamu bisa? Apa hanya makan?" bentak ibu.


Ibu beranjak dari tempat tidur sambil menggendong anaknya menuju dapur.


"Lihat ini, begini caranya. Kamu ambil dudukan kayu ini lalu naik ke atasnya," jelas ibu sambil mengaduk nasi di dandang.


"Iya Bu, maaf." lirihku takut seraya memperhatikan apa yang diajarkan ibu.


"Maaf ... maaf ... Hanya itu yang kamu bisa? Ini rasakan ...!"


Aku tak sempat mengelak lagi. Saji nasi yang terbuat dari kayu itu sudah berada di atas kepalaku dengan nasi panas. Sakit, sangat sakit. Aku terduduk karena kaget dan sakit di kepalaku.


Aku menangis sambil meraba kepalaku yang sakit dan membuang nasi panas itu. Adik-adikku, Nur dan Aji berlari mendapatiku menangis. Mereka tak mengerti apa yang terjadi. Ibu masuk kembali ke kamar setelah melakukan itu padaku.


Tak lama kudengar nenek dan kakakku pulang dari sawah. Aku terlambat untuk berhenti menangis dan membersihkan kepalaku dari nasi. Aku tak ingin ada pertengkaran antara ibu dan nenek.


"Dek, kenapa menangis?" tanya kakakku.


"Ibu memukul kepalaku pake saji kayu, Kak ...."


Kakakku pun ikut menangis dan membersihkan nasi yang masih agak panas di kepalaku. Nenek yang mendengar ucapanku langsung masuk dan berteriak marah pada ibu.


"Kamu apakan Fitri, Tina?" tanya nenek dengan suara menggelegar.


"Kamu kan tahu Tina, tungku itu tinggi dan Fitri tidak sampai untuk menjangkaunya."


"Sudahlah, lebih baik Ibu bawa saja mereka pulang ke rumah Ibu. Di sini hanya ngabis-ngabisin beras saja."


Nenek pun tidak menjawab lagi, mungkin nenek sedih dan kaget mendengar ucapan ibu. Nenek meminta kakakku mengemasi pakaian kami dan pulang. Rumah almarhumah ibu lebih tepatnya, karena setelah ibu meninggal, nenek ikut tinggal di rumah kami.


Kami pulang tanpa makan terlebih dahulu. Jujur aku sangat lapar, begitu pula dengan kakak dan adik-adikku pastinya. Karena kami belum sempat makan dari pagi hari. Kami menyusuri jalan desa yang agak jauh untuk sampai ke tepian sungai besar dan mendapatkan tumpangan motor air.


Nenek menggendong Aji, sedangkan aku, kakakku dan Nur berjalan beriringan di belakang nenek. Aku menyesal, mengapa tadi tak segera membersihkan kepalaku dari nasi-nasi itu. Jika itu aku lakukan, pasti ini tidak akan terjadi.


Tak lama kami sampai di tepian sungai, ada motor air yang lewat dan menepi untuk kami tumpangi. Perjalanan kami di liputi sepi dan perut keroncongan. Berharap segera sampai di rumah dan makan.


Sesampainya di pasar, nenek membeli beras dan bumbu untuk memasak keong emas yang dibawa kakak dari sawah. Lalu pulang ke rumah yang tak jauh dari pasar. Nenek dan kakakku sibuk memasak, sedangkan aku menunggui Aji di dalam ayunan yang ada di kamar.


Proses memasak memang agak lama, karena kami masih menggunakan tungku kayu untuk memasak nasi dan sebagainya. Satu jam setelahnya, kakak memanggilku dan Nur untuk makan.


Kami makan dengan lahap karena hari yang sudah beranjak sore. Setelah makan aku dan Nur mencuci piring, sedangkan kakak dan nenek pergi mandi ke sungai.

__ADS_1


🍒🍒🍒


Assalamualaikum Mak. Sibuk tidak?" seseorang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam. Masuk Tik." sahut Nenek.


"Loh Mak? Kok sudah pulang dari desa Tina? Apa panennya sudah selesai?" tanya Bik Atik.


"Belum Tik. Ada kejadian di sana, jadi kami pulang," jawab nenek.


"Kejadian apa Mak? Apa tidakda sayang di tinggal Mak? Kalau masih banyak upahan panen di sana?"


"Tina memukul kepala Fitri menggunakan saji kayu. Kamu kan tahu, Fitri itu tidak seberapa tingginya untuk mengaduk nasi yang tungkunya tinggi begitu," jelasNenek kesal.


"Ya sudahlah Mak. Bagaimana kalau Emak ikut saya saja nyisipin kulit kelapa? Mereka mencari tambahan karyawan, karena permintaan produksi sedang banyak," Ajawk Bik Atik.


"Boleh Tik, boleh. Kapan bisa mulai kerja?" tanya nenek antusias.


"Subuh ini, kita berangkat pake truk jemputan Mak."


"Tapi, bagaimana cucu-cucuku, Tik?"


"Ita bisa Mak bawa, untuk bantu-bantu ngumpulin kelapa untuk Emak bersihkan. Fitri kan bisa jaga Nur dan Aji di rumah Mak."


Nenek mendengarkan dengan seksama ucapan Bik Atik.


"Sebelum pergi, Emak masak dulu untuk mereka di rumah. Pukul 05.00 subuh jemputan datang Mak. Bagaimana?"


"Iyalah Tik, aku ikut. Kami juga perlu makan dan susu untuk Aji. Ayahnya sudah tidak bisa diandalkan setelah menikah lagi," jawab nenek sendu.


"Baiklah Mak. Kalau begitu saya pulang dulu, sudah sore. Subuh kita berangkat. Jangan lupa bekal untuk makan siang ya Mak?"


"Iya, nanti aku mampir dulu ke rumahmu."


"Iya Mak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab kami bersamaan.


Aku melihat ada keraguan di wajah nenek. Mungkin nenek bingung untuk meninggalkanku dan adik-adikku di rumah. Namun, jika tidak ikut bekerja, kami mau makan apa? Aku pasti bisa menjaga adik-adikku.


"Ita, Fitri. Kemari Nenek mau ngomong," panggil nenek malam harinya.

__ADS_1


💜💜💜💜



__ADS_2