Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Kepergianmu (Nenek Yang Dzolim?)


__ADS_3


"Kamu ini, jarak rumah dan tempat tinggalmu itu dekat. Kapanpun kamu bisa pulang untuk menemui nenek kan?" jawabku.


"Iya Nek, siapa tahu besok lusa Fitri sudah tidak bisa pulang, pasti nenek kangen sama Fitri," jawabnya masih sambil tertawa.


"Sudah-sudah. Jangan bicara yang tidak-tidak. Itu jemputanmu datang, hati-hati di jalan ya Fit?" pesanku.


"Iya Nenekku sayang. Ayah, Ibu, Fitri pamit ya? Assalamualaikum," pamit Fitri seraya melambai ke arah kami.



"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


Hatiku merasakan firasat buruk akan kata-kata Fitri barusan tapi aku tak mau berburuk sangka. Mungkin hanya guyonan saja dan perasaanku saja yang berlebihan. Semoga.


Fitri menelepon ayahnya meminta izin untuk pergi menonton konser artis yang akan hadir di kota tempat tinggal Ita.


"Ayah, Fitri izin ke kota Kak Ita ya? Ada konser artis dangdut di sana. Itu loh yah, artis yang sedang naik daun," jelas Fitri.


"Kamu sama siapa ke sana Fit? Dan menggunakan kendaraan apa? Jangan ya, ayah dan nenekmu khawatir," pujuk Ayahnya.


"Fitri rame-rame kok yah sama teman-teman dan majikan Fitri juga. Pake mobil majikan," jelas Fitri.


"Tapi Fit, di sana itu sangat ramai. Lagipula Kakakmu belum tentu di izinkan oleh tok Bahmu untuk keluar malam," ayahnya masih mencoba memujuk Fitri.


"Nanti Fitri jemput kakak Ayah. Boleh ya? Terakhir kali ini saja yah,"


"Baiklah kalau begitu, tapi janji kamu harus hati-hati di jalan dan jangan terpisah dari rombongan," pesan ayahnya.


"Oke bos, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," balas ayahnya.


Ada rasa kahwatir yang

__ADS_1


menyelimuti hatiku saat mendengar kata-kata Fitri barusan. Ditambah handpone yang digunakan Fitri tidak bisa dihubungi hingga malam menjelang. Ayahnya yang khawatir menelepon Ita.


"Assalamualaikum. Ita, ada Fitri menghubungimu?" tanya ayahnya.


"Waalaikumsalam. Gak ada, Yah. Dari kemarin Fitri tidak menghubungi Ita. Ada apa, Yah?" tanya Ita.


"Begini, tadi siang Fitri telepon meminta izin menonton konser yang ada di kotamu itu. Artis dangdut katanya," jawab ayahnya.


"Loh, Ita saja tidak tahu Yah, jika ada artis yang mau datang. Sekarang saja, Ita ada di rumah gak kemana-mana," jelas Ita.


"Ya sudah. Kalau ada kabar dari Fitri kabari ayah ya, Ta?"


"Iya Yah, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Hatiku makin tak karuan memikirkan Fitri. Entah mengapa ada firasat tidak baik yang sedari tadi tak kunjung hilang. Tepat pukul 23.41 Wib, ada telepon masuk yang tidak kami kenal di handpone anakku.


"Selamat malam Pak. Apa benar ini dengan orang tua Fitri?" tanya seseorang di telepon.


"Iya Pak. Saya ayah Fitri. Anda siapa?"



"Ya Allah. Bagaimana keadaan anak saya Pak? Apa dia tidak apa-apa?" tanya anakku khawatir.


"Iya Pak, korban masih ditangani oleh pihak dokter di rumah sakit. Kami harap bapak segera datang kemari. Terima kasih,"


"Baik Pak. Saya segera berangkat. Terima kasih,"


Aku yang mendengar berita itu sangat terkejut. Aku dan Tina menangis. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku, anakku, Yusuf dan keponakanku segera bersiap-siap berangkat. Tak lupa anakku menelpon Ita untuk menanyak keberadaannya. Ternyata Neneng istri sepupuku yang menerima telepon dan mengabarkan Ita sudah berangkat ke rumah sakit menggunakan sepeda.


Sesampainya di sana kami telah di tunggu oleh pihak polisi.


__ADS_1


"Bagaimana Pak, keadaan cucu saya Fitri?" tanyaku tak sabaran.


"Mari Bapak dan Ibu ikut kami," jawab polisi tersebut tanpa menjelaskan apa-apa.


Ternyata Ita sudah dalam keadaan pingsan di bangsal rumah sakit ditemani temannya Lia. Kulihat ada gurat kesedihan di mata majikan Fitri dan adik sepupuku, saat melihatku hanya bisa menggelengkan kepala perlahan. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada cucuku, doaku dalam hati.


Masuk ke sebuah ruangan, hal yang pertama kali kutangkap adalah sesosok tubuh terbujur kaku tertutup kain putih dengan darah berceceran di bawah bangsal rumah sakit. Aku tak sanggup untuk mendekat. Adik sepupuku memapahku mendekati bangsal itu, dengan perlahan polisi membuka kain putih yang menutupi tubuh itu. Bagai ditusuk duri beribu banyaknya, saat aku melihat cucu kesayanganku sudah tidak bernyawa. Aku segera menghambur memeluk Fitri, menangis memanggil namanya. Berharap ia mendengar dan bangun melihatku. Namun, itu sungguh tidak mungkin karena Fitri sudah meninggal di tempat kejadian perkara 3 jam yang lalu. Ya Allah, ada apa ini? Ujian apa yang kau timpakan pada kami? Inikah teguran atas sikapku selama ini? Ya Allah ampuni aku.


Ita masuk ke ruangan dengan di bawa adikku. Ita sudah beberapa kali pingsan sebelum tau adik kesayangannya telah tiada.


"Ya Allah Fitri. Bangun Dek, bangun. Ini kakak Dek.. Ayo kita pulang!! Kakak janji tidak akan meninggalkanmu lagi asal kamu membuka matamu," raung Ita sayu.



Anakku pun tak dapat menahan tangis melihat mayat anaknya. Ia mengamuk dan mencari siapa penyebab ini semua. Ternyata seorang anak remaja laki-laki yang bersama Fitri penyebabnya bernama Satria. Kendaraan bermotor yang digunakan Satria tak layak pakai karena tidak memiliki lampu depan dan rem tangan blong. Beruntung nyawanya masih selamat, ia akan diproses secara hukum karena menghilangkan nyawa seseorang atas keteledorannya dalam berkendara.


Selesai semua urusan di rumah sakit, kami membawa pulang jenazah Fitri di antar mobil ambulans.



Kami masih menangis menatap tubuh tak bernyawa itu. Ita pingsan entah yang keberapa kalinya. Sesampainya di rumah kami disambut sanak saudara yang telah menunggu kedatangan jenazah. Nur, Tina dan Aji menangis melihat ke datangan kami. Begitupula sanak saudara yang lain. Jenazah Fitri tak banyak mengalami luka, tetapi luka di bagian tengkuk Fitri yang menyebabkan pendarahan parah hingga nyawanya tak dapat tertolong.



Keesokan harinya. Jenazah Fitri dimandikan, Ita sebagai kakak ikut memandikan adiknya untuk terakhir kalinya. Kami semua mencoba untuk tegar. Tak ingin memberatkan almarhumah. Kami mencoba ikhlas. Namun, tetap saja air mata mengalir dengan derasnya. Jenazah telah selesai di kafankan dan disholatkan. Waktunya untuk di bawa ke tanah pemakaman. Kami sekeluarga dan para pelayat mengiringi keranda. Mengantar ke tempat peristirahatan Fitri yang terakhir.



Fitri dimakamkan di samping makam ibunya. Doa-doa mengiringi proses pemakaman. Ita kembali pingsan saat jenazah Fitri di turunkan ke liang lahat. Mendung seakan mewakili perasaan kami ditemani rintik hujan. Selamat jalan cucuku tersayang, semoga husnul khotimah.



'Nenek menyayangimu, maafkan atas sikap Nenek selama ini' bathinku.


Kini aku harus lebih berbaik hati pada Ita, saat ini hanya dia yang bisa kuharapkan.

__ADS_1


💜💜💜



__ADS_2