
Dua hari kemudian, Adi dan kedua orang tuanya beserta pamannya kembali berkunjung di kediaman kami. Kedatangan mereka kali ini untuk menetapkan tanggal pernikahan kami, baik secara adat dan islami.
Yah, di kampungku jika ada yang akan menikah harus menggunakan nikah kampung atau nikah adat. Setelah itu terserah ingin menikah secara pemerintah lagi atau tidak. Tentunya, dengan pernikahan yang diketahui pemerintah, kita sebagai wanita mempunyai dasar hukum yang kuat sebagai istri dan wanita.
Tanggal pernikahan telah disepakati oleh kedua belah pihak. Besok kami akan mendaftarkan pernikahan kami di KUA berserta persyaratannya. Kemudian mendaftar ke kepala adat di desaku. Aku dan bibi tak meminta uang mahar yang besar, tapi mereka tetap memberikan untuk makan-makan bersama tamu yang hadir. Mahar spesialku adalah memintanya menuntunku mengucapkan lafaz syahadat.
Membayangkannya saja, hatiku sudah berdebar tak karuan. Memimpikan keluarga bahagia dengan anak-anak yang lucu menggemaskan, yang kelak akan menjadi pelipur lara dan teman ketika menua.
***
Hari yang kami nantikanpun tiba. Hari ini kami akan menikah secara adat terlebih dahulu. Semua persyaratan dari kepala adat telah kami persiapkan termasuk hewan yang memang diharuskan ada diacara itu.
Kami duduk mengahadap kepala adat. Semua pernak-pernik pernikahan dan tamu yang hadir. Kepala adat memulai upacara pernikahan, kami mendengarkan dan mengikutinya dengan khidmat. Dengan semua proses yang kami jalani, akhirnya kami sah sebagai suami istri secara adat. Namun, belum sah di mata agama yang dianut suamiku, jadi kami belum bisa tinggal bersama. Besok kami akan menikah di KUA dan di depan penghulu.
Keesokan harinya, kami beserta rombongan duduk di depan penghulu yang akan menikahkan kami. Sebelum itu, beliau mengajarkan suamiku untuk membimbingku mengucapkan lafas syahadat agar sah menjadi mualaf.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".
Artinya:
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"
Kalimat Syahadat adalah salah satu rukun Islam yang harus diamalkan oleh setiap umat muslim, karena kuatamaannya sangat penting untuk umat Islam maka pada rukun Islam di tempatkan di urutan yang pertama.
__ADS_1
Kalimat Syahadat mempunyai arti seseorang mengucapkan secara lisan dan membenarkan dari dalam hati kemudian mengamalkannya baik secara prilaku atau perbuatan.
Kalimat Syahadat ini juga di ucapkan pada saat Akad Nikah, karena memang sebagai salah satu syah dari pernikahan adalah beragama Islam dan memang bahwa mereka berjanji selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anna binti Ajir dengan mas kawin tersebut, tunai !!"
Terdengar kata syah dari penghulu dan keluargan kami. Aku terharu, tak menyangka akan berada dalam fase ini, menikah denfan seorang muslim. Aku memilih jalan sebagai muslimah dan meninggalkan agamaku sejak lahir. Aku ikhlas demi meraih surga Allah Azza Wa Jalla bersama suamiku, mengarungi rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah, langgeng dunia hingga ke jannah. Barakallahu.
Aku mencium punggung tangan suamiku dengan takzim, ia membalas mengecup keningku. Sungguh romantis. Bergantian kami menyalami orang tua dan keluarga yang hadir. Pelukan hangat kudapatkan dari ibu mertua yang kini telah menjadi ibuku. Ibu yang telah melahirkan suamiku.
Kami menerima ceramah singkat dari penghulu tentang pernikahan.
"Pernikahan itu akan menggenapkan separuh dien antum (agama kalian. Red). Sehebat apapun sebelum menikah, masih belum komplit keber-Islaman kita. Nikah itu sunatullah, sunnah Rosul artinya siapa saja yang beranjak dewasa maka dianjurkan untuk segera menikah, karena dengan menikah maka akan mendapatkan ketenangan batin,"
"Dengan adanya akad nikah ini mulai sekarang pengantin baru ini sudah punya SIM," pak penghulu menyerahkan surah nikah pada kami berdua,"
"Kemarin anda memiliki 2 orang tua dan sekarang anda berdua memiliki 4 orang tua yaitu orang tua dan mertua (hakikatnya sama penyebutannya saja yang berbeda),untuk itu buatlah mereka tersenyum, berbakti dan ridho. Karena ridho Allah bergantung pada ridhonya orang tua,"
"Penting untuk disimak, bahwa pernikahan itu awal penyatuan takdir untuk saling berbagi kasih dan sayang. Menasehati satu sama lain sehingga tercipta apa yang dicita-citakan dalam berkeluarga dan untuk meneruskan tugas sebagai khalifah fil ardy,"
"Kehidupan rumah tangga tidaklah selalu sempurna, terkadang ketika kita mengalami susah dan payahnya melaksanakan tugas sebagai penopang utama keluarga, sengaja atau tidak pasti ada perasaan yang menyalahkan, walaupun itu kadang masalah yang sepele."
Rasa syukur tak henti-hentinya mengalir pada lisanku. Allah telah menentukan jalan-Nya padaku. Semoga Aku bisa menjadi mualaf yang istiqomah di jalan-Nya.
Setelah menikah, suami memboyongku untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Aku sama sekali tak berkeberatan karena aku bisa ikut berbakti kepada mereka. Aku ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang selama ini tak pernah aku dapatkan.
Aku pamit pada bibiku. Kakak-kakakku pun masih tinggal beberapa hari di rumah bibi. Mereka sangat mendukung pilihanku saat ini.
__ADS_1
"Asal kamu bahagia, Dek. Kami selalu mendukung apapun keputusanmu. Semoga kamu selalu rukun bersama suamimu," pesan kakakku.
Kakak keduaku telah menikah dan memiliki satu orang putri. Semoga segera Allah titipkan juga di rahimku.
Di sini, aku membantu ibu mertuaku di kebun karet, kadang juga tidak. Ibu tak mau aku terlalu lelah karena masih ada suami dan rumah tangga yang harus kuurus. Saat tiba musim durian, aku akan ikut menunggui kebun mereka. Menunggu satu persatu buah-buah itu gugur dari pohonnya. Suamiku hanya bekerja sebagai petani karet seperti rata-rata orang di sini.
Satu tahun pernikahan, akhirnya aku hamil anak pertama kami. Sungguh anugerah yang tak terkira, ada nyawa yang hidup di rahimku. Suamiku sangat bahagia tak terkecuali bapak dan ibu mertuaku. Semenjak aku hamil, suami dan mertuaku sangat memanjakanku. Aku tak boleh ikut mereka lagi ke kebun dan tak boleh bekerja yang berat menurut mereka, hanya boleh memasak saja.
Ibu mertua sangat menginginkan cucu laki-laki. Ia sangat berharap kelak akan berguna dan rajin seperti suamiku. Lain halnya dengan suami dan bapak mertua, mereka menerima apa saja jenis kelamin anakku, yang penting sehat.
"Ibu berharap, cucu pertama ibu nanti laki-laki agar bisa membimbing adik-adiknya kelak," tutur ibu sore itu.
"Apa sajalah Bu, asal cucu kita sehat," jawab bapak.
"Iya Bu, benar kata bapak, yang penting sehat ibu dan anaknya saat proses melahirkan," sambung suamiku.
"Iya, Ibu tau. Ibu kan hanya bercita-cita begitu, gak salah kan?" rungut ibu.
"Ya, semoga saja ya bu? Tapi, apapun kelak calon bayiku, aku harap kita semua menyayanginya," ucapku menanggapi keinginan mertua.
Tanpa terasa, 9 bulan telah terlewati, tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Segala sesuatunya telah kami siapkan, hanya tinggal nama saja yang belum, karena belum tau apakah anakku laki-laki atau perempuan.
Subuh itu seperti biasa aku bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal suami dan mertua. Entah mengapa perutku serasa mulas, saat kubawa ke toilet tak jua ingin hilang rasa mulas itu. Setiap menit mulasnya akan bertambah saja. Karena tak tahan, aku bangunkan suami, ia terlihat bingung. Ibu pun datang memeriksaku apakah sudah waktunya aku melahirkan.
Tanda lahir sudah keluar. Aku benar-benar tak tahan dengan rasa sakit yang mendera, seperti 20 tulang-tulangku akan patah. Rasa sakitnya berulang, namun belum juga akan lahir. Hingga akan menjelang maghrib barulah suara tangis itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Sungguh aku bahagia memandangi wajah tak berdosa itu. Aku dan suami menangis menyaksikan bukti kekuasaan Allah.
"Anakmu perempuan, Na. Sehat dan berat badannya pas," jelas ibu, karena memang ibu yang membantu proses melahirkanku. Ibu awalnya terlihat sedikit kecewa. Namun sesaat kemudian ia tertawa saat ia membersihkan anakku. Lalu menyerahkannya pada suami untuk di adzankan. Sungguh perasaanku sayu ketika mendengar suara adzan dari suamiku untuk anak kami. Semoga kelak akan menjadi anak sholeha dan berguna bagi siapapun.
Bayi kecilku kami beri nama Ita, yang artinya, Jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna. Berharap Ita akan tumbuh menjadi anak yang kuat menghadapi apapun. Aamiin.
__ADS_1