
Aku berada di satu kamar bersama Fitri,Tidur berdua. Namun, Fitri membelakangiku. Berkali-kali aku memanggilnya, tapi tak juga Fitri berbalik apalagi menjawab panggilanku."Apakah Fitri marah padaku?" pikirku.
Di situ, Fitri menggunakan pakaian serba putih. Tidurnya sangat damai seakan tak ada aku di sampingnya yang berkali-kali memanggilnya. Anehnya, Fitri tak dapat kusentuh.
Suara adzan berkumandang, aku terbangun. Merasa heran, saat ini aku di mana? Bukankah tadinya aku tidur bersama Fitri?
***
Sabtu malam, aku sedang bersantai di teras rumah bersama Lia. Melihat anak2 tetangga anak-anak sekitar bermain dengan cerianya. Tanpa beban, sangat bahagia tertawa bersama. Telepon masuk di gawai jadulku. Ternyata ayah.
"Assalamualaikum Ayah. Ada apa?" tanyaku.
"Waalaikumsalam. Fitri ada menelpon kamu gak, Ta? Gawainya tidak dapat ayah hubungi sedari sore," jelas ayah khawatir.
"Gak ada, Yah. Terakhir kirim pesan hari Rabu kemarin," jelasku ikut khawatir. Kemana anak ini? Kok tumben sekali tidak mengabariku atau orang rumah kalau mau apa-apa. "Fitri ada bilang sesuatu ke Ayah, gak?" tanyaku lagi.
"Iya, tadi siang izinnya mau ke kotamu, mau nonton konser dangdut. Ayah gak ngizinin awalnya, tapi Fitri maksa terus," jelas ayah sendu.
"Aku saja gak tahu mau ada konser, Yah."
"Ya sudah. Jika Fitri menghubungimu, kasih tahu" Ayah ya, Ta?"
"Iya Yah. Nanti Ita telepon jika Fitri ada kabar. Assalamualaikum,"
Aku bingung ingin menghubungi siapa? Aku tidak tahu siapa saja teman-teman Fitri yang pergi bersamanya. Pukul 21.00 gawai-ku kembali berdering dan ternyata Fitri yang menelepon, alhamdulillah.
"Assalamualaikum. Fitri, kamu kemana saja baru telepon? Tuh, Ayah nyariin terus," cercaku.
"Waalaikumsalam. Aku sudah nyampek ke pasar rakyat kuala di kotamu, Kak. Kemari lah, kita nonton sama-sama," jawab Fitri.
"Kok gawaimu gak aktif sedari sore? Emangnya, artis yang mana sih yang mau manggung? Kok aku gak tahu?"
__ADS_1
"Sengaja aku matiin, Kak. Habisnya Ayah telepon terus ngelarang aku pergi. Itu loh Kak, artis yang lagi naik daun, Ridho Melodi,"
"Kamu ini buat orang tua khawatir saja. Lain kali, jangan gitu lagi. Oh ... Gak ah, aku lagi gak pengen kemana-mana. Tok Bah lagi gak ada di rumah, kasihan nenek sendirian," jelasku.
"Ya sudah, kalau gitu aku saja yang ke sana ya?"
"Sudah malam, Fitri. Lebih baik kamu ajak teman-temanmu untuk pulang, kan lumayan jauh jaraknya, Fit,"
"Gak apa-apa, bentar doang. Aku kangen sama kamu, Kak,"
"Kamu sama siapa memangnya," tanyaku.
"Aku sama Satria. Aku sudah on the way ke rumahmu," jawab Fitri.
"Baiklah, Kamu hati-hati di jalan," ucapku pasrah. Cukup lama aku menunggu Fitri datang. Hingga 2 jam kemudian, Fitri tidak juga muncul. Aku mulai khawatir. Berkali-kali mencoba meneleponnya, tapi tidak juga terhubung. Perasaanku mulai tidak enak. Nenek yang melihatku mondar-mandir di teras rumah, datang menghampiriku.
"Kamu menunggu siapa, Ta? Kok kayaknya gelisah sekali? Itu mie rebus sampe kembang kayak gitu gak kamu makan?" tanya Nenek heran.
"Nungguin Fitri, Nek. Dari pukul 9 tadi bilang mau ke sini, tapi gak nyampe-nyampe. Gawainya juga gak aktif lagi Nek," jelaskan khawatir.
"Tunggu saja dulu, mungkin ban sepeda motor mereka kempes, mogok atu gawai Fitri lowbat, kan?" hibur nenek.
"Ya sudah, jangan malam-malam tidurnya. Nenek masuk dulu."
Aku mengangguk. Tak berapa lama, kembali gawai-ku berbunyi. Namun, nomer yang tidak kukenali. Kuberanikan diri untuk menjawab telepon tersebut setelah 2 kali panggilan masuk.
"Ya, halo?" jawabku.
"Selamat malam mba. Apa benar ini keluarga dari saudari Fitri?" tanya seseorang bersuara berat di sana.
"Iya benar, Pak. Itu adik saya, Fitri. Ada apa ya Pak?" tanyaku heran.
"Kami dari kepolisian. Adik anda mengalami kecelakaan tepat di depan lapas, jalan raya kampung tengah. Kami harapkan kedatangan mba ke rumah sakit segera," jelas pak polisi tersebut.
Seakan terhenti detak jantungku saat mendengar kabar tersebut. Tanpa diminta air mata luruh dengan sendirinya. "Bagaimana keadaaan adik saya Pak?"
__ADS_1
"Adik mba dan temannya sedang di tangani oleh dokter, kami harap anda segera kemari. Selamat malam," jelas pak polisi.
"Baik Pak, saya segera ke sana,"
Aku termangu sesaat, berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku segera menghubungi Tok Bah untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Ternyata handpone Tok Bah tertinggal di rumah saat pergi memancing. Aku membangunkan Lia dan Nenek serta menjelaskan semuanya. Nenek sangat terkejut dan segera memanggil tetangga untuk menyusul Tok Bah ke tempat biasa tok Bah memancing. Aku tak bisa menunggu terlalu lama, aku ingin segera tahu keadaan Fitri. Aku ke garasi dan mengeluarkan sepedaku untuk pergi, ternyata Lia ingin menemaniku, takut terjadi hal yang tidak diinginkan jika aku pergi sendirian. Aku pun berpamitan pada nenek.
Aku dan Lia mengayuh sepeda kami secepat mungkin, jarak rumahku dan rumah sakit lumayan jauh sekitar 10 km. Aku sudah tak memperdulikan lelah kakiku bahkan nafasku yang terengah-engah. Aku hanya ingin segera sampai ke sana.
"Tunggu Kakak, Fitri. Tunggu Kakak," lirihku menangis.

Sesampainya di rumah sakit, aku dan Lia meninggalkan sepeda kami begitu saja. Aku berlari masuk ke dalam tanpa tahu ruangan mana yang harus kutuju.
Lia menenangkanku. Rasa bingung, resah dan takut berbaur menjadi satu. Mata-mata pengunjung memperhatikanku sudah tak kuperdulikan. Aku berlari ke sana ke mari menanyai suster. Namun, mereka ikut bingung melihatku menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.
Datang seorang polisi menghampiriku. "Mba keluarganya saudari Fitri?" tanyanya.
"Iya Pak, iya. Di mana adik saya?" tangisku.
"Mari ikut saya, mbak," ajak pak polisi tersebut. Beberapa langkah kaki kuayunkan mengikuti polisi tersebut, tiba-tiba pandanganku gelap, aku rebah di situ. Sayup-sayup aku mendengar teriakan Lia dan pak polisi sebelum semuanya hilang berganti kelam.
"Kak, bangun Kak?" seseorang penepuk-nepuk pipiku.
"Fitri?" gumamku lalu bangun dan memeluknya sangat erat.
"Aku gak apa-apa, Kak," jawab Fitri tersenyum tipis.
"Kamu gak luka? Kok badan kamu dingin banget, Fit?" tanyaku heran.
"Iya, Kak. Aku kedinginan. Dingin sekali. Di sini dingin, Kak. Bisa bawa aku pulang? Aku ingin istirahat, aku lelah, Kak," jawab Fitri sayu.
"Ya Allah, kamu sakit, Fit? Ayo kita pulang? Ke rumah Tok Bah dulu ya? Ini sudah malam mau pulang ke kampung kita," ajakku.
"Aku mau pulang ketemu Ibu, Kak. Itu Ibu sudah menunggu buat jemput aku."
__ADS_1
💜💜💜