
"Aku mau pulang ketemu Ibu, Kak. Itu Ibu sudah menunggu buat jemput aku."
"Kamu becanda ya, Fit? Ibu kita sudah 9 tahun gak ada, Fit? Ayo ikut kakak pulang ke rumah Tok Bah."
"Aku gak becanda, Kak. Itu Ibu di sana," tunjuknya. Aku mengikuti arah yang di tunjukkan Fitri, tapi tak ada siapapun di sana. Tunggu, kok Fitri memakai pakaian yang mirip seperti mimpiku kemarin? Aku segera menepis pikiranku itu.
"Setelah ini, Kakak jaga diri ya? Aku gak bisa nemenin kakak lagi. Kakak harus berjuang sendiri demi adik-adik kita. Kakak harus tetap sekolah dan raih cita-cita kakak. Aku mau ikut Ibu, Kak. Ibu bilang, Kakak belum waktunya ketemu ibu. perjalanan kakak masih panjang," tutur Fitri menatapku dalam.
"Dek, jangan bicara gitu. Kakak maunya sama-sama kamu terus. Jangan tinggalin kakak. Ibu sudah tenang di surga-Nya Allah, Fit. Kakak gak bisa tanpa kamu. Ayo kita pulang?" jawabku sambil menangis.
"Jaga diri, Kak. Aku dan Ibu sayang kakak," ucap Fitri memelukku erat. Ada yang memanggil namaku dan tercium bau minyak kayu putih di hidungku.
"Ya Allah, Ta. Kamu gak apa-apa? Lama banget pingsannya? Aku khawatir," ucap Lia.
"Fitri mana, Lia? Tadi Fitri ada di sini sama aku?" cercaku. celingukan mencari keberadaan Fitri.
"Fitri? Gak ada. Dari tadi aku sama Tok Bah yang jagaian kamu. Tok Bah lagi ke luar, tadi Ayah dan Nenek kamu sudah sampai," jawab Lia menerangkan.
"Aku mau ketemu Fitri, Lia."
"Jangan dulu ya, Ta? Dokter bilang psikis kamu masih lemah. Diminta istirahat dulu di sini,"
"Aku gak apa-apa, Lia? Ayo anterin aku ketemu Fitri," ajakku sambil menarik tangan Lia.
Sampai di depan pintu, kulihat Tok Bah menunduk sambil menangis. Begitu pula beberapa orang di sana yang tidak kukenal. Mungkin teman-teman Fitri. Adik dari Nenek, Tok Ilyas dan anak-anaknya juga sudah ada. Mereka menatapku, lalu menggeleng lemah. "Ya Allah, semoga Fitri baik-baik saja. Bukankah baru saja Fitri menemuiku? Pasti Fitri hanya lelah," pikirku positif.
__ADS_1
Tak lama Nenek keluar. Nenek menangis, menatapku lalu memelukku erat. Tangis Nenek begitu sayu? Aku bingung. Muncul firasat buruk.
"Nek, aku mau masuk. Fitri baik-baik saja kan, Nek? Tanyaku. Bukannya menjawab, tangis Nenek malah makin menjadi. Aku melepaskan pelukan nenek, ingin masuk. Namun, Tok Bah dan Om-ku menahanku agar tidak masuk.
"Ita mau masuk, Tok Bah, Om? Kalian ini kenapa?" teriakku sambil menangis. Aku tak habis pikir, ada apa dengan mereka?
"Ita nanti ya masuknya. Fitri masih ditangani dokter," jawab om Agus.
Aku luruh ke lantai, menangis pilu. Lia datang memelukku. Menguatkanku. Namun, firasat ini berbeda. Apalagi tatapan mata semua orang itu berbeda. Seorang dokter keluar dari ruangan Fitri, disusul ayah. Aku menatap wajah ayah. Ada sesuatu yang tak dapat kusiratkan. Tatapan mata terluka dan kehilangan. Persis tatapan mata ayah dulu ketika di tinggalkan ibu.
"Ini, Kakaknya Fitri?" tanya dokter.
"Iya, dokter. Saya kakaknya. Bagaimana Fitri dok?"
"Sebaiknya, bawa Ita masuk, Pak. Dia juga berhak tahu keadaan dan kenyataannya," ujar dokter tanpa menjawab pertanyaanku.
"Fitri?"
"Fitri? Fitri ...!" teriakku histeris sambil berlari menghampiri tubuh kaku ditutupi selimut putih.
"Ya Allah ... Dek? Bangun ...! Bangun, Fit ...!" Wajah itu damai. Seakan tertidur pulas. Seperti di mimpiku. Aku terus menangis memanggil nama Fitri. Tak kuhiraukan Ayah dan nenek terus memujukku. Aku hanya ingin Fitri bangun. Di bawah bangsal berceceran darah segar yang terus menetes. Tak kulihat ada luka di wajah dan tubuh Fitri, lalu darimana asal darah itu? Sesaat kemudian aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku pingsan yang kedua kalinya. Saat sadar kami sudah di dalam mobil ambulance, membawa jasad Fitri.
"Ta, kamu hati-hati ya di jalan. Kamu yang sabar ya? Aku pulang dijemput Mas Bagus," pamit Lia.
Hanya mampu kujawab dengan anggukan kepala. Lidah terasa kelu. Atma terasa terguncang. Ya Allah, sesakit ini kehilangan untuk yang kedua kalinya? Orang-orang yang kusayangi, lebih disayangi oleh Allah Azza Wa Jalla.
2 jam perjalanan, kami sampai di rumah. Aku tak sanggup untuk menapaki bumi. Mengambang segala asa dan rasa, seakan jiwaku tak berada di sini. Aku hanya mampu diam memandangi jasad itu. Air mata mengalir tiada henti.
__ADS_1
"Fitri, mengapa secepat ini? Apa kamu tak ingin melihat kakakmu ini bisa membahagiakanmu? Bukankah kita sudah berjanji takkan meninggalkan satu sama lain?" ratapku pilu. Ya Allah ... ampuni hamba belum mampu untuk ikhlas.
Walaupun langit masih bertabur bintang. Kokok ayam telah bersahutan menandakan fajar akan segera hadir. Tetangga dan kerabat telah memenuhi rumah kami. Berbela sungkawa atas musibah yang menghampiri. Siapa yang mampu melawan ketentuan-Nya?
Tatapan kosongku. Kami semua berduka, tapi aku? Seakan kehilangan separuh jiwaku. Beberapa kali ayah menawariku untuk makan, bahkan Ibu menangis melihat keadaanku.
"Ita harus kuat, Ibu tidak ingin kehilangamu lagi, Nak. Maafkan atas semua kesalahan ibu di masa lalu," tangis ibu pilu. Aku tak sanggup untuk sekedar mengalihkan tatapanku dari jasad Fitri. Aku tak ingin kehilangan momen terakhirku bersamanya.
"Ita mau ikut memandikan Fitri?" tanya nenek. Kupandangi mata tua itu. Sama hancurnya denganku. Kuanggukan kepala, segera beranjak ke tempat pemandian yang sudah disediakan. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk terakhir kalinya untuk adikku tersayang.
Tak kutemui luka mengaga di sekujur tubuhnya, hanya sedikit luka robek di bagian betis dan yang paling parah hingga merenggut nyawanya adalah luka di kepala bagian belakang, yang terus menerus mengeluarkan darah segar. Aku tak sanggup, tergugu menatapnya. Wajah itu indah, tenang dan damai.
Proses pengafanan di lakukan. Senyum ikhlas seakan terukir di wajah tenang itu. "Apa kamu sudah bahagia di sana, Fit? Bertemu Ibu kita? Bisa merasakan pelukan hangatnya lagi. Apa aku boleh ikut? Tak inginkah kamu mengajakku serta? Aku takut sendirian di sini menghadapi hari esok tanpamu."
Selesai di sholatkan, Fitri di bawa ke pemakaman. Bersebelahan dengan Ibu. Ramai sanak saudara dan teman-teman Fitri mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Begitu banyak yang menyayanginya. Si pemilik senyum terindah, ramah pada siapapun bahkan kepada orang-orang yang baru ditemuinya.
Ayah turun ke liang lahat, mengadzani si cantikku, sama seperti saat baru lahir ayah mengadzani kami. Saat Kami menangis tapi ayah tersenyum. Namun, saat ini berbanding terbalik, beliau menangis mengadzani putri tercintanya. Mengantarkan buah hatinya pergi selamanya. Orang tua mana yang rela? Jawabannya tidak ada. Tapi mereka harus ikhlas.
Sedikit demi sedikit, tanah menutupi jasadmu. "Aku ingin terus menatapmu. Namun itu tak mungkin. Aku meraung semaunya. aku ingin ikut bersamamu," kembali gelap bersama tertimbunnya tanah merah itu di pusaramu.
💜💜💜
__ADS_1