
Setibanya di rumah Tok Bah dan Nek Neng, aku segera membenahi pakaianku. Kamarku bersebelahan dengan kamar Tante Mia dan Tante Mini yang jarang mereka tempati di lantai atas.
Setelah selesai berbenah, aku membantu nenek memasak makan malam. Selesai makan malam, tok Bah memanggilku.
"Ita, besok kamu sudah bisa daftar sekolah. Apa kamu sudah memutuskan mau melanjutkan di sekolah mana?" tanya tok Bah.
"Sudah tok Bah. Sebelum kemari, Ita udah mendapatkan info sekolah yang Ita minati," jawabku.
"Baiklah kalau begitu, tapi Tok Bah tidak bisa mengantarkanmu untuk mendaftar. Besok Tok Bah harus masuk kantor karena hari Senin," jelas tok Bah.
"Iya Tok Bah, semuanya sudah Ita siapkan. Ita ke sananya naik apa Tok Bah? Kan jauh," tanyaku.
"Di garasi ada sepeda Tok Bah, tapi modelnya sepeda anak laki-laki. Kamu bisa menggunakannya?"
"Bisa dong, Tok Bah. Terima kasih Tok Bah dan nenek mau menerima Ita di sini. Kalau tidak ada bantuan dari Tok Bah, Ita tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan sekolah," lirihku.
"Jangan Ita pikirkan masalah itu. Tok Bah tidak punya anak. Kalau bukan membantu keluarga, siapa lagi yang Tok Bah bantu," ucap tok Bah.
"Iya, jangan sungkan-sungkan di sini Ta. Anggap saja rumah sendiri. Kami sekarang kakek dan nenekmu di sini," sambung nek Neng tersenyum.
"Iya Tok Bah, nek Neng. Terima kasih," jawabku terharu.
Aku sangat bersyukur atas bantuan tok Bah dan nek Neng. Mereka hadir di saat yang tepat. Kami pun beranjak untuk istirahat.
Keesokan harinya. Aku bersiap-siap untuk mendaftar ke sekolah yang aku inginkan. Menggunakan sepeda, kukayuh dengan penuh semangat. Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Bisa 45 menit jika mengayuh dengan santai. Sesampainya di sana, aku menemui satpam dan menanyakan tempat pendaftaran di mana. Pak satpam dengan senang hati menunjukkan arahnya.
"Di sini Dek, tempat pendaftarannya. Silahkan masuk ke dalam, ambil formulirnya dan isi," jelas pak satpam.
Aku masuk ke bagian administrasi dan meminta formulir. Aku mengisi semua data yang diminta. Nama orang tua dan siapa waliku nanti. Ada nyeri di hatiku, bahwa waliku bukan ayahku. Selesai memenuhi semua persyaratan, aku diminta datang tiga hari lagi, untuk melihat apakah aku terdaftar atau tidak.
***
Tiga hari kemudian, aku kembali lagi ke sekolah tersebut. Mudah-mudahan aku bisa lulus. Aku menatap satu-persatu nama calon siswa dan siswi yang tertera di papan pengumaman sesuai jurusan yang kupilih, jurusan administrasi perkantoran. Alhamdulillah, namaku tertera di sana. Jika tak mengingat sedang berada di tempat keramaian, aku sudah berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil berteriak senang.
__ADS_1
"Hai, kamu Ita kan? Alumni SDN 06?" tanya seorang siswi cantik.
"Iya, benar. Maaf, mungkin aku lupa, nama kamu siapa dan apa dulu kita satu sekolah?" tanyaku penasaran akan sosok ramah di depanku.
"Aku Indah. Ingat tidak kamu dulu ujian nasionalnya di SDN 43 Al-Falah? Aku sekolah di sana," jelas Indah.
"MasyaAllah. Iya aku ingat sekarang. Bukankah kita duduk bersebelahan hanya beda meja saja?" jawabku antusias.
"Iya, benar. Kamu daftar sekolah di sini juga, Ta?"
"Iya, Indah. Aku ambil jurusan administrasi perkantoran. Kalau kamu?"
"Sama dong. Mudah-mudahan kita sekelas ya, Ta?" ucap Indah tak kalah antusias
"Aamiin ... Mudah-mudahan ya Indah. Kamu sama siapa ke sini?"
"Oya hampir lupa. Perkenalkan ini teman-temanku dan akan jadi teman kamu juga nantinya. Ini yang rambutnya panjang, namanya Widya dan yang tomboi ini, Dini," jelas Indah lagi. Kami pun saling memperkenalkan diri masing-masing.
***
Aku mendapat kelas 1 AP2 (kelas 1 administrasi perkantoran 2). Ternyata aku sekelas dengan Indah, Dini, dan Widya. Alhamdulillah, aku mendapatkan dan dekat dengan teman-teman yang baik.
Kami dikumpulkan di lapangan oleh pihak sekolah. Kami di arahkan untuk menyiapkan semua pernak-pernik masa orientasi sekolah. Masa-masa mengenal lingkungam sekolah dan teman-teman baru. Ah, pasti sangat menyenangkan besok.
Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk melaksanakan mos sesuai jadwal. Jadwalnya ada tiga hari dan masing-masing harinya sudah ada kegiatannya. Sangat menyenangkan, sejenak aku melupakan masalahku di desa.
Aku juga belum mengabari Fitri beberapa hari ini tentang sekolahku. Aku merindukan adikku itu. Akan kuhubungi dia saat pulang sekolah nanti.
Deringan suara gawai mengagetkanku yang hampir terlelap. Ternyata Fitri yang telepon. Tahu saja aku sedang memikirkannya.
"Assalamualaikum, Fit? Apa kabarmu? Sehat?" tanyaku.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, aku sehat Kak. Kakak sehat?"
__ADS_1
"Iya, sama. Aku sehat di sini. Kamu tidak sibuk? Biasanya nelfonnya malam?"
"Gak kok Kak. Ada yang mau aku sampaikan ke kamu Kak," tutur Fitri.
"Aku udah pindah kerja Kak. Gak di tempat yang lama lagi," jelas Fitri.
"Loh, ada apa? Ada masalah sama majikanmu?" selidikku.
"Gak kok, Kak. Gak ada masalah apa-apa. Hanya saja, aku mau kerja yang lebih dekat jaraknya dari rumah Kak. Bosan lama-lama naik angkutan umum," tutur Fitri.
"Oh ... kirain ada apa Fit. Buat khawatir saja,"
"Ayah sama Nenek sudah tau?" tanyaku.
"Sudah kok, Kak. Mereka sudah aku kabari tadi. Aku juga baru hari pindah kerja. Gaji di sini juga lebih besar daripada di tempat yang lama kak," jelas Fitri.
"Ya sudah. Jika itu yang terbaik, Kakak percaya kamu bisa. Jaga kesehatan saja ya?"
"Iya Kak, pasti. Gimana sekolah Kakak?"
"Ya, gitu deh. Pendaftaran lancar dan hari ini, hari pertama MOS."
Coba saja, dulu aku sekolah ya Kak? Pasti aku bisa seneng-seneng sama teman baru," tutur Fitri sendu.
"Kamu sih. Dulu Kakak minta kamu yang sekolah, gak mau. Kan kakak maunya biar Kakak aja yang kerja buat kalian," jawabku tak enak hati.
"Karena aku tau, Kakak punya cita-cita. Kalau aku yang sekolah, belum tentu aku bisa sekuat dan sebatu kamu, Kak."
"Batu? Batu gimana maksudnya Fit? Ada-ada saja nih bahasa kamu?" tanyaku sambil tertawa.
"Iya batu. Dilarang ngelanjutin sekolah, masih kekeh. Di suruh nikah gak mau, di gebukin nahan saja. Apa coba kalau bukan batu namanya?" jawab Fitri ikut tertawa.
"Itu namanya niat Fit, dan mungkin sudah jalannya Kakak begini, dan kamu juga," jawabku sambil mengingat masa-masa sulit saat itu.
Iya juga ya? Ya sudahlah Kak, jangan dibahas lagi masa lalu. Ada lagunya tuh Kak, Masa lalu, biarlah masa lalu..."
💜💜💜
__ADS_1