
Sejujurnya aku tak tega mendengar ucapan Nur. Tak tega jika harus meninggalkannya. Andai ia bisa kubawa serta, tapi ayah dan nenek tak mungkin mengizinkan. Aku harus membicarakan masalah ini pada Tok Bah. Mungkin beliau punya jalan keluarnya.
Dulu, kami pernah berjanji untuk tidak akan berpisah. Almarhumah Ibu juga berpesan, jangan pernah pisahkan kami jika Ibu tiada. Namun kini, Fitri sudah lebih dulu pergi. Apa aku harus meninggalkan Nur? Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
"Kakak gak tahu harus jawab apa, Nur. Kita lihat nanti ya?" hiburku.
"Ya sudah, kita tidur. Jangan lupa baca doa tidur dan doa untuk orang-orang yang kita sayangi," pesanku.
***
Keesokan harinya Tok Bah datang menjemputku. Berat rasanya melangkahkan kaki ini. Namun, kita harus tetap melangkah pasti untuk sebuah mimpi. Jangan pernah berhenti mengejarnya hingga mimpi itu menjadi pasti.
Keluargaku bukan dari keluarga yang berpendidikan. Ayah hanya sampai kelas dua SD, demikian juga Ibu.
"Biar miskin, asal jangan bodoh. Biarlah hanya kami yang tidak bisa membaca asal kalian tetap sekolah, mungkin kelak pena jadi sahabat di meja," pesan ibu. Itu yang memotivasiku hingga saat ini.
"Sudah siap, Ta? Ayo berangkat," ajak tok Bah.
Aku pamit pada orang tuaku. Walaupun takkan pernah ada pelukan hangat dari mereka melepas kepergianku
"Kakak, jangan lama-lama perginya," rengek Nur.
"Iya, Kakak janji."
Kupaksakan tersenyum untuknya, setidaknya ada harapan walaupun aku tak sanggup untuk menghadirkan senyuman di wajahnya.
Kami perlahan meninggalkan rumah. Rumah sejuta kenangan masa kecilku. Saat bersama Ibu dan Fitri.
Dulu, kami tak memiliki rumah, kami menumpang di sebuah gudang kecil di tepian sungai beberapa ratus meter dari rumah kami saat ini. Di sana tak ada kasur, tak ada kamar mandi, dan tak ada kamar tersendiri. Jika ingin tidur maka tinggal tidur saja. Jika ingin mandi, kami menggunakan jarik dan mandi di tepian sungai. Air di sini berwarna hitam, kadang berubah warna putih jika kemarau panjang dan terasa asin, karena jarak laut hanya 5 km dari kediaman kami. Sebuah gudang, yang kami sebut rumah.
Waktu itu, aku masih berdua dengan Fitri. Ibu, menabung sedikit demi sedikit untuk membangun rumah, istana kecil kami. Dari hasil kerja serabutan ayah dan ibu yang membantu di sawah orang lain. Pernah juga kami menumpang di rumah paman ayah, Kakak tertua dari nenek. Kami tidur di dapur beralas tikar pandan yang dianyam oleh ibu. Kami terpaksa menumpang karena gudang yang kami tempati rubuh ketika hujan badai melanda. Kami terpaksa mengungsi. Aku tak ingat saat itu di mana nenek.
Rumah kami berdiri saat ibu hamil adik kami, Nur. Nurjannah yang artinya cahaya surga. Dengan nama itu, Ibu berharap bisa menjadi penerang di keluarga kami. Akhirnya kami pindah walau belum ada listrik, masih menggunakan api obor dari minyak tanah. Namun, aku dan Fitri sudah bahagia setidaknya tidak perlu menumpang ke sana ke mari. Tak lama, nenek mendirikan rumah di samping rumah kami. Nenek bisa memasang listrik dari PLN dan kami ikut menikmati listrik tersebut dengan catatan harus membayar setiap bulannya.
Dimulai lah drama yang tak berkesudahan. Nenek yang sering bertengkar dengan kakek tiriku dan ibuku. Ada saja kesalahan Ibu di mata nenek. Bahkan nenek menuduh, Ibu menggoda suaminya. Ibuku hanya diam, aku tak mengerti. Ibu bilang "Api takkan padam jika lawannya api. Maka, jadilah air sesejuk embun yang menenangkan api dari kobarannya,"
__ADS_1
.
.
.
Pov Ibu
🍒🍒🍒
Namaku Anna. Aku mengenalnya, saat ia berkunjung ke desaku. Malam itu ada acara musik yang kami sebut jonggan. Acara tersebut diadakan jika adanya acara nikahan atau rasa syukur karena panen melimpah.
Aku sedang membantu bibiku di warung yang berjualan makanan dan minuman. Malam itu, cukup ramai yang hadir menikmati acara tersebut.
"Mba, buatin esnya tiga," ordernya.
"Mau es apa bang?"
"Es kacang hijau waja," tambahnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis dan aku membalas senyum itu malu-malu.
"Ini Bang es-nya," ucapkan meletakkan es di meja.
"Jagung rebusnya berapaan, Mba?"
Ia dan teman-temannya memakan jagung itu sambil mengobrol. Sesekali ia melirikku.
"Boleh tahu namanya, Mba?" tanyanya.
"Anna, kamu?" jawabku malu-malu.
"Saya, Adi. Nama yang indah. Kok aku baru lihat kamu sekarang ya? Aku sering loh nonton jonggan di sini," jelasnya.
"Iya, aku baru pulang dari kota. Lama bekerja di sana."
"Oh ... begitu. Pantas saja," timpalnya tersenyum.
Kami pun mengobrol dengan santai malam itu. Tanpa terasa malam telah larut dan acara hampir selesai. Ia pamit dan berjanji besok malam akan datang lagi karena acara tersebut akan berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
"Tadi itu siapa Na?" tanya bibi.
__ADS_1
"Adi, Bi. Tadi mampir kemari minum dan makan jagung," jawabku.
"Lama juga dia di sini, jangan-jangan dia naksir kamu, Na?" selidik bibi.
"Ah, tidak mungkin Bi, kami kan baru kenal," jelasku.
"Iya, bibi cuma mau bilang hati-hati saja. Jangan berduaan ya? Bibi takut kalian diadat di sini. Kamu tahu kan, hukum adat kita masih kental di sini?"
"Iya Bi. Aku mengerti," jawabku. Di sini, hukum adat masih digunakan untuk orang-orang yang melanggar norma kemasyarakatan. Namun, masih banyak juga yang melanggarnya dan hampir setiap minggu di sini diadakan hukum adat tersebut. Mereka harus menyediakan hewan potong khas kami, membayar denda adat dan masih banyak lagi.
Malam ini cukup ramai pengunjung. Sedari tadi aku dan Bibi sibuk melayani pembeli. Sehingga tanpan kusadari ia telah duduk di warungku cukup lama. Bibi sudah masuk ke dalam untuk makan.
"Sudah lama, Bang?" tanyaku.
"Sudah dari tadi, aku tak mau mengganggu pekerjaanmu. Apa kamu tak ingin menonton?" tanyanya.
"Aku harus menjaga warung Bibiku, Bang. Lagipula aku lelah harus berdiri berhimpitan dengan orang ramai," jelasku.
"Oh ... Kalau begitu sama dong."
"Kok Abang kemari kalau gak suka nonton?"
"Untuk menemuimu," jawabnya malu-malu.
Wajahku terasa memerah karena malu. Dia tersenyum menatapku. Apakah aku menyukainya?
"Boleh aku dekat denganmu?" bisiknya.
"Bawalah orang tuamu kemari untuk melamarnya," Bibi menjawab tiba-tiba.
Adi nampak berfikir beberapa saat sambil menunduk. Ah, apakah ia keberatan dengan permintaan bibiku? Jika iya, aku ragu. Bisa jadi ia hanya berniat main-main denganku. Adi mengangkat kepalanya dan menatapku, aku segera mengalihkan pandanganku ke lain arah.
"Baiklah, Bi. Beri saya waktu satu minggu untuk membawa orang tua saya kemari," jawabnya.
Aku sangat senang mendengarnya. Aku kira ia akan mundur setelah mendengar permintaan Bibi. Bibi menyatakan akan menunggu kedatangan keluarganya untuk melamarku. Ia pun segera pamit padaku dan Bibi.
"Tunggu aku, ya? Aku akan datang bersama keluargaku," ucapnya lembut.
Aku hanya mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1
💜💜💜