Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Mertuaku Dukaku Ibu Pov 7


__ADS_3

🍒🍒🍒


"Ah, anak sekecil itu memangnya sudah tau sama duit? Ayo, kita bagi dua hasilnya," paksa ibu.


"Gak bisa gitu dong, Bu. Jika ibu mau menggunakan uang Adi dulu gak apa-apa, tapi inikan uangnya Nur, Bu. Cucu ibu," sahut suamiku.


"Ibu gak mau pinjam, Adi. Tapi mau meminta sebagian. Kok kalian jadi itung-itungan sama ibu? Dulu kalian menikah, kalau bukan uang hasil jual perhiasanku gak akan cukup, dan istrimu melahirkan ibu tidak pernah meminta pembayaran apapun. Mengapa sekarang kalian hitung-hitungan begini? Mau jadi anak mantu durhaka kalian?" cecar ibu.


"Ya Allah, Bu. Kenapa ibu jadi mengungkit semua itu? Aku inikan anak ibu satu-satunya. Kalau buka ibu, siapa lagi?" jawab Bang adi sayu.


"Nah, itu kamu tau kalau kamu itu anak ibu satu-satunya, jika bukan kamu siapa lagi yang bisa membahagiakan dan membalas jasa ibu selama mengandung, melahirkan, membesarkan bahkan menikahkanmu? Sampai kau punya anakpun tetap ibu kok yang ngurusin semuanya," tutur ibu.


"Ya sudahlah Bang. gak apa-apa, kasih aja ibu sebagian. Kita juga gak terlalu butuh kan bang?" selaku meredam masalah.


"Nah, gitu dong. Ini baru namanya menantu calon surga. Ayo segera hitung, besok ibu mau belanja bahan-bahannya,"


Aku, suami dan ibu menghitung isi amplop, lumayan tiga jutaan. Ibu meminta bagiannya satu setengah juta. Biarlah, asal beliau senang.


.


.


.


Anak-anakku tumbuh dengan sehat, alhamdulillah walaupun hidup sederhana yang penting mereka tidak kekurangan sandang dan pangan.


Tahun ini usia Ita sudah 5 tahun. Kami berencana memasukkan Ita kesekolah dasar lebih dini dikarenakan Ia sudah bisa membaca dan berhitung. Semua sudah diurus oleh ayahnya, biarlah hanya kami yang putus sekolah asal anak-anak bisa menjadi lebih baik daripada ayah dan ibunya.


Rumah mertuaku sudah jadi beberapa meter dari rumah kami. Sikap ibu jauh berbeda dengan sebelum kelahiran Nur. Entahlah, apa aku yang terlalu perasa atau memang realitanya. Suamiku masih bekerja mencari bahan-bahan rumah.


Minggu ini mertuaku tak ikut bersama suami karena ibu akan berkunjung ke rumah adiknya dulu di kampung. Ternyata, bapak mertua tidak ikut bersama ibu. Ada senyum yang berbeda yang kutangkap darinya. Semoga bukan pertanda buruk.


Keesokan harinya, ibu mertua berangkat menjenguk adiknya. Tak lupa kutitipkan sedikit rezeki untuk bibiku di sana. Aku belum bisa menjenguk bibi karena kondisiku yang masih memiliki bayi kecil.


Siang harinya. "Ada lauk apa, Na? Bapak belum makan dari pagi," tiba-tiba bapak mertua sudah muncul di dapur tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Jantungku serasa mau melompat dari tempatnya melihat kehadiran bapak dengan senyum mesumnya.

__ADS_1


"Aku masak sayur pucuk ubi kuah santan dan sambal bajak, Pak. Kalau mau aku sajikan," ucapku gemetar.


"Iya boleh, Bapak sudah sangat lapar. Untung ada kamu ya, Na? Jadi bapak tidak terlantar jika tak ada ibumu," tuturnya santai.


"Kok Bapak tidak ikut saja sama ibu? Kan kasian Ibu pergi sendirian sejauh itu," tanyaku.


"Sayang uangnya, gak cukup ongkos lima ratus ribu jika perginya berdua pulang perginya. Lebih baik Bapak nemenin cucu-cucu bapak dan kamu," jawab bapak tersenyum penuh arti.


Aku tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Aku takut, harus mengadu pada siapa? Apa bibi bisa mempercayai ucapanku? Akan kucoba.


Setelah kuminta anak-anak tidur siang, aku segera ke sebelah rumah menemui bibi. Kebetulan Paman belum pulang dari kebun majikannya memetik buah jeruk.


"Assalamualaikum. Bi sibuk gak?"


"Waalaikumsalam, iya Na masuk," sahut bibi dari dapur.


"Udah makan siang Bi? nih Anna bawain sayur dan sambalnya,"


"Wah... kebetulan sekali, Na. Bibi belum makan siang, lagi males masak gak ada pamanmu. Yuks kita makan sama-sama?" ajak bibi.


"Iya-iya cerita aja, rahasia terjamin aman," jawab bibi sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Bi, aku mulai takut sama bapak. Kok aku ngerasa sikap bapak berbeda ya sama aku?" tanyaku hati-hati.


"Kamu baru tau atau gimana sih udah bertahun-tahun menikah sama Adi?" bibi balik bertanya.


"Maksud Bibi gimana?"


"Ya masalah bapak mertuamu itu. Dia kan memang mata keranjang, hati-hati aja kamu jika suami gak ada di rumah. Apalagi ibumu lagi gak ada juga," jelas bibi.


"Yang benar Bi? Kok aku jadi takut gini ya Bi?"


"Kamu minep sini aja kalau takut, bawa anak-Anakmu ke sini nanti malam, tapi jangan sampai mertuamu itu tau," usul bibi.


"Gak ngerepotin Bibi kan?"

__ADS_1


"Ah Kamu, kayak sama siapa aja," timpal bibi.


"Ya udah, ntar malam Anna ke sini ya bi? terima kasih atas usulnya bi, Anna pulang duluan anak-anak lagi tidur siang. Assalamualaikum," pamitku.


"Iya, Na. Waalaikumsalam,"


Bukannya perasaan lega yang kudapatkan, tapi rasa takut yang begitu kuat. Aku tak menduga jika mertuaku seperti ini. Aku harus ekstra hati-hati.


Malam ini, aku minep di rumah paman Rahmat dan bi Ria. Mereka sangat senang menerima kami, rumah jadi gak sepi ucap paman. Tak lama kudengar bapak mengetuk pintu rumah memanggilku. Paman pun keluar memberi tahukan kami ada di rumahnya.


"Anna dan anak-anak menginap di sini Man," teriak paman.


"Oh, iya Bang. Saya kira ke mana kok sepi. Ya sudah bang saya mau ke pasar," sahut bapak.


"Iya," jawab paman.


Tiga malam kami menginap di rumah bi Ria, anak-anak mulai jenuh. " Bu, malam ini kita jangan minep di rumah Kek Rahmat ya? Ita bosan bu," rengek Ita.


"Loh? kan kita jadinya gak kesepian Ta jika menginap di sana," jelasku.


"Malam ini aja Bu kita tidur di rumah kita, besok malam kita ke sana lagi," pujuknya.


"Iya-iya kalau begitu. Ya udah sana ajak Fitri mandi," perintahku


Malam ini kami tidak menginap di rumah bi Ria, dan sudah kusampaikan tadi pada bibi. Ia maklum, anak-anak memang cepat merasa jenuh.


Pintu kembali di ketuk dari luar, dan bapak memanggil cucunya. Beruntung anak-anak sudah aku tidurkan jadi mereka takkan menyahut panggilan kakeknya. Merasa tak di respon, ketukan itu berhenti. Aku lega bapak pergi.


Suara berisik seperti kucing ingin masuk ke dalam rumah membangunkan dari lelapku. Kulihat jam menunjukkan pukul satu dini hari.


"Berisik banget ini kucing, hussshh.. hushhhh!" usirku.


Suara itu menghilang, aku berniat meneruskan tidurku. Namun suara itu kembali terdengar. Aku berinisiatif untuk keluar kamar.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2