Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Back To School


__ADS_3


Hari ini aku kembali bersekolah setelah satu minggu lebih aku berada di kampung. Aku sudah bersiap berangkat ketika Lia datang menghampiriku. "Maaf ya, Ta. Aku gak ada di sana nemenin kamu saat kamu sedih," tutur Lia lirih.


"Gak apa-apa kok, Lia. Aku ngerti jarak dari sini ke kampungku itu lumayan jauh," jawabku tersenyum.


"Oya, kemarin ada Bagus dan mas Gio ke rumahku untuk melayat. Mas Gio habis kecelakaan juga ya?" tanyaku.


"Iya, Mas Gio maksa Bagus buat ngelayat padahal kakinya juga di jahit loh. Lukanya lumayan gede,"


"Kayaknya Mas Gio naksir sama kamu, Ta," tutur Lia sambil mengulum senyum.


"Aku belum mau memikirkan hal yang seperti itu, Li. Hidupku sudah sangat berat apalagi di tambah masalah cowok?" sanggahku.


"Ya, naksirkan gak salah, Ta. Apa bisa kita menyalahkan perasaan untuk menyukai seseorang?" tanyanya.


"Dasar pujangga cinta. Udah buruan, nanti terlambat di tutupin satpam gerbang sekolah lagi," ujarku seraya mempercepat kayuhan sepedaku.


Untuk saat ini aku belun mau memikirkan hal cowok apalagi pacaran, bagiku itu akan membuat hidupku tambah bermasalah.


Sesampainya di kelas, teman-temanku menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Fitri. Beserta amplop yang berisi uang sumbangan belasungkawa. MasyaAllah, ternyata masih banyak yang perduli. Aku menangis terharu melihat kepedulian mereka. Indah dan Lia memelukku. Begitupula wali kelasku, bu Ajeng.


Pelajaran berjalan seperti biasanya. Alhamdulillah aku bisa mengikuti semuanya dengan lancar.


***


Malam ini aku, tok Bah dan nenek duduk santai ruang tamu. Tak lama berhenti dua buah sepeda motor di depan rumah yang ternyata Lia, Bagus dan mas Gio datang berkunjung. Mereka meminta izin pada tok Bah untuk mengajakku untuk makan di luar. Tok Bah mengizinkan karena telah mengenal mereka dengan catatan pukul 9 malam sudah kembali ke rumah.


Kami memilih makan di sebuah terminal yang jika malam di sulap menjadi tempat berdagang para pedagang makanan kaki lima. Semua jenis makanan ada di sana sesuai yang kita inginkan dengan harga terjangkau.


Aku memesan bakso favoritku. Kami makan sambil berbincang-bincang mengenai sekolah karena aku, Lia dan Bagus memang masih bersekolah. Sedangkan mas Gio masih menunggu panggilan kerjanya.


"Ta, kalau mas mau lebih serius sama kamu, gimana?" tanya mas Gio tiba-tiba. Aku tersedak dengan wajah memerah.


"Beuh, ada yang di tembak sampe ke tersedak. dada sesak seakan nafas berjarak," canda Lia berpuisi.

__ADS_1


"Apaan sih Lia? tukasku.


"Maaf mas, bukannya aku gak mau menjawab sekarang. Tapi, aku masih sekolah dan banyak hal yang masih ingin aku kejar."


"Jika Mas memang serius, tunggulah aku hingga selesai sekolah, aku masih ingin kuliah dan bekerja, Mas," tuturku pelan sambil menunduk meremas ujung bajuku, takut ia tersinggung.


Mas Gio terdiam, bersandar pada tempat duduknya. "Iya, Mas ngerti kok, Ta. Mas gak maksa kamu jawab sekarang, yang pasti mas akan nunggu kamu," jawabnya yang tak kuperkirakan.


"Kamu berhak mengejar cita-citamu, Ta dan mas yakin kamu bisa karena mas bisa melihat tekadmu yang begitu besar," tuturnya tulus.


"Terima kasih mas supportnya, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Ngomong-ngomong kapan mas berangakat kerja?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Mas, masih menunggu panggilan, Ta. Doakan secepatnya, hanya saja jaraknya lumayan jauh sekitar 3 jam dari sini," tuturnya.


"Aamiin, semoga secepatnya ya Mas, biar ada kegiatan,"


"Mas di rumah bantuin ibu kok, kan ibu jualan di pasar jadi mas bantu-bantu menyiapkan bahan di rumah," jelasnya.


"Denger tu, Ta. Anak sholeh yang sayang ibu," kami pun tertawa mendengar celetukan Lia.



Lelaki hitam manis, dengan rambut ikal dan ginsul di giginya itu akan menarik perhatian siapa saja dengan sikap sopan dan santunnya.


Sesampainya di rumah, ia mengantarku hingga ke depan pintu dan berpamitan dengan tok Bah.


"Tok Bah, saya pamit pulang dulu, terima kasih telah mengizinkan Ita untuk keluar bersama saya," tuturnya.


"Iya hati-hati. Asal gak tiap malam aja kamu bawa cucu saya, ya gak akan sy izinkan," celetuk tok Bah tertawa.


"Ta, besok hari minggu, mau gak ke rumah Mas? Mas mau kenalin kamu sama ibu dan bapak, Mas," tanyanya.


"InsyaAllah Mas. Besok aku ajak Lia sekalian, boleh?"


"Kalau bisa sih kamu aja, tapi kalau kamu malu boleh ajak Lia," jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah Mas, selamat malam. Assalamualaikum,"


"Mas pamit, Waalaikumsalam," ucapnya seraya menstarter motornya.


"Pacaran kamu, Ta? tanya tok Bah tiba-tiba dari arah belakang dan membuatku kaget.


"Astaghfirullah, tok Bah? Ita kaget banget...," cetusku mengelus dada.


"Hahahahaha... siapa suruh kamu ngelamun gitu memperhatikan sang Romeo pulang?" tawa tok Bah membahana


"Ita gak pacaran tok Bah dan gak akan. Kalau dia serius dia harus menunggu Ita selesai sekolah dan melamar Ita langsung ke orang tua," jawabku.


"Baguslah, tok Bah juga tidak mengizinkanmu pacar-pacaran dulu. Sekolah yang benar dan jadi orang berhasil baru memikirkan hal tersebut," tegas tok Bah.


***


Keesokan harinya, mas Gio menjemputku ke rumah dan meminta izin nenek untuk ke rumahnya. Kebetulan tok Bah sedang tidak ada di rumah karena sedang pergi memancing yang menjadi hobinya.


"Mas, Lia di ajak gak?" tanyaku yang merasa tidak nyaman berboncengan dengannya di atas motor.


"Coba aja ajak, kita mampir dulu ke rumah Buleknya," jawabnya.


Setibanya di rumah Buleknya Lia, aku mengucapkan salam. Assalamualaikum... Lia?"


"Waalaikumsalam, Lia ada di belakang nduk, masuk saja," jawab Buleknya Lia.


Aku pun bergegas masuk karena aku sudah sering ke mari makanya aku telah hafal letaknya. "Li, ikut aku yuks."


"Mau ke mana memangnya? Aku banyak kerjaan nih, Ta. Mau nyetrika buat besok sekolah," jawabnya.


"Ke rumah mas Gio, Li. Aku malu jika hanya sendiri dan gak enak juga di lihat orang-orang. Nanti mikirnya macem-macem lagi," jelasku.


"Cie... yang mau di ajak ke rumah calon mertua?" candanya.


"Malah bercanda..." cetusku

__ADS_1


"Hati-hati loh, Ta. Di sini banyak yang naksir mas Gio. Tuh cewek yang namanya Diana naksir mas Gio juga," jelas Lia.



__ADS_2