
Pagi ini, aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah kami. Setelah semuanya beres kami pamit pada abang-abangku dan keluarga terdekat. Entahlah, ada firasat jika ini terakhir kalinya aku kemari.
"Bang Sifa, jaga kesehatan ya?"
"Siapa tau Anna sudah tidak bisa kemari lagi jenguk abang," tuturku.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Dek?"
"Kau akan sehat dan baik-baik saja,"
"Sudah, abang tidak mau mendengar kata-kata itu lagi," sanggah bang Sifa.
"Kan Anna mau lahiran Bang."
"Kalau sudah empat anak, gimana Anna mau bawa mereka lagi?" candaku.
Kami pun menaiki bus antar kota yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan. Perjalanan setengah hari kami lalui dengan candaan. Anak-anak begitu senang dengan kehadiran ayahnya. Semoga ia tidak akan berubah lagi.
Kehamilanku telah memasuki usia 8 bulan dan perkiraan kelahiranku setelah Idul Adha bulan depan. "Aku masih masih bisa makan-makanan khas lebaran," bathinku. Bang Adi tetap bekerja seperti biasa dan pulang seminggu sekali. Saat ini, Ita sudah duduk di kelas 3 dan sudah bisa kuandalkan untuk membantuku dalam hal-hal kecil. Walau kecil ia cukup sekatan menjaga Adik-adiknya begitu juga Fitri.
__ADS_1
Belakangan ini, kesehatanku semakin menurun. Entah karena bawaan kehamilanku atau karena sakitku.
Idul Adha tinggal menunggu hari. Anak-anak mulai bertanya mau membuat camilan apa? "Bang, adek hamil besar gini gak bisa bikin kue, capek duduk lama-lama."
"Boleh gak kalau kita beli aja?"
"Kasihan anak-anak kepengen banget makan kue lebaran," tuturku.
"Iya, Dek."
"Abang juga mikirnya gitu."
"Kita beli ajalah."
"Belinya ke Rama**** aja ya?" tanya suamiku.
"Gimana Abang aja, adek ikut," jawabku terseyum.
Lebaran besok lusa, di sini lebaran Idul Adha tidak semeriah lebaran Idul Fitri. Biasanya kami hanya membuat masakan seperti opor atau rendang di temani lontong dan ketupat.
Esok harinya suamiku berangkat ke kota. Jaraknya dua jam perjalanan menggunakan oplet kecil. siang hari suamiku telah kembali membawa beberapa kue lebaran. Dari kue lapis, cookies, manisan dan minuman. "Banyak banget Bang belinya?" tanyaku
__ADS_1
"Gak apa-apa lah Dek, Sekali-kali menyenangkan hati anak-anak," jawab suamiku tersenyum.
Anak-anak memilih-milih mana kue yang paling mereka senangi. Wajah-wajah bahagia terpancar "Ayah, ibu, terima kasih ya kuenya?"
"Boleh kami makan satu?" tanya mereka.
Aku dan suamiku mengangguk. "Iya boleh, pilihlah yang kalian suka," jawab ayah mereka.
Anak-anak bersorak riang. Ah.. bahagia melihat senyum mereka dan bayi di dalam rahimku pun sepertinya ikut senang dengan menggerakkan anggota tubuhnya.
Lebaran kali ini terasa sangat meriah, banyak sanak saudara yang datang mengunjungi kami. Syukurlah ada hidangan yang bisa kami suguhkan untuk menemani obrolan mereka. Saudara-saudara mertua juga banyak yang datang.
5 hari setelah lebaran, perutku mulas. Sangat-sangat mulas hingga aku tak mampu untuk bangun. Ibu dan suamiku kelabakan mendengar teriakanku. Kelahiran kali ini sungguh berbeda dengan kakak-kakaknya.
Ibu membantu proses melahirkanku. Namun, entah apa yang terjadi terasa sangat lama. Hingga ibu meminta suamiku untuk memanggil mbo Minah untuk membantunya. Selama itu pula aku terus merintih, terasa sangat lama. Akhirnya, mbo Minah datang dengan tergopoh-gopoh masuk ke kamar. Ia membimbingku dengan cekatan dan akhirnya suara tangisan itu terdengar.
"Oekkk...Ooekkkk..ooekkkk..." Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Subhana Wa Ta'ala. Anakku lahir berjenis kelamin laki-laki dengan sehat dan tidak kurang satu apapun.
__ADS_1