
๐๐๐
"Abang!" teriakku. Ia tergamam, mungkin baru menyadari perbuatannya. Kutatap tajam matanya, mencari jawaban atas apa yang ia lakukan. Ia menunduk dan pergi. Aku memeluk Ita yang gemetar ketakutan.
"Ita gak salah Bu, tadi Fitri main sendiri di situ. Ita udah minta Fitri buat gak main di situ, tapi dia gak mau bu," jelas Ita terisak.
"Benar itu Fitri?" tanyaku. Fitri mengangguk mengiyakan. "Lain kali, jika kak Ita melarangmu ikuti kata-katanya. Kalian harus saling menjaga satu sama lain, mengerti?"
"Mengerti, Bu," jawab mereka kompak.
"Sakit, Nak? tanyaku pada Ita.
"Kuping Ita berdengung Bu?" jawabnya.
"Ya Allah, sebelah mana Nak?"
"Kiri, Bu?" tunjuk Ita.
"Ayo, Ibu olesi obat," kutuntun Ita dan Fitri pulang ke rumah. Kuolesi minyak di pipi bekas tamparan ayahnya. "Ita, maafin ayah ya Nak? Ayah gak sengaja. Mungkin ayah sedang lelah dan banyak pikiran," pujukku.
"Iya Bu," jawabnya.
"Fitri janji gak nakal lagi dan akan dengerin jika kakak ngomong," ucap Fitri pada kakaknya. Mereka berpelukan, Fitri mengelus pipi kakaknya dengan sayang. Aku tersenyum menyaksikan mereka. Aku harus bicara pada bang Adi, kali ini sikapnya sudah kelewat batas.
Kucari di dalam rumah, tapi tak kutemukan suamiku. "Ita, bawa adiknya tidur siang. Ibu mau ke rumah kakek Rahmat sebentar," pesanku.
Kulangkahkan kaki mendekati rumah paman Rahmat. "Kamu itu sebagai seorang ayah tidak seharusnya berlaku kasar pada anakmu, Adi. Mereka masih kecil, bagaimana jika mereka mengalami trauma atas perbuatanmu?" marah paman pada bang Adi. Ternyata, paman Rahmat sedang menasihati suamiku.
Aku tak jadi masuk ke dalam rumah, biarlah paman mengurus ini dulu. Akan kuajak bicara jika ia sudah pulang. Aku kembali pulang ke rumah.
"Makanya, jadi anak itu jangan bandel, dasar nakal," Degh.. jantungku terasa di remas-remas mendengar perkataan ibu mertua terhadap anakku. Tak cukup perlakuan kasar, tapi kini kata-kata kasarpun ia terima.
"Bu? Apa yang ibu lakukan? Ita gak salah bu. Mereka masih kecil, belum mengerti apa-apa," selaku.
"Ini akibat kau terlalu memanjakan mereka, Anna. Mereka jadi besar kepala dan tak mau menurut," sentaknya.
"Anna, tidak pernah memanjakan mereka, Bu. Anna hanya bersikap sewajarnya seperti sorang ibu pada anaknya. Apakah mengajari dan mendidik anak harus dengan bentakan? pukulan? cacian, bu?" tandasku masih berusaha mengontrol emosiku.
"Kau, dinasihati bukannya berterima kasih malah melawan! Ibu sama anak, sama saja!" hardik ibu sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Kuelus dada mencoba bersabar akan keadaan ini. Mengapa hari ini terlalu banyak cobaan? Kukemasi pakaianku dan anak-anak. Aku tak ingin berada di lingkungan seperti ini. Aku takut jiwa anak-anakku tidak sehat dan bisa mengakibatkan trauma mendalam karena mendapat perlakuan buruk terhadap jiwa dan psikisnya.
Bang Adi pulang, Tak kuhiraukan tatapannyan. "Mau ke mana kamu Dek? Apa tidak bisa kita bicarakan baik-baik? tanyanya.
"Apa tadi sebelum abang memukul Ita, apa Abang bicara baik-baik padanya? Aku yang mengandung dan melahirkannya, aku tidak rela orang lain bahkan abang memperlakukan demikian. Aku akan pergi,"
Aku tetap mengemasi pakaianku dan anak-anak. Tak kuperdulikan dia yang terus memohon maaf. Aku lelah dengan sikapnya yang berubah-ubah.
"Dek, abang mohon jangan pergi, abang mengaku salah. Abang janji tidak akan mengulanginya. Abang tidak bisa hidup tanpa kalian,"
"Abang jangan berjanji jika terus diulangi. Sekarang kita introspeksi diri masing-masing bang," Kukemasi barang-barang yang aku butuhkan. Anak-anak telah siap.
"Adek pamit Bang. Abang tau harus ke mana jika ingin mencari adek dan anak-anak. Jaga kesehatanmu. Assalamualaikum."
Ia bergeming, mematung di tempatnya berdiri. Entah apa yang ia pikirkan, aku berusaha untuk tidak perduli. Aku menggendong Nur, sedangkan Ita dan Fitri mengikutiku dari belakang.
"Kita mau ke mana Bu? Ita izin sekolah lagi ya?" Tanya Ita. Kuhembuskan nafas perlahan.
"Kita ke rumah paman sifa dulu ya, sayang? Ibu kangen pada mereka," Jawabku tetap melangkahkan kaki menyusuri jalan. Aku harus bergegas karena hari mulai siang. Kubawa uang tabungan seadanya.
Aku tahu, meninggalkan rumah tanpa seizin dan ridho suami itu berdosa. Namun, aku harus aku lakukan agar suamiku sadar semua kesalahannya. Ia sudah terlalu sering dzalim terhadapku dan anak-anak, bahkan dzalim terhadap dirinya sendiri.
Kugunakan 2 ojek untuk membawaku dan anak-anak menuju halte bus. Tak seberapa lama kami telah menaiki bus yang akan mengantarkanku ke rumah kakak-kakakku. Akan kupikirkan lebih lanjut apa yang harus kulakukan setelah sampai di sana.
Bagaimana jika suatu hari, tangan ini sudah tidak bisa menyuapi mereka lagi? Bagaiamana jika raga ini tidak bisa memeluk mereka saat kedinginan, saat mereka menangis, dan saat mereka di sakiti? Aku tidak dapat membayangkan semua itu.
"Ibu gak makan? Nasinya udah mau habis." Pertanyaan Ita membuyarkan lamunanku.
"Ibu gak lapar sayang, kalian aja yang makan agar tidak masuk angin,"
Bus akan segera berangkat kembali, kusegerakan aktivitasku. Membawa tiga anak tidaklah mudah. "Bu, kenapa ayah gak ikut kita?"
"Ayah kerja, sayang. Nanti ayah jemput kita," jawabku memberi alasan.
Aku berubah menjadi pembohong ulung di depan anak-anakku menutupi luka yang menganga. Aku ingin trauma yang mereka alami terobati sebelum mengobati luka hatiku.
Anak-anakku telah tertidur lelap ditemani hembusan angin sore. Hamparan padi yang masih menghijau, pohon-pohon menjulang
rindang. Untuk sesaat aku seakan tersedot ke alam yang tak kumengerti di mana. Yang ada hanya gema, kekosongan, hampa dan kesendirian, sepi.
__ADS_1
"Bu, sudah sampai bu? Mau turun di sinikan? tanya kernet.
Aku tersadar. "Ah, iya bang. Terima kasih,"
Kubimbing anak-anak menuruni bus. Jarak ke rumah Bang Sifa masih beberapa meter lagi. Beberapa kerabat yang mengenaliku menyapa dengan ramah.
"Baru atakng Na? Dari mae?" tanya mereka dengan logat daerahku.
"Auk bik," jawabku singkat.
Lelah mulai mendera. Batukku menghampiri. Semoga di sini aku bisa kembali berobat. Kasihan janinku jika terus-menerus mengkonsumsi obat-obatan kimia.
"Dono' aaa dah, ngahe inak ngabari mau' ampus kasio," tanya bang Sifa.
"Inak ahe Bang, sangaja bah," jawabku tersenyum.
"Ayo ponakan paman ikut ke rumah paman ya? Kalian sudah makan?" tanyanya pada anak-anakku.
"Sudah Paman,"
"Ahe Dek? Ada masalah meh? Mae suaminyu?" bang sifa mulai curiga.
"Inak Bang. Rindu bah ka' kitak. Inak boleh ampaya aku kasio nelek kitak? tanyaku mengalihkan kecurigaannya.
"Abang ngarasa dirinyu ada masalah, carita kalau ada ahe-ahe boh," hiburnya.
Aku mengangguk. "Andai dirimu tahu bang," bathinku.
๐Bersambung๐
Terima kasih telah mengikuti kisah ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak Follow, vote, rate, like dan jadikan cerita ini favorite kamu.
Author feedback.
I Love u readers.
๐Bersambung๐
__ADS_1
Terimakasih telah mengikuti kisah ini. Jangan lupa follow, vote, rate, like dan jadikan cerita favorit kamu agar mendapatkan notifikasi untuk bab selanjutnyanya. Author feedback
I Love U readers.