Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Mengalah Pov Ibu 6


__ADS_3

🍒🍒🍒


"Kedatangan kami kemari, berniat ingin mengadopsi bayi kalian. Kalian tau kan kami menikah 10 tahun lamanya. Namun Allah belum menitipkan cahaya mata untuk kami," jelas bi Eko panjang lebar.


"Iya Adi, Anna. Kasihanilah kami. Kami akan membayar biaya persalinan dan ganti ruginya. Sebutkan saja kalian menginginkan berapa jumlah ganti ruginya," jelas paman Dodi.


Ada rasa marah menyelinap di hatiku, mereka seperti memaksa membeli anakku, darah dagingku yang kukandung selama sembilan sepuluh hari dengan perjuangan. Bukannya aku tidak prihatin dengan keadaan mereka yang belum memiliki darah daging, tapi cara mereka salah. Seolah anakku anak kucing yang seenaknya diminta dan dibayar.


"Anakku tidak dijual Paman dan bibi. Bukannya aku tak mengerti keadaan kalian, tapi aku tidak bisa memberikan anakku pada orang lain selagi aku masih bernafas," jawabku lugas.


"Dek? Apa tidak dipikirkan dulu sebelum kita memberikan keputusan?" ucap suamiku dengan wajah tak enak.


"Keputusanku sudah bulat, Bang. Gak bisa diganggu gugat," putusku.


Suamiku menunduk, mungkin ada rasa tidak enak terhadap paman dan bibinya. Suami istri itu hanya bisa terdiam, kulihat bi Eko menyeka sudut matanya. Hatiku bergetar, aku mengerti akan perasaan seorang wanita yang sangat ingin mempunyai anak.


"Baiklah kalau begitu, Anna. Kami tidak akan memaksa kalian lagi. Tapi, apakah boleh kami menganggap anak kalian ini anak kami? Istilahnya anak angkat?" tanya paman Dodi.


"Kalau hanya anak angkat, kami setuju, Paman. Mungkin kelak bisa dijadikan pancingan," jawabku.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih sebelumnya dan paman beserta bibimu ini minta maaf jika kami lancang meminta anak kalian. Ini, terimalah sebagai hadiah dari kami dan untuk anak kami juga. Siapa nama anak manis ini?" tutur paman menoel pipi merah muda Nur.


"Terima kasih, Paman. Tidak perlu repot-repot begini. Kami juga minta maaf tidak bisa menuruti permintaan kalian. Namanya Nurjannah," jawab suamiku sambil tersenyum melihat anak kami.


"Boleh bibi gendong, Anna?" tanyanya penuh harap.


"Tentu saja boleh, Bi. Silahkan,"

__ADS_1


Bi Eko dengan hati-hati menggendong Nur. Ada semburat bahagia di wajah pasangan suami istri tersebut. Aku tau mereka sangat merindukan buah hati, 10 tahun bukanlah waktu yang singkat, mereka pasti sangat tersiksa. Namun, untuk memberikan anakku, itu tak mungkin. Amanah itu untuk di jaga, bukan untuk di sia-siakan.


.


.


.


Mertuaku telah pulang, Ia tampak tak senang dengan kabar yang ia terima bahwa anakku perempuan lagi.


"Kenapa tak kau berikan saja anakmu itu pada Dodi? Pake jual mahal segala? Anak perempuan itu tidak akan berguna untuk masa depanmu kelak," murka ibu saat menjengukku.


"Subhanallah, Bu. Anak itu sama saja, mereka punya rezeki dan jalannya masing-masing. Tidak pantas kita mendahului kehendak dan ketetapan Allah Azza Wa Jalla. Dan anakku bukan untuk diperjualbelikan seperti anak kucing dan anak ayam. Berguna atau tidaknya tergantung kita sebagai orang tua bagaiaman mendidik anak-anak kita supaya menjadi anak sholeh dan sholeha," tuturku panjang lebar.


Wajah ibu berubah merah, tanda tak suka dengan ucapanku. "Kau anak baru seumur jagung, agama baru separas telapak kaki sudah mau khutbah di depanku? Dasar menantu tidak tau diuntung. Aku yang lebih dahulu makan asam garam," teriak ibu.


"Kau!!!!? " tangan ibu telah terangkat ingin memukulku. Kupejamkan mata jika memang itu yang akan ibu lakukan, aku ikhlas.


"Ibu...!!! Apa-apa sih, Bu? Anna itu baru melahirkan anakku, Bu. Kasihan dia." ucap suamiku memelas.


"Oh.. bagus kamu ya Adi? Demi wanita yang baru beberapa tahun kau nikahi ini, kau sudah berani melawanku? Mau jadi anak durhaka kamu?" pekik ibu.


"Bu, aku mohon jangan begini," pinta suamiku memelas memegang tangan ibunya.


"Sudah, kalau ada apa-apa jangan panggil aku lagi. Aku tak sudi mengurusi memantui tidak tahu diri ini," cecarnya.


"Saya mohon maaf, Bu. Ibulah orang tua saya di sini. Mana mungkin saya membelakangi ibu?" rayuku.

__ADS_1


"Kalau kau tak bisa memberiku cucu laki-laki, Adi akan kunikahkan dengan perempuan pilihanku, paham!" cecar ibu tanpa perasaan.


Aku kaget mendengar kata-kata Ibu. Kuelus dada untuk bisa lebih bersabar. Tanpa terasa cairan bening dipelupuk mataku mengalir perlahan. Mertua yang kuharapkan bisa menerimaku selayaknya anak sendiri, kini seakan musnah. Aku semakin tergugu, dilema menghantui. Bagaimana kedepannya jika mertuaku benar-benar tak menyukaiku? Bang Adi yang melihatku menangis, mendekati dan memelukku. "Sabar ya sayang? Itu tidak akan terjadi, Abang tidak akan meninggalkanmu sampai maut memisahkan kita," hibur suamiku lirih.


Semoga Allah mengijabah ucapan suamiku. Aku hanya ingin menua bersamanya hingga maut memisahkan kami. "Adek akan berusaha memberikan abang anak laki-laki Bang dan cucu laki-laki untuk ibu. Walaupun kelak adek harus bertaruh nyawa," bisikku pada suamiku tercinta.


"Adek gak boleh bicara seperti itu. Abang terima dengan ikhlas apapun anak kita, Dek? Abang sudah bersyukur memiliki kalian bidadari surga abang," lirihnya.


Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku. "Bisa ngerayu juga nih suamiku? Belajar di mana? Kok dulu gak di praktikin pas ngelamar adek? tanyaku terkekeh.


"Mulai deh ngeledeknya? Waktu ngelamar itukan kita rame-rame Dek satu keluarga, masa iya abang ngerayu di depan mereka? rajuk suamiku.


"Iya deh, iya. Maaf suamiku sayang, tapi kok udah anak tiga ini baru bisa ngerayu bang?? tanyaku tertawa.


"Udah ah, abang mau mandi dulu, tiba-tiba abang kegerahan," ujar suamiku dengan wajah tersenyum malu berlalu meninggalkanku.


Aku tertawa melihat tingkah suamiku. Aku bersyukur memilikinya yang menjadi kekuatanku. Ita dan Fitri sangat senang memiliki adik lagi. Mereka tak mau beranjak pergi bermain seperti biasanya jika sore hari di lingkungan rumah kami. Mereka lebih betah menoel dan memainkan hidung adik mereka.


Hari ini, syukuran anak kami Nur. Kami adakan jamuan sederhana mengundang tetangga dekat dan sanak saudara. Tak terkecuali mertuaku, walau bagaimanapun mereka orang tua kami. Ibu bersikap seperti biasanya di depan para tamu. Menggendong cucunya saat akan potong rambut.


Aku dan suami sangat senang melihat perubahan ibu, semoga ini angin segar untuk keluarga kami. Acarapun selesai dan berjalan dengan lancar. Banyak kado dan amplop yang kami terima dari para tamu.


"Boleh dong ibu minta sebagian isi amplopnya? Ibu lagi perlu modal untuk bangun rumah," pinta ibu santai.


"Loh, Bu. Inikan punya Nur bu sedekah dari para tamu," jawabku.


"Ah, anak sekecil itu memangnya sudah tau sama duit? Ayo, kita bagi dua hasilnya," paksa ibu.

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2