Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Your First Nigth


__ADS_3


إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ


“Sesungguhnya kubur itu adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Bila seseorang selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih berat darinya,”


***


Kupilah pakaian yang masih layak pakai untuk di sedekahkan ke keluarga yang ingin menerimanya. Tak banyak, hanya satu tas dengan ukuran sedang saja. Kami memang tak memiliki banyak pakaian, hanya itu-itu saja. Untuk apa? Jika kita mati sudah tidak bisa digunakan lagi? Untuk apa jika akan menjadi hisab yang berkepanjangan di alam sana? Bukankah sekecil apapun milik kita akan dipertanyakan dari mana, bagaimana dan untuk apa kita memilikinya? Hanya satu barang saja bisa panjang urusannya apalagi yang wah luar biasa.


Beberapa sepupu dan bibi berkumpul membantuku. Mereka lebih banyak memberikan semangat dan nasehat untukku dan Nur. Jasadku memang di sini, tapi pikiranku terbang entah ke mana.


Baju-baju Fitri kemudian di bagikan kepada sepupu perempuan dan bibi jika muat. Aku senang, setidaknya lebih bermanfaat dan menjadi amal jariyah Fitri.

__ADS_1


Malam harinya, beberapa orang berseragam polisi dan petugas jasa raharja datang ke rumah. Mereka membicarakan soal uang kecelakaan dan apakah keluargaku akan menuntut Satria. Jika iya, Satria akan di kenakan kurungan tiga bulan karena menghilangkan nyawa seseorang karena keteledorannya. Orang tua dari Satria juga turut hadir. Pembicaraan malam itu cukup alot dan tak menemukan titik temu karena orang tua Satria tidak ingin anaknya di penjara. Namun, hukum akan terus berjalan sesuai dengan undang-undangnya.


Akhirnya pak polisi, petugas jasa raharja dan orang tua Satria pamit. Ayah di minta untuk datang ke kantor polisi esok hari.


"Kalau uang jasa raharja dan uang dari keluarga Satria cair, kita adakan acara aqiqahan untuk Fitri dan ibunya ya Bu?" usul Ayah.


"Iya Nak, bagaimana baiknya saja," jawab nenek.


"Sisanya kita gunakan untuk memperbaiki makam dan membeli tanah saja," lanjut ayah.


Aku tak ingin ikut campur masalah ini. Apalagi masalah uang. Karena, walau di bayar berapapun jumlahnya takkan bisa menggantikan kehadiran Fitri. Dan Fitri takkan pernah kembali.


Aku berbaring di sebelah Nur yang telah terlelap. Wajah Nur seiras dengan Fitri. Jika diperhatikan sekilas mereka sangat mirip. Melihat Nur, seakan melihat sosok Fitri.

__ADS_1


Apa yang sedang Fitri lakukan di sana? Apa Fitri bertemu ibu? Semoga Fitri husnul khotimah, berada di tempat orang-orang yang diridhoi Allah Azza Wa Jalla. Aamiin Allahumma Aamiin.


Memikirkan Fitri membuatku kembali menangis. Cukup keras sehingga Nur terbangun.


"Kakak nangis lagi? Sudah ya Kak, kasihan Kak Fitri di sana. Pasti sedih liat kita kayak gini," ucap Nur.


"Kakak hanya belum bisa menerima ini, Nur. Kakak sangat kehilangan kak Fitrimu. Kakak gak sanggup," tuturku sesegukan.


"Kita kirim do'a saja yuk, Kak untuk Kak Fitri?" ajak Nur.


"Astagfirullah, Iya. Ayo Nur. Alfateha," seraya menengadahkan kedua tangan.


Aku dan Nur membaca surah alfateha hingga tertidur karena lelah menangis.

__ADS_1


Keesokan harinya ayah berangakat ke kantor polisi ditemani sepupunya menggunakan sepeda motor.



__ADS_2