Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Hatiku Kau Bawa Serta


__ADS_3


"Dek, Mas mau ke rumahmu," isi pesan mas Gio.


Tumben mas Gio mengirimiku pesan sepagi ini? "Iya Mas, silakan," balasku.


Kebetulan hari ini libur sekolah, jadi aku tak harus buru-buru untuk bersiap ke sekolah. Aku segera mandi dan berdandan rapi.


"Assalamualaikum," suara mas Gio memberi salam.


"Waalaikumsalam," jawabku.


Degh. Mas Gio menyandang tas ransel besar. Dia mau ke mana ya?


"Masuk Mas. Mau ke mana pagi-pagi bawa tas sebesar itu? tanyakau.


"Itu tujuan Mas ke sini. Mas mau pamit sama adek," tuturnya.


Aku kelu dengan perasaan tak menentu. "Ah, apa yang aku pikirkan? Aku bukan siapa-siapanya mas Gio. Hanya sebatas teman," batinku.


"Mas mau pamit ke mana? Apakah akan lama?" tanyaku mencoba serileks mungkin menekan suaraku.


"Mas mau kerja Dek. Mas sudah mendapat panggilan, dan besok interviewnya. Kebetulan di sana ada saudara, jadi mas bisa menginap di sana," jelasnya tersenyum.


"Oh ... Jadi begitu. Iya Mas, pergilah. Adek dukung Mas kok," aku tersenyum lirih. Apakah aku mulai menyukainya. Please, jangan wahai hati. Ia milik orang lain.


"Adek kenapa? Kok murung gitu?" tanyanya memperhatikanku.


"Ah, tidak kok Mas. Adek malahan bahagia Mas sudah mendapat panggilan kerja, jadi bisa mandiri dan bantu-bantu orang tua serta adik-adik Mas kan?" jawabku menghiburnya.


"Mas kira, Adek akan sedih jika Mas tinggal," lirihnya sedih.


"Pastinya Mas. Tapi kan Mas juga punya kehidupan sendiri. Mas harus kerja, menabung, dan membantu biaya sekolah adiknya Mas."


"Ta, Mas mau bertanya apa boleh?" tuturnya menatapku.


Aku yang diperhatikan seperti itu jadi salah tingkah meremas ujung bajuku. "Silakan Mas."


"Apa Ita tidak menyukai Mas?" tanyanya dengan suara hampir tidak terdengar.


Aku gamang untuk sesaat. Tanpa berani menatapnya. "Mas, bukankah adek pernah bilang, kalau adek mau sekolah dulu dan mengejar cita-cita Adek? Jika suatu saat nanti kita berjodoh dan Mas serius sama Adek, Mas boleh langsung melamar Adek," jawabku tetap menunduk. Aku takut menatap kekecewaan di matanya.


Ia menghembuskan nafas berat. Bersandar di tempat duduknya dan memainkan jemarinya. "Baiklah Dek. Mas akan tetap menunggumu apapun yang akan terjadi. Mas minta setelah Mas berangkat kerja, Adek jaga hati untuk Mas. Mas ingin kita tetap berhubungan baik pesan singkat ataupun via telepon," pintanya.


"Baiklah Mas. InsyaAllah," jawabku tersenyum.


"Ini, Mas punya sesuatu buat kamu. Bukanya jika Mas udah berangkat aja ya? Belajar yang rajin dan jangan lupa sholat," pesannya sambil memberikan sebuah kado padaku.


"Apa ini Mas? Kok jadi repot-repot gini Mas? Adek gak bisa ngasi Mas apa-apa," jawabku hampir menangis.


"Jangan bicara seperti itu. Nanti Mas akan meminta kesediaanmu untuk menjadi bagian dari hati Mas, jika kau telah siap," ujarnya sambil mengusap punuk kepalaku.


"Gio, jadi berangkat gak? Nanti bus paginya gak ada lagi loh?" tanya Bagus. Aku hampir lupa memintanya untuk masuk ke rumah.

__ADS_1


"Kok gak masuk aja Bagus? Malah duduk di teras?" tanyaku.


"Gak ah, gak mau jadi obat nyamuk," jawabnya cengengesan.


"Ya sudah, Mas berangkat ya Dek? Tok Bah ke mana? Kok gak kelihatan?"


"Tok Bah masih tidur Mas. Pulang mancing hampir sholat subuh, habis sholat tok Bah tidur deh."


"Salam ya sama Tok Bah dan nenek. Jika Mas libur kerja, Mas akan ke mari menemui Adek," senyumnya.


"Ehem ... ehem ... duh Romeo dan Juliet mau pisah, jangan-jangan kerjanya gak bakalan lama nih karena jauh dan gak tahan pisah lama-lama?" seloroh Bagus.


"Jangan gitu lah, Mas Gio harus tetap kerja. Masak gara-gara aku dia gak kerja? Kan gak lucu," cetusku cemberut.


"Becanda kali Ta," jawab Bagus terkekeh.


"Sudah, ayo kita berangkat, matahari sudah tinggi ini," keluh Bagus.


"Iya ... bawel kamu kayak pacarku saja," jawab mas Gio.


"Mas Pamit Dek, jaga dirimu. Assalamualaikum," pamitnya lirih.


"Waalaikumsalam, Mas. Kamu hati-hati di jalan ya, Mas? Kabari aku jika sudah sampai,"


Ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku mengantar kepergiannya hingga menghilang di belokan jalan. Ada yang terasa hilang di sini sesaat ia pergi dan dia membawanya serta, yaitu hatiku.



Apakah aku mulai menyukainya? Aku bergegas masuk ke kamar dan membuka kado yang di berikan mas Gio. Ternyata sebuah tas cantik dan bisa kugunakan untuk ke sekolah. Aku mengambil gawaiku dan mengetik pesan di sana. "Terima kasih, Mas. Jaga dirimu," pesanku.


***


Rindu pada hati mengadu


Tersirat malu-malu


Menumbuhkan aksara merah jambu


Puisi ruang rindu


Atmaku menyeduh pilu


Pada konstanta kalbu


Bunga cinta merayu


Kutitipkan pada langit biru


Bukan pada langit senja kelabu


***


"Mas sudah sampai di tujuan, Dek. Jangan lupa makan siang dan sholat," pesan mas Gio masuk ke gawaiku.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Alhamdulillah. Kamu juga, Mas," balasku singkat.


"Kenapa ni cucu kesayangan tok Bah senyum-senyum sendiri? tanya tok Bah sudah berdiri di dekatku.


"Tok Bah, ngagetin aja. Ini Tok, Mas Gio sudah berangkat kerja untui interview tadi pagi," jelasku.


"Bagus dong, itu baru namanya laki-laki yang baik karena dia mau berusaha dan kerja keras," jelaw tok Bah antusias.


"Kapan dia berangkat?"


"Tadi padi Tok, kan ada pamit ke mari,"


"Kok Tok Bah gak tahu?"


"Tok Bah kan tidur, gimana mau tahu? Ita mau ke kamar dulu ya Tok Bah," aku bergegas bangkit menuju kamar.


"Assalamualaikum, Tok Bah. Ada Ita?" Lia mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam. Ada, naik saja ke atas," perintah Tok Bah yang asik ngopi dan makan cemilannya.


"Aduh-aduh ... yang asik ngelamun? Eh beneran ya Mas Gio berangkat kerja? tanya Lia tiba-tiba muncul di pintu kamarku.


"Kayak jailangkung aja sih Lia? Gak butuh bunga kantil atau menyan buat manggil kamu," celetukku mengelus dada.


"Serem amat Ta? Iya deh maaf. habisnya penasaran, tadi aku ke rumah mas Bagus nganterin sarapan, katanya habis nganterin Mas Gio ke terminal," tutur Lia sambil duduk dan nyomot cemilanku.


"Iya, tadi singgah ke sini dulu pamitan dulu sama aku," jawabku masih asik membaca novel kegemaranku.


"Widih ... Tas baru nih? Kapan belinya Ta? Kok gak ngajak-ngajak?" tanya Lia membolak-balik tas pemberian Mas Gio.


"Gak beli, dikasih Mas Gio tadi,"


"So sweet banget dikasih kado? Lah aku kapan ya dikasih Mas Bagus?" tanyanya penuh harap.


"Kasihan ...," jawabku cekikikan.


"Jahat ah kamu, malah diketawain," rajukknya.


"Mau minta takut di bilang matre ntar," sungut Lia bingung.


"Jangan dong, kalau dia mau ngasih kita gak


perlu nunggu kita ngasih," tegasku.


"Iya sih. Eh, Feni ngajakin ke rumah dia. Terus ke pantai," ajak Lia antusias.


"Gak ah, aku males," kilahku. Padahal aku kurang mau jika harua ikut Feni keluar selain ke sekolah. Aku dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada Feni.


"Ayo dong, Ta? Aku ngajakin Mas Bagus juga ke pantainya,"


"Lah kamu sama Bagus, aku sama siapa?" sungutku.


"Kita ajak Toni aja gimana?" usul Lia.

__ADS_1



__ADS_2