Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Kabar Bahagia Ibu Pov 18


__ADS_3

Sesampainya di rumah, kulihat suamiku telah pulang dan mengobrol bersama ibu.


"Bang, adek positif hamil bang," ucapku senang.


"Beneran dek? Alhamdulillah ya Allah. Abang seneng banget dek," suamiku memelukku haru.


"Alhamdulillah, semoga kali ini laki-laki ya Na?" tutur ibu penuh harap.


"Iya Bu, semoga. Bantu doa ya bu?" sahutku.


"Iya, tapi tetep ya? Kalau perempuan lagi, ibu akan nyariin Adi istri baru, biar dapet anak laki-laki," cetus ibu.


Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahku dan bang Adi tiba-tiba redup.


"Ibu kok ngomong gitu sih bu? Rezeki kan Allah yang ngatur bu? Ibu gak punya anak perempuan tapi punya menantu yang baik. Kan sama aja bu?" sanggah suamiku.


"Ya gak samalah Adi, kamu ini gimana sih? Gak bisa melahirkan anak laki-laki itu gak guna!" cecar ibu.


"Ya Allah Bu. Anna ingin membahagiakan ibu dan bang Adi apapun caranya. Anna juga ingin memberikan ibu cucu laki-kaki, tapi Allah berkehendak lain bu," ujarku lirih.

__ADS_1


"Alah alasan aja kamu. Sudah, ibu gak mau tau, pokoknya yang ini harus laki-kaki kalau gak ya mau gak mau kamu punya madu. Lagipula kamu udah penyakitan gitu," sentak ibu.


"Bu, istriku sakit gini kan gara-gara ibu juga. Kalau ibu bisa jaga ucapan sama orang, gak akan terjadi kayak gini," cetus suamiku.


"Oh... jadi kamu nyalahin ibu? Enak aja kamu, dasar istrimu memang penyakitan kok nyalahin ibu? Mau jadi anak durhaka kamu?" sergahnya.


"Aku gak nyalahin ibu, tapi memang kenyataannya kayak gitu kok," sahut bang Adi.


"Bang, ibu. Udah ya? Gak perlu ada yang diributkan lagi, aku sakit karena Allah sayang padaku. Dan jika aku gak bisa ngasih kamu anak laki-laki, kamu boleh kok nikah lagi bang, setelah 40hari aku melahirkan kelak agar aku bisa menemani kamu ijab kabul," ujarku. Aku tersenyum, tapi hatiku berteriak sakit.


"Gak dek, apapun yang terjadi, kamu istriku satu-satunya hingga maut memisahkan," ucap suamiku sayu.


"Ah drama banget kalian suami istri. Udah, ibu mau pulang dulu," pamit ibu.


Kami menghembus nafas melihat tingkah ibu. "Udah ya Dek. Jangan dipikirin kata-kata ibu. Kamu mandi udah sore, ibu hamil gak baik mandinya sore," pinta suamiku lembut.


Aku pun bergegas mandi, dan juga mengurus anak-anakku. Setelah makan malam, suamiku pamit untuk keluar rumah.


"Dek, abang keluar bentar ya mau ke rumah temen," pamitnya.

__ADS_1


"Iya bang, hati-hati. Jangan terlalu larut pulangnya ya?"


Ia pun berlalu pergi. Belakangan ini suamiku sering Keluar malam, kadang sore hari. Pulang hingga larut. Aku sangat khawatir dan penasaran apa yang ia lakukan dan kemana ia pergi. Ingin mengikutinya, aku tak tega meninggalkan anak-anak di rumah.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat tengah malam. Kemana gerangan suamiku ini? Aku tak dapat menutup mata menunggunya pulang. Pukul 2 dini hari terdengar ketukan pintu dan ucapan salam. Aku bergegas membukakan suamiku pintu. Nampak matanya memerah menahan kantuk, tak tercium bau alkohol atau tuak. Alhamdulillah ia tak terpengaruh untuk minum-minuman keras bersama teman-temannya.


"Bang, kok malam banget pulangnya? Gak capek kamu?"


"Udah, abang ngantuk. Jangan banyak tanya," sergahnya.


Ada apa dengan suamiku? Tak biasanya ia begitu. apa ada masalah lain? Besok akan kucari tahu apa sebenarnya yang terjadi.


💐Bersambung💐


Terima kasih telah mengikuti kisah ini.


Jangan lupa Follow, vote, rate, like dan jadikan cerita ini favorite kamu.


I love u readers.

__ADS_1


__ADS_2