Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Mengenalmu


__ADS_3


Mendengar penjelasan Lia, aku merasa tidak ada yang perlu aku khawatirkan karena aku dan mas Gio hanya berteman biasa saja.


"Ya gak apa-apa lah Lia, itu kan hak mereka. Lagipula aku dan mas Gio hanya berteman biasa," jawabku.


"Temen apa demen? Ya kamu bisa bilang begitu, kita kan gak tau mas Gio dan orang-orang yang melihat, Ta?" tutur Lia.


"Duh, ngomong sama kamu lama-lama bisa ketularan bucin nih aku. Ayo temenin aku pergi?"


"Gak deh, kamu aja. Aku gak mau jadi obat nyamuk. Aku tunggu di rumah Bagus aja ya?"


"Itu sih senengnya kamu. Udah ah, aku pergi dulu keburu sore. Bye...," pamitku


"Hehe... hati-hati ya di rumah camer?" teriaknya.


Dasar Lia. "Lia gak bisa ikut, Mas. Banyak kerjaan katanya," jelasku pada mas Gio.


"Ya udah, Ita sendiri gak apa-apa kan? Mas dan keluarga ma gak gigit kok, Ta...," canda mas Gio.


"Bukan begitu maksud Ita, Mas. Gak enak aja nanti di lihat pacar mas kan jadi salah faham...," jelasku.


"Mas, belum pernah mengajak siapapun ke rumah mas. Ta. Termasuk pacar mas Tikha, ibu gak setuju mas pacaran sama dia karena masih ada ikatan keluarga," paparnya.


"Kalau diana?" tanyaku penasaran.


"Sama juga, Ibu gak mau mas cari calon istru orang sini, Ta,"


"Kenapa Mas? kalau jodoh juga jauh deket emang bisa ngelak?"


"Gak tau deh ibu, abang-abang mas juga di minta gitu," jelasnya.


Aku hanya mangut-mangut mendengarkan penjelasannya. Ia mengemudikan sepeda motornya perlahan karena struktur jalan yang tidak terlalu baik.


"Masih jauh ya, Mas?" tanyaku.


"Iya, masih agak jauh, maaf ya?"


"Iya gak apa-apa kok mas, santai... hehe," hiburku.


Di kiri kanan jalan masih belun banyak rumah yang dibangun, masih berupa hutan dan pepohonan. " Gimana kalau malam ya? Pasti menyeramkan lewat di sini," batinku.


Kami sampai di sebuah rumah sederhana terbuat dari papan kayu. Keluar seorang bapak-bapak yang ternyata bapak dari mas Gio.


"Assalamualaikum," salam kami berbarengan.


"Waalaikumsalam salam, dari nengdi koe le? Sopo iki?" tanya bapak mas Gio menggunakan bahasa jawa. Aku mengulurkan tangan dan menyalaminya yang kutahu bernama pak Yanto.


"Ibu belum pulang dari jualan, Ta. Di dalam ada adik-adik mas, ayo mas perkenalkan padamu," ajaknya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ini Ari, dia satu letting sama kamu, Ta sekolah di Aliyah situ, sedangkan ini yang bungsu namanya Nova," mereka menyalamiku satu-persatu. Adik mas Gio sangat ramah, hanya saja agak pendiam mungkin kami baru saling mengenal.


Tak berapa lama ibu mas Gio pulang dari pasar menjajakan jualannya seperti tempe yang di bungkusi daun, tape ubi, kerupuk ubi, kerupuk nasi dan lainnya.


Mereka menyambut ibunya bersama-sama, membawakan keranjang jualan dan belanjaan untuk di bawa masuk. Ibu mas Gio menatapku lalu tersenyum.


"Siapa namanya nduk? tanyanya pelan.


"Ita, Bu," jawabku sambil menyalaminya.


"Tinggal di mana kamu? Temannya Gio?" tanya ibu lagi.


"Saya tinggal sama kakek, bu. Di jalan rawasari," jawabku menunduk.


"Iki koncomu yang endi toh le?" tanya ibu pada mas Gio.


"Calon mantu iku Bu," celetuk Nova.


"Hussttt! Masih cilik kok mantu-mantuan?"


"Kamu masih sekolah kan, Ita?"


"Alhamdulillah masih, Bu?" jawabku singkat.


"Yo uwes, ibu arep ados, kamu santai saja ya di sini, anggap rumahmu sendiri. Ojo isin-isin," tutur ibu sambil berlalu untuk mandi.


"Mas, ini udah sore. Boleh antar aku pulang?" tanyaku.


"Kamu makan dulu ya? Ari dan Nova sudah memasak untuk kita," pinta mas Gio.


"Kok repot-repot sih, Mas? Aku masih kenyang," jelasku.


"Gak apa-apa, ibu yang minta kamu makan dulu sebelum pulang. Mau ya?"


Aku terharu. Mereka baru mengenalku, tapi sudah bersikap sangat baik terhadapku. Andai aku memiliki keluarga seperti ini, sederhana, tapi bahagia.


Kami menuju ruang makan, dengan menu sederhana tempe bacem, sambel, sayur dan tahu goreng. MasyaAllah walau sederhana tapi sangat nikmat.


"Mangan yang akeh yo nduk, ojo isin-isin karo ibu dan bapak di sini. Anggap saja kami keluargamu juga, Gio sudah menceritakan semuanya tentangmu," tutur ibu tersenyum ramah.


"Iya Bu, terima kasih," jawabku.



Selesai makan aku membantu Ari mencuci peralatan makan kami.


"Kamu kelas 1 Aliyah Ari?" tanyaku.


"Iya mba, baru kelas 1," jawabnya.

__ADS_1


"Usia kita sama kali Ri, panggil Ita aja ya? jadi kalau kamu ke sekolah naik apa sama Nova?"


"Kami naik sepeda Mba, boncengan berdua. Kan sekolah aku lebih dekat, Nova jauh lagi," jelasnya.


"Biasanya berangkat jam berapa? Aku juga naik sepeda sih, tapi jaraknya lebih dekat,"


"Kadang pukul 6 pagi mba, kalau lewat ya bisa telat. Apalagi jika musim hujan dan banjir, kami gak bisa sekolah," paparnya.


"MasyaAllah... susah juga ya jarak jauh gini?"


"Iya mba, makanya rencana bapak dan ibu mau pindah rumah. Bangun rumah yang lokasinya jika banjir atau hujan kami masih bisa beraktivitas mba,"


"Iya, ada benarnya juga. Mudah-mudahan bisa lekas pindah ya, Ri?


"Aamiin... sudah selesai ini mba, ayo kita masuk?" ajaknya.


Aku bersiap-siap untuk pulang. Ternyata ibu lagi proses peragian untuk membuat tempe. Seumur hidup baru kali ini aku melihat langsung proses pembuatan salah satu makanan favoritku ini.



Ternyata rasa tempe daun lebih enak daripada tempe plastik yang selama ini aku kenal.


"Ini nduk masih ada tempe daunnya kamu bawa pulang sama kerupuknya ya?" ucap ibu sambil memberikan satu kantong besar berisi tempe daun dan kerupuk.


"Kok repot-repot sih Bu? Ita boleh main ke sini dan mengenal keluarga ibu aja, Ita sudah senang," jawabku tak enak.


"Gak apa-apa, rezeki jangan di tolak. Lain kali main ke sini lagi ya, Ta?" pinta ibu.


"InsyaAllah bu, Ita pamit ya, Bu? Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.


Mas Gio mengantarkanku pulang.


"Aku seneng di rumahmu Mas. sangat harmonis dan kekeluargaan," terangku.


"Apalagi kalau kamu jadi bagiannya, pasti lebih menyenangkan," jawabnya.


"Please deh, Mas. Masih di bawah umur ini," candaku.


"Iya, Mas tau. Boleh gak Mas manggil kamu adek aja?" tanyanya.


"Ya, terserah Mas aja mana enaknya," jawabku sekenanya.


Iya, mulai sekarang mas memanggilmu dengan adek aja, biar lebih akrab," paparnya tersenyum.


Aku hanya mengangguk walau ia tak bisa melihatku dari belakang. Mungkin, Allah telah merencanakan sesuatu yang indah dibalik perkenalanku dengan mas Gio. Yang pasti aku senang bisa mengenalnya.


__ADS_1


__ADS_2