
🍒🍒🍒
"Waduh, pake acara nyanyi," ledekku tertawa bersamaan.
"Ya sudah, aku mau lanjut kerja nih Kak. Baik-baik sekolahnya, biar makin pintar. Haha ...," tawa Fitri yang selalu kurindukan.
"Iya, kamu juga ya? Jaga kesehatan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Fitri.
Semoga, di tempat kerjanya yang baru, ayah dan nenek tidak seperti dulu. Setiap bulan datang, hanya meminta bagian lebih banyak daripada Fitri. Sedih dan kasihan tentu saja melihat hal itu. Walau bagaimanapun juga, Fitri berhak bahagia. Separuh usianya sudah Fitri gunakan untuk membahagiakan kami, khususnya ayah dan nenek. Aku kadang tak mengerti bagaimana jalan pikiran orang tuaku.
***
Masa orientasi siswa telah selesai.
Jadwal sekolahku dari pukul 07.30 - 15.00 Wib, kecuali hari Jumat dan Sabtu.
Di sini semuanya di tanggung oleh tok Bah. Dari uang sekolah, uang jajan bahkan keperluan lainnya. Masih kusisihkan sedikit demi sedikit untuk kuberikan pada nenek. Aku ingin meringankan beban Fitri.
Ternyata, tak jauh dari rumah tok Bah ada teman sekelasku bernama Lia. Kami berangkat sekolah dan pulang bersama-sama.
Tanpa terasa, satu semester telah aku lewati dengan berlika-liku masalah. Tinggal di rumah saudara, kita harus pandai-pandai membawa diri. Harus bisa menempatkan diri, aku tak ingin kejadian di rumah bi Utin dulu terulang lagi.
Semester satu ini, aku mendapat peringkat kelas ke tiga. Alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia. Semoga bisa aku pertahankan di semester selanjutannya.
Selain berteman dengan Indah, Dini dan Widya. Aku juga berteman baik dengan beberapa teman, Yaitu Feni dan Lia. Dua temanku ini berbeda dengan teman-teman perempuan yang lainnya. Sedikit badung dan bicara ceplas-ceplos. Semaunya sendiri.
Hari ini, guru yang biasanya mengajari kami bahasa mandarin tidak bisa masuk. Otomatis kelas kosong dan teman-teman gaduh semaunya. Lia dan Feni berniat untuk bolos sekolah, melompati pagar belakang sekolah yang jauh dari jangkauan pak satpam. Mereka sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Ayo, Ta. Tidak ada guru juga jadi tidak apa-apalah kita bolos sekali-kali. bosan di kelas," ajak Feni, temanku yang paling badung.
"Aku takut, Fen. Takut ketahuan. Gak enak sama Tok Bah dan Nek Neng kalau ada kasus di sekolah," tolakku pada Feni.
__ADS_1
"Iya Ta, gak apa-apalah sekali ini aja, yuk? Kita lewat pagar belakang sekolah," ajak Lia lagi.
"Lia, kalau kamu ketahuan sama satpam terus Tante kamu di panggil ke sekolah, gimana,? tanyaku pada Lia.
"Ah, kamu ini, Ta. Gak asik. Ya udah. Biar aku sama Lia aja. Nih aku udah bawa rokok di tas, buat ngumpul sama yang lain. Yakin gak ikut, Ta?" tanya Feni lagi.
"Gak deh Fen, aku takut kalau harus bolos," tolakku sambil menggelengkan kepala.
"Cupu banget sih kamu, Ta? Gitu aja takut. Gak asik. Dah aku pergi, awas ya ngadu ke satpam. Bhay," ucap Feni sambil menarik tangan Lia.
Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatku ini. Semoga mereka tidak tertangkap oleh satpam sekolah.
Keesokan harinya, kelas ramai akan berita dua siswi kelas 1Ap2 tertangkap satpam karena bolos sekolah. Aku sudah bisa menebak, siapa yang teman-temanku maksud. Pastinya Feni dan Lia.
Tiba-tiba, Lia masuk ke kelas dan memelukku sambil menangis.
"Ita, aku kemarin ketangkap satpam sama Feni," isaknya
"Kan aku udah bilang sama kamu, jangan pergi. Kamu sih gak mau dengerin aku,"
"Paman sama Tante kamu, kenapa?" tanyaku heran.
"Aku gak berani, Ta. Bisa-bisa diminta pulang kampung aku. Minta tolong Tok Bah saja, mau gak ya?"
"Kalau itu aku gak tahu, kalau belum dicoba. Nanti sepulang sekolah, kamu ke rumah. Bicara langsung sama Tok Bah, gimana?"
"Baiklah, Ta. Terima kasih ya Ta,"
"Ah, kamu. Belum juga tahu jawaban Tok Bah apa, udah bilang terima kasih aja," sahutku tertawa.
"Iya, ya?" rungut Lia sambil menggaruk kepalanya.
"Nah, Feni kemana?" tanyaku pada Lia.
"Ada apa nyariin aku?" tiba-tiba Feni menjawab dari arah belakang kami.
"Aku sudah dari tadi kali, duduk di sini nonton drama kalian berdua, gak nyadar? Gitu aja takut kamu, Lia," lanjut Feni sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
"Kamu sih sudah biasa Fen bikin kasus, lah aku kan baru kali ini," sungut Lia tak terima.
"Paling banter di ceramahin nanti di rumah. Sudah jangan pada nangis lebay gitu? Kayak di tinggal pacar saja nangis bombay," cecar Feni santai.
"Lama-lama, aku ketularan badung nih sama kalian berdua. Tobat sana, nanti gak sempat loh," ucapku.
Akhirnya, kami bertiga tertawa bersama-sama Mereka memang badung, tapi bagiku teman adalah segalanya untuk berbagi suka dan duka. Baik buruknya sahabat kita, kembali lagi pada diri kita sendiri.
Sore harinya sepulang sekolah, aku dan Lia memberanikan diri untuk bicara pada Tok Bah atas masalah yang di hadapi Lia.
"Tok Bah. Nih Lia mau bicara," ucapku pelan.
"Iya. Ada apa Lia?" tanya Tok Bah tanpa menoleh, karena sedang sibuk memperbaiki pancingnya.
"Gini, Tok Bah. Besok, hari Selasa Tok Bah sempet gak ke sekolah sebentar?" tanya Lia takut.
"Ada apa? Ada undangan dari sekolah? Kamu dapat juga Ta undangannya? Emanya bisa ya mewakilkan dua anak?" tanya tok Bah polos.
"Bukan, Tok Bah. Lia dipanggil pihak sekolah, karena buat kasus di sekolah," jawab Lia.
"Kasus? Kamu juga, Ta?"
"Ita gak Tok Bah, mana Ita berani," jawabku.
"Tok Bah gak sempat, Lia. Besok harus ke lapangan membagikan sembako untuk warga yang terdampak banjir," jelas tok Bah.
"Yah, gimana dong Tok Bah?" rengek Lia.
"Minta Paman atau Tantemu saja ya, Lia? Tok Bah benar-benar tidak bisa," tolak tok Bah halus.
Kami berdua hanya mengangguk tanda setuju. Aku mengajak Lia ke kamarku.
"Ada ide lain gak, Ta?"
"Gak ada Lia, satu-satunya jalan, ya kamu ngomong sama Paman dan Tante kamu,"
"Aku gak berani. Kalau minta tolong Ustad, mau gak ya?" tanya Lia ragu.
"Ustad, imam surau kita," tanyaku tak percaya akan ide Lia.
"Iya, Ustad Idris. Mau ya temenin aku ke rumahnya?" pujuk Lia.
__ADS_1
Terpaksa aku ikuti permintaan Lia, sebelum mendengar seribu jurus rayuannya yang lain. Kami langsung menuju rumah ustad Idris untuk meminta bantuannya. Di luar expectasi kami, ternyata ustad Idris setuju untuk datang ke sekolah besok, pukul 09.00 pagi. Lia bisa bernafas lega dan kembali tersenyum bisa terbebas dari masalahnya.