
"Kau mengenal laki-laki itu, Ita?" tanya ayah dingin.
"Iya Yah. Dia teman SMP-ku," jawabku.
"Jadi, ini semua salahmu, iyakan?" cerca ayah.
"Maksud Ayah apa?" tanyaku tak mengerti.
"Ini karena kamu memperkenalkan Fitri dan laki-laki itu, iyakan?"
"Gak Yah, aku juga gak ngerti gimana mereka bisa kenal?"
"Jangan banyak alasan kamu, Ta. Kamu memang tidak pernah suka jika Fitri lebih baik darimu. Jawab jujur ...!" teriaknya.
"Demi Allah, Yah. Fitri adik yang paling kusayangi, tidak mungkin aku bisa menyakitinya walau seujung kuku," jawabku terisak. Aku tak menyangka, orang tuaku memiliki pikiran seperti ini. Di saat seperti ini, mereka masih bisa menyalahkan orang lain, bahkan aku anaknya cucu mereka.
"Kalau bukan Kamu, siapa lagi?" timpal nenek.
__ADS_1
"Aku gak tahu Nek, apa hanya aku yang salah di mata kalian?" tangisku.
Ayah dan nenek terdiam. Menatapku dengan tatapan tak suka.
"Kamu memang anak yang tidak tahu di untung, saudara yang tak tahu terima kasih. Kalau bukan Fitri yang menyekolahkanmu waktu SMP, kamu takkan sepertinya saat ini," cerca ayah.
"Seharusnya, kamu sudah menikah. Mulai saat ini kamu tak perlu kembali ke sana untuk sekolah," ancam nenek.
Aku terdiam mendengar ucapan nenek. Mengapa semua kesalahan dilimpahkan padaku?
"Siapa yang tidak boleh sekolah?" tanya tok Bah tiba-tiba. Ia berdiri di depan pintu sambil bersedekap. Memperlihatkan wajah tidak senangnya.
"Siapa yang tidak boleh sekolah?" ulang tok Bah.
"Kalau kalian tidak senang akan kehadiran Ita di sini, biar kubawa dia pulang segera," ancam tok Bah.
"Bukan begitu Paman. Tapi lelaki yang membawa Fitri malam itu, adalah teman Ita. Jika bukan karena Ita temannya, tidak mungkin dia berani membawa Fitri," jawab ayah.
"Mengapa kamu seyakin itu? Apa sudah kamu tanyakan pada lelaki itu? Apa benar Ita yang memperkenalkan mereka?" selidik tok Bah.
Ayah dan nenek terdiam.
__ADS_1
"Apa kamu tak bisa, tidak melimpahkan segala sesuatu kepada orang lain? Apa kalian sebagai orang tua sudah mengoreksi kesalahan kalian sendiri? Sudah menjalankan tugas dan peran kalian sebagai orang tua? Jika ya, mengapa anak cucu kalian satu di timur dan satu lagi di barat? bisa jelaskan padaku?" tanya tok Bah panjang lebar.
Aku yang tak nyaman dengan keadaan itu, mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ita gak apa-apa kok, Tok Bah. Mungkin, selama ini Ita belum bisa jadi anak yang baik untuk orang tua Ita," jelasku.
"Walau bagaimanapun, orang tua tidak berhak menghakimi anaknya seperti itu, Ta. Ya sudah, kamu siap-siap, ikut tok Bah pulang," perintah tok Bah.
Mendengar itu ayah dan nenek kelihatan bingung. Mereka terdiam cukup lama.
"Jangan bawa Ita dulu Paman, nanti apa kata orang jika Ita tidak ada di sini? biarkan dia satu minggu di sini," pinta ayah.
"Iya Bah, apa nanti kata orang?" lanjut nenek.
"Nah, itu tahu malu juga kalian? Sudah begini, kalian sibuk memikirkan isi pikiran orang lain? Saat mencerca dan memarahi anak cucu di depan orang lain, kalian tidak memikirkan hal itu?" tanya tok Bah.
"Kami tidak bermaksud seperti itu paman. Kami hanya ...?"
"Sudah ... sudah, aku tak ingin mendengar alasan apapun juga. Belajarlah jadi orang tua yang baik. Jadikan musibah yang menimpa Fitri sebagai muhasabah untuk diri kalian. Ambil hikmahnya, karena semuanya takkan ada yang abadi. Termasuk rasa angkuh dan sombong kalian terhadap anak cucu," jelas tok Bah.
Wajah ayah dan nenek seketika berubah mendengar kata-kata Tok Bah.
__ADS_1