Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Tak Ingin Durhaka


__ADS_3


Hari ketiga kepergian Fitri. Kami akan bertamu ke rumahnya. Rumah abadinya yang kelak akan menjadi rumah kita. Ziarah mengingatkan kita akan kematian, bahwa tidak ada yang abadi. Kaya, miskin, bahkan raja sekalipun takkan mampu membeli sebuah nyawa.


Tanah itu masih merah, harum pandan masih membaui udara, bunga-bunga sedikit layu terpapar mentari. Namun, air mata ini tak henti-hentinya mengajakku berkelana ke masa lalu, mengingat masa indah bersama mereka, Ibu dan Fitri.



Sesampainya di rumah, telah menunggu beberapa petugas polisi dan jiwas raya. Kembali mengorek luka.


"Silahkan masuk Pak. Maaf menunggu lama, kami dari makam almarhumah," jelas ayah.


"Iya Pak, tidak apa-apa, kami mengerti."


"Bagaimana perkembangan kasus anak saya pak?"


"Tersangka akan mendapatkan kurungan 3 bulan penjara, Pak. Itupun dengan jaminan," jelas petugas.

__ADS_1


"Saya serahkan semuanya kepada pihak berwajib, Pak. Saya hanya ingin hukum ditegakkan seadil-adilnya," lirih ayah.


"Baik, Pak. Kami mengerti, kami di sini juga ingin menjelaskan prosedur dari asuransi jiwa anak bapak."


Aku sudah tak ingin mendengarkan lagi apa yang mereka bahas. Mendengar kata uang, hatiku sakit. Aku benci uang itu. Adikku tergantikan oleh sejumlah uang dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan truk pengangkut tanah yang menabrak adikku sudah tak tahu di mana rimbanya. Semoga Allah membalas apa yang tanam.


"Kapan kamu pulang kerumah tok Bahmu?" tanya nenek.


"Setelah tujuh hari nanti Nek," jawabku.


"Apa kamu tak ingin bersekolah di sini saja?" tanya nenek tiba-tiba.


"Ayahmu ingin, kamu pindah sekolah kemari setelah uang itu cair,"


"Tapi Nek, aku tak ingin menggunakan uang itu. Bukan hakku, sebaiknya pergunakan untuk hal lebih penting seperti bersedekah menggunakan nama almarhumah," tampikku.


"Jangan mengajariku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, kamu turuti saja perintah ayahmu. Untuk apa bersedekah? Apa saat kamu lapar ada yang memberimu makan? Apa di saat kita susah ada yang mengulurkan tangannya untuk kita??" sergah nenek.

__ADS_1


"Bahkan cacing di dalam tanah pun mendapatkan rezekinya Nek, Allah yang mengatur segalanya," jawabku.


"Bicara denganmu memang takkan ada ujungnya, sudah pandai menceramahi orang tua," cetusnya melenggang keluar.


Aku hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba tetap waras dalam masalah ini. Aku tak ingin sama sekali menikmati uang itu. Dan untuk kembali ke sini, aku sangat takut. Bukan karena sikap orang tuaku tapi takut menjadi anak durhaka.


***


Acara 7 hari kepergian Fitri berjalan dengan lancar. Banyak saudara dan tetangga yang datang. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa beras, gula bahkan amplop untuk tuan rumah. Membantu meringankan beban yang terkena musibah.


Besok aku akan kembali ke rumah tok Bah. Sudah satu minggu aku absen dari sekolah. Banyak pelajaran yang tertinggal.


"Besok, Kakak mau pulang ke sana?" tanya Nur lirih.


"Iya, Nur. Kan kakak harus sekolah. Kamu juga harus tetap sekolah, ingat pesan Kak Fitrimu, salah satu dari kita harus bisa jadi yang orang. Buat mereka bangga Nur," tuturku.


"Kakak sekolah di sini saja ya? Aku takut jika harus menghadapi Ayah dan Nenek sendirian Kak. Biasanya ada Kak Fitri pulang satu minggu sekali, tapi kalau kak Ita kan lama?" rajuk Nur.

__ADS_1


Aku termangu, bingung harus menentukan langkah.



__ADS_2