
Aku dan Fitri sudah menduga siapa yang datang ke rumah. Siapa lagi kalau bukan si pembawa masalah di ke hidupanku?
"Kapan kuman ini enyah dari muka bumi?" Gerutuku pelan.
Fitri tertawa geli mendengar ucapanku. "Kita semprot pestisida saja Kak ...," sahut Fitri dengan tawa berderai.
Kami masuk mengucapkan salam tanpa menoleh kepada si tamu.
"Belanja apa dek Ita?"
"Ikan asin."
"Jangan sering-sering makan ikan asin Dek, nanti darah tinggi," Seloroh nya yang sama sekali tidak lucu bagiku.
"Liat Om saja, sudah buat kami darah tinggi Om." celetuk Fitri sambil tertawa.
Om philip tak menimpali lagi, mungkin tahu Fitri tak suka padanya. Aku dan Fitri pun memasak untuk makan malam. Tak kuhiraukan tamu tak di undang itu bolak-balik ke dapur menyapaku.
"Dek, nanti malam jalan yuk? Besok Minggu kan jadi tidak sekolah," ajak nya.
"Gak deh Om, tidau enak badan."
"Kamu sakit Dek?"
"Sudah tahu kok masih nanya sih Om?" sahut Fitri.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Ini ada uang buat berobat," Om philip mengulurkan selembar rupiah berwarna merah.
"Jangan Om, aku masih punya obat di kamar," tolakku halus.
"Alah ... kamu ini, rezeki ditolak. Jika kamu tidak mau, sini buat Nenek saja," sambar nenek tiba-tiba, tidak tahu kapan ada di dapur.
Melihat hal tersebut, membuat om Philip hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku dan Fitri hanya bisa menyaksikan tingkah nenek tersebut. Om Philip pun melangkah keluar menemui ayah.
__ADS_1
"Lain kali, kalau si Philip ngasih uang ambil saja Ta, kalau kamu tidak mau, kasih ke Nenek. Lumayan bisa buat belanja dan buat rokok Nenek."
Aku dan Fitri hanya diam tak menimpali ucapan nenek. Biarlah fikirku, Om Philip juga tahu bukan aku yang mengambil uang itu.
Sebenarnya om Philip itu orangnya baik. Namun, yang tak bisa kuterima adalah, dia tunanganku yang telah berumur 20 tahun di atasku dan aku masih bersekolah di bangku SMP. Tak lama om Philip pamit pulang, mungkin kecewa akan penolakan dan sikap acuh tak acuhku. Biarlah agar tahu diri.
***
Hari Senin sepulang sekolah, Pak Edwar telah berada di rumah bersama ayah di ruang tamu. Kulihat ada mendung di wajah Ayah.
"Baru pulang Ta?" sapa pak Edwar.
"Iya pak, sudah lama Pak?"
"Lumayan, ngobrol sama Ayahmu. Duduk sini Ta, ada yang mau Bapak sampaikan."
Di situ sudah ada nenek dengan wajah masam, ibu, Nek Siti dan Kakek Yusuf.
"Kok bisa-bisanya Ayah dan Nenekmu mau menjodohkanmu pada orang yang sudah berumur dan beristri?"
"Saya tidak tahu apa-apa Pak Edwar, saya diperkenalkan oleh pak Yusuf juga," sahut Ayah.
"Nah itu salahnya kamu sebagai orang tua, lebih percaya orang lain yang punya maksud dan tujuan tersendiri akan masalah ini," sindir halus pak Edwar.
"Bukan begitu pak Edwar, saya juga baru kenal beberapa bulan ini sam Philip. Dia ngakunya masih bujangan sama saya Pak," sahut kakek Yusuf tak terima.
"Kamu baru kenal, sudah berani mau menjodohkan anak orang ke dia?" bentak Pak Edwar.
"Iya Pak, saya tahu saya salah," jawab kek Yusuf sambil membuang muka.
"Kalian bisa kena undang-undang loh ini, mau saya proses kalian? Ini daerah saya," ancam pak Edwar sungguh-sungguh.
"Sudah lah Pak Edwar, tidak usah diperpanjang masalah ini, nanti kalau Philip datang lagi akan saya marahi dia," sahut Nenek acuh tak acuh.
__ADS_1
"Baik lah kalau begitu, saya percaya pada Nenek, Ita sudah saya anggap seperti anak saya sendiri karena almarhum ibunya saya anggap keluarga. Saya tidak mau masalah seperti ini terulang kembali, biarkan Ita sekolah sampai selesai dan menemukan jodohnya sendiri." tegas Pak Edwar. Ia seperti malaikat penolongku.
Aku sangat lega, teramat lega hingga menangis. Pak Edwar pun pamit karena jam istirahatnya telah habis dan harus kembali ke Polsek. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih atas bantuannya.
Nek Siti dan kek Yusuf pun membubarkan diri tanpa satu patah kata pun, begitu Ayah dan Nenek. Aku bersyukur masalah ini selesai, tak lupa aku mengabari Fitri akan kabar bahagia tersebut. Fitri tak kalah senangnya.
Sejak saat itu, Om Philip tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Cincin yang tersemat di jariku pun aku buang ke sungai, untuk apa menggunakannya lagi pikirku. Namun, hal itu membuat nenek berang bukan kepalang.
"Dasar kamu ini, itu bisa di jual ... Kenapa kamu buang?!" bentak nenek padaku.
"Sekarang tak ada lagi uang tambahan belanja dari Philip, biarpun dia punya istri sebenarnya itu tak masalah, kamu saja yang banyak tingkah, jual mahal!" Cerca nenek.
Aku hanya bisa menangis mendengar ucapan nenek. Selama beberapa bulan ini, om Philip memang selalu memberiku uang, katanya untuk jajan dan belanja, tapi uang itu selalu berakhir di tangan nenek. Diberi pun kadang hanya sepuluh ribu rupiah untuk jajanku satu minggu. Sekarang aku mengerti, nenek hanya memanfaatkan keadaan dan kesempatan akan deritaku.
Seminggu kemudian, datang tamu tak di undang kembali ke rumah. Kali ini bukan om Philip, dia memperkenalkan dirinya sebagai paman dari om Philip, duda beranak dua. Kulihat ada senyum yang berbeda dari wajah tamu ayah ini.
Ayah memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku merasakan firasat buruk akan hal ini.
"Ini pak Gandi, Pamannya Philip. Beliau kemari ingin melamarmu menjadi istrinya," jelas ayah.
"Iya, saya mendapatkan alamat kalian dari Philip. Maaf atas kejadian yang kemarin karena Philip mengaku masih lajang."
"Saya kemari ingin menggantikan posisi Philip jika berkenan," jelas pak Gandi dengan senyum penuh arti.
Aku sudah sangat muak di permainkan seperti ini. Aku bukan boneka. Aku hanya seorang anak dari seorang ayah dan remaja yang masih ingin mengejar mimpinya. Mataku panas menahan kesal.
"Apa Bapak tahu saya masih 14 tahun? Apa Bapak tahu saya masih bersekolah di SMP? Apa Bapak tahu undang-undang yang mengatur menikahi anak di bawah umur?" tanyaku dengan suara bergetar menahan tangis dan amarahku.
"Jangan kurang ajar kamu Ta, dia tamu kita!" marah ayah dengan nada yang telah meninggi.
"Bukan niat saya ingin bersikap kurang ajar pada tamu Ayah, tapi tamu yang datang ini ingin menghancurkan hidup saya."
"Bukan, bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga kalian atas apa yang telah diperbuat keponakan saya, jadi biarlah saya yang bertanggung jawab," jawaban pak Gandi kekeh dengan niatnya.
__ADS_1