Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Pamit terakhirmu (Nenek yang Dzolim?)


__ADS_3


Setelah Fitri bekerja, pemasukanku tiap bulan semakin bertambah. Lumayan tiap hari tak harus makan dengan menu itu-itu saja. Ternyata ada hikmahnya juga memelihara cucu-cucu yang sudah tidak beribu, sangat menghasilkan.


Aku jahat? Tidak. Aku tidak jahat. Aku hanya memanfaatkan kesempatan selagi bisa. Di rumah aku sudah tak perlu repot-repot berbenah, ada Nur yang sudah bisa kuandalkan tenaganya untuk mencuci dan memasak lauk sederhana walaupun hanya tumis kangkung dan goreng ikan di usianya yang ke enam tahun. Aku hanya mengurus cucu kesayanganku Aji.



Setiap bulan Ita dan Fitri pulang membawa berbagai bahan makanan dan tentu saja uang. Masing-masing memberiku dua ratus hingga dua ratus lima puluh ribu. Lumayan jika ayah mereka tak meminta bagiannya. Saat ini Ita sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar, tak lama lagi dia akan bersekolah di SMP.


Siang itu, Ita pulang ke rumah diantar oleh Nak Kus suami Utin. Ternyata Ita tidak lagi bersekolah di sana, karena Utin dan Nak Kus mengambil keponakannya yang lain untuk tinggal di sana. Terlepas sudah ikan masku. Tak ada lagi pemasukan dari sana, syukurnya sebelum pulang Nak Kus masih memberiku sedikit uang. Lumayanlah daripada tidak sama sekali.


"Mak, Ita kami kembalikan ke Emak lagi ya? Karena tiga keponakan saya akan saya ajak tinggal bersama saya," jelas nak Kus.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, Emak tidak bisa bicara apa-apa lagi Nak Kus. Terima kasih selama dua tahun ini kalian telah menjaga dan mendidik Ita dengan sangat baik."


"Iya Mak, sama-sama. Jika ada waktu Emak mainlah ke rumah kami dan begitu juga kami akan ke mari sesekali."


"Baiklah Nak Kus."


"Saya pamit Mak, Assalamualaikum," pamit Nak Kus sambil menyalamiku dan menempelkan uang di tanganku


"Waalaikumsalam, iya Nak Kus. Terima kasih," Ah ... tiga ratus ribu, lumayan besar nilainya tentu saja tanpa sepengetahuan Ita.


Sore itu Fitri pulang seperti biasanya. Kami sedang berbincang-bincang mengenai sekolah Ita. Apakah ia akan melanjutkan sekolahnya atau tidak. Kami sepakat Ita tetap bersekolah ditambah uang tabungan Fitri dan uang hasil jual ayam jagoku. Tak mengapa berkorban sedikit demi hasil yang banyak, bahasa kerennya investasi.


***


Kini, Ita telah duduk di kelas 2 SMP. Ia tumbuh seperti anak-anak seusianya. Ayah dan ibu tirinya beserta anak mereka juga sudah pindah ke rumahku. Nur telah duduk di kelas 2 sekolah dasar, sedangkan Fitri masih bekerja di kota.


Suatu siang, di rumah adik sepupuku Siti ke datangan tamu dari kota. Kabarnya ia akan mencari jodoh kemari. Timbul ide cemerlangku bersama Siti untuk menjodohkan Ita dan tamu itu yang kutahu namanya Philip. Siti menyampaikan padaku bahwa Philip akan memberikan mahar sebesar sepuluh juta jika bisa menikahi Ita. Tambang emasku telah datang. Namun, Ita menolak dengan tegas bahwa ia tak ingin menikah dalam waktu dekat jika belum lulus SMP. Aku harus menunggu 1 tahun lagi untuk menikmati uangku. Ayah mereka tak berkomentar apa-apa tentang keputusanku akan menikahkan Ita. Dia memang anak yang tidak banyak bicara, tetapi semua anak-anaknya takut padanya.

__ADS_1


Edwar kapolsek di desaku bertamu ke rumah. Edwar masih ada ikatan kekerabatan dengan almarhumah ibu Ita. Aku merasakan firasat buruk akan kedatangannya.


"Apa benar Ita akan di jodohkan dengan orang luar desa kita?" tanya Edwar penuh selidik.


"Iya Edwar, itu pilihan Ita sendiri. Kami hanya mengaminkannya saja," jawabku.


"Tapi, tidak seperti itu yang saya dengar beritanya. Apa kalian memaksa Ita?" tanya Edwar lagi.


"Tentu saja tidak Pak Edwar. Mana mungkin kami tega berbuat begitu pada anak kami sendiri," jelas anakku.


"Jika saya punya bukti, apa kalian siap saya tindak? Apa kalian tidak tahu menikahkan anak di bawah umur sudah ada undang-undangnya?" ancam Edwar.


"Tidak Pak Edwar, kami tidak bermaksud seperti itu. Kami hanya mengikuti saran Pak Yusuf karena Philip itu temannya," jelas anakku.


"Benar itu Pak Yusuf? Bukankah anda orang luar? Mengapa berani-beraninya menjodohkan keponakan saya dengan orang yang tidak kami kenal?" cecarnya.


"Bukan begitu Pak Edwar, saya juga baru kenal beberapa bulan ini dengan Philip dan dia ingin mencari istri ke mari. Jadi saya pikir apa salahnya membantu teman dan keluarga? Saya hanya berniat meringankan beban keluarga Kak Ngah dan Adi saja Pak," jelas Yusuf berkelit.


"Saya tidak tahu Pak," jawab Yusuf mulai takut.


"Kalau tidak tahu, jangan bertindak seakan tahu segalanya Pak Yusuf."


Aku dan Adi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Edwar. Ternyata selama ini kami telah ditipu mentah-mentah oleh Philip. Lepas sudah tambang emasku, gagal mendapatkan sepuluh juta dan uang belanja mingguanku. Berantakan semuanya. Semua ini gara-gara Ita, mengapa dia harus mengadu pada Edwar? Masih ada cincin yang masih bisa kujual dari pemberian Philip pada Ita. Akan kuminta nanti.


"Mana cincin itu Ita? Mau nenek jual buat belanja. Ayah dan adikmu belum memberi nenek uang belanja."


"Sudah Ita buang ke sungai Nek," jawab Ita takut.


"Mengapa kamu buang? Harga cincin itu lebih dari lima ratus ribu," cercaku marah.


"Maaf Nek,"

__ADS_1


"Kamu memang cucu tidak berguna Ita. Jika saja kamu setuju untuk menikah dengan Philip walaupun dia telah beristri. Setidaknya hidup kita terjamin dengan uang belanja yang selalu dia berikan. Namun, kamu jual mahal?" sungutku kesal.


Ita tak menjawab lagi ucapanku. Aku sangat kesal pada anak itu, apa susahnya menuruti kemauanku? Sekarang tinggal Fitri harapanku.


Beberapa hari kemudian, datang paman Philip bertamu ke rumah bernama pak Gandi. Saat itu, aku tidak berada di rumah. Dengan keras kepalanya, Ita tetap menolak untuk menikah. Sehingga mengundang amarah ayahnya. Sepulang dari sawah, aku tidak mendapati Ita di rumah. Kutanyakan pada Adi dan dia menceritakan semuanya. Aku dan Tina menjemput Ita untuk pulang ke rumah, bisa jadi masalah besar jika berita ini sampai ke telinga Edwar. Biarlah aku menuruti dulu apa yang diinginkan Ita.


***


Ita sudah lulus SMP. Tentu saja aku tak ingin dia melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Sudah waktunya ia membalas budi padaku. Namun, kenyataannya Ita masih ingin sekolah. Ah, anak ini benar-benar membuatku muak. Ayahnya sudah tak ingin mengurusinya.


"Biarkan saja Bu, jika Ita masih ingin sekolah. Namun, biarkan dia mencari jalannya sendiri agar bisa sekolah. Aku tak ingin berurusan lagi dengan Pak Edwar," jelas Adi.


Aku hanya diam mendengarkan, ada benarnya juga menurutku. Ita memutuskan melanjutkan sekolah di kota, di tempat tinggal adik sepupuku. Masih satu kota dengan Utin. Ita berpamitan padaku dan ayahnya. Aku menanggapinya secara acuh tak acuh saja. Begitu pula dengan ayahnya. Biar dia tahu diri jika keputusannya itu tidak kami restui.


Fitri masih lancar mengirimiku uang tiap bulan, lima ratus ribu perbulan karena sudah 4 tahun Fitri bekerja di sana. Fitri memang cucuku paling mengerti dan bisa kuandalkan. Andai ayahnya juga tak meminta bagian, pastimya uang itu bisa kunikmati sendiri. Sayangnya ayahnya juga tak mau kalah pada ibunya yang janda ini. Yah, aku telah bercerai dengam suamiku sejak 5 tahun yang lalu. Mantan suamiku lebih memilih adik kandungku sendiri yang saat itu juga berstatus janda. Tak mengapa bagiku, biarlah mereka menikmati kehancurannya bersama.


Tak lama Fitri pulang ke rumah dan menyampaikan bahwa ia telah pindah kerja. Anak yang Fitri asuh dulu sudah terlalu besar untuk dia urus. Di tempat kerjanya yang baru ini, jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya setengah jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Gaji Fitri juga lumayan besar di sini, jadi saat Fitri tak bisa pulang aku atau ayahnya bisa menyusulnya ke sana.


Telah setahun Ita bersekolah di kota. Ita pulang saat libur sekolah semester dan hari raya lebaran. Ita tetap memberiku uang belanja dari tabungan jajan sekolah yang diberikan adik sepupuku meski tak sebanyak yang Fitri berikan. Tak mengapa, setidaknya Ita masih ingat tanggung jawabnya sebagai cucuku.


***


Di desaku sedang ada keramaian yang di adakan setahun sekali, menghormati adat istiadat leluhur kami. Di beberapa desa dan kota lain juga menyelenggarakannya, bahkan ada yang mengundang artis ibu kota Jakarta. Di tepi-tepi jalan desa dipenuhi pedagang-pedagang dadakan dari berbagai daerah yang menjual pakaian, barang pecah belah, dan tak lupa semua jenis makanan. Keramaian ini tentunya kami nanti-nantikan setiap tahunnya karena membuat meriah sudut kampung yang biasanya sepi jika malam hari.


Hari itu, hari kedua acara di pasar desa. Ada beberapa sanak saudara yang datang ke rumah untuk sekedar berbelanja barang-barang murah. Ita dan Fitri juga pulang hari itu. Ita masih menggunakan seragam sekolah saat datang. Ada sesuatu yang janggal pada sikap Fitri.


Aku tak tahu apa itu tapi aku merasa ada yang aneh pada sikapnya. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Ita tidak menginap karena besok ia harus masuk sekolah, jadi ia pulang sore harinya. Sedangkan Fitri menginap satu malam. Ia bersikap sangat manja, bahkan berbaring di atas pangkuanku. Kupikir mungkin dia rindu padaku karena besok akan kembali bekerja.


Keesokan harinya, Fitri pamit untuk pulang. Dia mencium pipiku beberapa kali dengan gemas.


"Fitri sayang Nenek. Nenek sehat-sehat di rumah ya walaupun Fitri tidak ada dan pergi," ucap Fitri sambil tertawa.

__ADS_1



__ADS_2