Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Our Engagement Ibu Pov 3


__ADS_3


Pangeran yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Tidak menggunakan kuda besi apalagi kuda putih. Namun, kedatangannya yang kuharapkan bisa merubah hidupku menjadi lebih indah.


Dia datang bersama ibu dan ayahnya beserta keluarganya yang lain. Ibunya masih muda begitu juga ayahnya yang belakangan kutahu adalah ayah tirinya dan orang pintar, sedangkan ibunya seorang dukun beranak. Mereka adalah pendatang dari kabupaten yang berbeda. Di sini, mereka tinggal di desa sebelah bersama adik dan ipar ibunya.


"Selamat malam, kedatangan kami kemari untuk melamar keponakan bibi untuk anak kami," ujar pamannya.


"Iya, kami sudah dengar dari Anna dan Adi beberapa hari yang lalu, semua keputusan ada di tangan mereka karena mereka yang menjalaninya. Bagaimana Anna? Apa kamu bersedia menerima lamaran Adi?" tanya bibi lagi.


Dengan tersipu malu memainkan ujung bajuku aku menjawab, "Iya Bi, aku bersedia,"


"Apakah Anna bersedia menjadi mualaf? Mengikuti Adi, calon suamimu?" tanya pamannya lagi.


"Iya, Paman. Aku bersedia mengikuti agama yang Adi anut," jawabku mantap.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu. Adi telah membeli cincin untuk melamar Anna karena Adi ingin mempercepat mempersunting Anna, bagaimana Anna dan keluarga?"


Bibiku nampak berpikir. "Begini, Pak. Anna ini masih punya dua orang kakak laki-laki, hanya saja mereka tidak tinggal bersama kami. Saya juga tidak tahu tepatnya mereka tinggal di mana, apakah kita perlu menunggu dan meminta persetujuan mereka?" tanya bibi ragu.


"Bagaimana kalau besok, Adi mengantarkan bibi ke tempat yang mungkin saja mereka tinggali untuk meminta restu? Walau bagaimanapun mereka berhak tahu," usul paman.


"Ya, saya setuju kalau begitu. Untuk malam ini mungkin tidak mengapa Adi dan Anna saling tukar cincin dulu," jawab bibi.


Kami semua setuju dengan usul Paman Adi dan bibiku. Ibu Adi memasangkan cincin emas di jariku, dengan terus menunduk aku mengulurkan tanganku.



Ibu Adi sangat ramah dan terkesan ceriwis, begitupun ayah sambung Adi. Mereka sangat fasih menggunakan bahasa kampungku karena sudah lumayan lama tinggal di sini.


Semoga ini menjadi awal yang baik untukku dan Adi. Aku yakin akan ada hikmah dari cerita hidupku selama ini.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Adi datang menjemput Bibi. Mereka akan berangkat menggunakan oplet, kendaraan kecil yang muat beberapa orang penumpang.


"Doakan aku bisa bertemu dengan kakakmu dan meminta restu," pamit Adi.


"Iya, tentu saja. Hati-hati di jalan," pesanku.


Bibi berpamitan, ia membawa adik sepupuku yang kecil. Aku berharap semua berjalan sesuai dengan keinginan kami semua.


Aku menatap takjub pada lingkaran emas di jariku. Aku tak menyangka bisa menggunakannya. Bahagia yang aku rasakan saat ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sejak kecil hanya air mata dan perjuangan yang aku dapati. Andai orang tuaku masih ada, mungkin perjuanganku tak seberat ini. Bahkan, aku tak lagi bisa mengingat bagaimana wajah orang tuaku. Aku berharap Ibu mertuaku kelak bisa menjadi ibuku sendiri. Aku berjanji akan bersikap baik pada orang tua suamiku kelak.


Saat sore menjelang, Bibi dan Adi tiba di rumah. Wajah mereka nampak letih, mungkin perjalanan mereka jauh sehingga memakan waktu seharian penuh. Kusuguhkan minuman pelepas dahaga untuk mereka. Bibi bercerita bahwa telah bertemu saudara kandungku, dan mereka memberikan kami restu serta berjanji akan hadir di acara kami nanti. Aku sangat senang mendengarnya, Akhirnya doaku dikabulkan oleh sang pencipta.


Bibi meminta Adi untuk menginap di rumah kami karena telah larut. Namun Adi ingin tetap pulang karena besok harus bekerja. Ia tak ingin ada gosip yang tidak-tidak karena kami belum sah di mata agama dan masyarakat. Aku semakin kagum padanya. Adi berjanji akan datang 2-3 hari lagi bersama orang tuanya untuk menentukan tanggal pernikahan kami.

__ADS_1




__ADS_2