
Bayi dengan panjang 50cm dan BB 3kg lahir dengan selamat. Kami namai ia M. Adji karena lahir di bulan yang bersamaan dengan orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. Semoga kebaikan selalu menyertainya, menjadi anak sholeh dan selalu menjadi penyejuk hati kami.
Kehadiran bayi Adji di tengah-tengah keluarga, sungguh menjadi suatu mukjizat terbesar untukku. Aku bisa membuat kebahagiaan suami dan ibu mertuaku lengkap. Ibu sangat senang bahkan ia menginap di rumah untuk mengurusku dan keperluan Adji.
Tidak pernah kulihat ia sebahagia itu. Senyum selalu terukir di wajahnya. Cucu yang selama ini ia nanti-nantikan.
Besok kami akan mengadakan syukuran atas kelahiran anakku. Aku dan suami awalnya ingin yang sederhana saja karena biaya tidak seberapa, hanya mengundang tetangga dekat dan keluarga. Namun, ibu kurang setuju akan hal itu. Ia ingin syukuran itu di laksanakan secara besar-besaran karena ini cucu laki-laki pertamanya. Ia membelikan cucunya ayam potong sebanyak 100kg dan tidak bisa kami tolak.
Selama acara pun Adji selalu di gendongan ibu. Aku faham dengan rasa sayang yang ibu miliki, semoga perlakuannya tersebut tidak membuat anakku kelak tinggi hati.
Acara selesai dan berjalan dengan lancar. Aku yang telah merasa sehat membantu ibu-ibu yang ada di dapur. Mereka sudah melarangku, tapi aku tetap kekeh membantu mereka.
Saat akan melangkah masuk ke dapur setelah selesai mencuci piring, kakiku tersandung ke bendulan pintu dan aku terjatuh di situ. Orang-orang yang ada di sekitarku berhamburan membantu berdiri. Suamiku berlari masuk ke dalam dan menggendongku.
Di dalam kebiasaan keluarga suamiku, seseorang yang melahirkan sebelum 40 hari tidak boleh tersandung, apalagi ibu jari akan menyebabkan bentan atau pendarahan. Semua panik melihatku terjatuh dan menyayangkan tidakanku. "Anna tidak apa-apa kok, tenang aja," hiburku.
"Anna, kami sudah pernah melihat yang seperti, nak," keluh tetanggaku.
"Jika memang ini jalan-Nya, Anna terima Bi," jawabku tersenyum.
Suamiku nampak sangat khawatir. Wajahnya murung, mungkin memikirkan akibat dari kejadian itu. Sementara ia harus kembali bekerja meninggalku dan anak-anak.
Seminggu dari kejadian itu, tiba-tiba aku tidak bisa berjalan. Kakiku membengkak. Ibu dan beberapa tukang pijat lainnya telah dipanggil tapi tak jua memperlihatkan hasilnya. Mantri, bidan, singsang telah suamiku hadirkan untuk kesembuhanku. Ia nampak frustrasi apalagi melihat tubuhku yang semakin kurus.
Aku tak lagi bisa mengurus Adji dan anak-anakku yang lain. Fitri, Nur, dan Adji telah pindah ke rumah ibu. Hanya tinggal Ita yang tinggal untuk mengurusiku. Entah mengapa setiap melihat anak-anakku yang lain aku mudah tersulut emosi bahkan mengancam mereka menggunakan sapu lidi.
Fitri dan Nur menangis ingin memelukku tapi aku tak sanggup menahan semuanya. Akhirnya mereka pergi meninggalkanku membawa sedu sedan mereka.
__ADS_1
"Bu, ibu kenapa seperti ke adik-adik? Kasihan mereka, Bu? Adik-adik kangen ibu yang seperti dulu," tutur ita sedih sambil menyuapiku makan sore.
"Ibu gak tahu, Ta. Ibu juga kangen pada adik-adikmu. Ta, jika Ibu sudah tidaj ada, jaga dirimu dan adik-adikmu yah? Jangan pernah berpisah, turuti kata-kata nenek dan ayahmu. Hanya mereka keluargamu," pesanku lirih.
"Ibu mau ke mana? Ita boleh ikutkan? Kalau ibu sendiri, siapa yang mengurusi ibu di sana?" tanya Ita tak mengerti.
"Ita gak bisa ikut Ibu, nak. Ita jagain adek ajak di sini ya? Bisa kan bantuin Ibu?"
Ita mengangguk lalu terdiam, mungkin masih mencerna kata-kataku.
.
.
.
Semakin hari sakitku semakin parah. Sudah empat bulan berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda aku akan sembuh. Barang-barang berharga kami seperti tv, kursi tamu dan lain-lain telah habis suamiku jual untuk pengobatanku.
Dari awal sakitku, aku telah meminta suamiku untuk menikah lagi. " Bang, sepertinya adek gak akan bisa sembuh. Jika Abang telah menemukan pengganti adek, abang boleh menikah di depan adek. Tapi, adek mohon, carilah yang bisa menyayangi anak-anak kita." pesanku.
"Adek ngomong apa sih, Dek? Abang yakin adek akan sembuh. Dan akan menemani abang hingga menua. Melihat anak-anak kita sukses dan mempuyai cucu yang lucu-lucu," hibur suamiku seraya tersenyum.
Kami sama-sama tersenyum. Ia membelai rambutku. Aku harus menikmati momen-momen ini. Aku merasa inilah saat-saat terakhirku bersama orang-orang yang aku sayangi.
"Bang, jika bisa kirimilah pesan kepada bang Sifa dan bang Fran untuk datang kemari. Adek ingin bertemu dengan mereka bang." pintaku.
Suamiku menatapku heran. "Adek kangen sama mereka?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Abang akan meminta bapak untuk menyusul mereka besok. Mudah-mudahan mereka bisa datang ya, Dek?" hibur suamiku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
__ADS_1
Hari itu, aku merasa ada yang berbeda pada diriku. Suamiku sedang tak ada di rumah. Aku meminta Ita memanggil neneknya.
"Ada apa, Na? Ada yang sakit, Nak?" tanya mertuaku.
Aku menatapnya dalam. Entah mengapa untuk bicarapun aku tak kuasa. Air mataku mengalir tanpa menjawab pertanyaan ibu. Seakan mengerti, ibu terlihat terkejut. Ia memeriksaku. Ia menggeleng. Aku faham maksud Ibu.
"Ita, panggilkan kakek Rahmat ya, cu?" pinta Ibu. Ita berlari keluar memanggil paman Rahmat dan Bi Ria. Bapak belum kembali mengunjungi Kakak-kakakku.
Paman datang beserta bibi. ibu menghampiri mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, kulihat mereka menyeka sudut mata mereka masing-masing.
Aku mencoba bicara, tapi tak ada suara yang keluar, hanya erangan. Mereka memindahkanku ke ruang tamu agar lebih leluasa. Ibu berpesan kepada teman Bang Adi agar menyusulnya untuk segera pulang.
Aku melihat anak-anakku bermain gelembung sabun di luar rumah. Mereka nampak bahagia, aku tersenyum melihat mereka bahagia. Kusentuh tangan ibu dan adiknya bi Neneng.
"B...bu? An..na... ti...ti...p an..nak..annak."

Ya Allah... itu kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Bi Neneng membimbingku mengucapkan dua kalimah Allah. Kulihat, Ita dan Fitri berlari menghampiriku, tapi ditahan oleh orang-orang yang ada. Mereka menangis, begitupun dengaku.
Nafasku tersengal. Apakah ini pengakhiranku? Terlintas semua perjalanan dan perjuangan hidupku selama ini. Seakan aku sedang di pertontonkan kilas balik hidupku. Aku menangis tanpa suara.
"Ibu... ibu..." suara anak-anakku menangis memanggilku.
Dimana suamiku? Bukankah ia berjanji akan menemaniku hingga akhir? Di mana dia sekarang?
Aku merasa kakiku dingin, naik perlahan ke atas. Naik dan naik lagi. Nafasku tersekat, terasa ada yang berdiri di atas kepalaku, tapi siapa? Aku tak mengenalinya sama sekali. Dingin itu membekukan jantungku. Dingin itu menghentikan aliran darahku. Dingin itu memintaku untuk berhenti bernafas. Pandanganku gelap, kelam dan sunyi.

__ADS_1