Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 10


__ADS_3

Chapter 10🌹


Arga menoleh ke arah Leo.


" Benar juga ya apa kata kamu, Ah! sudahlah, biarkan saja waktu yang akan menjawabnya, siapa pemilik kalung ini." ucapnya sembari berdiri.


" Kakak mau ke mana?"


" Mau membersihkan diri, kamu tunggu aja di sini sebentar." ucapnya. Dianggukan oleh sang adik, kemudian Arga memasuki kamar pribadinya, sedangkan Leo masih menikmati acara televisi yang masih menyala.


Di sebuah rumah mewah di salah satu pusat kota, siapa lagi kalau bukan rumah orang tua Risma.


Risma, Om Drajat dan Rio sedang duduk di ruang tengah tersebut.


" Rio kamu sudah mendengar tentang kabar dari Vie?"


" Semenjak dua bulan yang lalu saat kejadian kecelakaan itu saya masih menjenguk dan memperhatikan dia dan adiknya, tapi selepas itu saya tidak pernah lagi mencari tahu bagaimana keadaan dia di rumah sakit." ucap Rio santai sembari membelai rambut Risma, dia tidak malu-malu lagi menampakan kemesraannya di hadapan Om Drajat, walaupun sebenarnya mereka berdua belum resmi menikah.


" Jadi selama ini kamu tidak tahu kalau Vie sudah mendapati kesadarannya.?"


Mereka berdua pun terkejut mendengar ucapan Om Drajat itu.


" Apa Om? sudah sadar?" terlihat wajah Rio merasa terkejut dengan ucapan Om Drajat orang tua Risma itu, Begitu juga dengan Risma merasa tidak percaya kalau Vie akhirnya mendapatkan kesadarannya.


" Papa tidak bercanda kan? kalau si Vie sudah sadarkan diri.?"


" Papa tidak bercanda,ini benar, makanya rumah pribadi mereka sudah papah segel agar mereka tidak bisa kembali ke rumah itu, Papah tidak ingin mereka kembali ke rumah itu dan hidup tenang di rumah itu."


Terlihat Rio terdiam, Dia kemudian tidak menguasai lagi pikirannya saat dia mendengar kalau Vie sudah sadarkan diri, Risma kemudian menoleh ke arah Rio dia menatap kekasihnya itu dengan lekat karena ada keanehan diwajah sang kekasih.


" Kamu kenap"


" Eh... apa, aku tidak apa-apa."

__ADS_1


" Tidak mungkin kamu tidak apa-apa, terlihat wajah kamu berubah saat mendengar kalau Vie sudah mendapatkan kesadarannya, memangnya kamu mau kembali padanya lagi ya?" ucapnya, Om derajat pun kemudian menatap ke arah Rio.


" Apa benar kamu ingin kembali dengan Vie?"


" Oh tidak Om! saya tidak akan pernah kembali pada Vie, karena saya tidak ingin memiliki seorang kekasih yang merepotkan saya nantinya "


" Maksud kamu.?" tanya om Drajat sembari menatap lekat ke arah Rio.


" Maksud saya, saya tidak ingin memiliki seorang kekasih atau istri yang nantinya akan menyusahkan Saya, misalnya dalam segi keuangan saya tidak mau memiliki istri yang akan menggerogoti saya." ucapnya membuat Risma tersenyum Begitu juga dengan om Drajat, dia terlihat bangga dengan ucapan Rio tersebut.


" Aku berharap kamu tidak memungkiri kata-kata kamu, kalau seandainya kamu tidak bisa dipercaya aku tidak segan-segan untuk melenyapkan kamu!" ucap Risma sembari menahan Rio dengan tatapan sedikit tidak sukanya, karena terlihat jelas wajah Rio sangat berubah saat mendengar kalau Vie sudah sadar dari komanya, selama 7 bulan lamanya.


" Baiklah silakan kalian berbicara kembali, Om ada urusan sebentar." ucapnya sembari berdiri dianggukan oleh Risma dan Rio.


Risma masih memasang wajah marahnya, Rio pun kemudian menyentuh dagu Risma agar Risma menoleh ke arahnya, namun Risma menepiskan tangan Rio.


" Kamu jangan marah dong, aku tidak akan pernah kembali dengan Vie."


" Aku tidak mau mendengar kalau kamu nantinya mengingkari kata-katamu itu."


" Ya sayang, Aku janji hanya ada kamu di hatiku." ucapnya sembari meraih kepala Risma dan merebahkannya di dadanya tersebut, Rio hanya bisa mengucapkan kata-kata itu karena dia masih merasa penuh kebimbangan setelah mengetahuin kabar Kalau Vie sudah sadarkan diri.


" Apa benar Vie sudah sadarkan diri? bagaimana sekarang keadaannya? bagaimana kalau dia mengetahui Aku memiliki hubungan khusus dengan Risma, di saat dia tidak berdaya kala itu, besok aku akan ke rumah sakit itu mengecek benar atau tidaknya dia sudah sadarkan diri." gumamnya dalam hati sembari tangannya mengelus pelan rambut Risma.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sebuah taksi berhenti di sebuah rumah mewah setelah membayar biaya taksi tersebut, wanita yang ada di dalam taksi itu pun keluar, dia melangkah dengan santainya memasuki halaman rumahnya tersebut, siapa lagi kalau bukan Sonia.


Dia lalu memencet bell di rumahnya itu, beberapa saat kemudian asisten rumah tangga pribadinya itu pun membuka pintu dan mempersilakan sang Nyonya masuk ke dalam.


" Pak Bayu sudah pulang Mbak?"


" Pak Bayu tadi sudah pulang sebentar, tapi kemudian dia menerima panggilan dari ponsel pribadinya setelah itu dia pergi."

__ADS_1


" Dia tidak memberitahu kemana dia pergi.?"


Asisten rumah tangga itu pun hanya menggelengkan kepalanya.


Kemudian Sonia mengambil ponselnya di dalam tas tangannya tersebut, Dia kemudian mencari keberadaan suaminya itu, berada di mana, Setelah dia mengetahui suaminya berada di mana dia pun kemudian meninggalkan kembali rumahnya tersebut, membuat pandangan heran asisten rumah tangganya itu, dia kemudian menggunakan mobil pribadinya menuju ke arah tempat yang dituju.


" Apalagi yang diperbuat si Bayu di tempat itu."


Beberapa saat kemudian mobil pribadinya Sonia pun berhenti di sebuah hotel berbintang, Dia kemudian turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil pribadinya itu di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak hotel berbintang tersebut,dia melangkah menuju ke arah lobi dan menuju ke arah tempat resepsionis.


" Selamat malam Mbak."


" Iya Ibu, Selamat malam, ada yang bisa saya bantu."


" Saya sudah memesan satu buah kamar di sini atas nama Bayu purba."


" Berapa nomor kamarnya.?"


" Saya lupa, karena Pak Bayu purba itu adalah suami saya, dia yang terlebih dulu memesannya, karena ponsel saya kehabisan baterai, Jadi saya tidak bisa menghubungi, suami saya begitu juga dengan dia yang tidak bisa menghubungi saya."


" Baiklah Ibu, saya akan memeriksanya, tunggu sebentar ya." ucapnya kemudian dia pun melihat nama yang sudah disebutkan oleh Sonia.


Beberapa saat Sonia menunggu sang resepsionis mencari tahu kamar tersebut padanya.


" Oh iya Ibu, ada di kamar 122, tapi sayang Ibu kuncinya sudah dibawa oleh suami ibu, dan sekarang suami Ibu masih ada di dalam kamar tersebut, tapi saya akan memberikan kunci serepnya Bu, agar Ibu bisa masuk ke dalamnya." ucapnya seraya memberikan kunci tersebut pada Sonia.


" Baiklah, terima kasih!" ucapnya sembari melangkah menuju ke arah kamar yang sudah disebutkan oleh resepsionis hotel berbintang itu.


" Sama-sama Bu."


Kemudian Sonia melangkah menuju ke arah lift, beberapa saat dia menunggu pintu lift terbuka dia pun langsung memasuki lift tersebut setelah pintu itu terbuka, beberapa saat kemudian lift itu pun membawa dia ke lantai atas menuju ke arah ruangan di mana suaminya berada.


Sonia terus melangkah menapaki lorong lantai atas hotel berbintang itu, dia sudah tidak bisa berpikir jernih dan yang ada didalam kepalanya dia merasa marah dan marah pada suaminya itu yang sudah berkali-kali membuat kesalahan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2