
Chapter 38🌹
" Tapi kenapa Vie?" tanya Melva.
" Saat aku bersama dengan pak Arga diluar kota itu aku akan bertemu dan berhadapan langsung dengan Rio dan Om Drajat."
" Hah?!!" ucap Melva dan Namira terkejut.
Vie hanya menganggukkan kepalanya sembari menghela nafasnya dengan berat.
" Bagus dong kalau kaya gitu, tunjukkan pada mereka kalau kamu itu tidak apa-apa setelah semua milik keluarga kamu hilang dirampas mereka." ucap Melva.
" Benar apa kata kak Melva kak,kita bisa tunjukkan kalau kita tidak lemah,disamping itu kita bisa tanpa mereka terutama Om Drajat." ucap Namira.
Vie menatap kearah sang Adik, dia mengangguk dan tersenyum.
" Benar, aku harus menampakkan kalau diri ku ini tidak lemah sama sekali dihadapan mereka." ucap Vie sembari berdiri dari duduknya.
" Mau kemana Vie?"
" Aku mau mandi dulu, karena jam tujuh malam aku mau ke Apartemennya Pak Arga."
Tangan Vie langsung ditarik pelan Melva dan diapun duduk kembali di sofa.
Vie tersenyum...
" Apaan sih Mel..jangan punya pikiran yang macam-macam dulu dong..."
" Bukan macam-macam, tapi buat apa kamu ke sana?"
" Karena Aku dan pak Arga hendak membicarakan soal proyek itu nggak ada yang lain kok." ucap Vie sembari tersenyum.
" Oh gitu ya....ya udah cepatan gih mandi sana dan siap-siap ntar aku dan Namira yang menganter kamu."
" Nami minta maaf ya kak karena Nami nggak bisa ikut Nami ada janji pada seseorang malam ini jam tujuh juga." ucapnya menatap kearah kedua kakaknya itu.
" Dengan siapa?" tanya Vie.
" Nanti kakak tahu juga kok."
" Ya udah kalau gitu Aku mandi dulu ya." ucapnya pada Melva dan dianggukkan Melva.
Setelah kepergian Vie, Melva berbicara dengan Namira.
__ADS_1
" Memang sudah kamu terima dianya?"
" Iya kak,Karena Nami juga suka dengan dia."
" Kamu belum bilang ya dengan Vie kalau kalian sudah jadian?"
Namira hanya menganggukkan kepalanya.
" Aku memang belum bilang kak, karena aku masih tidak ingin kak Vie kepikiran takut dia berpikiran yang tidak-tidak mantinya."
" Ya nggak lah Nami, karena kamu adalah adik kesayangan Vie,dia itu hanya inginkan kamu bahagia, kalau kamu bicara yang jujur pasti dia akan setuju."
" Nanti aku akan bilang pada kak Vie dan aku akan jujur padanya, aku jadi takut itu karena kak Vie sudah mengalami kegagalan dalam kisah cintanya itu."
" Vie pasti akan setuju kamu dan dia, karena Vie sudah kenal dengan lelaki itu."
Namira hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka berduapun langsung menuju kamar pribadi mereka dan melakukan aktifitas mandinya karena sudah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan dan kuliah saatnya mereka memanjakan tubuh mereka dengan terpaan air dingin yang menyegarkan.
Selesai mandi Vie duduk dibibir ranjangnya.
Pintu kamarnya dibuka Namira dan dia melangkah mendekati sang kakak, semenjak Vie sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya Namira memutuskan tidur terpisah dari sang kakak.
Vie tersenyum dan menatap kearah sang Adik.
" Ada apa?"
" Ada yang ingin Nami katakan pada kakak."
" Soal apa?" tanya Vie sembari menatap sang adik.
" Soal Nami yang akan keluar nanti bersama seseorang."
Vie tersenyum sembari menyentuh tangan sang Adik dan menggenggamnya.
" Nami, kamu sudah dewasa, kakak percaya kok sama kamu,kamu bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk dan mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak pantas dilakukan,kakak senang lihat kamu bahagia dek." ucap Vie tersenyum.
" Kakak nggak mau tahu siapa yang jalan sama Nami."
Vie lagi-lagi tersenyum.
" Dr Adnan kak..." ucap Nami tertunduk.
__ADS_1
Vie terkejut dengan ucapan Adiknya itu, namun diapun langsung tertawa pelan dan memeluk sang adik sembari berbicara pada adik semata wayangnya itu.
" Pilihan kamu sudah tepat dek." ucapnya, membuat Namira terkejut dengan ucapan kakaknya itu.Namira menatap sang kakak dan diapun langsung tersenyum.
" Dr Adnan adalah lelaki yang baik,dia juga sangat perhatian, kakak sudah bisa menebaknya kalau dr Adnan menyukai kamu."ucap Vie sembari tersenyum dan menyentuh kembali tangan sang adik.
" Tapi kenapa kamu sembunyikan hubungan kamu dengan dokter Adnan sama kakak, kakak tidak ada sedikitpun rasa marah kalau kamu bersama dengan dokter Adnan."
" Maafkan Namira ya Kak, sebenarnya Namira ingin jujur pada kakak, tapi karena Namira tidak ingin melukai perasaan kakak, karena kakak mengalami rasa sakit hati disebabkan penghianatan."
Vie tersenyum...
" Namira bercerita tentang kebahagiaan Namira menerima dokter Adnan sebagai pilihan Namira itu tidak langsung bilang ke kakak, tapi Namira berpikir kembali karena kondisi Kakak saat itu sedang sakit hati dengan Kak Rio jadi Namira memutuskan untuk bercerita dengan Kak Melva saja, karena ini waktunya tepat makanya Namira berbicara langsung sama kakak."
Vie lagi-lagi hanya tersenyum dengan cerita sang adik.
" Walaupun Kakak pernah sakit hati, tapi kalau kamu bercerita tentang pasangan kamu kakak tidak akan merasa iri karena itu adalah kebahagiaan kamu, Kakak harap kamu dan dokter Adnan saling percaya,jujur dan tidak saling menghianati karena kepercayaan dan kejujuran itu sangat diutamakan dalam suatu hubungan." ucapnya pada sang Adik.
Namira pun menganggukkan kepalanya dan Vie memeluk adiknya itu.
" Kapan kalian jadian?"
" Hem...sebenarnya kak sudah beberapa hari yang lalu, tapi Namira tidak mengatakannya pada kakak, awalnya dokter Adnan ingin sekali berbicara dengan kakak tentang hubungan kami ini, dia ingin sekali kakak tahu, tapi karena Namira yang melarangnya, dia pun hanya mengikuti apa kata Namira."
" Dokter Adnan itu sangat sabar banget orangnya dia memang laki-laki yang terbaik, Kakak senang berteman dengannya, semoga saja dia memang adalah pilihan yang terbaik yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa untukmu, Kakak berharap sekali dia bisa menjadi kan kamu sebagai istrinya."
" Namira tidak kepikiran sampai ke situ Kak, Namira hanya ingin menjalani hubungan ini seperti air yang mengalir saja terlebih dahulu."
" Kalau memang kalian memiliki kecocokan untuk menuju ke jenjang pernikahan Apa salahnya." ucap Vie tersenyum dan dianggukkan oleh Namira, pintu kamar itu pun diketuk dari luar karena pintu kamar Vie tidak tertutup, memudahkan melva mengetuknya, dia tersenyum dan mendekati kakak dan adik itu, dia duduk di sofa yang ada di depan mereka.
" Ada apa nih, kok kelihatan senang sekali."
" Nggak usah bohong deh, padaku, kamu kan sudah tahu tentang hubungan Namira dengan dokter Adnan." ucap Vie tersenyum.
Melva menganggukkan kepalanya sembari tertawa pelan.
" Maafkan aku ya Vie, karena aku memang berjanji pada Namira untuk tidak mengatakannya padamu, tapi syukurlah kalau sekarang Namira mengatakannya yang sesungguhnya padamu, Bagaimana sekarang perasaan kamu Vie karena sudah memiliki seorang adik yang dewasa dan sudah memiliki pasangan seorang kekasih."
" Aku merasa senang mendengar kabar ini, semoga saja hubungan cinta adikku tidak akan seperti aku yang dihianati dari belakang, Aku mengharapkan kebahagiaan selalu menyertai Adikku jangan sampai adikku mengalami seperti diriku yang disakiti di saat aku sayang sayangnya." ucapnya sembari tersenyum getir.
Melva kemudian mendekati Vie, kemudian mengusap pundak sahabatnya itu dengan pelan.
" Sudah jangan diingat lagi masa lalu kamu itu, sekarang kamu harus berdiri tegak dan terus menatap ke depan, jangan sampai kamu menatap ke belakang lagi, kalau kamu sudah melangkah." ucap Melva dianggukan oleh Vie Mereka pun tersenyum bersama.
__ADS_1