
Chapter 07🌹
Di kantor AL Group tepatnya di ruangan Arga, Dia baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen yang harus diperiksanya itu.
Arga kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya itu,sambil melonggarkan dasinya dan membuka kembali satu kancing kemejanya dia melepas kalung yang selama ini selalu dipakainya selama 7 bulan berada di lehernya tersebut.
Arga memandangi kalung tersebut dengan lekat.
" Punya siapa ini sebenarnya? apa yang terjadi denganku, Kenapa aku selalu memakai kalung ini, padahal aku selalu alergi kalau seandainya aku menggunakan sebuah kalung di leherku, tapi kenapa kalung ini tidak mengakibatkan Aku alergi? apa sebenarnya ini yang akan terjadi pada diriku, Ya Tuhan beritahulah aku siapakah pemilik kalung ini." ucapnya sembari terus menatap kalung yang ada di tangannya itu, saat dia memperhatikan kalung tersebut pintu ruangannya terbuka, dia melihat adik dan Mamahnya yang baru datang dari berbelanja, entah apa yang dibeli oleh mereka berdua, sampai memakan waktu berjam-jam lamanya.
" Kalian baru datang, apa sudah dari tadi datangnya? dan baru saja masuk ke ruangan ini?" tanya Arga.
" baru aja datang Kak."
" Dari mana aja kalian berdua? ini kan sudah waktunya makan siang, kakak khawatir dengan kesehatan Mama, Mama tidak boleh telat makan."
" Iya Nak Mama tahu, makanya Mama dan Leo mau mengajak kamu makan siang."
Arga mengangguk, kemudian Arga kembali memakai kalung tersebut dan hendak mengancingkan kemejanya, kemudian Bu Diana pun menegurkannya.
" Arga! jangan dikancingkan kemejamu."
" Ada apa Mah?" tanyanya.
" Mama baru tahu kalau kamu bisa menggunakan kalung, padahal kamu kan alergi kalung,kalung berbentuk apa saja yang menyangkut di lehermu pasti kamu akan mengalami alergi yang tingkat tinggi,tapi kenapa saat ini kamu menggunakan kalung itu? kamu tidak alergi, kalung siapa itu Nak?" tanya Bu Diana menatap ke arah sang anak, Arga menghela nafasnya dengan pelan kemudian dia berdiri melangkah menuju ke arah sofa di mana adik dan Mamahnya duduk tersebut, Dia kemudian duduk di samping sang Mama, Bu Diana menatap ke arah anaknya itu.
" Katakan sama Mama, kalung siapa itu? kenapa kamu tidak merasakan gatal-gatal? biasanya kamu selalu menggunakan kalung belum beberapa detik aja lehermu sudah penuh dengan merah-merah, sebenarnya kalung siapa itu?"
" Arga juga tidak tahu Mah, kalung ini milik siapa, karena Arga dikasih seorang anak kecil saat kejadian di jalan Ada kecelakaan 7 bulan lamanya, sampai sekarang Arga tidak tahu pemilik kalung ini siapa,harga juga merasa aneh karena setelah Arga memakainya selama ini tidak terjadi apa-apa."
" Mamah baru melihat kalung ini? padahal kamu pakai setiap hari?"
" Ya Mah,Arga pakai setiap hari, tapi selama ini tidak sama sekali menimbulkan alergi, Arga juga tidak tahu kenapa,rasanya ada kekuatan tersendiri sehingga Arga memakainya,seperti rasa kekuatan yang mengharuskan Arga memakai kalung ini."
" Kayanya kalung ini milik seorang wanita, karena terlihat dari tekstur kalung dan liontinnya itu menggambarkan milik seorang wanita yang sangat feminim,."
" Semoga saja itu jodoh Kakak Mah." sambung Leo sembari tersenyum.
" Mama juga berharap, biar kakak kamu tidak kepikiran Lagi sama Sonia."
" Mama, Arga tidak pernah kepikiran sama Sonia, sudah cukup 5 tahun ini Arga melupakan Sonia."
" Tapi Mama merasa khawatir Arga karena dia datang lagi ke sini."
" Itu bisa diurus Mah, Arga pasti akan mengatasinya, percaya sama Arga Mah." ucapnya.
Bu Diana menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
" Baiklah, kita makan yuk, Leo udah lapar banget nih, sudah jam segini juga, perut Leo sudah keroncongan, cacing-cacing di perut sudah meronta ingin minta diisi, Mama kebiasaan sih,kalau belanja pasti lama sekali."
" Leo... namanya juga ibu-ibu."
" Iya nih ibu-ibu dilawan..." ucap Bu Diana sembari tersenyum, dia pun kemudian menggandeng anak bungsunya tersebut, mereka bertiga pun tersenyum melangkah meninggalkan ruangan Arga menuju ke arah mobil pribadi Arga, beberapa saat kemudian mobil pribadi Arga itu pun meninggalkan kantor AL Group menuju ke arah restoran siap saji kesukaan mereka.
🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil yang dikendarai dokter Adnan pun sampai di depan rumah yang sudah dijelaskan oleh Melva, sahabatnya Vie.
Mereka kemudian turun dan melangkah menuju ke arah rumah tersebut, karena Melva sudah memberi kabar pada orang rumahnya itu dan asisten rumah tangganya pun menunggu Vie dan adiknya sampai di rumah tersebut, dengan cekatan asisten rumah tangga Melva mengambil semua barang yang dibawa oleh Vie dan adiknya serta mengantarkan mereka berdua ke kamar yang sudah di persiapkan oleh mereka, karena nyonya rumahnya itu sudah menghubungi mereka untuk mempersiapkan dua kamar untuk 2 tamunya.
Mereka bertiga pun duduk di kamar Vie, setelah mengucapkan terima kasih pada asisten rumah tangganya Melva, dokter Adnan duduk di sofa dekat tempat tidur Vie, Sedangkan kakak beradik itu duduk di bibir ranjang mereka.
Vie hanya terdiam ada rasa kecewa marah dan benci terpancar di wajahnya.
__ADS_1
" Vie,,,kamu baru saja mendapatkan kesadaran kamu dan baru saja kamu keluar dari rumah sakit, kamu harus jaga kondisi kesehatan kamu jangan terlalu banyak pikiran, itu bisa berpengaruh untuk pemulihan kamu." ucap dr Adnan.
" Iya Kak benar, Apa yang di katakan dokter Adnan, kakak harus sabar, kakak harus istirahat yang banyak, agar Kakak bisa segera cepat pulih."
" Aku sudah pulih, Aku tidak menyangka aja dengan kelakuan Rio seperti itu selama ini dengan Risma, aku tahu Risma memang menyukai Rio, padahal Risma tahu kalau Rio adalah kekasihku bahkan calon tunanganku, ternyata selama 7 bulan lamanya dia tidak pernah menjenguk Aku dia menjalin hubungan dengan Risma dibelakangku." ucapnya sembari menatap ke arah sang adik.
" Sebulan dua bulan dia memang ada menjenguk, tapi hanya beberapa menit saja, kemudian dia pergi, sampai beberapa bulan kemudian dia tidak pernah menjenguk sama sekali, Namira menghubunginya tidak dijawabnya bahkan chat pribadi Namira hanya dibacanya, saat itulah Namira tahu kalau dia dan kak Risma memiliki hubungan di belakang kakak."
" Tapi kamu harus bersyukur Vie, karena kamu sudah ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa kelakuan kekasih kamu dan saudara angkat Kamu itu seperti apa."
" Kok kamu tahu kalau dia adalah kekasihku dan saudara angkatku.?"
" Aku selalu mengawasi Namira saat menjaga kamu dan saat Namira pergi kuliah aku yang menjaga kamu tanpa sepengetahuan Namira dan aku juga merasa penasaran dengan si Rio-Rio itu, makanya aku mencari tahu setelah aku pulang bekerja, aku juga tahu kalau dia berselingkuh di belakang kamu,tapi maafkan aku Vie aku tidak mengasih tahu kebenarannya, karena benar apa kata Namira, kamu baru saja mendapatkan kesadaran kamu, orang seperti itu tidak bisa dikasih hati, kamu masih bisa mendapatkan laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya dan mau menjaga hati kamu serta cinta kamu yang tulus, masih banyak laki-laki di luar sana yang tercipta untukmu yang memang benar-benar menyayangi kamu." ucap dr Adnan sembari menatap ke arah Vie.
Vie hanya menghela nafasnya dengan dalam.
" Baiklah, lebih baik kamu istirahat, Aku akan kembali ke rumah sakit lagi."
" Terima kasih ya Adnan." ucap Vie, kemudian dia merebahkan dirinya di tempat tidur yang sudah tersedia.
" Kak, Namira ngantar dokter Adnan dulu keluar ya."
Vie menganggukan kepalanya, Namira kemudian mensejajari langkah dokter Adnan mereka berdua melangkah menuju ke luar.
Sebelum dr Adnan memasuki mobilnya Dia berpesan pada Namira.
" Nami, jaga kakakmu baik-baik, jangan sampai dia terlalu banyak pikiran, sementara waktu berikan makanan yang bisa menambah stamina tubuhnya, agar pemulihan dirinya lebih cepat, kamu juga jaga kesehatan jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak." ucapnya sembari tersenyum pada Namira, Namira pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dokter Adnan pun meninggalkan rumah Melva kembali ke rumah sakit lagi.
Namira kemudian melangkah kembali menemui sang kakak, salah satu dari asisten rumah tangga Melva pun mengantarkan makanan karena bertepatan jamnya sudah waktunya makan siang mereka, kakak beradik itu pun menikmati makannya di dalam kamar tersebut.
Disebuah restoran Ibu Diana dan 2 orang anaknya itu pun menikmati makanan Jepang kesukaannya sembari berbicara, kadang-kadang mereka tertawa di sela-sela makan mereka, karena ada hal-hal yang mengundang tawa mereka.
Mereka kemudian dikejutkan dengan suara ponsel Arga.
Beberapa saat dia berbicara di ponsel pribadinya itu kemudian dia pun melanjutkan makannya kembali.
" Dari siapa Kak?" Tanya Leo.
" Dari Pak Willy .."
" Oh dari Pak Willy, kirain dari dia."
" Dari dia siapa?"
" Biasa dari Sonia, karena aku parno setelah Kakak bertemu dengan Sonia dan perlakuan Sonia pada Kakak itu membuat aku takut, setelah aku berangkat ke luar negeri kakak tidak ada yang menghandle di saat Kakak bertemu dengan Sonia."
Arga tersenyum...
" Kamu itu laki-laki kok perasaannya kayak perempuan banget sih, nggak usah takut dengan kakak, kakak bisa mengatasi semuanya."
" Makanya Kak, cepat cari pemilik kalung itu, biar kakak gerak cepat agar dia menjadi pendamping Kakak."
" Kamu ini ada-ada saja, mana kakak tahu siapa pemiliknya."
" Suatu saat pasti akan dipertemukan." sambung Mama Diana.
" Walaupun dipertemukan Mah, belum tentu dia langsung menerima Arga, karena Arga dan dia tidak saling kenal, ujung-ujungnya nanti Arga yang dibilang orang gila langsung mengatakan cinta kepadanya."
Lagi-lagi mereka pun tertawa sambil menikmati makan siangnya, setelah selesai makan siang mereka pun meninggalkan restoran tersebut, Ibu Diana meminta mereka mengantarkannya pulang ke rumah, karena ibu Diana ingin beristirahat siang, setelah mengantarkan sama Mamah, mereka berdua kembali ke kantor.
Diluar kota B tepatnya dikota S terlihat Melva merasa senang mendengar kabar yang sangat dinantinya.
" Yes!! Alhamdulillah ternyata pekerjaan di sini sudah selesai dan tidak menunggu 2 hari aku pulang ke kotaku sendiri." ucap Melva sembari menghela nafas panjangnya.
__ADS_1
" Syukur saja acaranya dipercepat karena Pak Robert ingin segera pulang ke negaranya." ucapnya lagi merasa senang karena dia ingin segera bertemu dengan sahabatnya tersebut.
" Bagaimana pak, Apakah kita langsung pulang ke kota kita?"
" Ya Va, kita harus pulang segera, Aku tidak ingin menunda lagi berada di sini, karena sudah beberapa hari aku meninggalkan keluargaku." ucapnya sembari tersenyum melihat rona bahagia di wajah mereka karena sudah menyelesaikan tugas di luar kota, beberapa saat kemudian mereka pun memesan sebuah taksi untuk menuju ke bandara karena penerbangan jam 04.00 sore terakhir menuju ke kota mereka.
Arga dan Leo duduk di sofa ruangan kerja Arga.
Arga kemudian mengambil proposal yang ada di atas meja nya tersebut, Dia kemudian membukanya dan sekilas membacanya.
Leo menatap sang kakak.
" Ada apa kak?"
" Kalau dilihat dari proposalnya ini pertumbuhan perekonomian di perusahaannya itu sangat merosot sekali, padahal mereka memiliki bidang yang banyak di dalam perusahaan itu."
" Itulah karmanya kakak, karena dia sudah merebut kekasih kakak."
" Kalau masalah hubungan aku dan Sonia kala itu sepertinya bukan salah dia, tapi Kakak merasa adalah salahnya Sonia, karena Sonia tidak pintar menjaga hati pasangannya." ucap Arga dianggukan oleh Leo.
Arga pun kemudian melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Leo membantu sang kakak dalam pekerjaannya tersebut.
🌹🌹🌹🌹🌹
Tepat jam 06.00 sore Melva dan rombongan sudah sampai di kota B kota kelahirannya tersebut, dia merasa senang sekali kemudian dia pun memesan taksi untuk segera pulang ke rumah, setelah berpamitan dengan rekan kerjanya itu taksi yang ditumpangi Melva pun menuju ke arah rumah pribadinya, beberapa saat kemudian dia pun sudah sampai di depan rumahnya itu, setelah membayar taksi tersebut Melva melangkah dengan kegirangan karena sahabatnya sudah berada di rumahnya itu, pintu rumahnya pun terbuka karena Melva sudah menghubungi asisten rumah tangganya tersebut.
Melva setengah berlari menapaki satu persatu anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah rumahnya itu, dia menuju ke arah kamarnya Vie, Dia kemudian perlahan membuka pintu kamar tersebut, terlihat Vie dan adiknya sedang berbicara di dalam kamar tersebut, mereka berdua pun menatap ke arah pintu yang terbuka, Vie terkejut karena Melva yang katanya 2 hari lagi akan segera pulang ke rumahnya itu pun ternyata sudah berada di rumah pribadinya itu, Melva kemudian melangkah dengan cepat dan memeluk Vie dia duduk di bibir ranjang di samping Vie.
" Ada apa denganmu Vie?"
Vie Kemudian menceritakan semua yang terjadi dengannya Melva, Melva mendengarkan cerita sahabatnya itu tanpa terasa air mata Melva pun mengalir, karena dia tidak menyangka kalau Om dan Tante orang tua dari Vie yang sangat baik pada keluarganya itu pun telah pergi mendahuluinya.
" Begitulah Va ceritanya, aku dan adikku sudah kehilangan Aset keluargaku dan juga rumah kami, semua beralih tangan ke Om Drajat, yang menyakitkan sekali adalah Rio karena Rio sudah menghianatiku."
" Rio? siapa Rio?"
" Rio adalah kekasihku.."
Melva hanya menganggukkan kepalanya memahami cerita dari Vie.
" Maafkan aku merepotkan kamu ya Va, sementara waktu aku dan adikku tinggal di sini dulu ya, sebelum aku mendapatkan tempat yang baik untuk kami."
" Nggak usah kamu pindah ke mana-mana, kamu tetap tinggal di sini, ini tidak seberapa untukmu dibandingkan kedua orang tuamu serta dirimu yang selalu membantuku disaat aku dalam kesusahan kamu selalu ada, jangan sekali-kali lagi kamu berbicara seperti itu, yang mengatakan untuk sementara tinggal di rumah ini, aku tidak mau mendengar kata-kata itu."
" Terimakasih ya Va, Kalau keadaan ku sudah membaik, aku akan mencari pekerjaan."
" Bagaimana kalau kamu bekerja di tempatku, kamu kan berstatus sebagai seorang dokter, kamu juga pintar, di tempatku kerja memerlukan seorang dokter, dan kebetulan ada lowongan kerjanya "
" Benarkah?" terlihat wajah Vie senang mendengar kabar dari Melva.
Melva hanya menganggukkan kepalanya.
" Sejak kapan aku bohong denganmu, besok aku akan mengatakan pada atasanku dikantor kalau aku ada kandidatnya untuk mengisi kekosongan seorang dokter dikantorku, karena beberapa hari di tempat aku bekerja itu dokternya sudah tidak masuk lagi, padahal kerjanya enak aja di tempat aku,ditempat kerja aku didirikan sebuah klinik khusus untuk para karyawan, dan para penghuni kantor, karena dokter yang ada merasa tidak cocok dengan pimpinan kami, dikarenakan terlalu banyak bolosnya, kalau sudah tiba waktunya menerima gaji dia cepat datangnya makanya diberhentikan."
" Baiklah, aku mau bekerja disana."
" Aku akan bicara dengan pimpinanku besok." ucapnya sembari memeluk Vie.
" Kak Melva, bolehkah aku tidur sama Kak Vie..."
" Bisa banget sayang, kamu kan harus menjaga kakakmu."
" Tapi Kakak sudah menyediakan dua kamar."
__ADS_1
" Nggak apa-apa, kalau kamu memang ingin tidur satu kamar dengan kakak kamu yang nggak papa, anggaplah rumah sendiri." ucap Melva sembari tersenyum dianggukan oleh Namira dan Vie.