
Chapter 14 🌹
" Kakak yang sabar, kakak tidak usah menatap mata orang yang tidak bersahabat pada kakak." ucap Namira setengah berbisik.
" Tidak apa-apa dek, itu hak mereka mau mencemooh kakak, namun mereka tidak mengetahui kenapa Kakak meski pakai kursi roda ini, ini hanyalah sementara waktu bukan untuk selamanya Kakak menggunakannya." ucapnya tersenyum sembari membalas usapan tangan adiknya tersebut dan dia pun memberikan senyumannya pada adiknya itu, karena sekarang Vie malah semakin kuat dengan kehadiran adik dan sahabatnya yang selalu mendukungnya itu.
Vie melihat kiri dan kanan dan saat dia menatap ke arah kanan di mana Dia sedang duduk, dia terperangah sembari mengeluarkan suaranya membuat Namira spontan menatap ke arah sang kakak.
" Itu dia.!!"
" Dia? dia siapa Kak? siapa yang kakak lihat? apakah Kakak ada mengenal salah satu dari mereka yang ada di dalam kantor ini?"
" Itu dia Nami, laki-laki yang bertemu dengan kakak di taman itu." ucapnya sembari menunjuk ke arah sebuah televisi yang sedang menyiarkan seorang pengusaha muda yang sangat terkenal.
Namira kemudian melihat ke arah layar televisi tersebut dia terdiam dan dia menatap lekat ke arah seorang laki-laki tampan yang sedang berbicara dengan salah satu penyiar televisi tersebut.
" Itu Nami, laki-lakinya yang kemarin membantu Kakak saat jajanan kakak jatuh semua ke tanah, tapi apakah itu hanya kemiripan belaka ya?"
" Bisa jadi kak itu hanya mirip Kak, Dia itu adalah pengusaha terkenal, Namira pernah membaca artikelnya.." terangnya sembari tersenyum pada sang kakak.
Kemudian Melva datang menemui mereka berdua.
" Ayo kita ke lantai dua, karena kamu sudah ditunggu di sana oleh pimpinan besar kami, karena pimpinan satunya masih ada pertemuan di ruang rapat.." ucapnya tersenyum kemudian mereka bertiga pun menuju ke arah lift, beberapa saat kemudian lift itu pun membawa mereka bertiga ke lantai dua.
Pintu lift kemudian terbuka mereka bertiga pun keluar dari dalam lift tersebut, Mereka kemudian melangkah ke suatu ruangan, Melva kemudian mengetuk pintu ruangan tersebut karena pintu ruangan itu sudah terbuka dengan lebar.
Seorang wanita paruh baya menatap ke arah mereka dan menganggukkan kepalanya mengisyaratkan mereka untuk segera masuk.
" Pagi ibu Diana..."
" Pagi juga Melva."
" Maaf ibu,ini bu dokter yang sudah saya ceritakan itu pada Pak Arga."
__ADS_1
" Iya,..." ucap singkat bu Diana sembari menatap kearah Vie.
" Maaf Bu, ini adalah Elvieona Sari yang dipanggil akrab dengan sebutan Vie Ibu, yang akan mengisi kekosongan dalam klinik kantor kita ini Bu."
" Baiklah, saya senang bisa bertemu langsung dengan ibu dokter." ucapnya sembari menyelami Vie dan Namira.
" Dan ini adalah Namira adiknya Bu yang sementara waktu akan menjadi kaki tangan Kakaknya." terang Melva lagi sembari memperkenalkan Namira pada Bos besarnya tersebut walaupun sekarang Ibu Diana hanya sebagai penasehat perusahaan, tapi semua karyawan di bawah naungan ibu Diana itu menganggap kalau ibu Diana Adalah Bos Besar di kantor tersebut.
" Saya Namira ibu, adik kandungnya Kak Vie, terima kasih Ibu sudah memperbolehkan saya memasuki kantor besar milik ibu ini, saya masih tidak bisa membiarkan kakak saya sendirian sementara waktu ini." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada dan menundukkan sesaat kepalanya di hadapan ibu Diana.
Ibu Diana tersenyum dia pun kemudian mengusap pundak Namira dengan penuh kasih sayang selayaknya seorang ibu memberikan kesabaran pada anaknya.
" Saya mengerti, tidak apa-apa kamu berada di sini menemani kakakmu sementara waktu." ucapnya lagi-lagi tersenyum ke arah Namira.
" Baiklah, saya ada sedikit pertanyaan dengan ibu dokter, silakan duduk." ucapnya mempersilahkan Namira untuk duduk karena Vie sudah duduk di kursi roda, jadi otomatis Vie sudah terlebih dahulu duduk diantara mereka.
" Baiklah Ibu, saya permisi dulu, saya akan ke ruangan saya kalau saya terlambat nantinya kepala bagian saya akan marah-marah." ucap Melva dianggukan ibu Diana, Melva kemudian melangkah meninggalkan mereka setelah berpamitan dengan Namira dan Vie.
" Terima kasih Bu Dokter Vie, karena sudah memilih bekerja di AL group ini, saya senang karena bu dokter mau mengabdikan dirinya di kantor ini."
" Sama-sama, menurut saya mau yang di kursi roda ataupun tidak itu sama aja, yang penting kinerjanya dalam bekerja itu sangat tinggi,saya sudah tahu semua ceritanya dari Melva, berhubung Saya di sini hanya sebagai penasehat perusahaan dan perusahaan ini sudah saya serahkan seutuhnya dan sepenuhnya pada anak saya yang sekarang menjabat pemilik perusahaan ini, seharusnya anak saya yang duduk di sini berbicara dengan bu dokter, tapi karena ada pertemuan mendadak jadi dia mempercayakannya pada saya, semoga saja bu dokter senang dan betah bekerja di sini."
" Saya sangat senang melakukannya bu Diana."
" Saya yakin Melva sudah mengatakan semuanya pada bu dokter tentang kinerja di kantor ini khususnya di klinik yang akan dikelola oleh bu dokter." ucapnya sembari tersenyum.
" Iya bu Diana saya memahaminya dan saya juga sudah tahu semuanya dari Melva. Dan saya yakin dengan kemampuan yang saya miliki insya Allah bisa bekerja dengan sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan ibu Diana dan yang lainnya khususnya pimpinan perusahaan ini."
" Saya yakin, kemampuan Ibu dokter lebih dari segala-galanya, Selamat bergabung di AL Group ucap bu Diana sembari menyalami kembali Vie.
Vie menganggukan kepalanya dan memberikan senyum manisnya kemudian bu Diana membuka lemari kecil yang tidak jauh dari kursinya itu, Dia kemudian mengambil seperangkat alat kedokteran dan diberikannya kepada Vie.
" Ini adalah alat kedokteran yang baru untuk bisa digunakan bu dokter di dalam bekerja." ucapnya memberikan bungkusan pada Vie.
__ADS_1
Vie pun kemudian mengambil barang tersebut sembari mengganggukan kepalanya.
" Kalau saya boleh tahu kapan saya bisa bekerja Bu?"
" Kalau saya tidak menentukan target kapan bekerjanya, itu terserah pada bu dokter saja."
" Baiklah bu Diana, bisakah saya hari ini langsung bekerja?"
" Wow!!sungguh menakjubkan, dengan senang hati bu dokter, nanti saya akan panggilkan Melva untuk mengantarkan Bu dokter dan adiknya Bu dokter ini ke ruangan klinik khusus tempat kerja Bu dokter." ucapnya sembari sangat bahagia dan tersenyum terlihat sekali di wajah bu Diana.
Kemudian bu Diana menghubungi kepala bagian di mana Melva berada, setelah berbicara sesaat bu Diana pun meletakkan kembali gagang teleponnya tersebut, sembari mereka menunggu Melva datang, bu Diana kemudian bertanya pada Vie.
" Saya dengar bu dokter mengalami koma 7 bulan lamanya?"
Vie menganggukkan kepalanya.
" Apa yang menyebabkan ibu koma?karena saya tidak terlalu jelas dengan cerita Melva saat itu.
" Kecelakaan Bu, yang mengakibatkan Saya kehilangan kedua orang tua saya untuk selama-lamanya."
" Hah? kecelakaan ?" Membuat bu Diana menghela nafasnya dengan panjang.
" Iya Bu.." ucap Vie sembari menganggukkan kepalanya.
" Saya turut berduka cita atas kepergian kedua orang tua bu dokter."
" Terima kasih Bu." ucapnya.
Kemudian Melva mengetuk pintu kembali dan dianggukan oleh bu Diana, Melva melangkah mendekati mereka.
" Ada apa Bu?"
" Saya minta tolong padamu untuk mengantarkan Ibu Dokter ke ruangannya."
__ADS_1
" Baiklah bu,syukurlah kalau kamu sudah bisa diterima Vie." ucapnya sembari tersenyum.
Vie hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka bertiga pun berpamitan dengan bu Diana dan berlalu dari hadapan bu Diana menuju ke arah klinik di mana tempat Vie seharusnya berada untuk mengasah kembali gelarnya sebagai seorang dokter.