Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 26


__ADS_3

Chapter 26 🌹


" Hai...Rupanya kalian sudah datang...Silahkan masuk." ucap Arga sembari tersenyum.


Namira hanya mendorong kursi roda sang kakak sampai didepan pintu saja.


" Maaf pak Arga, kami tidak ikut masuk karena kebetulan ada sedikit keperluan yang hendak kami kerjakan dibawah, saya titip kakak saya ya." ucapnya tersenyum langsung saja Arga menganggukkan kepalanya.


Setelah berbicara sesaat pada Vie mereka langsung saja meninggalkan Vie yang berada didalam Apertemannya Arga.


Ada rasa kecanggungan saat Arga mendorong kursi roda yang digunakan Vie sekarang ini.


" Di mana adik Bapak, biar segera saya periksa agar kita bisa mengetahui sakit apa yang diderita oleh adiknya Bapak." ucap Vie menghilangkan rasa canggungnya tersebut, karena dia merasa asing di tempat Pak Bosnya itu.


" Baiklah Bu dokter, tunggu di sebentar saya akan memanggilkan adik saya karena dia berada di dalam kamar."


" Jangan dipanggil pak,dia kan lagi sakit, bagaimana dia berjalan menuju ke sini? mohon maaf bisakah Pak Arga membawa saya ke dalam sana agar saya bisa melihat langsung keadaannya."


" Tidak usah Bu Dokter, Adik saya masih bisa jalan, karena saya melihat sedikit kecanggungan di wajah dokter, karena bu dokter berada di apartemen saya ini, sepertinya Bu dokter baru pertama kali bersama dengan seorang lelaki ya." ucapnya sembari tersenyum.


Vie hanya menjawab perkataan Arga dengan senyuman.


Arga kemudian melangkah meninggalkan Vie menuju ke arah kamar pribadinya dia pun masuk ke dalam kamar tersebut, Sedangkan Vie menatap ke sekelilingnya sampai akhirnya mata Vie melihat sebuah Syal wanita berwarna merah muda yang tergeletak di atas sofa tersebut dia pun kemudian mendekati Syal itu dan mengambilnya, dia mencium aroma parfum yang menempel di Syal tersebut.


" Farfum seorang wanita, Apakah ini milik kekasihnya Pak Arga atau baru saja kekasihnya itu dari sini, sebelum Aku sampai di apartemennya ini." gumamnya dalam hati sembari menatap Syal merah muda yang ada di tangannya tersebut.


Terlihat Arga dan Leo keluar dari kamar, mereka berdua menatap ke arah Vie yang berada membelakangi mereka berdiri didepan kamar itu.

__ADS_1


" Itukah dokter Vie Kak?" Bisik Leo karena Leo tidak melihat Vie dari arah depan.


" Iya, dia sangat cantik banget." ucapnya sembari membalas bisikan sang adik, tergurat senyum di wajah Arga.


Kemudian mereka berdua mendekati Vie dan duduk di depan Vie.


Vie tersentak dari lamunannya dia pun kemudian memberikan Syal itu pada Arga.


" Apakah ini punya kekasih Bapak? Maaf saya tadi mengambilnya dari sofa itu." ucapnya padahal kalau dipikir itu tidak penting cuma sifat ingin tahuan Vie yang membuat dia penasaran dan mengambil Syal itu dari sofa.


Leo dan Arga pun saling berpandangan, Arga menatap ke arah Syal yang berada di tangan Vie, kemudian Arga pun mengambil Syal tersebut.


" Bukan! itu bukan punya Kekasih saya." ucapnya sembari tersenyum.


Kemudian dia pun memberikan Syal itu pada Leo dan Leo mengambilnya dengan kilat memasukkannya ke dalam bak sampah yang ada didekatnya, namun sekilas Vie melihat pergerakan Leo tersebut.


" Saya tidak punya Kekasih." ucap Arga


Leo hanya terdiam, dia tidak ingin ikut bicara antara kakaknya itu dengan dokter Vie melainkan dia hanya bergumam sembari menatap ke arah dokter Vie.


" Benar sekali apa yang dikatakan Mama, pantas saja mereka berdua terhipnotis dengan dokter Vie,ternyata aslinya aku bertemu dengannya dia terlihat sangat cantik sekali, pantesan aja Kak Arga menyukai dokter Vie dan tidak tertarik kembali dengan Sonia walaupun pergerakan Sonia terlihat sangat gesit, selalu saja mengingatkan masa lalu yang sudah dilewati mereka berdua,seolah akan dipertunjukkan kepermukaan." ucapnya sembari menyunggingkan senyum di wajahnya.


" Aku rasa syal ini milik temannya Mbak yang sering bersih-bersih di apartemen ini."


Vie hanya menghela nafasnya dengan panjang dia pun memainkan bola matanya ke kiri dan ke kanan seakan-akan dia tidak percaya dengan perkataan Arga tentang Syal yang dia temukan itu.


" Sebenarnya tentang Syal itu tidak terlalu penting, tapi kenapa aku bisa menanyakannya langsung pada pak Arga, Astaga Vie apa yang terjadi denganmu Vie, kembalilah ke pekerjaanmu sekarang Vie." ucapnya dalam hati sembari menggaruk-garuk jidatnya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Maaf Pak Arga itukah adiknya? biar saya segera melaksanakan tugas saya untuk memeriksa dan mengetahui sakit apa adiknya Bapak, karena lebih cepat lebih baik kalau bisa kita tangani dan saya memberikan resep obatnya, akan saya berikan sekarang, tapi kalau misalkan belum bisa diketahui penyakitnya kita bisa merujuknya ke rumah sakit besar yang ada di kota ini." ucapnya sembari menatap ke arah Leo yang tersenyum,Vie pun merasa heran dengan Leo, terlihat dia tidak memperlihatkan wajah pucat atau wajah orang yang mengalami sakit.


Arga menarik nafasnya dengan panjang, dia kemudian mengambil kalung yang dia pakai dibalik kemeja berwarna putih itu, dia Lalu berdiri mendekati Vie Dia kemudian berjongkok dengan satu kaki dan meraih tangan Vie memberikan kalung tersebut ke tangan Vie sembari berucap.


" Terimalah, ini adalah kalung milik kamu yang telah hilang beberapa bulan yang lalu, di saat kamu mengalami kecelakaan itu, tanpa sengaja aku menemukannya dan aku menyimpannya, karena ini sudah terbukti adalah milik kamu di mana di dalam liontin itu ada lukisan wajah kamu." ucapnya sembari menatap ke arah Vie, Dan Vie pun menatap ke arah bening bola mata Arga.


Vie pun kemudian menatap ke arah kalung yang ada di tangannya tersebut, dia mengambil kalung itu dan melihat liontinnya namun dia tidak melihat di dalam liontin itu ada lukisan wajahnya.


" lukisan itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa, tapi melainkan melalui menggunakan alat kaca pembesar, nanti kalau kamu sudah ada di rumah kamu bisa melihatnya." ucap Arga sembari dianggukan oleh Vie.


" Dokter Vie..."


Vie beralih menoleh kearah suara di mana Leo akhirnya mengeluarkan suaranya juga.


" Maafkan kami berdua ya dokter, kami sengaja berbuat ini agar dokter bisa hadir di apartemen ini, mungkin ini tidak penting bagi dokter tapi bagi kakak saya sangatlah penting untuk menyerahkan kalung milik bu dokter tersebut, memang seharusnya diberikan saat dokter melihat kalung tersebut Tapi Kakak saya ingin meyakinkan kembali Kalau dokter adalah pemilik aslinya, sebenarnya saya tidak sakit dok,


saya sebenarnya baik-baik saja, ini hanyalah rencana kakak saya saja maafkan kami ya bu dokter."


Vie terkejut dengan ucapan Leo, namun dia hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, dia tidak bisa berbicara banyak karena dia tidak bisa marah ataupun kecewa dengan apa yang sudah direncanakan oleh Arga yang beralasan Adiknya sakit, ternyata hanya ingin memberikan kalung tersebut kepadanya.


Vie hanya menganggukkan kepalanya.


" Oh ya Bu dokter saya adalah Leo adik kandungnya dari Pak Arga."


Vie tersenyum menganggukkan kepalanya.


" Bu Dokter, sebaiknya di saat di luar seperti ini bu dokter tidak usah panggil saya dengan sebutan Bapak, karena sebutan Bapak itu hanya khusus di kantor aja, agar lebih akrab lagi bu dokter bisa panggil saya dengan sebutan nama biar terlihat tidak ada batasnya antara seorang dokter dan seorang Bos, saat di luar." pinta Arga sembari tersenyum dianggukan Leo yang hanya tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Arga kembali berdiri dan meraih tangannya Vie yang memegang kalung tersebut, Vie tidak menolaknya saat Arga mengambil kembali kalung yang ada di tangannya dan berjalan ke arah belakang kursi rodanya itu, tidak disangka oleh Vie Arga pun memasangkan kalung tersebut di lehernya, membuat Leo tersenyum tanpa diketahui mereka berdua, Leo mengabadikan momen tersebut di ponsel pribadinya.


__ADS_2