Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 30


__ADS_3

Chapter 30🌹


Saat Namira bangun dia melihat di sampingnya tidak berada sosok sang kakak, dia langsung duduk di bibir ranjangnya dia memejamkan matanya sesaat dan saat dia membuka matanya dia melihat kursi roda sang kakak masih berada di dalam kamarnya tersebut, dia terkejut dan langsung menoleh kiri dan kanan tapi dia tidak menemukan kakaknya itu, dia langsung mencari ke kamar mandi namun kamar mandi itu kosong dan terlihat sudah basah.


" Kemana Kak Vie? kursi rodanya masih ada di sini, kamar mandi terlihat basah sepertinya dia baru aja selesai mandi." kemudian dia pun mendekati handuk sang kakak dia memegangnya terasa basah. sembari bergumam.


" Handuk kak Vie basah, berarti kak Vie...." Dia pun langsung berlari keluar dari kamarnya dia mencari-cari Vie dengan memanggil namanya, karena panggilan itu membuat Melva keluar dari kamarnya Melva memanggil Namira.


" Nami ada apa?"


" Kal Melva,, Kakak melihat Kak Vie.?"


" Nggak ada di dalam kamar?"


" Tidak ada Kak, malahan yang ada di kamar cuma kursi rodanya doang kak, Kak Vie nya nggak ada."


" Kemana Vie? Masa dia keluar tidak menggunakan kursi roda? Apakah kakinya sudah kuat menopang tubuhnya.?" ucap Melva sembari merasa khawatir.


" Hai !! kalian berdua ngapain berdiri di atas, Ayo segera bersihkan diri kalian, dan aku tunggu di bawah untuk sarapan pagi bersama."

__ADS_1


Mereka berdua pun kemudian melihat ke arah bawah di mana suara Vie menegur mereka, dia melihat Vie berdiri tegak dengan kedua kakinya, karena melihat Vie sudah bisa berdiri dan melangkah serta-merta mereka berdua pun langsung berlari mendekati Vie dan memeluk Vie.


" Ya Tuhan akhirnya kamu bisa berdiri kembali Vie,aku sangat senang." ucap Melva.


Namira pun merasa terharu dengan kesembuhan kakaknya itu, sekarang kakaknya sudah kuat seperti sedia kala berdiri di kedua kakinya dan sudah bisa digunakan kembali, tidak terasa air matanya mengalir, Vie pun menghapus air mata sang adik.


" Udah jangan menangis, mulai sekarang tidak ada lagi tangisan,tangisan yang kita keluarkan hanya untuk kebahagiaan, di sini kakak tidak akan pernah mengalah lagi,apa yang pernah hilang dari kita harus kita dapatkan kembali." ucap Vie sembari merangkul sang adik.


Melva hanya menganggukkan kepalanya.


" Baguslah Vie, kalau kamu berucap seperti itu, itulah yang ingin aku tanyakan padamu, tapi jika seandainya Rio datang padamu, Apakah kamu akan luluh kembali?aku belum pernah melihat Rio itu seperti apa."


Vivi menggelengkan kepalanya sembari memperlihatkan wajah amarahnya.


biarkan dia menyadari kesalahannya padaku ,Maaf itu mudah diucapkan tapi luka yang digoreskan yang sangat membekas tidak pernah hilang! dan kata maafku mahal harganya!!' ucap Vie sembari tersenyum pada Melva.


" Sejak kapan kamu berani berdiri sendiri dengan kaki mu Vie?"


" Setelah Pak Arga mengantarku tadi malam,aku tidak langsung tidur di kamar, aku berusaha untuk bangkit agar aku bisa berjalan sendiri dan tidak menggunakan kursi rodaku, karena aku sudah bertekad sejak aku melangkahkan kursi roda aku ke dalam kantor Pak Arga, tekad di hatiku sudah bulat untuk mengabdikan pekerjaanku sebagai seorang dokter di kantornya Pak Arga dan tekatku juga sudah bulat untuk melatih kakiku sendiri agar aku tidak kergantungan pada Namira serta Kamu Melva, karena kalian berdua sudah sangat berkorban untukku, jatuh bangun aku lakukan untuk bisa berdiri di atas kakiku sendiri, sampai akhirnya aku bisa sendiri dan aku sudah merasakan sangat kuat, di samping itu juga kalian memberikan kekuatan padaku yang sangat besar dan orang-orang di sekitarku yang sangat mendukung agar aku bisa menjalani kembali hari-hariku yang telah terbuang selama tujuh bulan lamanya,Tapi aku bersyukur selama tujuh bulan itu aku mengalami koma dan selama itu juga Tuhan telah memberikan cahaya terangnya dan menampakkan kejahatan orang-orang yang ada di belakangku selama ini." ucapnya sembari menyimpan rasa sakit hatinya selama ini.

__ADS_1


" Ditambah kehadiran pak Arga kan?" ucap Melva sembari tersenyum menggoda Vie...


" Hehehe...ada-ada saja kamu Mel..." ucap Vie tersenyum malu mendengar ucapan Melva.


" Tapi Vie, kamu janganlah sangat ingin balas dendam kepada mereka."


" Tenang aja Mel, aku tidak akan pernah balas dendam, karena balas dendam memang dapat memuaskan hatiku, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik, malahan menjadikan diriku semakin merasa sakit hati,dan akan menyakiti kedua orang tuaku yang sudah tiada, Aku hanya ingin mengambil hakku yang harus memang menjadi milik keluargaku, Aku tidak ingin membiarkan kesusahan kedua orang tuaku saat memulainya dari enol, begitu saja diambil oleh orang yang tidak tahu terima kasih seperti Om Drajat itu."


" Baguslah Vie, kalau kamu mempunyai pikiran seperti itu, kita balas dendam kepada mereka itu untuk membuat efek jera pada mereka, tapi tidak untuk membuat kamu celaka." ucap Melva


" Benar, apa kata Kamu Mel, aku harus menjadikan diriku lebih baik dulu, baru aku bisa mengambil semuanya dari Om Drajat, Karena Om Drajat tidak pantas untuk mendapatkan itu semua, Om Drajat tidak pantas untuk menikmati kesusahan kedua orang tuaku saat memulainya dari enol, Om Drajat harus mengembalikan semuanya kepadaku, Om Drajat memang membantu kedua orang tuaku, tetapi itu tidak gratis, aku akan memberikan haknya setelah aku mendapatkan hak kedua orang tuaku, Aku tidak tega melihat kedua orang tuaku bersusah-susah bekerja mengelola usaha mereka tapi dengan semudah itu juga Om Drajat mengambilnya, aku akan balas dendam dengan caraku sendiri agar mereka menyadari kesalahan mereka selama ini padaku, terutama untuk Rio dan Risma mereka menari-nari di atas kesakitanku yang selama ini aku rasakan, bahkan dia tidak peduli dengan adikku semata wayang, Tapi aku bersyukur kepada Tuhan karena adikku sangat kuat untuk merawatku, adikku diberikan kekuatan yang sangat lebih sehingga dia mampu bertahan menanti kesadaranku selama berbulan-bulan, terima kasih ya sayang kamu adalah adik terbaik bagi kakak, kamu tidak henti-hentinya menyayangi kakak, semoga Kakak bisa membalas semua kebaikanmu, yang sudah kamu berikan pada kakak mu ini." ucapnya sembari mengusap kepala sang adik.


Namira hanya menganggukkan kepalanya dia pun kemudian memeluk sang kakak sembari bersuara.


" Kakak adalah segala-galanya buatku, jangan berterima kasih kepadaku, terima kasih lah kepada yang maha kuasa yang sudah memberikan kekuatan lahir dan batin untukku menjaga Kakak sampai saat ini aku yang bersyukur memiliki Kakak sekuat Kakak, Awalnya aku memang mengeluh saat aku mengetahui kalau Om Drajat sudah merubah semua kekayaan milik Ayah dengan nama mereka, di saat itulah aku mengeluh akan semua yang terjadi pada keluarga kita, tapi di saat itu yang maha kuasa mengabulkan doa-doa Aku selama ini, disaat aku terpuruk, Kakak hadir dan Kakak bangun disaat itu, seakan-akan kakak mendengar kesah Aku selama ini." ucapnya, Vie hanya menganggukkan kepalanya sembari mengusap kepala sang adik dengan penuh kasih sayang seorang kakak pada adiknya tercinta.


Vie kemudian menatap ke arah sang adik dia pun tersenyum sembari mengusap air mata adiknya itu sambil berucap.


" Cepatlah bersihkan dirimu kakak tunggu di meja makan."

__ADS_1


Dan dianggukan oleh Melva juga.


Namira pun kemudian berdiri dan mengganggukan kepalanya, setengah berlari dia pun menuju ke arah kamarnya, beberapa saat ia membersihkan dirinya di kamar, mereka berdua pun menuju ke arah dapur di mana sudah tersedia beberapa hidangan yang memang khusus dimasak oleh Vie untuk mereka bersantap pagi.


__ADS_2