
Chapter 06🌹
" Katakan pada kakak Namira, apa yang terjadi selama ini, jangan ada sedikitpun kamu menutupi masalah dari kakak." ucapnya sembari memegang tangan sang adik, Namira menoleh ke arah lain dia menatap ke pintu ruangan tersebut dia tidak bisa menahan rasa perih di matanya karena air matanya sudah berontak ingin keluar.
" Namira, Ada apa sebenarnya jangan kamu tutupi dengan kakak, sekarang kakak sudah ada di samping kamu, kamu harus berkata jujur katakan sebenarnya apa yang terjadi." ucap Vie sembari menepuk pelan tangan sang adik, Namira pun akhirnya tidak bisa lagi membendung air matanya yang sudah dia rasakan sangat penuh di matanya itu, kemudian dia pun langsung menelungkupkan wajahnya di pembaringan sang kakak sembari menangis ke sesunggukannya.
Vie mengerti selama dia tidur panjang selama 7 bulan lamanya itu meninggalkan suatu masalah yang pelik yang dihadapi adiknya sekarang ini, dia memahami kondisi adiknya itu, di saat adiknya sudah tidak bisa menyelesaikan semuanya dan terlalu banyak beban di pikirannya, adiknya pasti akan menumpahkan tangisnya itu, Vie hanya bisa membelai rambut sang adik, Vie membiarkan adiknya itu menumpahkan tangisnya karena beban yang sudah dia rasakan selama Vie tidak sadarkan diri, terlihat tangis Namira mulai reda, Namira pun kemudian mengangkat wajahnya sembari menatap ke arah sang Kakak, Vie kemudian menghapus sisa buliran air mata sang adik sembari menangkupkan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan sang Adik.
" Katakan pada kakak apa yang terjadi, jangan kamu simpan sendiri,sekarang kakak sudah ada di sini kita akan menghadapinya sama-sama."
" Namira ingin mengatakan semuanya pada Kakak, tapi Namira berpikir kakak baru aja mendapatkan kesadaran kakak, Namira tidak ingin mengganggu pikiran Kakak Karena itulah Namira menyimpannya sendiri."
Vie menghela nafasnya dengan panjang.
" Tapi tidak seperti ini caranya dek,kamu menyembunyikan beban yang sangat berat itu dari kakak, kamu tidak bisa memikulnya sendirian, kamu harus memiliki teman untuk memikul beban yang sudah kamu rasakan itu, sekarang kakak sudah ada di samping kamu, kita sama-sama memikul beban itu." ucap Vie sembari menatap sendu ke arah sang adik.
" Kakak ingin cepat keluar dari sini karena keadaan Kakak sudah sangat baik, karena kakak yang merasakannya, kakak ingin mendengar cerita kamu sebenarnya ada apa, kalau kamu tidak menceritakannya sama kakak itu yang lebih berat lagi akan membuat pikiran Kakak, kalau kamu sudah menceritakannya kepada kakak kita akan mencari jalan keluarnya sama-sama, Apakah ini bersangkutan dengan Rio dan Om Drajat?" ucap Vie sembari menatap lekat ke arah sang adik, refleks kepala Namira mengangguk.
Vie menghelan nafasnya dengan panjang.
" Sudah kakak duga."
" Maksud kakak?"
" Kakak sudah bisa menduganya, ini pasti bersangkutan dengan mereka berdua, karena selama ini Kakak mendapatkan kesadaran Kakak, mereka berdua tidak ada menjenguk ke sini, tidak mungkin kamu tidak memberi kabar pada Rio dan juga dengan om Drajat."
" Namira memang belum memberikan kabar dengan Kak Rio Kak, kalau dengan om Drajat, Namira juga tidak memberikan kabarnya, tapi dia sepertinya sudah tahu kalau kakak mendapatkan kesadaran kakak, karena saat Namira pulang ke rumah, rumah sudah tidak bisa Namira injak kembali."
" Kenapa?"
" Karena rumah sudah dikunci rapat oleh om Drajat dan dijaga orang suruhan dia."
" Maksud kamu?"
" Kakak jangan terkejut kalau Namira bercerita semuanya, kita sudah tidak memiliki perusahaan Ayah dan kita juga tidak bisa memasuki Rumah kita Sendiri, Om Drajat sudah mengganti seluruh aset keluarga kita, menjadi miliknya, rumah pun kita tidak bisa masuk ke dalamnya, Saat Kakak masih tidak sadarkan diri, Namira masih bisa masuk ke dalam rumah kita sendiri, tapi setelah Kakak mendapatkan kesadaran kakak, rumah itu tidak bisa lagi Namira masuki, bahkan Namira pun tidak bisa mengambil barang-barang Namira yang ada di dalamnya, hanya peralatan Namira yang ada di dalam ruangan Kakak ini aja milik kita, dan perusahaan Ayah yang awalnya bernama kita berdua akhirnya berubah menjadi nama Risma dan Om Drajat." terang Namira.
" Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi? kenapa Om Drajat bisa berbuat seperti itu pada kita, Aku tidak menyangka Om Drajat mengganti nama semua aset keluarga kita menjadi aset keluarganya."
" Om Drajat bilang pada Namira ..." Namira pun Kemudian menceritakan semuanya kepada Vie.
Vie mendengarkan cerita adiknya tersebut, ada kemarahan, kebencian,dan tidak menyangka akan sikap Om Drajat yang sudah mengambil aset keluarganya itu.
Vie menarik nafasnya dengan pelan setelah adiknya itu bercerita sampai selesai.
" Kalau masalah perusahaan yang diambil alih oleh om Drajat kita harus menemui orang kepercayaan Ayah, karena hanya beliau yang bisa menjelaskan kenapa bisa semua aset keluarga kita menjadi milik Om Drajat." Ucap Vie.
" Tapi bagaimana caranya Kak? Namira tidak tahu siapa orang kepercayaan Ayah itu."
" Nanti kakak yang akan menemuinya, Tapi kakak masih berada disini, kalau terus Kakak di sini tidak bisa menyelesaikan masalah dek, kita harus segera menemui dia."
" Baiklah Kak, Namira akan menemui dokter untuk mencari penjelasan tentang keadaan kakak."
Vie menganggukkan kepalanya, Namira pun kemudian meninggalkan kakaknya menuju ke arah ruangan dokter yang menangani kakaknya tersebut.
" Ini tidak bisa dibiarkan, Aku tidak ingin aset-aset keluargaku dari peninggalan kedua orang tuaku beralih ke tangan orang lain, Ayah berjuang dari bawah sampai dia bisa menuju ke atas, tidak mudah untuk dia mencapai semuanya itu kalau tidak kerja kerasnya, begitu mudahnya dia mengambil semua aset keluargaku!" ucapnya.
Vie kemudian menoleh ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya, ponsel Namira tergeletak di atas meja tersebut, dia pun kemudian mengambil ponsel Namira dan menghubungi seseorang yang masih diingatnya nomor ponselnya tersebut, beberapa saat dia menunggu panggilan tersebut pun terjawab.
" Halo... siapa ini.?"
__ADS_1
" Halo Melva..."
" Vie... Apakah ini kamu Vie." ucap suara diseberang sana.
" Ya Va, aku Vie."
" Beneran kamu?"
" Iya ini aku pakai ponsel adik aku."
" Vie Kamu ke mana aja? kenapa kamu tidak memberi kabar ke aku, Aku mencari tahu tentang keberadaan kamu, Kenapa kamu begitu saja menghilang sudah 7 bulan lamanya." ucap Melva karena dia mengenali suara sahabatnya tersebut.
" Ceritanya panjang Va, Kamu sekarang di mana?"
" Aku ada di di luar kota."
" Tapi kamu masih tinggal di kota B kan?"
" Iya Vie, aku masih tinggal di kota B, Tapi beberapa hari ini aku masih ada di luar kota, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
" Kapan kamu balik ke kota B?"
" Dua hari lagi kalau masih belum selesai, Kenapa Vie? kamu sebenarnya ada di mana?"
" Aku ada di kota B saja."
" Kalau kamu masih ada di kota B kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? aku sempat mencari kamu, mencari tahu keberadaan kamu, karena kamu sudah tidak ada kabarnya selama 7 bulan lamanya, aku sempat ke kantor Ayah kamu, tapi nyatanya kantor itu menurut keterangan sudah dijual, tapi security itu tidak menjelaskan kalian pergi ke mana, setelah aku tidak mengetahui keberadaan kamu, aku pun berhenti mencari kamu, Aku kira kamu sudah melupakan aku."
" Aku tidak pernah melupakan kamu, Melva nanti saja kalau kita sudah bertemu aku akan ceritakan semuanya padamu."
" Sekarang kamu tinggal di mana sih?"
" Maksud kamu?"
" Kan aku sudah bilang sama kamu, ceritanya panjang, Sekarang aku tidak memiliki tempat tinggal."
" Ya sudah, kamu ke rumah aku aja, di jalan batu akik timur nomor 4, kamu ke sana aja, bilang pada Asisten Rumah tanggaku kalau kamu adalah temanku, aku akan menghubungi rumahku dulu untuk memberitahu kalau kamu akan datang ke rumahku dan kamu harus tunggu aku di rumahku, udah kamu tidak usah ke mana-mana ya " ucap Melva sembari tersenyum walaupun Vie tidak melihat senyumnya Melva, tapi dari nada bicaranya Melva sangat gembira bertemu dengannya, setelah sambungan bicara itu terputus Vie kemudian meletakkan kembali ponsel sang adik.
" Akhirnya aku akan bertemu dengan Vie, sudah lama aku tidak bertemu dengan sahabatku itu, Vie terlalu banyak membantuku di saat keluargaku sedang kesusahan, karena dia adalah satu-satunya sahabatku di saat aku senang, sedih, dia selalu ada bersama denganku, tapi kenapa baru ini dia menghubungiku, dan kenapa juga dia berbicara sudah tidak ada tempat tinggal lagi, apa yang terjadi dengan Vie, rasanya aku ingin segera meluncur kembali ke kotaku dan ingin tahu keadaan Vie yang sebenarnya, Tapi karena pekerjaan inilah yang membuat aku harus berada di kota ini dua hari ke depan." ucap Melva sembari melangkah meninggalkan tempat dia sekarang berada.
" Orang yang satu-satunya bisa membantu aku hanya Melva, setelah keluar dari sini aku harus ke rumah Melva, dari sana aku akan memikirkan langkah apa yang akan aku ambil untuk merebut kembali milik keluarga kami.' gumamnya sembari menatap ke arah pintu ruangannya tersebut, beberapa saat kemudian pintu itu terbuka kembali Namira dan dokter Adnan pun masuk ke dalam, Vie tersenyum melihat teman sekampusnya itu.
" Bagaimana Vie keadaan kamu?"
" Aku sudah terlihat sangat sehat, aku yang merasakannya, Aku ingin segera pulang, bisakah kamu memperbolehkan aku pulang? tolonglah Adnan, aku ingin pulang, aku sudah capek berada di rumah sakit."
Dokter Adnan tersenyum.
" Sabarlah Vie, aku akan memperbolehkan kamu pulang, Setelah aku melihat keadaan dan memeriksa kamu dengan pasti, karena tidak mudah selama 7 bulan berada di pembaringan dan dalam keadaan tidak sadarkan diri."
" Tolonglah Adnan, perbolehkanlah aku pulang, karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, aku tidak bisa berdiam diri saja seperti ini."
" Aku paham, karena kamu adalah wanita karir, jadi di pikiran kamu hanyalah menyelesaikan semua urusan pekerjaan, Tapi balik lagi ke diri kamu, Apakah kamu sudah merasa kuat.?"
" Aku sudah merasa kuat bahkan lebih kuat lagi." ucapnya tersenyum.
" Baiklah Vie, kalau memang keinginan kamu ingin pulang, aku akan menyetujuinya, tapi ingat setelah kamu berada di rumah, kamu harus menjaga pola makan kamu dan kamu juga jangan lupa untuk meminum vitamin agar kamu mendapatkan stamina yang terbaik." ucap dokter Adnan sembari tersenyum.
" Syukurlah, kalau kamu sudah memperbolehkan aku pulang, tapi aku bisa minta tolong dengan kamu satu hal?"
__ADS_1
" Tentang apa Vie? bilang saja kalau aku bisa aku akan membantumu."
" Setelah keluar dari rumah sakit ini, bisakah kamu mengantarkan aku dan adikku ke rumah temanku?"
Dokter Adnan terkejut mendengar Vie berbicara seperti itu.
" Kenapa kalian berdua ke rumah teman kamu? kenapa nggak langsung pulang ke rumah kamu aja?"
" Aku tidak bisa menjelaskannya padamu Adnan, karena ini adalah permasalahan dalam keluargaku, Aku tidak mau melibatkan orang lain."
Dokter Adnan hanya menganggukkan kepalanya namun di dalam pikirannya dia merasa penasaran apa yang terjadi dengan keluarga Vie,karena yang diketahuinya hanyalah masalah Rio yang berselingkuh.
Biar bagaimanapun Vie adalah temannya, walaupun bukan sahabat, tapi Vie selalu membantu di saat dia kesusahan, saat berada di perantauan di negeri orang, saat dia mengenyam pendidikan, dokter Adnan bukanlah dari keluarga kaya dan bukan juga dari keluarga miskin, keluarga dokter Adnan hidup berkecukupan dan sederhana saat dia berada di luar negeri satu kampus dengan Vie, Vie selalu menolongnya baik dalam segi pelajaran ataupun dalam segi kebutuhan Adnan selama berada di luar negeri, jika keluarganya terlambat mengirim biaya untuknya.
" Iya Vie, aku akan membantu kalian, sebentar aku akan ngurus semuanya." ucap dokter Adnan sembari meninggalkan mereka berdua setelah memeriksa keadaan Vie tersebut.
" Bagaimana kita bisa keluar hari ini Kak, biayanya belum dibayar, tabungan Namira sudah habis kak untuk kehidupan Namira sehari-hari saat Kakak tidak sadarkan diri."
" Kamu nggak usah khawatir Dek, tabungan Kakak masih ada." ucapnya sembari tersenyum.
Berapa saat mereka menunggu kabar dari dokter Adnan, akhirnya dokter Adnan yang ditunggu pun datang melangkah menuju mereka.
Dengan senyuman manisnya, dokter Adnan pun mendekati kakak beradik tersebut.
" Bagaimana Adnan? apa bisa sekarang aku keluar dari rumah sakit ini?"
Dokter Adnan menganggukkan kepalanya.
" Alhamdulillah, sudah bisa keluar dan mereka menyetujui Kalau kamu bisa pulang ke rumah, sesuai dengan apa yang aku katakan padamu, Kamu harus menjaga kesehatanmu agar kamu cepat pulihnya dan kamu bisa melakukan aktivitas kamu sehari-hari kalau kamu sudah sehat."
" Oh ya Adnan berapa biayanya, Aku mau membayar biaya pengobatan aku selama di rumah sakit ini."
" Kamu tidak usah memikirkan biaya itu, semua sudah aku lunasi."
Vie dan Namira terkejut.
" Itu terlalu banyak biaya aku selama di rumah sakit ini tidak sedikit 7 bulan lamanya loh."
" Kamu tidak usah memikirkan itu, semuanya sudah aku atur." ucapnya tersenyum.
" Terima kasih ya Adnan, Kamu baik sekali."
" Ini tidak seberapa Vie dibanding kebaikan kamu pada saat kita sama-sama kuliah dulu, kamu selalu menolongku dan membantuku kala itu, seharusnya aku yang melindungi kamu dan menolong kamu, Tapi saat itu malah terbalik, kamu yang menolong dan membantu aku."
" Itu soal biasa, namanya juga kita di perantauan untuk menimba ilmu yang lebih tinggi lagi dan lebih baik lagi " ucapnya tersenyum, Kemudian mereka pun membereskan barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut, dengan duduk di kursi roda dan dibawa menuju ke arah parkiran mobil dokter Adnan, beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan Rumah Sakit tersebut menuju ke arah alamat di mana rumah Melva berada.
Saat mereka melewati sebuah tempat nongkrong tidak sengaja melihat Rio dan Risma yang sedang bercengkrama dengan mesranya,Vie kemudian menatap ke arah mereka berdua.
" Rio... Risma...? apa yang terjadi di antara mereka berdua?" ucapnya membuat Namira dan Adnan pun terkejut dengan ucapan Vie
" Adnan bisakah kamu putar balik?"
" Nggak usah dok, lebih baik lanjutkan aja perjalanannya."
" Namira..."
" kakak tidak usah melabrak mereka karena sementara waktu, keadaan Kakak sekarang masih belum stabil, suatu saat Kakak bisa kok melabrak mereka secara terang-terangan, biarkan mereka berbuat semaunya, inilah yang Namira tidak mau berkata dengan kakak tentang mereka, tapi yang kuasa sudah memperlihatkan kejelekan dan kejahatan mereka berdua di belakang kakak."
Vie hanya menghela nafasnya dan memejamkan matanya sesaat, dia meresapi perkataan sang adik, mobil dokter Adnan terus melaju tidak sedikitpun dokter Adnan memberhentikan mobilnya itu, mobil itu terus melaju di jalan beraspal menuju ke arah tempat tujuan
__ADS_1