Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 19


__ADS_3

Chapter 19🌹


" Akhirnya kita berhasil Mah tanpa diselidiki pun akhirnya Tante Mirna ketahuan salahnya, Leo bersyukur karena tante Mirna sudah ketahuan pulangnya dan Kak Arga tidak jadi dijodohkan dengan Viola."


" Hehehe benar banget...Ya sudah sekarang kita kembali ke kantor kakakmu, Mama ingin mengatakan semuanya pada kakakmu, kalau dugaannya itu benar tentang kalung tersebut." ucap Ibu Diana sembari berdiri dan mengambil tas tangannya yang berada di atas meja tersebut, mereka berdua pun kemudian melangkah meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah mobil mereka yang terparkir rapi di tempat parkir Mall itu, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan Mall terbesar yang ada di kotanya itu menuju ke arah kantor Arga.


Vie yang berada di ruangannya itu pun merasa bahagia sekali karena cita-citanya sebagai seorang dokter, Sekarang inilah terwujud, bukan dia menyesali saat diperintahkan sang Ayah untuk mendalami dunia perkantoran dan meninggalkan sementara profesi Dia sebagai seorang dokter, namun ada takdirnya tersendiri sampai akhirnya dia pun bisa menjadi seorang dokter sekarang, Walaupun dia berada di di sebuah klinik yang hanya menangani karyawan kantor saja tidak berada di rumah sakit besar seperti impiannya sejak kecil.


" Dari sinilah aku akan meniti karir ku kembali dan bangkit dari keterpurukan yang baru saja aku merasakannya dan penghianatan seorang kekasih serta perampasan hak keluargaku menjadi milik orang lain, aku akan menunjukkan semuanya pada mereka kalau aku mampu tanpa mereka." ucapnya di dalam hati, kemudian dia pun dikejutkan dengan ketukan di pintu ruangannya tersebut, Dia kemudian menoleh sembari memutar kursi rodanya ke arah pintu, Karena posisinya itu menghadap ke arah jendela ruangannya itu.


" Iya, silakan masuk." ucapnya pada salah satu wanita yang terlihat memegang perutnya seperti orang kesakitan.


" Tolong saya dok perut saya sakit sekali, Saya juga tidak tahu kenapa sakit ini sangat menjadi seperti ini." ucapnya.


" Silakan tidur di atas ini dulu saya periksa keadaannya." ucapnya kemudian wanita itu pun langsung merebahkan tubuhnya di atas pembaringan periksa dengan cekatan Vie memeriksa keadaan pasiennya pertama yang datang ke ruangannya itu.


" Apakah tadi Mbaknya sudah sarapan?" tanya Vie pada pasien pertamanya itu.


Pasiennya yang bernama Puspa hanya menggelengkan kepalanya.


" Memang ada apa dengan perut saya dok? saya memang sering tidak sarapan pagi karena Saya tidak suka sarapan pagi dok."


" Mbaknya ada gangguan di lambungnya."


" Tapi tidak sangat mengkhawatirkan dok?"


" Kalau dibiarkan pasti sangat mengkhawatirkan, tapi kalau kita cepat mencegahnya kekhawatiran itu pasti akan hilang, sebaiknya Mbak diusahakan sarapan pagi, belajarlah untuk menyukai sarapan pagi, karena dari sarapan pagi itulah kita bisa menghindari gangguan pada lambung, karena sangat mengganggu pekerjaan kalau seandainya perut kita dalam keadaan sakit, Baiklah saya akan memberikan resep obatnya, karena obatnya di klinik ini belum tersedia, sebaiknya Mbaknya beli di depan kantor ini, tadi saat saya masuk ke sini ada sebuah apotek yang ada di seberang jalan itu, minta tolonglah sama OB di kantor ini untuk membelikannya, karena sakit Mbak ini tidak bisa untuk ditahan dan jangan dianggap remeh." ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


" Terima kasih dok." ucapnya kemudian dia pun mengambil selembar resep yang sudah dituliskan oleh Vie untuknya.


Vie hanya menghela nafasnya dengan pelan, Dia kemudian menggerakkan kursi rodanya menuju ke arah ruangan yang tembus dengan ruang periksanya itu, dia memeriksa semua obat yang tersedia di dalam ruangan itu


" Sebenarnya obat yang diperlukan memang ada, tapi sayang sudah tidak bisa digunakan lagi."


Dia pun kemudian membenahi obat-obat yang tidak terpakai di dalam ruangannya itu, kemudian Dia mencatat kembali obat yang diperlukan untuk klinik di kantor tersebut.


" Halo Kak Vie, ke mana ya Vie?" ucap Namira yang baru saja dari kantin membelikan air mineral untuk sang kakak.


" Kakak di ruangan obatnya Dek." ucapnya.


Namira melangkah mendekati sang kakak.


" Ini airnya kak, kok kakak membuang semua obat ini memang kenapa.?"


" Ini sudah lewat dari tanggalnya Dek, tidak baik untuk terus berada di ruangan ini, kakak sudah menulis semuanya di lembaran ini, Kakak masih belum paham memberikannya kepada siapa, makanya nanti mau kakak berikan pada Melva aja, biar Melva yang memberi petunjuk, kakak harus menyerahkannya pada siapa."


" Namira... Vie... kalian di mana ?"ucap Melva, mereka berdua kemudian keluar dari ruangan obat.


" Kebetulan baru aja aku singgung nama kamu tadi, ternyata sudah kontak batin aja kamu ya hehehe,cepat sekali berada di sini seperti jin aja." ucap Vie sembari tersenyum.


" Aku tadi kebetulan lewat sini, makanya aku nengok sekalian, tapi kalian tidak ada di dalam sini, makanya aku panggil."


" Oh ya sekalian ya ini, sudah aku tulis semua di kertas ini tentang obat yang diperlukan di klinik ini, ada sebagian yang masih bisa dipakai dan banyak yang tidak bisa dipakai lagi, makanya aku meminta agar kantor ini menyediakan obat yang diperlukan."


" Baiklah, tapi sebenarnya harus lapor dulu sih kepemimpinan kita agar dia langsung menugaskan pada orang kepercayaannya, karena setiap pembelian di sini selalu melewati dia."

__ADS_1


" Tapi aku tidak tahu siapa Bos kita itu, aku juga tidak tahu di mana ruangannya, kalau melalui lift aku kan jadi merepotkan Namira nantinya."


" Tenang, aku yang akan mengantarkan ini pada pak Bos."


" Terima kasih ya, kamu selalu membantu aku."


" Sama-sama, kita kan sama satu kerjaan, Satu Atap satu ruang lingkup dan satu lindungan Pak Arga." ucap Melva tersenyum.


" Pak Arga?"


" Iya Pak Arga, Kenapa? kamu kenal?"


" Aku tadi lihat dia di layar televisi."


" Oh Pak arga yang tinggi ganteng, putih, berwibawa, dan memiliki dada bidang yang didambakan oleh kaum hawa itu ya." ucap Namira menjelaskan pada mereka berdua


" Sampai segitunya, kamu menjelaskan pada Kami, memang kamu sudah ketemu?" tanya Melva sembari tertawa pelan.


" Tadi waktu menuju ke arah kantin beliau menanyakan tentang kehadiran Namira di kantor ini, karena katanya baru pertama kali melihat Nami."


" Syukurlah kalau kamu sudah bertemu dengan pak Arga, nah yang tadi saat menanyai kamu di ruang penasehat itu adalah ibu kandungnya."


" Iya, tadi sudah dijelaskan padaku, kalau pemiliknya sini adalah anaknya Tapi..."


" Tapi kenapa.?"


" Aku kan pernah cerita padamu, kalau aku pernah bertemu dengan seorang lelaki di taman yang membantuku saat itu, yang aku ceritakan pada kalian wajahnya mirip sekali dengannya, tapi aku merasa kurang yakin, Masa iya sih seorang pengusaha muda terkenal kayak gitu mau membantu memunguti jajanan yang sudah jatuh ke tanah, walaupun sebenarnya tidak kotor masih menggunakan plastik yang terikat dengan rapi."

__ADS_1


" Yang benar? kalau Pak Arga yang kamu temui?" ucapnya sembari menatap ke arah Vie.


Vie hanya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2