Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 24


__ADS_3

Chapter 24🌹


" Kok aku di paksa sakit kak? aku kan sehat?"


" Nanti aku ceritakan semuanya, selepas pulang kantor aku akan kerumah Mamah."


" Ya udah kalau gitu aku tunggu kakak aja gih dirumah Mamah, biar kakak cerita semuanya."


" Oke!" ucapnya memutus sambungan bicaranya.


Kemudian Leo melajukan kembali mobil pribadinya itu menuju ke arah rumah sang Mama.


" Kak Arga ada-ada saja Mah, masa aku disuruhnya sakit dan tinggal di Apartemennya."


Bu Diana hanya tersenyum saja sembari berucap pada sang anak.


" Ikuti aja apa kata kakakmu itu, Mamah yakin pasti ada sesuatu yang direncanakannya." ucap bu Diana karena dia memiliki firasat yang menyenangkan di balik ucapan Arga.


" Kok Mamah malah mendukung rencana Kakak itu, Apakah Mama mengetahui apa dibalik rencana Kakak ini, kalau Mama tahu kok aku tidak dikasih tahu sih, aku kan jadi bertanya-tanya." protes Leo sembari sesaat menoleh ke arah sang Mama yang berada di sampingnya, lalu kemudian dia pun fokus kembali dengan setir mobilnya menatap ke arah depan.


" Yah cuma perasaan seorang ibu di balik kata-kata kakak kamu itu sepertinya ada sesuatu yang tersimpan, Kalau Mama sih mendukung aja kalau memang itu adalah kebaikan untuknya, coba kamu pikir sendiri tidak pernah dia meminta tolong pada Mama, ataupun kamu, untuk sesuatu dan hal-hal yang diinginkannya, dia selalu mengerjakannya sendiri." ucap Bu Diana dianggukan oleh Leo, Mereka kemudian diam tidak ada suara sama sekali di dalam mobil tersebut dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah kediaman Ibu Diana.


Tepat jam pulang kantor Arga dengan tergesa-gesa keluar dari ruangannya, dia melangkah dengan cepat menuju ke arah mobil pribadinya, sesekali dia menengok jam yang ada di tangannya, dia tidak ingin terlambat dengan rencana yang akan dilancarkannya, beberapa saat kemudian mobil pribadinya itu meninggalkan halaman parkir menuju ke arah rumah sang Mama, karena adik dan Mamanya sudah menunggu dengan manis kedatangannya itu.


Vie, Namira dan Melva memasuki mobil pribadi Melva, mereka kembali menuju ke arah rumah Melva, di dalam perjalanan menuju pulang Melva berbicara dengan Vie yang duduk di sampingnya tersebut.


" Vie, nanti malam kamu ditunggu oleh pak bos di apartemennya."


Vie yang mendengar itu pun langsung terkejut dia menoleh ke arah Melva.


" Maksud kamu aku ditunggu di apartemen Bos? untuk apa? Lagi pula Bos tidak berbicara seperti itu padaku, dia juga tidak mengatakan apa-apa saat memberikan kertas untuk ditulis ulang lagi tentang obat-obatan yang diperlukan di klinik."


" Dia memang tidak berbicara langsung denganmu, tapi dia berbicara denganku, Dia meminta aku untuk menyampaikan pesannya itu padamu."


" Untuk apa? Kenapa mesti aku yang menemui laki-laki ke apartemennya, nanti aku dianggap apa?"


Melva hanya tersenyum saja begitu juga dengan Namira.


" Kakak, Nggak usah khawatir, nanti aku dan kak Melva yang mengantarkan Kakak ke apartemen itu, mungkin pak bos kakak ingin berbicara panjang lebar di apartemennya, kalau dia bicara terlalu panjang lebar ataupun ada yang penting dibicarakan di klinik kan tidak mungkin, otomatis nantinya kan ada pasien jadi pembicaraan kalian berdua akan terpotong, di samping itu juga kedatangan pasien pasti akan mengganggu pembicaraan kalian nantinya."


" Tapi kalian berdua ikut kan masuk ke dalam apartemennya.?"


" Iya Kak, kami masuk kok ke dalam apartemennya, tapi kami tidak masuk ke dalam kamar apartemennya."


" Kenapa? masak aku sendirian masuk ke dalam kamar apartemennya, ya gimana gitu rasanya nantinya, apalagi kan dia sendiri,aku juga sendiri,nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana.?"


" Kamu nggak usah khawatir Vie, karena kamu ke apartemen itu untuk memeriksa Adiknya pak bos."

__ADS_1


" Adiknya pak Bos? memangnya kenapa dia.?"


" Katanya sih mengalami sakit, jadi ingin diperiksa sama kamu."


Vie hanya menghela nafasnya dengan dalam,dia sedikit merasa heran dengan Pak Bosnya itu.


" Masa iya sih seorang Bos yang terkenal dan memiliki kekayaan banyak tidak bisa membawa adiknya berobat ke rumah sakit yang ternama ataupun yang berkualitas internasional, masa iya dia hanya memerlukan aku?" gumamnya dalam hati sembari tangannya bersandar di pintu mobil Melva, sambil memijat keningnya yang tidak sakit Melva menoleh sesaat ke arah Vie dia hanya tersenyum saja karena dia tahu kalau Vie merasa bingung dengan keinginan Pak Bosnya itu.


Mobil terus melaju menuju ke arah rumah Melva.


Arga yang sudah sampai di depan rumah sang Mama pun memarkirkan mobilnya, dia bergegas turun dari mobilnya itu dan melangkah menuju ke pintu utama rumah itu.


" Mah! Leo... kalian di mana?"


" Kami di sini kak..." sahut Leo sembari tersenyum melihat sang kakak melangkah menuju ke arah mereka yang berada di ruang tamu rumah sang Mama.


" Hufffffttt..." Arga menghentakkan tubuhnya di sofa empuk tersebut sembari tersenyum dengan sembringah membuat keheranan Leo sang adik, namun tidak dengan Bu Diana dia merasa anaknya itu sedang jatuh cinta, Tergambar jelas di wajah sang anak tidak seperti biasanya, wajah itu yang selalu senyum biasa saja dan selalu memasang muka dinginnya itu, namun saat ini wajah anaknya itu terlihat sangatlah bersinar menampakan kebahagiaan yang baru saja dia rasakan.


" Ada apa sih Kak, Aku jadi penasaran deh, kenapa bisa aku disuruh untuk sakit dan harus berada di apartemenmu, dari tadi aku sudah nggak sabar ingin mendengar penjelasan dari kamu kak."


Arga menepuk pelan paha sang adik dengan tangannya sembari menatap ke arah adiknya itu.


" Oni hanya sandiwara saja, kamu pura-pura sakit dan kamu harus berada di apartemenku, karena apartemenku malam ini akan kedatangan seorang wanita yang sangat cantik sekali." ucapnya sembari terkekeh dengan pelan.


" Wanita cantik? Terus apa hubungannya denganku yang pura-pura sakit, itu kan tidak ada hubungannya kak sama sekali, antara cantik dan sakit, kakak aneh deh! sebenarnya ada apa sih, yang jelas dong menjelaskannya padaku, kalau aku sudah mengerti otomatis aku akan menjalankan misi Kakak itu dengan semaksimal mungkin tidak ada kegagalan dijamin."


" Dokter Vie? Kakak sudah melihatnya atau Kakak sudah bertemu dengan dia atau Kakak sudah bicara dengannya."


Arga tersenyum.


" Aku mengerti sekarang, jangan-jangan kakak menyuruh aku pura-pura sakit agar dokter Vie datang ke apartemen kakak dan memeriksa aku, kesempatan itu kan bisa dimanfaatkan kakak untuk bisa lebih leluasa lagi berbicara dengannya, bahkan menatap kecantikannya, bagaimana sih kecantikan Dokter Vie itu? sehingga bisa menghipnotis kalian berdua, Aku jadi penasaran dengan dokter Vie itu, tapi emang benar ya apa yang aku ucapkan ini, kalau ini adalah sebagian rencana dari kakak untuk mengenal lebih jauh lagi dokter Vie."


" Yap benar sekali, itu kamu tahu, tidak perlu lagi aku jelaskan, Iya Mah Arga sudah bertemu dengan dokter Vie dan Arga juga sudah berbicara dengannya, Mama tahu tidak ternyata kalung ini yang Arga pakai ini adalah kalung dia saat kejadian kecelakaan 7 bulan yang lalu."


" Sudah Mama duga, karena saat kamu berbicara dengan adikmu itu Mama sudah mengira kamu pasti sudah bertemu dengan dokter Vie kalau memang kalung itu adalah milik dokter Vie kenapa kamu tidak mengembalikannya, pasti dia sangat senang mendapatkan kalung itu, Mama rasa kalung itu sangat berarti bagi dirinya."


" Kok kakak tahu kalau kalong itu milik dokter Vie? bagaimana ceritanya, ketinggalan cerita nih aku, Mama sih kelamaan tadi memberikan pelajaran pada tante Mirnanya,jadi aku tidak bisa melihat mereka saling bertatapan,... hahaha." ucap Leo sembari tertawa lepas membuat Arga dan bu Diana pun ikut tertawa.


" Tante Mirna diberi pelajaran apa samaamah?"


" Nanti aja Mamah bicaranya pada kamu "


" Baiklah.."


" Bagaimana ceritanya kak, tentang kalung itu?"


Arga pun Kemudian menceritakan semuanya awal dia bertemu dengan dokter Vie dan mengetahui tentang cerita kalung yang dia pakai serta keinginannya untuk dokter Vie berkunjung ke apartemennya, ibu Diana dan Leo menganggukkan kepalanya mendengar cerita Arga.

__ADS_1


" Rupanya kalung itu sangat berarti sekali ya Kak untuk keluarga dokter Vie, Arga hanya menganggukkan kepalanya.


" Terus nantinya aku di apartemen buat apa? hanya Jadi obat nyamuk gitu, membasmi nyamuk-nyamuk yang ada di samping kiri kanan, Kakak dan dokter Vie.


" Ya nggak juga sih, Kamu di apartemen itu hanya sebagai orang yang sakit dan juga sebagai temanku karena mungkin dokter Vie akan segan kalau hanya aku dan dia berada di apartemen itu, sedangkan adik dan temannya aku rasa tidak mau masuk ke apartemenku, itulah makanya aku menyuruh kamu berada di apartemen aku agar kami berdua tidak hanya berdua saja."


" Kenapa mesti di apartemen sih Kak, Kakak kan bisa menemuinya di mana gitu, biar enak bicaranya, kalau nanti kakak berbicara dengan dokter Vie di apartemen ada aku, kakak nggak takut nih aku mendengar kakak berbicara dengan dokter Vie siapa tahu nanti kakak mengungkapkan isi hati kakak langsung pada dokter Vie, ujung-ujungnya kan ketahuan aku... hehehe " godanya pada sang kakak, Arga hanya melemparnya dengan bantalan kursi yang langsung disambut Leo dengan tawa yang lepas.


" Ya nggak apa-apa lah, namanya juga kamu lagi sakit, tidak mungkin kamu langsung tertawa dan kamu juga menyahut omonganku." sanggah Arga sembari tersenyum.


" Kakak, kalau kakak mengatakan Aku sakit, terus dokter Vie memeriksa aku otomatis dia tahu kalau Kakak itu hanya berbohong padanya,dia kan seorang dokter jadi dia tahu mana yang sakit beneran mana yang sakit pura-pura, nanti Kakak sendiri yang malu kalau ketahuan berbohongnya... hehehe." kekehnya lagi sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut.


" Ya nggak apa-apa lah,yang penting kan dia berada di apartemenku dan aku bisa berbicara secara langsung dengannya, kalau masalah kamu sakit nantinya aku juga bisa jujur kok padanya sebelum kamu diperiksanya, kalau aku memilih bertemu dengannya di luar aku takut nanti bisa bertemu dengan dengan Sonia,Kamu kan tahu sekarang aku merasa Sonia itu berada di mana-mana, dia itu adalah masa laluku, Tapi seakan-akan dia itu selalu menghantuiku dan aku merasa dia itu ingin mengingatkan aku kembali pada masa lalu bersama dengannya." ucapnya sembari mengela nafasnya dengan panjang.


" Iya juga sih, aku juga merasa kalau dia itu sepertinya ingin mengingatkan Kakak dengan kenangan-kenangan kalian di masa lalu, tapi selama ada aku, Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Kak, karena aku tidak ingin kehilangan kakak untuk yang kedua kalinya, Kakak kan tahu saat beberapa tahun belakangan ini kakak terlalu banyak diam, Kakak terlalu banyak menutup diri, kebahagiaan Kakak hilang begitu saja, aku tidak ingin kakak kembali ke masa itu." ucapnya sembari menyentuh pundak Arga, Arga menoleh ke arah sang adik kemudian dia pun memberikan senyuman nya pada Leo, Bu diana hanya tersenyum melihat keakraban kedua bersaudara tersebut.


Arga kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya dia pun kemudian berdiri sembari berpamitan dengan sang Mama, diikuti sang adik.


Kemudian mereka berdua pun meninggalkan rumah sang Mama menuju ke apartemen Arga.


Di sebuah rumah mewah...


Sonia yang sudah bersiap-siap dengan berpakaian yang bisa dikatakan mengundang keinginan para lelaki untuk memilikinya, dia pun kemudian menapaki satu persatu anak tangga tersebut, dia memang tidak tinggal bersama dengan suaminya sementara waktu, karena kejadian itu membuat dia ingin menenangkan dirinya dan berada di rumah kedua orang tuanya, saat dia berada di lantai bawah Dia pun ditegur oleh sang mama.


" Sonia kamu mau ke mana.?"


" Aku ingin keluar mah, mencari angin dan ingin menenangkan perasaanku sekarang ini."


" Tapi kenapa kamu keluar menggunakan pakaian seperti itu, Kamu adalah seorang istri, tidak pantas kamu menggunakan pakaian seperti itu, jagalah harkat dan martabat suamimu, walaupun kamu bertengkar dengan suamimu, jangan sampai orang lain mengetahuinya, dan janganlah kamu menggunakan pakaian itu, sama saja kamu mengundang mata semua lelaki untuk menatap kamu dengan tatapan yang tidak pantas untuk seorang wanita yang sudah memiliki keluarga."


" Mama tolonglah mengerti Aku, Aku memang bertengkar dengan Bayu, tapi Aku tidak akan berpisah dengannya, percayalah padak, Aku ingin berkumpul sama teman-teman saja, Aku ingin menggunakan pakaian ini karena Aku merasa nyaman saja Mah."


" Hemm... Baiklah Kalau menurutmu itu baik bagimu, Mama hanya bisa mengingatkan Kamu aja, pergilah..." ucap sang Mama sembari tersenyum, Sonia pun kemudian melangkah meninggalkan rumahnya itu, dia tidak menggunakan mobil pribadinya, melainkan dia menggunakan sebuah taksi, ada tatapan heran dari sang Mama, tidak biasanya Sonia seperti itu Walaupun dia sering bertengkar dengan suaminya tapi tidak seperti hari ini.


Sebuah taksi membawa Sonia menuju ke arah tujuan.


Beberapa saat kemudian mobil taksi yang ditumpangi oleh Sonia berhenti di sebuah apartemen mewah, dia pun kemudian turun dari taksi setelah membayar taksi tersebut dia melangkah menuju masuk ke dalam dan menuju ke arah kamar yang hendak ditemuinya, siapa lagi kalau bukan kamar Arga.


Dia melangkah dengan pasti dan mengumbar senyumannya, Dengan semangatnya yang sebentar lagi dia pasti akan bertemu dengan Arga, sesampainya di depan pintu apartemen Arga dia memencet bel apartemen tersebut.


Arga yang berada di dalam bersama dengan Leo pun mulai melancarkan sandiwaranya, Karena Dia mengira yang memencet bel itu adalah Vie.


" Cepatan kamu tidur aja di dalam sini, nanti kakak mau ngajak dokter Vie masuk ke dalam untuk memeriksa kamu." ucapnya mengatakan pada sang adik, Leo hanya menganggukkan kepalanya sembari merebahkan tubuhnya di kasur empuk sang kakak dan menyelimuti tubuhnya, Arga pun kemudian melangkah meninggalkan kamarnya dan menutup kembali pintu kamar tersebut, dia menuju ke arah pintu dengan rasa bahagia, dia merapikan bajunya dan mengusap rambutnya agar terlihat rapi dia pun memasang muka tersenyumnya, Karena Dia mengira yang datang adalah dokter Vie,saat dia membuka pintu apartemennya dia pun langsung berucap.


" Selamat datang do..." Belum sempat dia menyebutkan nama dokter Vie, dia terkejut karena yang datang bukanlah Vie melainkan Sonia.


" Apakah kamu sudah tahu kalau aku mau ke sini?" ucapnya sembari tersenyum, Arga pun langsung menghilangkan senyum di wajahnya setelah melihat siapa yang datang ke apartemennya itu.

__ADS_1


__ADS_2