
Chapter 09🌹
Terdengar ponsel Arga berdering Dia kemudian kembali ke tempat duduknya awal di mana ponselnya dia letakkan, dia melihat layar ponselnya tersebut siapa pemanggilnya, ternyata adik tersayangnya yang memanggilnya itu.
" Iya ada apa.?"
" Buka pintu Apartemen mu kak, aku ada di depan."
" Baiklah! tunggu sebentar." ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya, dia melangkah ke arah pintu Apartemennya itu, beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dia menatap sang adik dengan kedua tangannya memegang dua kantong kresek.
" Dari mana kamu? kayak seorang cewek aja berbelanja terus." ucap Arga kembali melangkah ? menuju ke arah sofa diikuti oleh Leo sang adik sambil menuju ke arah dapur.
" Aku bukannya berbelanja Kak, tapi ini adalah titipan Mama, untuk kakak, Mama tadi memasak makanan kesukaan Kakak, Mama meminta aku untuk mengantarkannya pada kakak."
" Kenapa Mamah fidak langsung menghubungi aku aja, biar kita makan bersama di rumah Mamah "
" Mama nggak bisa makan bersama, Karena Mama tadi baru aja dijemput sama tante Mirna."
" Memang ada acara apa? di tempat tante Mirna.?"
" Katanya sih ada acara ultah anaknya."
" Bukankah anak tante Mirna sudah gede? kok diultahin segala sih." ucapkan sembari menghidupkan televisi tersebut.
" Ya mana aku tahu kak."
" Aku belum bicara sama Mamah, seharusnya Mama jangan terlalu dekat dengan tante Mirna lagi."
" Memangnya kenapa Kak?" tanya Leo sembari merapikan makan malamnya di atas meja.
" Aku curiga dengan Tante Mirna dia hanya memanfaatkan Mama aja, karena dari sikap Tante Mirna itu ada sesuatu yang diinginkan Tante Mirna dengan Mama, dimana ulang tahun anaknya tante Mirna itu digelar?"
" Katanya sih di sebuah gedung yang tidak jauh dari rumah Tante Mirna, Aku juga sebenarnya tidak suka dengan Tante Mirna itu kak."
" Selesai sampai jam berapa?"
" Saat aku tanya sama Mama tadi menurut Mama jam 10.00 malam."
__ADS_1
" Nanti aku yang akan jemput Mama."
" Aku juga ikut."
Dianggukkan oleh Arga yang menoleh ke arah adiknya tersebut, dia pun kemudian berdiri dari duduknya dan mendekati adiknya yang sedang duduk di meja makan dengan hidangan yang sudah tersedia di atas meja tersebut, mereka berdua kemudian menikmati makanan buatan sang Mama yang tidak pernah mereka lupakan dan selalu saja membuat kangen akan masakan Mamahnya tersebut.
" Oh ya Kak, aku tadi masuk loby Apartemen ini kata Pak security, Kakak tersenyum-senyum sendiri selepas olahraga sore tadi."
Arga menghentikan aktivitas makannya dan menatap sang adik.
" Salah ya? kalau aku tersenyum.?"
" Ya nggak salah sih, kalau kakak tersenyum, Tapi Kakak kan tahu security yang ada di Apartemen ini tidak jauh beda dengan ibu-ibu yang serba ingin tahu berita, Dia kan tidak pernah melihat Kakak tersenyum dengannya, makanya saat aku keluar dari mobil tadi dia langsung menghampiri dengan cepat mengatakan kalau kakak lagi senang dan tersenyum dan baru kali ini katanya melihat Kakak senyum padanya.
" Security itu memang aneh!" ucap Arga sembari terkekeh.
" Sebenarnya ada apa Kak? Tidak mungkin kan kalau security itu bercerita yang bohong padaku.?"
" Udah! kamu makan dulu habiskan, nanti aku ceritakan." ucapnya sembari menikmati kembali makanan yang masih ada di dalam piringnya tersebut, tidak ada suara diantara mereka berdua kakak dan adik itu pun menikmati makan malamnya yang hanya terdengar sendok dan garpu saling bersentuhan.
Setelah menikmati makan malamnya seperti biasanya Leo kemudian membersihkan sisa makanan mereka dibantu dengan Arga, Arga memang tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga karena dia tidak ingin apartemennya itu dimasuki orang lain selain keluarganya, dia sudah biasa sendiri melakukan semua kegiatannya pun di apartemennya itu sendirian.
" Ceritakan padaku Kak, Kenapa Kakak bisa tersenyum pada orang lain, padahal Kakak jarang sekali senyum semenjak kejadian 5 tahun yang lalu, senyum, tawa dan kebahagiaan Kakak itu tidak pernah Kakak berikan pada orang lain, selain aku dan Mama, sebenarnya ada apa kak.?"
Arga menghela nafas panjangnya, dia menatap sesaat ke arah sang adik, kemudian kembali menatap ke arah layar televisi yang sedang menyala itu.
" Saat aku olahraga tadi, aku bertemu dengan seorang wanita di taman tidak jauh dari Apartemen ini."
Leo pun terkejut dengan ucapan sang kakak, Dia kemudian menatap lekat ke arah kakaknya itu yang sedang menatap ke arah layar televisi.
" Bertemu dengan seorang wanita, siapa itu? Soniakah?" tanya Leo spontan saja.
Arga menoleh ke arah sang adik,lalu kembali menatap lagi ke arah layar televisi tersebut.
" Kamu ini ada-ada saja, Sonia, Sonia, Sonia, Terus yang kamu sebutkan, memangnya kalau aku bertemu dengan seorang wanita itu dalam otak kamu hanya Sania gitu?!"
" Aku juga tidak tahu Kak, karena aku sudah kehilangan keceriaan dan kebahagiaan kakakku lima tahun yang lalu, gara-gara Sonia, aku juga tidak ingin lagi hal itu terulang kembali."
__ADS_1
" Tidak akan pernah terulang kembali masalah itu, percayalah padaku, aku bertemu dengan wanita ini berbeda sekali dengan Sonia, dia memang benar-benar berbeda kecantikan, yang dia miliki itu sangat alami di mataku, Tapi sayangnya..." Arga menggantung kalimatnya membuat Leo penasaran.
" Tapi kenapa Kak? ada apa dengan wanita itu? Apakah wanita itu sudah memiliki suami atau Wanita itu sudah memiliki seorang anak tanpa suami ataukah wanita itu wanita berasal dari dunia lain.?"
Arga pun terkekeh, Dia kemudian menepuk pelan kepala sang adik.
" Kamu itu loh! ngomongnya asal aja, mana ada sih wanita dari dunia lain, jangankan dari dunia lain, dari dunia nyata aja hampir tidak bisa kulihat."
" Ya iyalah Kakak tidak bisa melihat wanita di dunia nyata, karena mata Kakak sudah tertutup dengan peristiwa lima tahun yang lalu, jika seandainya peristiwa lima tahun yang lalu itu kakak buang jauh-jauh mungkin saat ini kakak sudah ada pendamping sebelum kakak bertemu untuk kedua kalinya dengan Sonia."
Terdengar helaan nafas yang panjang dari Arga.
" Nenar juga apa yang kamu katakan itu." ucapnya singkat.
" Terus kenapa dengan wanita itu, kenapa Kakak menggantung kalimat kakak yang membuat aku sangat penasaran sekali."
" Wanita itu duduk di kursi roda, tapi aku lihat kakinya tidak apa-apa, tapi tidak tahu kenapa dia tidak bisa berjalan."
" Maksud kakak dia cacat?" ucap Leo kembali menatap ke arah sang kakak.
" Kalau menurut aku sepertinya tidak, entah apa yang terjadi aku juga tidak tahu, Yang aku sayangkan aku lupa menanyakan siapa namanya, sepertinya dia tinggal di daerah situ, karena tidak mungkin kalau dia jauh dari rumahnya."
" Kalau taman dekat dengan apartemen kakak ini memang banyak rumah di sekitar situ, tapi tidak tahu wanita yang dimaksud Kakak itu tinggalnya di mana"
" Kakak juga baru melihatnya pertama kalinya." ucapnya.
" Bagaimana saat Kakak melihatnya? apa ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh kakak? misalkan ada rasa gugup atau ada rasa lain di perasaan Kakak saat melihat wanita tersebut."
" Kalau kakak melihat awal pertama kali itu kakak hanya mengucapkan kata cantik, tanpa sengaja, itu secara spontan saja Kakak ucapkan."
" Apakah kakak ingin mengenal lebih jauh lagi wanita itu."
" Kalau dipikir sih sebenarnya iya, tapi ada rasa di dalam hati kakak ini yang membuat kakak bingung di antara dua permasalahan."
" Dua permasalahan?"
" Iya, masalah pertama tentang pemilik kalung yang selama ini Kakak pakai dan masalah kedua siapa wanita itu yang kakak temuin tadi."
__ADS_1
" Ya semoga saja Kak ada jalan keluarnya, Kakak bisa mengenal wanita itu dan kakak bisa menemukan pemilik kalung yang selama ini Kakak pakai atau jangan-jangan wanita itu adalah pemilik kalungnya itu."
Arga spontan menoleh kearah sang Adik...