Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 23


__ADS_3

Chapter 23🌹


" Saya tidak berpikiran sampai ke situ Namira, Tapi Saya merasa terkejut karena kamu berbicara tentang kecelakaan, jujur kalung ini saya tidak menemukannya, tapi saya diberi seorang anak kecil, memang saat itu dalam situasi jalan raya di mana jalan itu rame karena ada terjadi kecelakaan, Saya tidak tahu kecelakaan itu siapa, saat itu saya memang diberikan oleh anak kecil katanya simpanlah kalung ini pasti kalung ini ada yang mencarinya nantinya, Apakah ini memang benar kalung punya kakakmu." ucapnya sembari melonggarkan dasinya dan melepas satu kancing kemejanya dan dia pun kemudian melepas kalung yang dipakainya itu, dia lalu memberikannya pada Namira.


Namira mengambil kalung tersebut dia menatap kalung itu tidak merasa air matanya pun menetes Melva menatap ke arah Namira


" Kamu kenapa Namira? Kenapa kamu menangis? kalung ini sangat berartikah untukmu?" tanya Melva.


" Kalung ini hadiah ulang tahun untuk Kak Vie, dia belum sempat memakainya kak, ini adalah pemberian dari kedua orang tua kami untuk Kak Vie dan kalung ini dibuatkan khusus untuknya karena Kak Vie saat itu berulang tahun tepat saat dia mengalami kecelakaan maut itu." ucapnya sembari menghapus pelan air matanya yang mengalir begitu saja di pipi mulusnya, Arga menatap ke arah Namira sembari bergumam di dalam hatinya.


" Betapa berarti sekali kalung itu, kalau itu memang benar kalung milik kakakmu, aku dapat merasakan betapa sendih dan sakitnya kehilangan orang yang sangat disayangi seperti kedua orang tuamu Namira." gumamnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan, Dia pun menghela nafasnya dengan panjang sembari berucap pada Namira.


" Periksalah, carilah tanda di kalung itu, kalau memang kalung itu adalah milik kakakmu aku akan memberikannya pada kalian, karena itu adalah hak kalian." ucapnya sembari tersenyum Namira pun menganggukkan kepalanya.


Kemudian dia pun menatap liontin berbentuk hati itu, Dia memeriksanya dan benar saja liontin itu bisa terbuka, dia pun langsung terkejut sembari menutup mulutnya dengan salah satu tangannya dan air matanya kembali mengalir ke pipi cantiknya itu.


Kemudian dia menatap ke arah Arga beralih ke arah Melva, Melva tersenyum dia merasa bahagia sekali karena kalung yang hilang itu pun ditemukan kembali.


" Ini Pak Arga tanda dari kalung tersebut." ucapnya menyerahkan kalung itu pada Arga.


Arga hanya menatapnya, Arga juga merasa terkejut karena selama 7 bulan lamanya dia memakainya dia tidak pernah memeriksa kalung tersebut kalau sebenarnya liontin yang ada di kalung itu pun bisa dibuka, namun dia tidak melihat foto ataupun apa saja yang ada di dalam liontin.


" Cuma bisa dibuka saja kah liontin ini?" tanyanya.


Namira menggeleng.


" Di dalam liontin ada lukisan wajah Kakak di dalamnya."


" Tapi saya tidak melihatnya."

__ADS_1


" Karena itu bisa dilihat melalui kaca pembesar."


Karena merasa penasaran dengan gambar yang ada di dalam liontin tersebut, Arga pun kemudian berdiri menuju ke arah meja kerjanya dia kemudian mengambil kaca pembesar yang memang berada di dalam laci mejanya itu, Dia kemudian membawa kaca pembesar itu duduk di sofa kembali dan dia pun langsung melihat lukisan yang ada di dalam liontin itu dia tersenyum dan merasa kagum karena orang yang membuat kalung berliontin berbentuk hati itu sangat istimewa.


" Hebat sekali orang yang membuat ini." ucapnya sembari menyerahkan kalung itu pada Namira.


" Terimalah kalung ini, karena ini adalah hak kalian, sekarang tugas saya untuk menjaga kalung ini sudah selesai."


" Tidak Pak, saya ingin Bapak menyerahkannya pada kakak saya, karena tadi kakak saya melarang saya untuk mengambilnya dari Bapak." ucap Namira.


" Kenapa harus saya.?"


" Saya tidak ingin kakak saya marah pada saya dan saya juga tidak ingin mengecewakan kakak saya, karena kakak saya sudah memperingatkan saya agar tidak menemui Bapak dan menanyakan kalungnya pada Bapak."


Arga menghela nafasnya dengan panjang.


" Hah?!Datang ke apartemen bapak.?"


" Iya..."


" Apa mesti ke apartemen Pak.?"


" Karena saya perlu bantuan dokter Vie, ada saudara saya yang sedang sakit di apartemen saya, bisa kan dokter Vie membantu saya?" ucapnya membuat Namira hanya terdiam, namun Melva tersenyum dia paham dengan ucapan Pak Bosnya itu.


" Terlihat dari ucapan Pak Bos dia menyukai Vie, jangan-jangan di apartemennya dia ingin mengatakan kalau dia menyukai Vie, Pak Bos kan terkenal tidak menyukai wanita sembarangan." guma Melva.


" Namira, kamu Jangan berpikiran yang tidak-tidak, saya tidak berbuat apa-apa dengan kakakmu, saya ingin dr Vie mengobati saudara saya, karena di apartemen saya itu ada adik saya tidak mungkin kami berbuat apa-apa, kamu juga boleh ikut."


" Tidak pak, saya hanya mengantarkan Kakak saya aja nantinya, saya percaya kok sama Bapak, karena Bapak itu orang baik tidak mungkin Bapak mencelakakan kakak saya."

__ADS_1


" Baiklah, kalau seperti itu, terima kasih atas kepercayaan kamu pada saya."


" Baiklah Pak, kami permisi dulu, tolong Bapak jangan bicara sama kakak saya kalau saya ada menemui Bapak di ruangan Bapak." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada, dianggukan oleh Arga, Melva tersenyum, kemudian mereka berdua pun berdiri dan berpamitan pada Arga.


Arga hanya menganggukan kepalanya, kemudian mereka berdua pun keluar dari ruangan Arga, menuju ke arah lantai 2, setelah lift terbuka mereka berdua berpisah Melva menuju ke arah ruangannya, sedangkan Namira menuju ke arah kantin karena dia tidak ingin saat masuk ke klinik tidak membawa apa-apa, karena dia izin pada sang kakak untuk membeli sesuatu di kantin.


" Akhirnya aku akan leluasa bisa berbicara dengan dokter yang cantik itu, aku yakin kan Kalau kalung ini adalah milik dia, terima kasih Ya Tuhan akhirnya Engkau telah memberikan titik terang kalung ini adalah miliknya, tapi apa hubungannya ya dengan anak kecil itu, kok bisa ya Anak kecil itu mendapatkan kalung tersebut, bagaimana caranya dia bisa menemukan kalung itu, padahal kejadian itu tidak boleh ada orang yang mendekati kejadian kecelakaan itu." ucapnya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan merebahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan kerjanya itu, sesaat dia terdiam kemudian dia merubah posisinya kembali mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dia mencari nomor pribadi sang adik, setelah menemukannya dia pun langsung menghubungi adiknya itu yang kebetulan berada bersama dengan sang Mama.


" Halo Kak..."


" Kamu sekarang di mana ?"


" Aku sedang di jalan bersama dengan Mama, menuju ke arah kantormu, ada apa?"


" Aku mau minta tolong padamu."


" Tolong apa Kak? "


" Kalian berdua nggak usah balik ke kantor."


" Kenapa?"


" Langsung aja balik ke rumah Mama, kamu antarkan Mama ke rumahnya, setelah itu nanti kamu kembali ke apartemenku."


" Buat apa Kak?"


" Kamu harus pura-pura sakit di apartemen ku."


" Hah?! apa Kak? pura-pura sakit?" ucap Leo sembari terkejut dan sontak saja ibu Diana juga ikut terkejut dan menatap lekat ke arah sang anak.

__ADS_1


__ADS_2