Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 21


__ADS_3

Chapter 21🌹


" Bu dokter, Hai..Bu dokter, Kenapa Bu dokter tertunduk? lihat saya dong, sayakan pasiennya bu dokter, Masa saya dianggurin sih..?" ucap Arga sembari tersenyum, spontan saja membuat Vie terkejut dengan ucapan Arga.


" Hah? Maaf Mas, ah, eh..pak, tadi katanya Bapaknya sudah tidak sakit, karena sudah rebahan sebentar, Apa dadanya masih sakit lagi?" tanyanya terlihat sekali merona wajahnya.


" Kalau berdekatan dengan bu dokter, dada saya terasa sakit kembali dan ingin diperiksa oleh bu dokter terus."


Vie terkejut dan menatap kearah Arga.


" Ya Tuhan...mata itu...indah sekali, ingin rasanya aku menyelam kedasar bening bola matanya, Ya Tuhan begitu cantik makhluk ciptaan Engkau Ya Tuhan, ijinkan aku memilikinya..." gumamnya dalam hati sembari menatap lekat kearah Vie.


" Maaf pak, kalau dadanya berdekatan dengan saya terasa sakit, mohon maaf sekali lagi, sebaiknya Bapak meninggalkan ruangan saya, karena takutnya nantinya sakitnya tambah parah." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya didada.


" Maksudnya bukan begitu Bu dokter, terbalik Bu...kalau jauh dari dokter dada Saya pasti akan sakit, tapi kalau berdekatan dengan Bu dokter dada saya tidak terasa sakit." ucapnya menggoda Vie.


Vie semakin dibuat oleh Arga tidak karuan dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya yang sudah diketahui oleh Arga, walaupun sebenarnya Arga juga tidak bisa menutupi rasa kegugupannya.


Karena melihat Vie salah tingkah di hadapannya, Arga pun kemudian pamit dengan Vie sembari tersenyum, Vie hanya menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Bu dokter, Saya permisi dulu, nanti kalau saya merasa sakit dadanya, Bu dokter harus siap saya panggil, karena obatnya hanya Bu dokter yang bisa meredakan dada saya yang sakit." ucapnya tersenyum sembari menatap kearah Vie yang lagi-lagi Vie menganggukkan kepalanya karena dia tidak bisa menjawab dengan penolakan ataupun menggelengkan kepalanya, saat Arga berbicara seperti itu, Arga pun kemudian melangkah menuju ke arah lift khusus pimpinan tersebut sembari tersenyum.


Di dalam lift dia pun mensedekapkan tangannya didada sembari bergumam di dalam hatinya.


" Seumur-umur di dalam hidupku baru kali ini aku bisa mengeluarkan kata gombalan untuk seorang wanita, biasanya aku sangat tertutup dengan wanita manapun, semenjak kejadian itu apakah aku sudah merasa cocok dengan bu dokter ini? dia memang tidak membosankanku, dia mampu mengalihkan semua pandanganku tertuju hanya padanya, dia cantik, kecantikan yang dimiliki oleh bu dokter itu terlahir dari hatinya, alami! Aku suka wanita seperti itu, tapi bagaimana ya, agar aku bisa selalu berdampingan dengannya, saat aku bertemu dengannya aku merasa bersemangat sekali." ucapnya sembari tersenyum, kemudian pintu lift itu terbuka Arga keluar dari lift melangkah menuju ke arah ruangannya.


Detelah kepergian Arga, Vie hanya tersenyum, terlihat rona bahagia di wajahnya, Namira yang baru saja keluar dari toilet pun heran melihat sang kakak, Dia kemudian memegang jidat kakaknya tersebut sembari bersuara, membuat Vivi terkejut dengan tangan adiknya yang menyentuh dahinya itu.


" Kepala Kakak nggak panas, Kenapa Kakak senyum-senyum sendiri.?"

__ADS_1


Kemudian Vie menarik tangan adiknya dengan pelan dan memegangnya sembari tersenyum dan mendongak kan kepalanya menatap sesaat ke arah sang adik yang berada di belakangnya itu.


" Kamu apa-apaan sih, Masa dari toilet langsung pegang jidat kakak, memang nggak panas kok di sini kan ac-nya nyala."


" Tapi kenapa baru ditinggal sebentar aja Kakak sudah senyum-senyum sendiri, terlihat sekali rona wajah Kakak bahagia banget, memang kakak baru bertemu dengan siapa?ataukah jangan-jangan Kakak mendapatkan hadiah yang sangat besar, bisa membeli kota ini Hehehe, bercanda Kak, habisnya Namira heran aja kenapa Kakak tersenyum padahal kan Namira tidak lama meninggalkan kakak."


" Tidak ada apa-apa, kakak cuma merasa senang aja karena impian Kakak menjadi seorang dokter terwujud di perusahaan ini." ucapnya.


Namira pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tapi dia masih merasa tidak yakin dengan keterangan sang kakak, namun Namira tidak mengambil pusing lagi yang penting sekarang dia merasa senang, kalau sang kakak sudah bisa tersenyum seperti waktu dulu, walaupun keadaannya masih berada di atas kursi roda.


Vie lalu melanjutkan kembali pekerjaannya, mecatat di buku besar tentang keterangan beberapa pasien yang sudah masuk ke ruang kliniknya di hari ini pertama kali dia bekerja, sedangkan Namira duduk di sebuah kursi sembari membuka galeri foto yang ada di ponselnya tersebut, dia melihat semuanya sampai matanya tertuju pada sebuah foto kalung cantik liontin berbentuk hati, dia pun kemudian berdiri dari duduknya dan mendekati kakaknya itu, dia pun kemudian memberikan ponselnya kepada sang kakak agar kakaknya itu bisa melihat gambar tersebut yang pernah dikirimkannya pada dirinya beberapa jam sebelum kejadian kecelakaan itu beberapa bulan yang lalu.


Vie pun menatap foto tersebut, Dia kemudian menghentikan aktivitas menulisnya dia menatap ke arah ponsel adiknya dan mengambil ponsel tersebut dari tangan Namira.


" Ini bukannya kalung punya kakak, hadiah ulang tahun Kakak yang dibelikan oleh Almarhum Ayah dan Bunda, kakak sempat memfotonya dan mengirimkannya pada Nami, karena Nami tidak bisa ikut dalam acara makan bersama kalian saat itu untuk merayakan hari ulang tahunmu, saat itu Nami tidak bisa meninggalkan kuliah, ada ujian beberapa mata kuliah kala itu."


" Saat kejadian itu semua barang milik kakak sudah dikembalikan oleh pihak polisi pada dokter Adnan, dialah yang memberikannya pada Nami, Nami juga sudah memeriksanya semua, tapi kalung itu tidak Nami temukan, bahkan Nami sendirian menuju ke kantor polisi hanya ingin mencari kalung itu di mobil kakak, sayangnya Nami tidak menemukannya juga."


Vie terdiam dengan ucapan sang adik.


" Kalung itu adalah pilihan Nami Kak terbuat dari emas asli yang saat itu Ayah dan Bunda meminta pendapat dari Nami untuk hadiah ulang tahunmu kak, Nami memesannya di tempat orang tua teman nami yang memang berjualan emas asli di Mall yang terbesar di kota kita ini, mungkin kalung itu sudah hilang, Nami berpikir saat itu kakak pasti cantik memakai kalung itu, karena kakak senang menggunakan aksesoris kalung tersebut, Tapi sayangnya semua itu tinggal kenangan Kak, kalung itu nggak tahu siapa yang mendapatkannya."


Lagi-Lagi Vie menghela nafasnya dengan panjang.


" Kakak melihat kalung itu Dek, Ada orang yang memakainya."


Spontan membuat Namira terkejut dan menatap ke arah sang kakak, Dia kemudian menarik kursi yang awalnya Dia duduki sedikit jauh dari sang kakak, Dia pun kemudian duduk di kursi itu sembari melipat kedua tangannya di meja kerja kakaknya tersebut, dia menata lekat ke arah sang kakak.


" Di mana Kakak melihat orang yang memakai kalung tersebut.?"

__ADS_1


" Tapi Kakak takut untuk mengakui kalau itu adalah kalung milik kakak, takutnya kalung itu memang sama dengan kalung milik kakak."


" kalung itu limited edition Kakak, kalau yang tidak asli memang banyak, justru karena aku melihat yang tidak asli itulah membuat Nami ingin dibuatkan emas asli untuk kakak, makanya Nami pesan pada teman Nami itu, tapi di mana Kakak melihat orang itu katakan pada Nami Kak, biar Nami menemuinya, karena di kalung itu ada tandanya."


" Ada tandanya.?"


Namira menganggukkan kepalanya.


" Iya kak,hanya Namira yang bisa mengenali kalung itu, apakah kalung itu milik kakak atau tidak."


" Di mana tandanya.?"


" Liontinnya yang bisa dibuka kak."


" Apa? liontinnya bisa dibuka? kakak tidak mengetahui kalau liontinnya bisa terbuka dek."


" Kak, kalau orang jeli dan memperhatikannya liontin itu bisa dibuka kak, tapi kalau orang hanya melihat model dan bentuknya saja namun tidak diperiksa benar-benar mereka tidak bisa membuka liontin tersebut."


" Memang di dalam liontin itu ada apa.?"


" Ada lukisan wajah Kakak yang hanya bisa dilihat melalui kaca pembesar, itulah bedanya yang asli dan tiruan yang tiruan liontinnya tidak bisa dibuka, sedangkan yang asli kita bisa memesannya agar liontinnya bisa dibuka,Jadi siapa yang memakainya Kak, Nami ingin menemuinya dan memeriksa liontin tersebut."


" Pak Arga pimpinan perusahaan ini."


" Hah Pak Arga? Kakak ketemu dimana? kok bisa bertemu dengan dia?dia kan orangnya sulit ditemui Kak, kecuali membuat janji baru bisa bertemu, itu sih menurut cerita karyawan yang ada di kantin tadi."


" Dia tadi datang ke sini, mengeluhkan dadanya yang katanya sakit, lalu kakak periksalah, saat dia membuka bajunya kakak melihat dia memakai kalung yang sama persis dengan kalung pemberian Ayah dan Bunda itu." terang Vie pada Namira.


" Tapi dari mana dia menemukan kalung itu? Apakah saat kejadian dia berada di tempat? sebentar Kak Nami mau menanyakan pada teman Nami dulu ada berapa orang yang memesan kalung itu, tapi kalau banyak yang memesan itu namanya bukan limited edition." ucapnya sembari mengambil ponselnya, kemudian dia berjalan keluar dari klinik tersebut dan mulai menghubungi teman kuliahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2