Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 13


__ADS_3

Chapter 13🌹


Beberapa saat kemudian mobil Arga pun masuk ke halaman parkir apartemen pribadinya, Dia kemudian melangkah menuju ke arah lobby setelah memarkirkan mobilnya tersebut.


Dia memasuki lift dan menuju ke lantai atas di mana kamar apartemen pribadinya berada, Setelah dia berada di dalam Apartemennya itu, dia menghentakkan tubuhnya di sofa ruangannya tersebut, dia menatap langit-langit kamarnya itu, sekilas kemudian terbayang wajah Vie yang bersarang di kepalanya.


" Kenapa wajah Gadis itu selalu ada di dalam pelupuk mataku ini, apakah tandanya ini aku harus memperjuangkan Gadis itu, walaupun sebenarnya aku tidak mengenalinya, tapi aku mencarinya kemana dia berada, aku tidak tahu dia tinggal di mana." ucapnya kemudian dia menghela nafasnya dengan panjang, kembali dia mengusap wajahnya dengan kasar dan mengusap rambutnya dengan pelan sembari bergumam sendiri.


" Aku tidak menyangka, Kenapa dia memiliki kalung yang sama seperti yang aku pakai ini." ucapnya sembari melepas kalung yang melingkar di lehernya dia menatapi liontin berbentuk hati tersebut.


" Aku tidak ada titik terangnya untuk sebuah kalung ini, kalau memang pemiliknya adalah Tante Mirna, aku akan memberikan kalungnya ini, tapi kenapa aku merasa berat untuk memberikan kalungnya ini pada Tante Mirna, karena sangat bertolak belakang dengan hatiku." ucapnya kemudian menggenggam kalung itu dan menatap lurus ke depan, Kemudian beberapa saat dia pun berdiri dan melangkah menuju ke arah kamarnya, dia membersihkan badannya sesaat setelah itu dia berganti pakaian dengan pakaian tidurnya dan dia merebahkan tubuhnya di ranjang king size-nya itu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Keesokan harinya...


Di rumah Melva, Vie dan Namira sudah bangun, mereka berdua menunggu Melva keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi bersama, karena setiap pagi Melva tidak melewatkan sarapan untuk mengisi perutnya, sesaat sampai menunggu makan siang tiba.


Melva yang keluar dari kamarnya itu pun melangkah menuju ke arah dapur di mana Vie dan Namira menunggunya diapun tersenyum dengan kedua sahabatnya itu.


" Kok kalian nggak langsung sarapan pagi.?"


" Kami menunggu kamu.."


" Kenapa menunggu aku? kalau kamu ingin sarapan terlebih dahulu ya tidak apa-apa, karena kamu kan harusnya minum obat kamu, jangan sampai tertunda agar kamu cepat pulih dengan sedia kala." ucap Melva sembari tersenyum.

__ADS_1


" Enakan sama-sama." ucap Vie tersenyum


" Oh ya Vie, hari ini kamu diminta datang ke kantorku."


" Hari ini.?" ucap Vie setengah terkejut.


" Santai saja Vie terkejutnya." ucap Melva.


" Tapi kata kamu hari ini mau ditanyakan terlebih dahulu, lagi pula aku tidak memiliki persiapan apapun dan ditambah lagi aku masih berada di kursi roda ini."


" Iya, rencananya memang seperti itu, tapi karena aku sudah tidak sabar ingin memberikan kabar pada pimpinanku di kantor, akhirnya kata pimpinanku di kantor itu kamu boleh datang segera."


" Wah mantap itu Kak, ini adalah kesempatan yang terbaik buat Kak Vie." sambung Namira.


" Tapi Dek kakak kan masih menggunakan kursi roda."


" Baiklah, kalau seperti itu, tapi tunggu sebentar ya, aku mau bersiap-siap dulu."


" Baiklah! tapi sebelumnya kita sarapan pagi dulu gih, baru kita bersiap-siap nantinya."


Vie dan Namira pun menganggukkan kepalanya, Kemudian mereka pun menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja makan tersebut, tidak ada suara diantara mereka hanya suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan, Mereka pun larut dalam menikmati sarapan pagi yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya Melva.


Beberapa saat, mereka menikmati sarapan paginya, akhirnya sarapan itu pun sudah berpindah dalam perut mereka dan mereka pun merasa kenyang, beberapa saat kemudian Vie sudah bersiap-siap namun terlihat di wajahnya rasa ragu yang tertangkap tatapan mata Melva yang sedang menunggu Vie dan Namira di ruang tengah rumahnya tersebut.


" Kenapa wajahmu sendu Vie seperti itu, bukankah ini adalah hari yang diinginkan kamu, agar kamu bisa bekerja seperti biasanya dan kamu akan menunjukkan siapa kamu sebenarnya pada Rio, Risma dan Om Drajat." ucap Melva memberikan kekuatan pada sahabatnya.

__ADS_1


Vie menghela nafasnya dengan panjang.


" Aku sebenarnya bahagia, apalagi ini adalah cita-citaku dari dulu ingin menjadi seorang dokter, karena cita-cita itu terhambat disebabkan aku harus menjadi apa yang diinginkan Almarhum Ayah, tapi ada kekhawatiran yang aku rasakan saat ini."


" Apa yang membuat kamu khawatir?"


" Ini!" ucapnya sembari menepuk kursi rodanya dengan pelan.


Melva tersenyum, begitu juga Namira, walaupun senyumnya itu diperlihatkannya untuk sang kakak agar kakaknya bersemangat kembali menjalani hari-hari saat ini, walaupun di hatinya terpukul dengan keadaan sang kakak.


" Kakak harus semangat, kan ada Namira yang membantu kakak, karena beberapa hari ke depan libur kuliah, jadi Namira bisa menemani Kakak ke mana-mana, Namira yakin Kakak pasti bisa." ucapnya sembari memegang kedua pundak sang kakak.


" Vie, semua sudah aku ceritakan pada pimpinanku itu, beliau memakluminya bahkan beliau juga yang ingin bertemu denganmu, kamu jangan ragu, kamu harus tunjukkan pada mereka semua kalau kamu bisa tanpa mereka."


Vie menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun tersenyum sembari mengangkat salah satu tangannya sambil berucap.


" Semangat!! Aku harus semangat!!" ucapnya dianggukan Melva dan Namira.


" Nah gitu dong, harus semangat ya, udah ayo kita berangkat nanti terlambat loh." ucap Melva Kemudian mereka pun menuju ke arah mobil pribadi Melva yang sudah terparkir di depan rumahnya tersebut, beberapa saat kemudian Vie, Namira dan Melva sudah berada di dalam mobil, perlahan-lahan mobil Melva meninggalkan rumahnya menuju ke arah tempat kerjanya itu.


Beberapa saat mereka terombang-ambing di jalan menuju ke arah kantor di mana Melva bekerja, tidak berapa lama kemudian mobil itu pun memasuki sebuah halaman kantor yang memiliki beberapa lantai di mana masing-masing lantai tersebut terisi ruangan-ruangan yang khusus bekerja dalam bidang yang sudah ditetapkan oleh kantor tersebut.


Melva kemudian memarkirkan Mobilnya di area khusus parkir roda empat, kemudian Melva dibantu dengan Namira menurunkan Vie dari dalam mobil dan Namira dengan semangatnya mendorong kursi roda tersebut menuju ke arah lobi kantor itu.


" Sebentar, kalian tunggu di sini dulu, aku mau menghubungi kepala bagian ku." ucap Melva sembari dianggukan Namira dan Vie.

__ADS_1


Saat mereka menunggu di ruang tunggu lobby semua mata memandang ke arah Vie, ada yang berdecak kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh Vie ada juga yang mencibirnya, karena menganggap Vie adalah wanita yang cacat, namun Vie tidak menghiraukan tatapan dari sebagian orang yang ada di dalam lobby tersebut.


Namira yang duduk di samping sang Kakak pun hanya bisa mengusap tangan kakaknya agar kakaknya bisa menguasai rasa kesabaran yang sangat banyak, sebenarnya Namira merasa khawatir dengan keadaan sang kakak yang ditatap sebagian orang yang ada di lobby kantor tersebut dengan tatapan yang hanya mereka tahu arti pandangan sebagian orang tersebut pada mereka berdua.


__ADS_2