
Chapter 18🌹
" Begini jeng Mirna, Kalau boleh tahu di mana kalian membeli kalung yang sama tersebut, karena aku juga ingin membeli untuk keluargaku,mereka memang menyukai aksesoris." ucap Bu Diana.
Tante Mirna terdiam sesaat, kemudian ibu dan anak itu bertatapan satu sama lain.
" Sebenarnya aku hanya membeli kalung ini di pinggiran toko, aku juga tidak tahu kalau Arga memiliki kalung yang sama seperti ini." gumannya dalam hati.
" Hem...alasan apalagi yang akan dibuat oleh Tante Mirna ini, pasti dia lagi memikirkan kata-kata untuk menjelaskan pada Mama tentang pertanyaan Mama padanya itu."
" Kamu beli di mana Mir?" tanya bu Diana kembali.
" Aku juga tidak tahu belinya di mana jeng, karena aku juga dikasih sama keluargaku, tapi tidak tahu dia belinya di mana, nanti coba aku tanyakan mereka belinya di mana." ucapnya sembari tersenyum.
" Jangan-jangan belinya di pinggiran toko lagi Tante, kalung kan bis ditiru, kalau lagi ngetren yang tidak asli pasti banyak bermunculan." ucap Leo membuat wajah Tante Mirna berubah drastis.
__ADS_1
" Eh... Leo, kamu tidak boleh ngomong seperti itu dong, hargain Tante Mirna karena Tante Mirna sudah berusaha menghargai keluarganya yang sudah membelikan kalung yang sama dengan kakakmu itu, begitulah anakku ya jeng Mirna, Maafkan anakku ya anak ku ini orangnya memang cepat-ceplos, kemarin itu pengennya anak perempuan tapi ternyata yang bronjol anak laki-laki." ucapnya sembari tertawa pelan membuat Tante Mirna dan Viola tersenyum terpaksa.
" Iya Jeng nggak apa-apa, Oh ya jeng Diana, karena kami ada urusan lagi di sini juga mau bertemu dengan teman lama, kami tinggal dulu ya, karena temanku itu sudah mengirim chat pribadi pada ku."
" Loh! kenapa aku ditinggalkan, kita kan mau bicara tentang anak kita, rencana yang sudah kamu buat itu."
" Aku ? kamu bilang aku yang buat? bukankah kamu dan aku sudah menyetujuinya.?"
" Aku belum menyetujui tentang perjodohan anak kita ini, aku kan cuma membahas tentang kalung aja tadi malam, Kenapa kamu langsung mengajak aku untuk menjodohkan anakku dengan anakmu."
" Aku sih paham aja, tapi aku tidak menjurus untuk perjodohan, kalung itu akan dikembalikan kalau memang kalung itu milik kalian, aku kan ingin bukti aja, Kalau kalung itu memang milik anak kamu, kalau kamu memang mempunyai buktinya kalung itu akan kami serahkan, tapi kalau kamu tidak mempunyai buktinya kami tetap mempertahankan kalung itu, karena Arga sendiri merasa tidak yakin kalau kalunh itu milik anak kamu." ucap Bu Diana, mendengar ucapan ibu Diana seperti itu membuat Tante Mirna emosi, Dia kemudian berdiri dan menepuk meja dengan kuat.
" Ini kah balasan kamu sebagai teman yang pernah aku tolong?!!"
" Maksud kamu? kamu menolong dalam segi apa? perasaan aku tidak pernah kamu tolong, melainkan aku yang menolong Kamu, ingat nggak! saat kamu dicaci maki oleh suami kamu sendiri, siapa yang menyediakan pembelaan untuk kamu? aku!! Kenapa kamu jadi marah seperti ini, kamu tidak malu ini di tempat ramai tempat umum penuh dengan pengunjung di Mall ini, aku bicara baik-baik pada kamu, kenapa kamu terbawa emosi, Ini menandakan kalau kamu memang bukan pemilik kalung yang dipakai anakku itu." ucap ibu Diana menatap ke arah ta6nte Mirna dengan tatapan lekatnya.
__ADS_1
" Sudahlah Tante jangan bertengkar dengan Mama saya, karena benar apa yang dikatakan Mama, kalung yang Tante pakai itu bukan kalung aslinya, tapi Tante membeli di pinggir jalan, Saya yakin kalau Tante sudah berbohong, kalung Tante memang memiliki kalung yang asli dan tidak perlu marah seperti itu dong, karena Tante sepertinya memiliki rencana lain di balik kedekatan Tante dengan Mama saya."
" Heh anak kecil! Kalau kamu tidak tahu apa-apa itu jangan ikut bicara, kamu diam aja, ini urusan aku dan Mama kamu."
" Heh dengar ya Tante Mirna, Saya diajarkan Mama saya dan papah saya tidak boleh berani dengan orang tua, Tapi saat ini saya melanggar aturan mereka, dan berani dengan Anda! karena sikap Anda yang sudah tidak karuan di hadapan kami! Kalau anda ingin mempermalukan diri anda sendiri jangan ngajak-ngajak orang lain! ajarin tuh! anak Anda, siapa yang tidak kenal dengan Viola, di masa sekolah selalu berurusan dengan guru, selalu berani dengan guru, tidak mungkin orang seperti Viola itu berubah drastis seperti ini, kalau tidak Anda yang membuat sandiwara agar membuat seorang menjadi berubah dengan cepat dalam hitungan detik.!!"
Viola terkejut begitu juga dengan Tante Mirna, dia menatap lekat ke arah Leo, dengan tatapan sinisnya.
" Lebih baik kalian berdua pergi dari hadapan kami, Jangan sampai aku berbuat di luar kemampuan kalian berdua, mulai sekarang anda tidak perlu dekat lagi dengan Mamahku karena aku tidak akan membiarkan Anda mendekati mamaku kembali ingat itu."
Tante Mirna hanya mendengus dengan kesal, kemudian dia menarik Viola dengan kasar yang hampir saja membuat Viola terjatuh, karena menahan malunya Viola kemudian menepiskan tangan sang ibu, sembari berkata dengan ibunya itu. di hadapan mereka berdua.
" Cukup Mah! aku sudah capek mengikuti sandiwara Mama, Mama tidak memikirkan kebahagiaanku, Tapi Mama hanya memikirkan kebahagiaan Mama sendiri, aku selalu mengikuti apa yang diinginkan Mama, dan aku diinginkan Mama seperti apa kemauan Mama, aku capek Mah! mulai sekarang aku tidak mau lagi mengikuti saran Mama, aku ingin hidup bebas seperti waktu-waktu dulu yang pernah aku jalani." ucapnya kemudian berbalik menatap ke arah Leo dan bu Diana.
" Tante Diana, Leo, kalung yang dibicarakan oleh kalian itu, Aku tidak mengerti dan aku tidak memiliki kalung seperti itu, semua ini adalah saran dari Mama agar aku bisa mendapatkan anak Tante Diana dan Mama bisa duduk di atas kemewahan yang dia inginkan, asal Tante Diana tahu, kekayaan yang sering ditunjukkan oleh Mama itu adalah semuanya bohong!! kehidupan mewah yang sering diperlihatkan Mama di depan teman-temannya itu adalah hasil memaras lelaki sana-sini dengan pancingan aku dan adikku!! mulai sekarang aku tidak ada urusan lagi dengan Mama, dan kalian semua, permisi!!" ucapnya kemudian meninggalkan Tante Mirna Leo dan bu Diana.
__ADS_1
Tante Mirna pun kemudian mendengus dengan kesal dan berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang itu, kemudian ibu Diana pun tersenyum bahagia dan mereka saling bertepuk tangan karena mereka berhasil menggagalkan rencana dari Mirna tersebut.