Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 31


__ADS_3

Chapter 31🌹


Mobil yang dikendarai oleh Rio pun berhenti di depan sebuah rumah mewah, Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah menuju ke arah pintu utama rumah tersebut, belum sempat dia memencet bel itu, pintu rumah itu pun terbuka dan terlihat wajah cantik Risma yang menanti kedatangan sang kekasih, Risma pun langsung memeluk kekasihnya tersebut Rio membalas pelukan Risma tanpa sungkan Mereka pun saling memberikan kehangatan melalui ciuman di pagi hari, dari arah dalam Om Drajat bersama sang istri pun melangkah mendekati mereka berdua, Om Drajat dan Bu Desi sangat senang melihat Risma bahagia dengan Rio, Om Drajat menyapa Rio yang berada di depan pintu rumahnya tersebut.


" Masuk, masuklah calon menantu."


Rio terkejut dengan ucapan Om Drajat memanggilnya dengan sebutan calon menantu, dia menatap ke arah Risma, Risma tersenyum bahagia dan menganggukkan kepalanya, terlihat Rio pun senang dengan panggilan barunya itu, dia kemudian menyalami Om Drajat dengan Tante Desi.


Rio pun kemudian duduk di sofa.


" Oh ya Rio, bagaimana tentang proyek yang akan kita jalani nantinya?"


" Hemm...menurut AL Group perusahaan yang sudah sangat besar menanam sahamnya di proyek itu, ingin langsung melihat tempat lokasi."


" Kalau kamu sudah berangkat ke sana, kabari Om, Karena Om mau ikut bersama denganmu saja, biar sekalian kita satu kendaraan, kalau kita berhasil proyek itu sangatlah besar, akan menguntungkan masing-masing yang menanam saham di proyek itu."


" Benar sekali Om, saya juga baru sekali ini memiliki proyek yang sangat besar seperti itu, tapi keuntungan yang sangat banyak yang akan didapat jika proyek itu berhasil adalah perusahaan AL Group Om, karena perusahaan itu yang menanam saham hampir tujuh puluh lima persen banyaknya untuk proyek itu."


" Hem...Besar sekali perusahaan itu,kalau dilihat kita tidak ada apa² ya..."


" Iya Om, karena kemaren saya belum bertemu langsung dengan pemiliknya karena kemaren hanya diwakilkan saja saat rapat pembahasan tersebut."


" Iya Om juga tidak datang saat itu karena ada urusan mendadak diluar kota, hanya orang kepercayaan Om saja yang hadir kesana." ucapnya sembari menganggukkan kepalanya.


Sesaat mereka terdiam.


" Aduh Papi, Kenapa sih selalu ngomongin pekerjaan mulu, sekali-kali dong jangan omongin pekerjaan melulu, mentang-mentang calon menantunya memiliki perusahaan yang besar, ini nih yang Risma tidak sukanya, kalau mau membahas pekerjaan itu jangan saat di rumah dong." ucapnya dengan suara manjanya membuat mereka tersenyum, terlihat dia bergelayut manja dn mesra di samping sang kekasih.


" Iya... Iya,Papi tidak akan bercerita tentang pekerjaan lagi makanya kalian itu segera menikah biar Papi tidak ngoceh soal pekerjaan melulu saat berada di rumah, karena pertemuan dengan Rio kadang-kadang cuma di rumah aja, dikarenakan kami memiliki pekerjaan masing-masing."


" Iya benar itu apa kata papimu, lebih baik kalian berdua itu segera menikah, oh ya Rio bagaimana kabar kedua orang tuamu, Apakah kamu sudah mengatakan keinginan kamu menikahi Risma, Tante juga ingin segera menimbang cucu dari kalian berdua." ucap Tante Desi.


Rio hanya tersenyum saja.


" Kapan dong sayang, kamu melamar aku, aku tidak ingin kamu nanti berubah pikiran setelah kamu bertemu dengan Vie, kita kan tidak tahu bisa saja nantinya kita bertemu dengan Vie.


Rio tersenyum mesra pada sang kekasih.


" Saya belum bilang dengan kedua orang tua saya Tante, Om, nanti saya akan bicara dan meminta mereka untuk segera melamar Risma, Oh ya Tante Saya mau mengajak Risma keluar boleh kan."

__ADS_1


" Apa kamu tidak masuk kantor?" tanya Om Drajat.


" Tidak Om, karena pikiran Rio sangat mumet, Jadi Rio memilih untuk sementara waktu pergi ke pantai untuk membuat pikiran menjadi lebih bening lagi." ucapnya sembari tersenyum dan dianggukan oleh Om Drajat dan Tante Desi yang mengukir senyum di wajahnya, seakan-akan keluarga merekalah yang sangat bahagia, sayangnya kebahagiaan keluarga mereka itu di atas penderitaan keluarga Vie.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Risma, Mereka pun melajukan mobilnya menuju ke arah villa milik keluarga Rio untuk memadu kasih berdua.


Berapa saat kepergian anak dan calon menantunya itu pun Om Drajat kemudian duduk santai di teras, dia sama seperti Rio yang tidak ingin hari itu masuk kantor, sedangkan Bu Desi menuju ke arah dalam untuk mengambil minum dan beberapa camilan untuk suaminya bersantai di depan teras.


" Setelah aku mendengar Vie sudah sadarkan diri saat itu, ada perasaan tidak enak akhir-akhir ini, aku memang tidak terlalu dekat mengenal Vie tapi Vie aku akui adalah wanita yang sangat pintar, dan juga cerdas, banyak ide yang dipakai di kantor Ayahnya kala itu, kenapa di hatiku menimbulkan perasaan sepertinya akan ada terjadi sesuatu di kantorku, aku akan mempertahankan kantor itu, karena sejak lama sudah aku menginginkan kantor tersebut, usahaku selama ini tidak akan pernah aku sia-siakan, karena perjuanganku itu dari bawahan aku pertahankan, sampai saat ini aku menjadi pemilik perusahaan tersebut." ucapnya bicara sendiri.


Istrinya datang dengan membawa segelas air dan cemilan buatan sendiri.


" Ada apa Pi? kenapa terlihat ada sesuatu yang dipikirkan."


" Tidak ada Mi..."


" Ceritalah pada Mami, siapa tahu Mami juga bisa membantu Papi, kalau boleh nebak pasti masalah Vie yang mengganjal dipikiran papi, iyakan?"


" Iya Mi...papi merasa khawatir akhir-akhir ini, karena dia kan sudah bangun dari komanya, Papi tahu anak itu sangat pintar dan gesit dan Papi bersusah payah untuk mengubah semua struktur perusahan itu, karena semua struktur yang dulu adalah gagasan Vie." ucapnya sembari meneguk teh hijau buatan sang istri, terdengar ibu Desi menghela nafasnya.


" Dia tidak akan bisa merebut apa yang kita miliki Pi, karena ini adalah kerja keras kita dalam merebut semuanya, Mami tidak ingin hidup susah seperti dulu, jadi pesuruh mereka terus baik Papi ataupun Mami ..." rengek bu Desi pada sang suami.


Dianggukkan Ibu Desi sembari tersenyum.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di Kantor AL Group.


" Arga...Mamah harap kamu bisa menyelesaikan proyek itu dengan sempurna."


" Iya Mah..."


" Harus kak, abaikan mereka yang ada didalam proyek tersebut termasuk suami Sonia." Sambung Leo.


" Mah, terpaksa Leo akan berangkat kembali keluar Negeri, karena ada masalah sedikit diperusahan yang ada disana."


" Kapan kamu berangkat?"


" Besok pagi Mah."

__ADS_1


" Baiklah, selesaikan dengan sebaiknya disana."


" Siap Mah!"


" Kalau kamu kapan melihat lokasi proyek tersebut?"


" Dua hari lagi mah." ucpnya sedikit tidak bersemangat.


" Kamu kenapa Kak?"


Membuat Bu Diana terkejut dengan pertanyaan Leo pada sang kakak.


" Ada apa Arga?"


" Hem...tidak apa-apa Mah."


" Kakak pasti tidak ingin berangkat kesana, karena dia meninggalkan dr Vie terlalu lama."


Arga langsung menoleh kearah Leo sesaat membuat Bu Diana tersenyum.


" Pengen sekali Arga wakilkan Mah, Tapi Arga tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah percaya sepenuhnya pada perusahaan kita." ucapnya sembari berdiri kemudian menuju kearah meja kerjanya.


Lagi-lagi Ibu Diana tersenyum membuat Leo merasa heran dia kemudian mendekati sang Mama dan melangkah meninggalkan ruangan Arga.


Arga hanya menatap kepergian Mamah dan Adiknya itu, diapun menyandarkan kepalanya seraya menarik nafasnya dengan berat seberat waktu yang sedang berjalan dua hari kedepan.


" Aku akan lama berada disana, dan kesempatanku mendekati lebih dekat Vie tertunda." ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan.


" Mamah...sebenarnya ada rencana apa yang Mamah rencanakan?"


" Ada aja..."


" Cerita dong Mah..."


Kemudian Bu Diana menceritakan rencananya untuk Arga pada Leo.


" Mantap Mah! Leo suka rencana Mamah! Tapi Mah..."


" Mamah mengerti apa yang kamu maksudkan."

__ADS_1


Kemudian Bu Diana pun menghubungi seseorang dan terlihat Bu Diana berbicara pada orang tersebut membuat Leo merasa heran siapa yang dihubungi sang Mamah.


__ADS_2