
Chapter 32🌹
Setelah Bu Diana berbicara dengan seseorang melalui ponsel pribadinya itu, dia pun kemudian tersenyum dan meletakkan ponsel itu di meja yang ada di depannya, dia menatap sang anak sembari tersenyum manis.
" Siapa yang Mama telepon, bukankah rencana Mama itu, Mama sendiri yang akan menjalankannya, kenapa Mama menghubungi seseorang? siapa orang itu.?"
" Dia adalah teman Mama, kamu juga kenal kok, sebentar lagi Dia akan menuju ke sini."
" Leo kanal? siapa Mah.?"
" Ish-ish...Anak ini kepo amat sih, dokter Rossi yang Mamah hubungi."
" Dr Rossi?Kenapa Mama mau melibatkan dokter Rossi? buat apa Mama menghubunginya, ini kan tidak ada sangkut pautnya dengannya Mah, kalau masalah kesehatan ataupun masalah penyakit Mamah kan bisa konsultasi langsung dengan dr Vie, lagi pula Leo rasa dokter Vie sama juga kok seperti dokter Rossi, kenapa Mamah melibatkan dokter Rossi sih? Apa sih dibalik rencana ini, Mama nggak bilang kalau mau menghubungi dokter Rossi pada Leo."
" Kamu tenang aja, ini demi kakakmu, kalau tidak dengan cara ini tidak akan jalan rencana Mama."
" Memang dr Rossi sudah tahu semuanya mah?"
" Sudah!" ucapnya tersenyum
" Kapan Mama cerita padanya.?"
" Tadi malam, Mama memang merencanakan ini semua agar Kakak mau bisa dekat dengan dokter Vie."
" Apa rencana di balik ikut sertanya dokter Rossi, Mama harus ceritakan dulu dong pada Leo sebelum dr Rossi datang."
Bu Diana pun tersenyum, Dia kemudian menceritakan semuanya pada sang Anak, terlihat senyum mengembang di wajah Leo mendengar cerita Sang Mamah, dia pun menganggukkan kepalanya dia merasa rencana Mamanya ini pasti akan berhasil, apalagi ada seorang dokter yang bisa meyakinkan dokter Vie agar bisa ikut bersama dengan sang kakak.
" Mantap sekali rencana Mama, Leo jadinya sangat tenang meninggalkan Kakak pergi ke luar Negeri,jika seandainya tidak ada masalah kecil di luar Negeri, Leo pasti akan tetap di sini, tapi kenapa sih Mah perusahaan di luar Negeri itu tidak dipercayakan dengan orang yang lain, biar Leo mendampingi Kakak di sini aja, rasanya Leo itu berat sekali mau berangkat ke luar Negeri."
" Hus! kamu nggak boleh seperti itu dong, itu adalah jerih payah Mama untuk membuka perusahaan yang ada di luar Negeri, kalau kita mempercayakannya pada orang lain, Mama takut nantinya ada yang menusuk Mama dari belakang, kakak kamu paham dengan perusahaan di sini daripada perusahaan yang di luar Negeri, Lagi pula perusahaan itu mutlak untuk kamu."
Leo hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian dokter Rossi yang ditunggu dari tadi akhirnya sudah datang, Dia mengetuk pintu ruangan Ibu Diana.
__ADS_1
Ibu Diana tersenyum karena sang sahabat sudah datang, Mereka pun kemudian duduk di sofa bersama dengannya.
kemudian Ibu Diana mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Vie di ruangannya.
Karena pagi ini mereka memang tidak melihat Vie ataupun berpapasan dengannya, Jadi mereka tidak mengetahui kalau Vie sudah bisa berjalan sendiri tanpa menggunakan kursi roda lagi.
" Dokter Vie, bisakah dojter ke ruangan saya sekarang?"
" Oh siap Ibu, saya akan segera ke sana." ucapnya. Kemudian mereka pun memutus sambungan bicaranya itu.
" Kamu masih ingin menjalankan rencana itu?" Tanya Dokter Rossi
" Iya dong Rossi, aku hanya memerlukan kamu agar meyakinkan si bu dokter satu ini, karena aku yakin kalau anakku itu memang menyukai dia."
" Memang bagaimana caranya dokter Rossi meyakinkan dokter Vie.?" tanya Leo penasaran.
Dr Rossi Kemudian menceritakan rencananya kepada Leo, sebelum dokter Vie datang, Leo kemudian menganggukkan kepalanya setelah mendengar rencana dr Rossi, dia merasa senang karena dua orang ibu yang ada di hadapannya itu akan menjalankan rencana mereka berdua.
" Bagaimana menurut kamu Leo, apakah rencana mama dan dokter Rossi ini akan berhasil.?"
Mereka bertiga pun tersenyum, terdengar ketukan di pintu ruangan tersebut, mereka menoleh ke arah pintu terutama Ibu Diana dan Leo yang terkejut melihat Vie berdiri dengan kedua kakinya tersebut sembari tersenyum.
Dr Vie..." ucap Ibu Diana sembari berdiri dan mendekatinya.
" Apakah Ibu tidak salah lihat? kalau kamu sudah berdiri dengan kedua kakimu sendiri.?"
Vie hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Ibu Diana kemudian mengajaknya duduk di sofa, Leo terlihat tersenyum bahagia melihat Vie yang awalnya berkursi roda, sekarang sudah bisa melangkah dengan kedua kakinya, dia terkagum karena terlihat anggun sekali Vie melangkah dengan kedua kakinya sembari dia bergumam di dalam hatinya.
" Kak Arga pasti akan terkejut, melihat semuanya ini. Karena wanita pujaannya sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, dia terlihat anggun dengan kedua kakinya itu, dia sudah mampu melangkah dengan kedua kakinya tersebut, syukurlah... " gumamnya dalam hati sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan bertopang dengan salah satu tangannya yang menyangga kepalanya sembari menatap Vie.
Vie ditatap oleh Leo pun hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Ada apa Bu, Ibu memanggil saya ke sini.?"
" Maaf dr Vie, Ibu mengganggu kamu, karena ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan denganmu."
__ADS_1
" Maaf, soal apa ya Ibu.?"
" Begini....." ibu Diana pun Kemudian menceritakan semuanya pada Vie, setelah Ibu Diana menceritakan semua keinginannya pada Vie, Vie terkejut.
" Apa Ibu? kenapa mesti saya yang harus mendampingi Pak Arga.?"
Ibu Diana tersenyum.
" Tapi Ibu, Bagaimana kalau saya meninggalkan kantor ini dan klinik akan kosong kembali."
" Dokter Vie, kamu jangan khawatir, ada saya yang akan menangani di klinik kamu." ucapkan dokter Rossi tersenyum.
Vie kemudian menatap ke arah dokter Rossi dan menganggukkan kepalanya.
" Seharusnya saya yang ikut menemani pak Arga, tapi karena saya sudah tidak terlalu kuat untuk pergi jauh, saya yang harus menggantikan kamu di klinik ini."
" Memang kenapa dengan pak Arga Bu, kalau boleh tahu kenapa meski harus ditemani seorang dokter.?"
" Arga tidak bisa jauh-jauh dari seorang dokter, karena dia memiliki penyakit yang aneh."
" Hah? maksudnya penyakit aneh apa ya dokter?" tanya Vie.
" Saua yang bilang memiliki penyakit aneh, tapi sebenarnya dia itu tidak ada penyakitnya, dia memang harus didampingi seorang dokter, di saat dia stress, kecapean menghadapi berbagai macam pekerjaan, dia memang harus memerlukan seorang dokter di sampingnya, biasanya dia konsultasinya pada saya, tapi karena saya tidak ikut dan saya serahkan semuanya pada kamu, sebisa kamulah untuk memberikan solusi kalau dia mengeluhkan rasa sakitnya, itulah yang saya anggap dia memiliki penyakit yang aneh."
" Kadi obatnya bagaimana?" tanya Vie merasa bingung kalau seandainya memang benar apa yang diucapkan oleh dokter Rossi terhadapnya itu.
" Dia tidak mau minum obat, tapi dia perlu mendengarkan kita berbicara dan menyegarkan pikirannya kembali."
" Benar apa kata dokter Rossi, saya tidak bisa ikut juga, karena saya harus tetap di kantor ini, sedangkan Leo besok berangkat ke luar Negeri, untuk menyelesaikan pekerjaannya yang ada di sana."
Vie menghela nafasnya dengan panjang.
" Kamu bersedia menemani Arga beberapa hari di sanakan dokter?" tanya Ibu Diana.
Vie hanya menganggukkan kepalanya, karena dia tidak ada pilihan lain lagi selain mengikuti perintah dari ibu Bosnya itu.
__ADS_1
Ibu Diana tersenyum bahagia, Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Arga yang berada di ruangannya itu.