Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 17


__ADS_3

Chapter 17🌹


Sesampainya di ruangannya Arga kemudian menghentakkan kembali tubuhnya di kursi kerjanya setelah melepaskan jas yang dipakainya itu, dia melonggarkan dasinya dan membuka kembali kerah bajunya terlihat dia mengambil berkas proposal yang ada di atas mejanya tersebut, kemudian dia pun mulai mempelajari proposal itu.


Beberapa saat Arga mempelajari proposal yang diberikan oleh pihak prima Group tersebut, dia pun menutup kembali proposal itu,Arga menghela nafasnya kembali dengan panjang.


" Sebenarnya aku ingin mewakilkan tentang pembangunan hotel ini, karena aku tidak ingin bertemu kembali dengan Bayu tapi atas permintaan pimpinan prima Group, aku harus terjun langsung karena proyek ini sangat besar." ucapnya berbicara sendiri sembari menatap kembali proposal tersebut, lagi-lagi dia menghela nafasnya dengan panjang dan menyingkirkan proposal itu dari hadapannya dan dia menghidupkan laptopnya untuk melihat ada beberapa email yang masuk ke email pribadinya tersebut, Arga mulai sibuk dengan email emailnya itu.


Sedangkan bu Diana dan Leo sudah berada di Mall untuk bertemu dengan Mirna teman sosialitanya itu.


Dari kejauhan terlihat Mirna melangkah bersama dengan seorang gadis, awalnya Leo tidak melihat gadis tersebut, Tapi setelah diberitahu oleh Bu Diana Leo pun kemudian menatap ke arah anaknya Tante Mirna itu, dia terkejut dengan wanita tersebut.


" Viola...?" ucapnya membuat bu Diana merasa heran.


" Kamu kenal dengan anaknya Mirna?"


" Leo kenal banget Mah, dia adalah teman sekolahnya Leo, dia itu tidak selesai sekolahnya Mah, dia itu anaknya nggak beres." ucap Leo sembari mengacungkan kedua tangannya memberikan kode tanda kutip pada sang Mama melalui isyarat dua jarinya.


" Masa iya sih? kok kamu tidak cerita sama Mama.?"

__ADS_1


" Ya iyalah Leo tidak cerita sama Mama, karena Leo belum melihat anaknya Tante Mirna itu seperti apa, yang ulang tahun kemarin kan bukan dia Mah, lagi pula saat Leo dan Kak Arga menjemput Mama di gedung itu, dia tidak ada, padahal Leo kan udah lama melihat memperhatikan orang-orang yang datang ke acara itu."


" Jadi yang dikatakan oleh Tante Mirna kalung yang dipakai sama kak Arga itu adalah miliknya Viola?" tanya Leo, dianggukan oleh bu Diana.


" Viola itu adalah anak pertamanya dari Tante Mirna dan yang merayakan ulang tahun tadi malam itu adalah anaknya yang kedua."


" Mama nggak memberikan foto Viola sih, Leo tidak yakin kalau kalung yang dipakai oleh kak Arga itu adalah milik dia, tapi kita lihat aja nanti, Apa keterangannya dan ceritanya,kita akan mendengar penjelasannya kembali." ucapnya sembari menatap ibu dan anak tersebut yang sudah dekat dengan meja mereka.


" Hai...jeng..udah lama ya menunggunya? Maaf ya, biasa jalanan macet." ujaranya sembari duduk di depan bu Diana dan meletakkan tas tangannya, Viola seakan-akan tidak kenal dengan Leo, dia hanya tersenyum saja dengan Leo, dia duduk di depan Leo, namun dia tidak menegur sama sekali dengan Leo.


" Idih!!nih cewek, seakan-akan tidak mengenalku aja, takut sifat aslinya terbongkar ya..." ucap Leo dalam hati sembari menatap ke arah Viola.


" Oh ya Jeng, mana Arga? katanya mau bertemu dengan Viola, Kenapa adiknya yang di bawa?"


" Nggak masalah lupa menaruh barang yang penting tidak lupa sama istrinya nanti." ucapnya sembari terkekeh, bu Diana pun ikut terkekeh juga, tapi tidak dengan Leo, Dia memalingkan wajahnya sembari mencibir, karena dia sebenarnya sudah tidak betah kalau berhadapan dengan Tante Mirna.


" Jeng Diana, ini loh Viola, selama ini aku tidak memperkenalkan Viola padamu, karena Viola ini anak yang pemalu, lagi pula dia selama kehilangan kalung itu, dia jadi pendiam, ya lihat aja sendiri ini kan dia jadi pendiam."


" Kampret!! pendiam jidat mu lebar Tante, ibu dan anak kok pembohong, siapa yang tidak tahu dengan anakmu itu Tante, anakmu itu sangat terkenal saat sekolah, sekolah aja dia selalu bolos sama cowoknya, sama kayak hidupnya yang tidak selesai juga, selalu memanfaatkan keadaan, sikap tidak pernah berubah Tante!" gumam Leo sembari menatap lekat ke arah Viola yang sepertinya sudah disetting sikapnya oleh sang Mama.

__ADS_1


" Sayang kenalkan ini adalah temannya Mama, namanya tante Diana." ucapnya sembari menyentuh tangan sang anak, kemudian Viola pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dan menangkupkan kedua tangannya didada.


" Hallo Tante, aku Viola, senang bertemu dengan tante Diana, ternyata tante Diana itu aslinya cantik banget ya, Viola Jadi iri deh dengan Tante, karena di usia senja Tante ini, Tante sangat pintar merawat diri." ucapnya sembari tersenyum.


" Ah! kamu bisa aja, Tante malah senang bertemu dengan kamu, kamu juga anaknya cantik, pasti laki-laki bertemu denganmu nantinya pasti bahagia bisa mempersunting wanita cantik seperti kamu." ucap bu Diana sembari tersenyum.


" Aduh! Mama, pinter juga pada aktingnya, bagaimana cantiknya dengan dokter muda yang ada di kantor kakak, katanya lebih cantik dari wanita yang ada di luar sana, Mama bisa aja deh." ucap Leo dalam hati sembari tersenyum menatap ke arah sang Mama, Bu Diana pun menatap sesaat ke arah anaknya, bu Diana sepertinya paham dengan isi pikiran anaknya itu, dia hanya memberikan senyum terbaiknya pada sang anak.


" Oh ya, Viola ini anak Tante namanya Leo, ini adalah anak bungsu Tante, Ayo dong Leo kenalan sama Viola."


" Sebenarnya aku males banget kenalan dengan cewek ini, tapi karena mama yang membuat sandiwara aku sih sebagai perannya oke-oke aja." gumamnya dalam hati sembari mengulurkan tangannya bersalaman dengan Viola.


" Leo..." ucapnya.


" Viola..." jawabnya sembari tersenyum.


" Semoga saja Leo tidak mengenaliku, Dan semoga saja dia lupa tentang masa laluku di sekolah dulu, ini sih Mama nggak bilang-bilang padaku kalau Tante Diana ini adalah orang tuanya Leo, kalau aku mengaku kenal dengan Leo otomatis rencana Mama pasti akan gagal semua, Mama menginginkan aku kenal dekat dengan Arga kakaknya Leo, bukan dengan Leo nya,." gumamnya dalam hati sembari memalingkan wajahnya ke arah lain, merasa tidak senangnya karena Leo hadir sama bu Diana bukan Arga.


" Oh ya jeng Diana, bagaimana rencana kita untuk mempersatukan kedua anak kita nantinya, kamu berceritakan kalung punya Viola itu tidak gatal dipakai sama Arga."

__ADS_1


" Iya kalungnya memang tidak gatal sama Kak Arga, tapi anakmu yang gatal pengen menikah dengan Kak Arga." ucap Leo di dalam batinnya sembari mengukirkan senyum di ujung bibirnya dengan senyum yang dapat diartikan ketidaksenangannya tersebut pada Viola dan Tante Mirna yang pandai memainkan sandiwara perannya sebagai penipu kelas kakap.


" Jangan harap bisa mendapatkan cintanya Kak Arga, Kamu mimpi Viola, karena rencanamu sudah diketahui oleh targetmu sendiri." gumam Leo sembari tersenyum sinis tersembunyi.


__ADS_2