
Chapter 37 🌹
" Hari ini aku kehilangan jejak Vie, kenapa tadi aku tidak langsung aja mengikutinya, Ah!! sial!" ucapnya sembari memukulkan tangannya distir mobilnya itu.
Sedangkan mobilnya Arga dengan tenang melaju menuju kearah rumah Melva, saat dilampu merah mobil Arga dan mobil Rio berhenti saling berdampingan namun karena kekesalan menguasai Rio dia tidak melihat kalau di samping kanannya itu adalah Vie yang duduk di dalam mobil Arga dengan posisi memandang lurus ke depan dan dalam kondisi kaca mobil terbuka, Vie tidak menoleh ke samping Begitu juga dengan Rio sedangkan Arga fokus menatap ke arah depan setelah lampu hijau menyala Mereka pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Arga itu pun sampai di depan rumah Melva,Vie menghela nafas panjangnya.
" Terima kasih ya Pak Arga, karena sudah mengantarkan saya pulang."
Arga memberikan isyarat melalui matanya dan mengangguk dengan pelan sembari bersuara.
" Sama-sama Bu dokter."
Vie pun membuka pintu mobil tersebut namun sebelum dia turun Arga berbicara.
" Oh ya Bu dokter jangan lupa ya jam 07.00 malam."
Vie menoleh ke arah Arga dia pun kemudian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dia Lalu turun dari mobil tersebut dan melangkah menuju ke dalam halaman rumah Melva dengan diiringi tatapan mata Arga sembari tersenyum, setelah Vie masuk ke dalam rumah Melva, Arga kemudian melajukan kembali mobilnya itu, lagi-lagi Arga berpapasan dengan mobil Rio yang melewati rumah Melva, namun Rio tidak menyadari kalau yang dia lewati sekarang itu adalah jalan rumah Melva sahabat Vie.
Vie menghentakkan tubuhnya di sofa ruang tengah rumah Melva, dia menghela nafasnya dengan panjang.
" Dasar lelaki penipu! begitu mudahnya dia mengatakan kalau dia hanya mencintaiku padahal aku ini sudah diduakannya disaat aku tidak sadarkan diri." gumamnya kesal sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dia pun memejamkan matanya sesaat meresapi kekesalan dihatinya karena sudah bertemu dengan Rio yang dianggapnya sudah mati itu.
" Vie..." panggil Melva yang baru saja datang dari kantor selang beberapa menit Vie sampai di rumah, Vie membuka matanya dan mengusap wajahnya dengan pelan dia tersenyum melihat Melva melangkah mendekatinya, Melva duduk di samping Vie, dia menatap wajah Vie yang terlihat sendu.
" Ada apa denganmu Vie? Apakah kamu merasa kurang enak badan?"
" Aku tidak sakit kok Melva, tapi aku merasa kesal aja."
__ADS_1
" Kamu kesal dengan siapa?"
" Aku tadi bertemu dengan Rio."
" Apa? kamu bertemu dengan Rio, di mana?"
" Di pusat kuliner, Aku tidak tahu kalau dia juga ada disitu, aku tidak sengaja melihatnya, yang membuat aku kesal dan muak karena dia itu mengatakan kalau aku hanyalah wanita satu-satunya yang dicintainya, Ais!! bikin muntah aku dengarnya dengan mengatakan dia sudah menjaga dan mencari aku selama ini, ingin rasanya aku menampar mulutnya tadi, tapi aku masih terpikir Namira, karena aku tidak ingin meninggalkannya untuk yang kedua kalinya, tujuh bulan itu sudah cukup Nami seorang diri tanpa aku, karena aku tidak bisa melihat berapa banyak air matanya yang keluar karena kehilangan kedua orang tua dan kesepian karena aku tidak sadarkan diri." ucapnya sembari menghela nafas panjangnya.
Melva penghela nafasnya dengan panjang.
" Kamu yang sabar ya, tapi apakah dia tahu kamu tinggal di sini?"
Vie menggelengkan kepalanya.
" Setelah dari pusat kuliner itu Aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan aku kembali ke kantor aku berencana ingin bersama dengan kamu kembali ke rumah, tapi aku diantarkan oleh Pak Arga, karena saat itu aku ketemu dengan Pak Arga di lobby." ucapnya, lalu Vie menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, Melva kemudian membenarkan posisi duduknya.
" Vie, Aku harap padamu Kamu tidak berubah pikiran setelah Rio mengatakan semuanya itu padamu, aku sih tidak masalah kalau seandainya kamu ingin memperbaiki hubungan kamu dengan Rio, karena aku tidak tahu kadar cinta kamu pada Rio, dan aku juga tidak tahu apakah Rio dan Risma masih berlanjut atau tidaknya, Tapi menurut aku Rio itu tidak pantas untuk kamu, kamu mengalami musibah yang sangat berat selama 7 bulan lamanya, kamu tidak sadarkan diri dia sedikitpun tidak ada perhatiannya padamu, malah berselingkuh dibelakangmu, bagaimana kalau seandainya kamu membina rumah tangga dengannya, aku memiliki keyakinan tidak ada kebahagiaan diantara kalian berdua, Aku sarankan kamu tidak usah lagi dekat dengan dia, kita sama sebagai seorang wanita Vie,aku merasakan bagaimana rasanya sakit di hati kamu walaupun sebenarnya aku tidak merasakannya seperti apa yang kamu alami,tapi aku tahu benar bagaimana kekecewaan yang sangat besar kamu rasakan itu di samping kamu disakiti oleh kekasihmu sendiri bahkan orang-orang terdekatmu juga menyakitimu, kekasihmu sudah tega menghianati cinta tulus yang kamu berikan padanya dengan orang terdekat kamu seperti Risma itu."
" Aku tidak akan pernah kembali padanya, bahkan aku tidak akan memberikan peluang untuknya mendekati aku kembali, karena sudah satu kali ini aku merasakan sakit yang tidak terhingga di dalam hatiku, Aku tidak akan memberikan kesempatan kepadanya Walaupun sedetik."
Melva mengusap pundak sahabatnya itu sembari tersenyum.
" Aku percaya padamu Vie, Jangan beri peluang untuk orang seperti itu, karena dia adalah masa lalumu, yah aku menganggapnya itu adalah masa lalu mu yang masih hangat, karena dalam tujuh bulan berlalu dia tidak setia, bagaimana kalau dalam beberapa tahun? pastinya tidak akan berbentuk lagi cinta tulus kamu padanya, kamu harus menghadapi masa sekarangmu,disaat kamu bangun dari tidur kamu selama tujuh bulan lamanya itu sudah cukup bagimu melewati masa lalu mu, kamu harus bangkit dalam melewati masa sekarang mu ini, aku selalu bersama denganmu." ucapnya tersenyum.
Lagi-lagi Vie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Vie pun meraih tangan sahabatnya itu dan menempuknya dengan pelan.
" Itu pasti Melva, Aku tidak akan pernah memberikan peluang padanya walaupun apapun yang dikerjakannya dan dilakukannya untuk menarik perhatianku, itu tidak akan membuat aku kembali kepadanya, Aku tidak pernah untuk kembali kepadanya."
__ADS_1
" Assalamualaikum..." ucap suara Namira yang baru datang dari luar menghentikan pembicaraan mereka berdua.
" Waalaikumsalam...." mereka berdua pun menoleh ke arah langkah Namira menuju ke arah mereka berdua, Namira pun kemudian meraih kedua tangan sang kakak dan mencium punggung kedua orang yang disayanginya itu.
" Baru pulang dek?" Tanya Vie.
" Iya Kak..." jawab Namira sembari menghentakkan tubuhnya di sofa.
" Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan dengan kamu Vie..."
" Tanya soal apa ?"
" Tadi Ibu Diana masuk ke ruanganku dan mengatakan padaku kalau kamu yang akan menemani pak Arga ke luar kota untuk melihat lokasi proyek yang akan dibangun tersebut."
Vie menghela nafasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan pelan.
" Wah bagus itu, berarti kak Vie bisa bersama selalu dong dengan Pak Arga, jujur ya Kak, aku tuh senang banget kalau kakak berdekatan dengan Pak Arga, Aku merasa tenang sekali, tak tahu kenapa rasanya pak Arga itu bisa menjaga kak Vie,Pak Arga itu orangnya sangat perhatian dan penyayang lelaki seperti pak Arga itu banyak didambakan oleh perempuan yang ada di luar sana, di samping tampan, berwibawa, yah pokoknya sangat didambakan sekali oleh kaum hawa."
" Idih Dek, apa-apaan sih dia itu Bos kakak." ucap Vie tersenyum.
" Ya siapa tahu aja Dewi Fortuna melepaskan busur panahnya pada Kakak dan Pak Arga lalu kalian bersatu di pelaminan benar enggak kak Melva."
" Hem.... bener banget itu! aku mendukung banget kalau seandainya Pak Arga memang ada hati dengan kamu Vie."
Vie hanya tersenyum saja, kemudian dia pun terlihat kembali terasa resah di wajahnya Melva kemudian menegurnya.
" Memang kenapa sih kok kamu terlihat resah, seharusnya kamu senang dong bisa menemani Pak Bos."
" Aku sih sebenarnya senang aja menemani pak Arga, tapi..." Vie menggantung kalimatnya.
__ADS_1
" Tapi kenapa Vie? kamu kan sebenarnya menguasai juga di bidang perkantoran, jadi tidak terlihat kaku nantinya kalau kamu bersama dengan Pak Arga menangani proyek itu."
Terlihat Vie menghela napasnya kembali, Dia kemudian menyandarkan tubuhnya sembari merebahkan kepalanya di sandaran sofa menatap langit-langit ruang tengah rumah Melva tersebut, Melva dan Namira saling berpandangan karena mereka berdua merasa heran Ada apa dengan Vie.