Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 22


__ADS_3

Chapter 22🌹


" Halo Cici..."


" Iya Nami ada apa?"


" Maaf Ci, aku mengganggu kamu."


" Nggak kok, aku lagi santai aja nemenin Mama di toko nih, emang ada apa.?"


" Aku mau tanya satu hal nih sama kamu."


" Ada apa Nami, kalau bisa aku jawab, Tapi kalau nggak bisa kita sama-sama mencari jawabannya ya, hehehe..."


Namira pun ikut tertawa


" Begini Ci, kalung yang pernah aku pesan denganmu itu, kamu bilang kan tidak ingin membuatkan untuk yang lain, hanya untuk aku saja, karena untuk hadiah ulang tahun kakakku."


" Iya memang itu khusus untuk kamu aja yang lainnya aku nggak mau membuatkannya di samping rumit, kadang-kadang dijual kembali pada kami, memangnya kenapa dan ada apa, kok kamu bisa bertanya tentang kalung itu.?"


" Beneran, kamu tidak membuatnya untuk orang lain lagi selain aku?" Tanya Namira meyakinkan perkataan dari Cici temannya tersebut.


" Iya Nami, aku tidak membuatkan untuk siapapun, orang tuaku juga tidak mau membuatkan untuk siapapun, terkecuali orang memang pengen dibuatkan dan tidak pernah untuk dijual kembali, memangnya kenapa sih, kok kamu nanya itu, itu kan sudah lama, Apakah kalungnya hilang atau ada orang yang menemukannya dan memakainya kembali.?"


" Iya, perkiraan kamu itu emang benar, kalung kakakku itu hilang saat kejadian kecelakaan 7 bulan yang lalu dan ada orang yang memakainya, bentuk kalung itu pun sama persis, kamu kan bilang kemarin cuma aku yang kamu buatkan, tapi kok ada yang sama ya?"


" Bisa jadi itu tidak asli, Apa kamu sudah menanyakannya pada orang tersebut.?"


" Belum sih, karena orang itu Bosnya kakak aku."

__ADS_1


" Udah, kamu tanyakan aja baik-baik, wajar kan kita bertanya, lagi pula kan punya kakakmu memang hilang, sudah dicari di mana-mana belum.?"


" Sudah aku cari ke mana-mana, tapi tidak ada aku temukan, sampai sekarang, Nah pas hari ini baru kakakku melihatnya Bosnya itu memakainya."


" Ya udah, kamu tanya aja dulu, lalu kamu periksa aja, karena yang asli itu kan buatan toko kami, terus sesuai dengan keinginan kamu, orang bisa membuat bentuknya sama,tapi tidak seperti yang punya kamu, karena punya kamu itu istimewa liontinnya, bisa dibuka dan ada juga foto kakak kamu di dalamnya, coba deh kamu tanya dulu." ucapnya sembari senyum walaupun Namira tidak melihat senyuman dari Cici.


" Baiklah, terima kasih ya atas sarannya dan penjelasannya."


" Oke deh..." ucapnya kemudian memutus sambungan bicara mereka, Namira menghela nafasnya dengan panjang,dia kemudian menemui sang kakak, Dia lalu menjelaskan pada sang kakak kalau temannya itu tidak pernah membuatkan kalung berbentuk yang sama seperti punya kakaknya tersebut, Vie hanya menganggukkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi rodanya tersebut.


" Apakah Nami harus menemui Pak Bos Kakak sekarang.?"


" Nanti aja Nami, lagi pula kamu juga tidak tahu di mana ruangan dia berada."


" Kan ada Kak Melva atau tidak kita minta bantuan sama Pak security untuk mengantarkan Nami bertemu dengan Pak bosnya kakak."


" Hem...nanti aja dek." ucapnya.


Beberapa saat kemudian ruangan itu pun kedatangan pasien untuk kesekian kalinya, beberapa orang yang mengeluhkan sakit pada diri mereka, Nami kemudian izin pada sang kakak untuk pergi ke kantin mencari cemilan untuk dirinya, Vie menganggukan kepalanya, padahal itu hanyalah akalnya saja agar dia bisa menemui Arga dan menanyakan tentang kalung yang dipakai oleh Arga tersebut.


" Kesempatanku untuk bertemu Pak Arga dan menanyakan secara langsung tentang kalung tersebut." ucapnya, dia pun melangkah menuju ke ruangan Melva karena memang dia tidak tahu di mana ruangan Arga berada, saat dia menuju ke arah ruangan Melva dia melihat Melva hendak keluar dari ruangannya membawa beberapa berkas di tangannya, dia pun kemudian mendekati Melva sembari memanggilnya.


" Kak Melva,..."


Melva yang dipanggil menoleh ke arah Namira, Dia mendekati Namira dengan tatapan herannya.


" Apakah ada terjadi sesuatu dengan Vie.?"


" Tidak Kak, ada yang ingin Namira tanyakan pada kakak."

__ADS_1


" Soal apa.?"


Kemudian Namira menceritakan semuanya serta keinginannya untuk bertemu dengan Arga secara instan, Namira menceritakan semua kejadian tersebut pada Melva.


Melva mendengarkan dengan seksama kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


" Ya udah, kita bareng-bareng ke ruangan Pak Arga, karena kebetulan Kakak juga mau bertemu dengan Pak Arga untuk memberikan berkas yang ada di tangan Kakak ini, dan perlu ditandatangani dan dikoreksi olehnya." ucap Melva sembari tersenyum dia pun kemudian meraih tangan Namira, mereka berdua pun menunggu kearah depan lift dan menunggu pintu lift terbuka, setelah pintu lift terbuka, Mereka pun menuju ke arah lantai atas di mana ruangan Arga berada.


Beberapa saat mereka berdua berada di dalam lift itu pun berhenti di tujuan, mereka keluar dari ruangan lift tersebut, mereka melangkah menuju ke arah ruangan Arga, Melva mengetuk pintu ruangan Arga, terdengar dari arah dalam, sebuah suara menyuruh mereka masuk, pintu terbuka Melva dan Namira masuk ke dalam Arga menatap heran ke arah Namira dan Melva yang berbarengan mendekati arah mejanya, Namira hanya berdiri saja sedangkan Melva menyerahkan beberapa berkas yang memang harus ditujukan kepada Arga.


" Maaf pak, ini berkas-berkasnya yang Bapak minta." ucapnya sembari menyerahkan berkas itu di atas meja.


Arga menganggukkan kepalanya kemudian dia berdiri dari duduknya.


" Ada apa?" tanyanya pada Melva sembari menatap ke arah Namira.


" Ada yang ingin Namira tanyakan pada Bapak, Namira ini adalah adiknya dr Vie."


" Iya, saya sudah tahu dan saya juga sudah bertemu dengan Namira ini.


" Baiklah, silakan duduk di sofa aja biar kita bisa bicaranya, tidak enak kalau kita berbicara sambil berdiri seperti ini." ucap Arga.


Mereka bertiga menuju ke arah sofa, kemudian mereka duduk di hadapan Arga.


" Apa yang ingin kamu tanyakan?"


" Begini Pak, Bapak tadi datang ke tempat praktek kakak saya, Kakak saya melihat kalau Bapak memakai sebuah kalung yang berliontinkan berbentuk hati, bolehkah saya melihat liontin itu? karena kakak saya kehilangan kalung seperti yang dipakai Bapak itu, beberapa bulan yang lalu saat dia mengalami kecelakaan."


Saat Namira berbicara kecelakaan, Arga terkejut, Dia kemudian membenarkan duduknya sembari menatap ke arah Namira.

__ADS_1


Karena Arga menatap lekat ke arah Namira, dia tidak ingin Arga berprasangka buruk dengannya, dia tidak ingin Arga menganggap dirinya sedang menuduh kalau Arga pencurinya.


" Maaf Bapak, jangan salah paham dulu sama saya, bukan maksud saya untuk berkata yang tidak-tidak, tapi saya ingin melihat saja kalung itu, karena di kalung itu ada tandanya, kalau seandainya di kalung itu tidak ada tandanya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak, karena sudah lancang ingin melihat benda yang dimiliki oleh Bapak." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada berharap Arga tidak marah padanya, Arga hanya menghela nafasnya dengan panjang...


__ADS_2