Percikan Masa Lalu

Percikan Masa Lalu
Chapter 16


__ADS_3

Chapter 16🌹


" Iya Mah, benar apa yang dikatakan oleh Leo, Arga juga tidak yakin kalau sebenarnya kalung ini adalah milik anaknya Tante Mirna, saat Tante Mirna berbicara Arga tidak merasakan apa-apa yang Arga rasakan malam itu hanyalah rasa ketidakpercayaan, Kalau kalung yang Arga pakai ini adalah milik anaknya Tante Mirna, tapi setelah Mama berbicara tentang dokter muda dan cantik itu, membuat Arga refleks memegang kalung ini, Arga yakin kalung ini ada hubungannya dengan bu dokter itu." ucapnya sembari mengelus liontin kalung yang dipakainya itu.


Bu Diana menghela nafasnya dengan panjang, dia menatap silih berganti ke arah kedua anaknya tersebut sembari bergumam di dalam hatinya.


" Benar apa yang dikatakan oleh kedua anakku, kenapa aku baru menyadarinya hari ini, Kenapa saat Mirna berbicara Kalau kalung itu adalah milik anaknya aku langsung Percaya saja, sepertinya aku terhipnotis dengan kata-kata Mirna, tapi kalau seandainya kalung itu bukan miliknya Mirna, Kenapa dia memiliki kalung yang sama, ini yang membuat aku aneh, Baiklah! aku akan menyelidikinya sendiri tanpa sepengetahuan kedua bodyguardku ini." ucapnya sembari tersenyum membuat kedua anaknya itu merasa aneh dengan sikap sang Mama.


" Kenapa Mama tersenyum?" tanya Arga dianggukan oleh Leo.


" Mama hanya ingin tersenyum saja, Mama juga tidak tahu kenapa Mama hari ini ingin rasanya menggumbar senyum terus setelah bertemu dengan dokter muda nan cantik itu."


" Siapa namanya Mah?" tanya Leo membuat dia merasa penasaran secantik apa sih seorang dokter muda tersebut sehingga membuat Mama dan kakaknya seperti terhipnotis mendengar ceritanya saja, apalagi bertemu dengan orangnya.


" Namanya Elvieona Sari dia dipanggil dengan kerap Vie."


Mereka berdua menganggukkan kepalanya.


" Lebih baik kamu Arga pelajari proposal pembangunan hotel berbintang itu, dan kamu Leo, kamu ikut Mama sekarang."

__ADS_1


" Memangnya Mama mau ke mana?"


" Mama mau bertemu dengan Tante Mirna."


" Aduh!! membosankan sekali Mah, bertemu dengan dia itu, dia itu berbicaranya seperti orang yang sangat terkenal aja, ya kesakitan ada di dia, kegembiraan ada di dia, kebahagiaan ada dia, semua diborong oleh dia, itu yang membuat Leo jenuh kalau Mama bertemu dengan dia." protes Leo sembari mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ada di ruangan sang Mama.


" Kita bertemunya bukan membuat kamu bosan, tapi kita bertemunya di Mall, Mama mengajak dia untuk membicarakan tentang Kakak mu padanya."


" Maksud Mama? kenapa membicarakan Arga? Arga kan sudah bilang Mah, Arga nggak mau dijodohkan dengan anak Tante Mirna, hanya gara-gara kalung ini yang sebenarnya Arga yakin bukan miliknya."


" Hem ... sebenarnya Mama ingin menyelidiki sendiri kebenaran kata-kata Mirna, tanpa sepengetahuan kalian, tapi Mama pikir lagi lebih baik Mama mengajak Leo untuk bertemu dengannya, karena Mama merasa Leo adalah anak ajaib yang bisa menerkah isi hati orang lain." ucap bu Diana sembari terkekeh membuat Leo pun tertawa lepas, karena mendengar ucapan dari sang Mama yang di rasanya sangat menggelitik dan membuat dia tertawa lepas tersebut.


" Sekarang kita berangkat, Eh... jangan lupa kamu temui dokter muda itu, karena kamu kan pemimpin dan pemilik perusahaan ini, jadi kamu harus mengenal karyawan baru kamu." pesan bu Diana pada Arga.


Arga hanya mengangguk.


Kemudian bu Diana dan Leo meninggalkan Arga di ruangannya itu, ayrga hanya menarik nafas panjangnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari menatap langit-langit ruangan sang Mama, lagi-lagi Dia memegang kalung yang dia pakai tersebut.


" Apakah kalung ini berhubungan dengan dokter muda itu ? Kenapa di saat Mama berbicara aku merasakan ada sesuatu yang tidak bisa aku mengerti, apa artinya ini semua." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan panjang dia kemudian mengambil proposal yang ada di atas meja tersebut, kemudian dia membuka dan membacanya, Namun karena dia tidak memiliki konsentrasi penuh untuk membaca proposal tersebut, akhirnya dia pun menutup kembali proposal itu, dia lalu beranjak berdiri dari duduknya dan menuju ke arah luar ruangan sang Mamah, kemudian ruangan itu dia tutup kembali dari luar, dia melangkah menuju ke arah ruangannya namun saat dia menuju ke pintu lift sembari menunggu pintu itu terbuka dia melihat seorang gadis berjalan melewatinya, Dia kemudian menegur gadis tersebut karena dia baru saja melihat gadis itu.

__ADS_1


" Maaf Mbak..." ucapnya memberhentikan langkah Namira, Namira kemudian menatap ke arah Arga, dia pun tidak sadar kalau di hadapannya itu adalah pemilik perusahaan tersebut dan laki-laki yang dilihatnya di layar kaca saat dia dan kakaknya menunggu di lantai lobby.


" Iya Pak, Ada apa?" ucapnya dengan sopan sembari menganggukkan kepalanya pada Arga.


" Saya baru saja melihat Mbaknya ada di kantor ini, apa saya yang tidak pernah melihat Mbaknya atau Mbaknya yang baru di kantor ini?" tanyanya sembari menatap ke arah Namira.


" Maafkan saya Pak, saya bukan bekerja di sini, Saya memang orang baru di sini, tapi saya menemani kakak saya, karena sementara waktu ini kakak saya harus di bawah pengawasan saya, karena kakak saya masih menjalani pemulihan dikarenakan baru sembuh dari sakitnya."


" Kakak kamu? tapi saya tidak pernah mendengar kalau karyawan saya ada yang sakit dan harus dijaga dengan salah satu dari anggota keluarganya, kalau sedikitpun menyangkut karyawan saya,Saya pasti tahu, tapi.. ini saya tidak mengetahui sama sekali, kakakmu siapa namanya? dan bekerja di bagian apa?" tanya Arga sembari menatap lekat ke arah Namira.


" Kakak saya bekerja di klinik, karena kakak saya sebagai seorang dokter, berhubung kakak saya berada di kursi roda, jadi saya yang menjadi tangan kanannya sementara waktu, Maafkan saya pak, karena telah lancang berada di kantor bapak tanpa sepengetahuan Bapak, Tapi kami tadi sudah bertemu dengan seorang ibu, Kalau tidak salah namanya ibu Diana di ruang penasehat, beliau tidak melarang saya untuk menemani kakak saya sementara waktu, kalau bapak melarang saya, saya memohon pada bapak agar tidak melarang sayang untuk menemani kakak saya sementara waktu ini, karena kakak saya itu memiliki keterbatan disebabkan kakinya belum bisa berdiri tegak untuk menopang tubuhnya, karena kakak saya baru saja sembuh dari komanya." terangnya pada Arga.


Arga hanya menganggukkan kepalanya, dia merasa prihatin mendengar kisah Namira, namun dia belum sempat bertemu dengan kakaknya Namira yang sekaligus di bawah naungan dirinya itu.


" Baiklah, saya tidak akan melarang kamu untuk menemani kakak kamu, saya cuma bertanya aja karena kamu baru saya lihat hari ini."


" Makasih banyak Pak, terima kasih banyak, saya janji setelah kakak saya bisa berdiri tegap seperti sedia kala, Saya tidak akan menampakkan wajah saya di hadapan bapak lagi." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum, karena terlihat sekali di wajahnya itu rasa bahagia yang tidak terkira, Arga menganggukkan kepalanya kembali, kemudian dia mempersilahkan Namira kembali untuk melangkah.


Arga hanya menatap langkah demi langkah Namira yang meninggalkannya berlalu dari hadapannya itu, kemudian pintu lift terbuka untuk kedua kalinya Arga pun kemudian memasuki lift tersebut dan lift itu membawanya ke lantai atas di mana ruangannya berada.

__ADS_1


__ADS_2